Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 43

Selamat datang di chapter 43

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

WARNING BOCAH UNYU MINGGIR DULU! BUKAN BACAAN SEMUA ORANG!

DISCLAIMER, MEMBACA INI DAPAT MENYEBABKAN BADAN PANAS DINGIN SAMPAI KEDJANG-KEDJANG!

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like I do

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Mimpi memang bisa sangat gila, sangat aneh, serta tak masuk akal. Mimpi juga bisa menjadikan kita apa saja dan melakukan hal paling mustahil di dunia sekalipun.”

—Taming The Boss
____________________________________________________

Jameka bertanya, “Tito, lo nggak apa-apa?”

Tidak. Tito tidak baik-baik saja. Rusun ini lebih mirip neraka ketimbang rumah. Kepalanya pening akibat semua yang terjadi di sekelilingnya. Hatinya juga nyeri akibat menyadari Jameka kembali bersama Kevino. Namun, bukankah ini mimpi?

Mimpi memang bisa sangat gila, sangat aneh, serta tak masuk akal. Mimpi juga bisa menjadikan kita apa saja dan melakukan hal paling mustahil di dunia sekalipun. Termasuk Jameka yang ada di hadapan Tito saat ini. Bisa saja wanita itu sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Atau, sah-sah saja Tito mengganggap demikian di dalam mimpinya ini, kan?

Jadi, Tito tidak ingin memikirkan letak kelogisan semua ini. Termasuk menerima uluran tangan Jameka sekarang. Ia lekas-lekas bangkit untuk memeluk wanita itu erat-erat. Rasanya hangat, nyaman, seperti menemukan tempat pulang. Mungkin inilah yang dikatakan orang-orang. Bahwa sejatinya rumah bukanlah bangunan, melainkan seseorang. Tito praktis merasa semuanya baik-baik saja karena berada di jalur yang tepat. Meski kepalanya masih amat berat dan pusing, tetapi dunia di sekelilingnya tidak lagi berputar-putar.

“Jameka,” panggil Tito dengan suara serak. Ia memejamkan mata dan mengusap-usap punggung wanita itu. “Jameka Michelle, Sayangku,” imbuhnya sembari menunduk, menyembunyikan wajah di ceruk leher wanita itu. Tak lupa ia menghidu aroma Jameka; aroma favoritnya.

Kala Tito mendongak dan membuka mata, mimpinya mulai menunjukkan keanehan lain. Yakni tiba-tiba mereka menjadi orang dewasa. Dalam pelukannya, seragam SMA Jameka luntur, berganti menjadi pakaian kantor yang dikenakan wanita itu tadi siang. Rambut Jameka yang semula tergerai lurus berubah manjadi diikat tinggi. Singkat kata, perubahan penampilan Jameka persis saat Tito bertemu wanita itu di rumah sakit.

Tito sendiri juga mengalami keanehan. Ketika kaget dengan perubahan Jameka sehingga pelukannya terpaksa dilepas, ia kontan melihat tangan dan sekujur tubuhnya. Tiba-tiba lengan-lengannya sudah dipenuhi tato. Seragam SMA Tito juga berubah menjadi kaus hitam dan jins sobek-sobek, seperti yang dipakainya tadi sebelum mabuk dan tidur.

Tito lantas melihat sekeliling. Tembok rusun berjamur, balkon berpagar besi yang cat hitamnya sudah mengelupas di sana-sini, juga jemuran setengah kering di atasnya, luntur menjadi kamar Tito yang temaram di basecamp. Sebab cahayanya hanya bersumber dari lampu tiang sebelah kasur. Warnanya kuning, sehingga terkesan hangat.

Paling ajaib, di tengah kebingungan, ketakutan, dan rasa nyeri di hatinya, tiba-tiba hati Tito meluap-luap oleh perasaan jatuh cinta saat menatap Jameka Michelle.

Bila mimpi bisa melakukan segalanya, Tito menekankan diri sekali lagi untuk tidak memikirkan status hubungan wanita itu dengan pria lain dan menganggap Jameka bebas dari siapa pun. Hanya ada mereka berdua. Senyum Tito mengembang. Ia pun kembali memeluk Jameka. Kali ini lebih erat daripada tadi.

“Be with you, I’ll be alright, Jameka,” tutur Tito mantap.

Tito merasakan lengan-lengan Jameka melingkari tubuhnya lebih berat. Wanita itu pun berbisik, “I though the same thing. Gue bahkan mikir, bisa, nggak, kita lupain asal usul, latar belakang, masa lalu, sama status kita masing-masing? Bisa, nggak, kita jadi diri kita aja sekarang tanpa embel-embel apa pun? I just wanna be with you, Tito Alvarez. Just two of us. Two kids just fall in love. That’s why I’m here.”

Suara Jameka juga serak, bahkan cenderung parau, seolah-olah baru saja menangis. Namun, Tito berpikir mimpinya sungguh manis karena Jameka menjadi versi yang diinginkannya. Lebih daripada itu, Jameka membalas perasaannya. “Just two of us. Two kids just fall in love. Sounds really good. I do love that, Sayang.”

Untuk beberapa waktu yang tak cukup singkat, mereka bertahan dalam posisi ini. Hingga Jameka bertanya, “Lo beneran cinta sama gue, To?”

“Beneran,” jawab Tito tanpa jeda dan tanpa ragu. Meski sejujurnya agak bingung alasan Jameka bertanya demikian di mimpinya—lumayan sama dengan kenyataan. Lalu ia melakukan hal serupa pada Jameka. “Lo juga, kan, Jame?” Anggukan Jameka memang sudah dianggap sebagai jawaban oleh Tito. Namun, ia tetap ingin melihat wajah Jameka saat mengatakan itu. Jadi, ia melepas pelukan mereka dan kembali bertanya, “Beneran? Lo cinta sama gue?”

“Iya, gue cinta lo, Tito Alvarez,” jawab Jameka pasti, tetapi dengan wajah malu-malu.

She’s adorable, menurut Tito.

Two kids just fall in love,” bisik Tito. Ia menempekan keningnya di kening Jameka. “Two kids just fall in love,” ulangnya lagi seraya memejam.

Jameka tertawa pelan dan mengeratkan pelukan di pinggang Tito. “Yes, two kids just fall in love.”

“But, I wanna kiss you. Dan anak-anak nggak boleh ngelakuin hal semacam itu.”

“Kalau gitu ....” Tito merasa Jameka sengaja menghentikan kalimatnya. Mengulur-ulur untuk mengatakan, “You can kiss me like adults way.”

Di tengah kepalanya yang masih pusing, Tito membuka mata dan tertawa kecil. “Really? Can I?”

Lagi-lagi Jameka membentangkan senyum malu-malu sambil mengangguk. “I’m yours. Even just tonight, I’m yours, Tito Alvarez. And you’re mine. You can do whatever you want to do to me.”

Mimpinya benar-benar manis, pikir Tito sekali lagi yang juga membenarkan perkataan Jameka. Walau hanya malam ini, mereka saling memiliki. Sebab bila telah bangun esok hari, ia yakin harus menerima sekaligus menghadapi kenyataan pahit. Bahwa Jameka bukanlah miliknya. Lebih buruk, mungkin wanita itu akan menikahi Kevino. Jadi, ia tidak ingin mengeluarkan perkataan yang dapat merusak suasana.

Secara perlahan-lahan, tangan kanan Tito meraih leher Jameka dengan ibu jari di dagu Jameka. Ia mendongakkan wanita itu seraya dirinya menunduk untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Jameka. Sejenak, Tito menatap mata Jameka yang sayu, lalu ke bibir merah wanita itu yang sedikit terbuka, seperti mengundangnya dengan suka rela. Tangan kiri Tito yang merangkul pinggang wanita itu spontan menarik Jameka supaya lebih berhimpitan dengannya. Lalu ia memagut bibir wanita itu. Bibir Jameka bergetar, sama seperti bibir Tito. Seakan-akan mereka baru pertama kali berciuman.

Lucunya pendapat itu memang dirasa benar bagi Tito. Pengalamannya melalang buana dalam hal wanita selama ini seolah-olah tak pernah terjadi. Jantungnya bagai dipompa cepat kala amat pelan ia kembali memagut bibir Jameka. Gerakannya sekaku robot. Bedanya bila robot bertubuh dingin, Tito merasa tubuhnya menghangat.

Ketika tanpa diperintah Jameka membuka mulut lebih lebar, Tito merasa lebih percaya diri unjuk kepiawaian. Indra pengecapnya mengambil kesempatan untuk menyelinap masuk. Dengan luwes—sudah tidak sekaku tadi—ia menjelajah, mengabsen gigi-gigi Jameka, selanjutnya mengajak indra perasa Jameka berdansa. Jameka mengerang kala ia mengisapnya lembut, tetapi kuat. Seolah-olah ia mengisap ke dalam jiwa Jameka. Tito ingin mengecap rasa manis pada seluruh bagian paling pribadi dari wanita itu, sekalipun hanya di dalam mimpi.

Tito sedikit terkejut saat wanita itu perlahan mendorongnya hingga duduk di kasur. Tatapan mereka intens, tetapi ciuman mereka terlepas sebentar saat Jameka naik ke pangkuan Tito sembari melepas kucir. Rambut cokelat gelap Jameka kontan berkibar. Wanita itu lantas melingkarkan seluruh lengan pada leher Tito. “Kiss me harder, To,” pinta Jameka.

Di mimpi ini, Tito tak akan membantah atau berpikir yang lain. Jameka ada bersamanya dan menjadi miliknya, bahkan menginginkannya. S
Jadi, setelah kembali menginvasi area perasa Jameka hingga menciptakan erangan demi erangan Jameka yang tertahan mulutnya, Tito menurunkan ciuman ke rahang wanita itu. Ia menyingkap rambut Jameka agar bisa menyusurkan hidung, mulut, serta lidah di leher Jameka. Ia juga tak segan-segan mengisap kulit halus wanita itu sampai membentuk mahakarya merah keunguan. Ia tidak hanya memberi Jameka tanda di satu tempat. Tito ingin di setiap jengkal tubuh Jameka ada tanda kepemilikannya. Seperti seorang singa yang menandai wilayah setelah menang melawan singa-singa jantan lain.

Tangan kiri Tito menyelinap ke blazer Jameka untuk merasakan kehalusan kulit punggung wanita itu. Dan mulut Jameka kembali mengeluarkan erangan erotis. Wanita itu pun mendongak seolah-olah memberikan akses tanpa batas kepada Tito agar menguasai seluruh jiwa dan raganya.

Sikap Jameka yang disenangi Tito ialah keikutsertaan wanita itu dalam usaha menyulut badai gairah. Dengan Jameka yang tidak tinggal diam. Tito merasakan ujung kaus hitamnya ditarik Jameka. Ciuman mereka kembali terputus saat Jameka membantu melepas kaus Tito dan membuangnya sembarang. Wanita itu lantas mendorongnya hingga rebahan. Sengaja agar ia bisa menikmati pertunjukan Jameka melepas blazer. Model luaran tersebut memiliki kancing hingga nyaris setinggi leher. Jadi, Jameka tidak perlu mengenakan kamisol atau sejenisnya karena sudah tertutup. Dan ketika sudah dilepaskan, Tito melihat penutup dada berenda warna pastel transparan milik Jameka. Puncak-puncak merah muda itu bagai mengintip Tito.

Jameka lalu menunduk. Seraya menyusurkan tangan di dada Tito, wanita itu juga mencium Tito. Tito terkesan dengan keahlian indra pengecap Jameka. Tangan Tito pun mencari-cari pengait penutup dada Jameka. Dengan sekali sentakan, kait itu lepas. Bra yang kendor memudahkan tangan Tito meraih salah satu keindahan bagian tubuh depan Jameka.

Jameka kembali mengeluarkan erangan erotis saat Tito menekannya sedikit kencang setelah menimbangnya. Wanita itu kemudian menegakkan tubuh untuk melepas bra dan melemparkannya entah ke mana; mereka tidak peduli benda itu tersangkut di lampu tiang. Maka terpampanglah keindahan yang selama ini dibayangkan Tito secara terang-terangan. Meski hanya dalam mimpi, Tito tetap menikmatinya.

“Cantik banget, Sayangku,” puji Tito sebelum menyusurkan tangan besarnya lagi ke salah satu dada Jameka. Ia kembali menekannya sedikit kuat supaya Jameka menguarkan erangan erotis lainnya. Sisi dominan Tito menyuruh dirinya sendiri duduk tegak agar bisa merasakan puncak merah muda itu yang sudah mengeras.

“Oh ...,” erang Jameka sembari mendongak saat Tito mengisap dan menggigitnya.

Tito merasakan kuku-kuku Jameka menancap di punggungnya kala itu, tetapi tidak peduli. Ia sedang berpesta pora untuk memberi kenikmatan sekaligus tanda kepemilikan di dada wanita itu.

“I want more,” pinta Jameka dengan napas ngos-ngosan dan dengan tatapan lebih sayu daripada tadi. Tanda gairah wanita itu telah terbakar, sama seperti Tito.

With my pleasure, Your Majesty,” balas Tito yang lantas merebahkan Jameka. Ia membantu melepas celana kerja dan penutup inti tubuh wanita itu. Tito membuka kedua kaki Jameka dan mengangkat salah satunya. Ia menyusurkan hidung dan mulut di pergelangan kaki Jameka yang masih memakai Christian Louboutin. Ciuman itu turun perlahan-lahan hingga mencapai pusat gairah Jameka.

“Oh My God!” desis Jameka.

Kendati sedang mengkombinasikan jari dan lidahnya yang terampil di lipatan inti tubuh Jameka, tatapan Tito mengarah pada wajah wanita itu. Ia ingin memperhatikan wajah Jameka ketika menerima kenikmatan yang ia diberikan. Wajah wanita itu mendongak dengan mata terpejam dan mulut menganga, benar-benar seksi. Satu lagi koleksi raut wajah Jameka yang baru Tito ketahui. Selain itu, ia juga merasakan tangan Jameka mengusap kepalanya.

“Fuck ...,” rengek Jameka lagi. Suaranya parau seolah-olah ingin menangis. Namun, sikap tubuh lainnya pasrah. Amat kentara rasa nikmat yang diberikan Tito nyaris membuatnya gila.

Mendapat apresiasi yang amat besar itu, kedua jari Tito bergerak seduktif lebih cepat. Ia juga menggerakkan indra pengecapnya lebih lincah, sesekali mengisapnya kuat-kuat. Kemudian Tito menegakkan tubuh untuk membungkam mulut Jameka dengan mulutnya sembari terus mempercepat gerakan jari-jarinya.

Tito mengaduk-aduk Jameka seraya menurunkan ciuman ke puncak dada wanita itu untuk kemudian disap kuat dan digigit. Dan tak lama dari itu Jameka menegang. Mata Jameka terpejam, sedangkan mulut Jameka menganga. Tito kembali menutup mulut Jameka—kali ini menggunakan tangannya—kala wanita itu diserbu gelombang kenikmatan begitu dahsyat sampai-sampai membuatnya banjir bandang. Selain tangan, kasur Tito pun jadi basah.

“Oh My God .... Lo ngapain gue, To?” erang Jameka sambil ngos-ngosan.

Tito mencium bibir Jameka. “Made you squirted, Sayang.”

“Thanks. That’s amazing. Sekarang giliran gue. Take your time, Sayang.”

Dengan kaki lemas, Jameka meminta Tito ganti rebahan di bagian kasur yang kering. Tito lantas menerima ciuman Jameka di bibirnya. Selain itu, ia juga merasakan tangan lembut Jameka mengusap dadanya yang masih berdegup kencang, lalu tangan itu turun ke perutnya. Dan lebih turun lagi ke kepala ikat pinggangnya. Lalu lebih turun lagi ke pusat gairahnya.

“Impresif,” bisik Jameka di atas mulut Tito.

“Glad to know that,” balas Tito.

Jameka lantas melucuti Tito sampai polos dan mulai memamerkan keahliannya.

“Lo jago banget, Sayang,” puji Tito sambil memegangi seluruh rambut Jameka supaya wanita itu lebih leluasa menjalankan tugas. Ia mengerang nikmat. “Tapi kayaknya cukup, nanti gue nggak bisa lama. Now, let me in, let me taste you, Sayang.”

Tito mengusap mulut Jameka kala wanita itu naik ke pangkuannya. Tito pun membimbing dirinya pada Jameka. Secara perlahan-lahan Jameka turun. Tito mengerang sembari melihat bola mata Jameka berputar ke atas saat dirinya tertelan sepenuhnya oleh Jameka.

Tito membiarkan wanita itu beradaptasi dengan ukurannya. Lalu ia kembali mengerang saat Jameka mulai bergerak naik dan turun.

“Fuck, you’re fucking hot, Sayang,” puji Tito sembari menampar pantat Jameka. Pusingnya pun teralihkan. Ia lalu menggapai kepala wanita itu untuk dicium. “You‘re mine, Jameka Michelle.”

“Tito—oh!” Jameka tersentak oleh mulut dan tangan Tito yang kembali berpesta pora di dadanya.

Jameka menggoyangkan pinggulnya dan Tito merasa luar biasa. Ia kembali menampar pantat Jameka lalu menyuruh Jameka berhenti karena ia ingin menggantikan gerakan wanita itu. Jameka yang masih berada di pangkuan Tito menegakkan tubuh sambil berpegangan pada dada Tito. Lalu Tito bergerak seduktif sembari mengusap-usap tonjolan inti tubuh wanita itu.

“Fuck, faster, harder, please, please, please, Tito .... Oh! This is fucking good,” racau Jameka yang kemudian kembali menegang saat gelombang dahsyat itu kembali menerjangnya. Tito sudah mengosongkan dirinya untuk memberi Jameka waktu menikmati momen ini. “You made me squirted again, To.”

Tito meraih tubuh Jameka agar wanita itu tiduran di atas tubuhnya. Lalu ia kembali mengisi dan mengosongkan Jameka lagi. Wanita itu menjerit-jerit lagi, gelombang kenikmatannya datang lagi.

Tito membiarkan Jameka mengatur napas sebelum menyuruh wanita itu tengkurap. Ia menaikan pinggul Jameka dan melesakkan diri seutuhnya. Ia bergerak seduktif lagi. Tangannya menegakkan tubuh Jameka agar bisa membungkus Jameka dengan pelukan. Bibirnya mencari-cari bibir Jameka. Tangan kirinya meraih leher Jameka, sementara tangan kanannya mengusap tonjolan pusat gairah wanita itu.

“Gue cinta lo, Jameka,” bisik Tito di pelipis Jameka yang mendesah tak karuan. Wanita itu bahkan banjir keringat. Tangannya berpegangan pada dinding supaya tak roboh saat Tito kembali mengisinya hingga penuh. Lalu mengosongkannya kembali. Gerakan berulang yang membuatnya lupa diri.

Jameka kembali menegang sambil menjerit saat tak lama kemudian badai dahsyat itu datang bersamaan dengan Tito. Tito lantas merebahkan dirinya bersama Jameka. Ia menciumi kening wanita itu di saat pusingnya kembali menyerang. “Makasih. Gue cinta lo, Jameka.”

“Gue juga cinta lo, Tito.” Jameka meletakkan kepala di dada Tito yang masih ngos-ngosan. “Cigarette after burning hot like this sound really good. What do you think, Sayang?”

“Perfect,” balas Tito dengan mata setengah terpejam. Ia melepaskan pelukan Jameka dan membiarkan wanita itu mengambil serta menyalakan sebatang rokok.

Jameka mengisap rokok lebih dulu, kemudian diberikan Tito. Setelah menghabiskan rokok sambil ngantuk-ngantuk dan memastikan putung rokok itu padam, keduanya membersikan diri sebelum lanjut tidur berpelukan.

♪♪♪

Ketukan pintu kamar yang terus berulang membangunkan Tito. Sambil berusaha membuka kedua matanya yang berat, ia melihat ke jendela yang tirainya terbuka. Langit masih gelap. Artinya matahari belum terbit. Kamarnya pun masih temaram.

“To, Bos telepon,” teriak Lih dari luar kamar. “Kenapa HP lo mati mulu, sih? Bos jadi telepon gue, nih.”

Tito berusaha berdiri dan menyadari rupanya ia tidur di karpet sebelah kasur. Pakaiannya masih lengkap. Dan ia juga sadar, beradu keringat secara dewasa bersama Jameka semalam itu hanyalah mimpi. Seperti dulu, ia juga pernah mengalami mimpi serupa. Bedanya dulu tak sampai tuntas. Meski agak aneh mendapati celananya sama sekali tidak basah, Tito menyederhanakan pikirannya. Mungkin ia terbangun di tengah malam untuk pergi ke kamar mandi. Bagaimanapun, semalam ia benar-benar merasa teler. Ia mabuk karena wiski dan Jameka. Ajaibnya perasaan Tito sungguh lega. Seperti baru saja melepas beban berat.

Sambil menahan kepalanya yang amat pusing dan tubuhnya yang luar biasa pegal, Tito membuka pintu.

“Bos,” kata Lih sembari menyodorkan ponsel kepada Tito.

Tito menguap sambil menggaruk kepala. “Ya, Bos?”

Suara di seberang sambungan menjawab, “To, gue butuh bantuan lo di Beijing. Tiket pesawat udah gue pesenin, akomodasi udah siap kayak biasanya.”

“Oke, Bos.” Tito menguap lebar lagi sambil menyerahkan ponsel kepada Lih. “Berapa lama gue harus siap-siap, Jang?”

“Setengah jam.”

“Lo yang nganter gue ke bandara, kan?”

“Yo’i, siapa lagi? Arga masih molor,” jawab Lih yang sedikit berteriak lantaran sudah menuruni tangga.

Tito mandi sambil ngantuk-ngantuk. Sembari setengah memejam, ia yang sudah selesai mandi pun menyalakan lampu utama kamar untuk mengambil baju ganti di lemari. Ia tidak membawa baju ganti karena malas mengantre bagasi di ban berjalan. Di sana banyak toko, Tito bisa membelinya. Maka dari itu, ia hanya menyiapkan paspor, ponselnya yang mati dari kemarin, charger, rokok, dan pemantik, yang memang sudah berada di tas kecilnya di atas meja.

Setelah meras semuanya siap, masih sambil menguap dan setengah memejam, Tito menggapai saklar lampu di sebelah pintu untuk mematikannya. Namun, tiba-tiba gerakannya berhenti. Ia memelotot kala melihat kasurnya amburadul dengan bagian tengah yang basah. Itu bagian yang ....

Tito menghentikan pikirannya untuk cepat-cepat menoleh ke lampu tiang sebelah kasur dan lebih terpana saat melihat bra berenda warna pastel transparan yang tersampir di sana.

____________________________________________________

However thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo-typo perusak ketampanan naskah, I appreciate it.

Well, Bonus foto Jameka Michelle

Tito Alvarez

See you next chapter teman-temin

With Love
👻👻👻
©®Chacha Prima

Jumat, 6 Desember 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro