Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 4

Selamat datang di chapter 4

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo (sukanya gentaangan)

Thanks

Happy reading everyone

Hope you enjoy and love this story as well

❤❤❤

______________________________________________

I’m not jealous
I’m territorial
Jealous is when you want something that’s not yours
Territorial is protecting what’s already yours

—Not Tito Alvarez
______________________________________________

Jawaban atas pertanyaan absurd itu membuat Jameka bergeming. Berkebalikan dengan debar jantungnya yang memukul bak genderang perang dan asumsi-asumsi lanjutan dalam batok kepalanya yang berjejelan masuk begitu sengit. Pun, menjadikan kondisi pasca mabuknya makin memburuk.

Sejujurnya, dengan amat riang Jameka ingin mengatakan kalau tidak mengingat apa pun setelah menenggak French Martini-nya hingga nyaris habis tadi malam. Ia sama sekali tidak mengingat Tito mengantarnya pulang ke kondiminium lalu mereka terlibat adegan adu keringat secara dewasa—yang sampai kapan pun tak akan pernah sekalipun mampir dalam bayangan Jameka.

Namun, bukti pagi ini terlalu akurat, kuat dan sempurna untuk dielak oleh dua manusia dewasa berlawanan jenis yang sama-sama paham tentang keintiman atas dasar kebutuhan biologis. Tak pernah bisa lebih jelas lagi, pikir Jameka mengenaskan.

Bagaimana kalau ia sampai hamil? Sementara ia tidak akan pernah sudi mengizinkan pikirannya mencari-cari ide meminum pil peluruh kandungan atau sejenisnya?

Sebagai seorang playboy sejati, Tito pasti akan bersikap berengsek dengan tidak mengakui perbuatannya. Jameka yakin akan hal itu. Pun, sebagaian besar pria di dunia ini tidak suka pada wanita yang terlalu menuntut, apalagi menuju ke arah yang serius.

Lantas bagaimana? Apakah Jameka harus pura-pura tidak terjadi apa pun juga? Masalahnya, bagaimana kalau ada kehidupan yang tumbuh dalam perutnya?

Tunggu dulu, jangan gegabah. Tenang, Jame, ingatnya pada diri sendiri. Mungkin saja sekarang ia tidak sedang dalam masa subur sehingga ketledoran Tito tidak berdampak pada dirinya, pikirnya lagi.

Jameka melirik Tito. Pria itu sedikit mendengkur, jelas nyenyak dalam tidur dengan lengan-lengan kekar yang malah semakin erat memeluknya.

Jameka memilih memejam, tetapi tidak tidur. Hanya mencoba meredakan kepalanya yang pusing akibat mabuk, juga pikirannya yang bak pendekar berkelana ke mana-mana. Hingga tanpa terasa sudah hampir satu jam berlalu, ia merasakan pelesakan kasur dan kehangatan yang ditawarkan pelukan Tito menghilang digantikan hawa dingin hasil jerih payah pendingin udara. Suara-suara pelan pun berkelanjutan didengar Jameka.

Yang paling jelas adalah suara zipper yang ditarik. Jameka menebak Tito sedang mengenakan celana kerja yang dipakainya semalam.

Nah kan ... beneran kagak pake apa-apa tuh Kadal!

“Jemeka,” panggil Tito pelan. Jameka merasakan sengatan kecil atas panggilan namanya yang jarang dan langka dikumandangkan Tito jikalau tidak untuk hal-hal serius. Entah kenapa kini suara serak berat khas bangun tidur pria itu terdengar lebih sensual di telinganya.

Jameka mendengar Tito mengerang di sampingnya. “Belum bangun ya?” Lalu pria itu terdengar mendengkus. “Biasanya lo udah bangun jam segini. Tapi gara-gara mabuk, jadi molor kan?” Tito menjawab pertanyaan yang dibuatnya sendiri.

Jameka pun semakin mantab berkewajiban pura-pura tidur. Selain belum siap menatap sepasang iris hitam pekat pria itu, ia juga penasaran apa yang akan diperbuat Tito padanya saat ini. Mengakui? Atau kabur selayaknya playboy sejati setelah kebutuhan biologisnya terpenuhi? Maka akan merasa segar bugar dan dapat beraktivitas seperti sedia kala?

“Jangan mabuk lagi ya? Nggak adek, nggak kakak, sama-sama nyusahin aja kalau mabuk.”

Itu perkataan yang sangat umum menurut Jameka.

“Mumpung lo masih tidur, gue harus ngomong. Soalnya kalau pas lo bangun, gue takut lo ngamuk.” Tito terdengar mengambil napas. “Sorry, abis ini gue mesti makein lo baju sebelum gue balik ke basecamp buat siap-siap ngantor dan jemput lo. Kalau kagak, gue takut kagak bisa nahan diri kayak semalem, Jameka.”

Itu pernyataan aneh. Kalau pria itu berniat pergi dengan keberengsekannya, seharusnya tidak perlu pamit dan menegaskan telah terjadi sesuau di antara mereka semalam. Namun, bukankah Tito mengutarakannya secara diam-diam yang secara tidak langsung tidak juga mencerminkan sikap playboy?

Sungguh membigungkan.

Asyik dengan pikirannya, Jameka mendengar pergeseran pintu lemari dinding kamarnya dibuka. Beberapa detik kemudian ditutup lagi. Yang lebih mengejutkan lagi, selimutnya disingkap sedikit secara perlahan. Jameka secara praktis mengernyit karenanya, tetapi benar-benar tidak mampu membuka matanya. Jantungnya pun sepertinya sudah tidak tertolong lagi. Ia yakin pria itu bisa mendengar detaknya yang begitu kencang.

“Sorry, gue maunya merem tapi udah lihat semuanya semalem. Tapi gue berusaha merem kok, Jame.”

Sumpah pengin gue hajar kepala lo! maki Jameka dalam hati karena dongkol. Lalu merasakan kepalanya diangkat sedikit untuk diloloskan kerah kaus. Berikutnya selimut itu kembali disingkap Tito secara perlahan sampai setengah dada Jameka.

Shit,” umpat pria itu lirih, “lo emang seseksi ini, Jame. Persis kayak fantasi gue selama ini. Shit ....”

Jameka bingung. Antara harus merona karena dengan kurang ajar tubuhnya mengkhianati otaknya untuk membekukan ujung-ujung dadanya hanya karena omongan mesum Tito. Atau menendang wajah pria itu yang berpotensi besar menjadikan hubungan keprofesionalisme keduanya semakin canggung.

Oh! Tidak bisa! Heratl sedang diujung tanduk dan mereka masih harus bekerja sama membangkitkannya. Jadi, ia harus membiarkan diri terus berpura-pura tidur sehingga kaus lengan pendek dan celana serupa berhasil dipakaikan Tito.

Sampai pria itu benar-benar pergi dari kondominiumnya, Jameka baru membuka kedua netranya. Napas berat yang panjang dan menyiksanya sedari tadi pun berembus. Dan ia menyasarkan tatapannya ke langit-langit kamar dengan jantung yang hampir jatuh ke perut.

Ia melirik ke arah jendela yang memerkan sinar matahari. Lalu pandangannya tidak sengaja jatuh pada secarik kertas dan obat di nakas samping tempat tidur.

Jameka bangun untuk membacanya.

Obat pereda mabuk, minum aja dan jangan sekali-kali lo mikir buat bolos rapat.
Sorry juga udah lancang gantiin lo baju gara-gara baju yang lo pake semalem lo muntahin.
Tenang, gue masih waras buat kagak ngapa-ngapain lo.

—Tito

Jameka praktis mengeram. Masih waras buat kagak ngapa-ngapain tapi ngaku kagak tahan ama gue semalem dan kagak pakai kondom? Berengek lo, To! Lo udah sinting!

Tiga hari sudah berlalu sejak malam dan pagi itu. Jameka dan Tito  lantas melakukan rutinitas seperti sedia kala tanpa rasa canggung. Setidaknya, itu yang dipikirankan Tito dan membuatnya lega sekaligus aneh karena secuil catatan kurang ajar itu rupanya tidak berdampak apa pun pada Jameka.

Padahal pada kenyataannya, Jameka merasa tenggorokannya dicekik oleh tangan-tangan tak terlihat ketika berada di dekat pria itu yang bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Berkelit dengan sempurna. Jelas tidak merasa bersalah karena telah memanfaatkan kondisi Jameka yang mabuk.

Keprofesionalan Jameka agak terguncang, tetapi beruntungnya tidak sampai berpengaruh fatal pada Heratl. Rapat pagi yang seharusnya berjalan lancar—memang berjalan seperti semestinya—nyatanya masih buntu tanpa solusi.

Setiap pagi dalam waktu tiga hari itu, Jameka meminta Tito memberhentikan Civic putihnya ke apotek yang sejalan dengan Heratl untuk membeli alat tes kehamilan. Ia memang sudah mengecek siklus bloody moon-nya yang tidak merupakan jadwal subur. Namun, tetap saja ia ketakutan.

Lalu dengan nada khawatir, sekembalinya Jameka ke mobil, Tito bertanya, “Lo sakit, Yang Mulia Ratu?”

Sembari memasang seatbelt, Jameka yang tak sanggup menatap mata pria itu juga selalu menjawab dengan wajah dan nada datar, “Kagak, gue sehat-sehat kok.”

“Terus ngapain tiap hari lo minta diberhentiin di apotek?” tanya Tito penasaran, tanpa mengendorkan kecurigaan dan kekhawatirannya sedikit pun.

“Cuma beli vitamin aja buat daya tahan tubuh,” jawab Jameka kelewat santai.

Pandangan Tito pun berpindah-pindah. Dari Jameka yang duduk di sampingnya—sekadar informasi, Jameka selalu duduk di sana sekarang—lalu ke plastik apotek yang buru-buru dimasukkan wanita itu ke tasnya. Tito jadi merasa tidak yakin.

“Beneran?” selidiknya.

“Beneran, Kadal.”

Usaha masih Tito lakukan. “Kalau lo ngerasa kagak enak badan, gue bisa anterin ke dokter. Atau lo izin aja istirahat di kondo, entar biar gue atur semua jadwal lo,” usulnya, “kagak usah khawatir ada yang mecat lo, sekarang boss Herarl kan lo.”

Jameka pun menggeleng. “Kagak usah. Beneran gue kagak apa-apa, Kadal. Udah, yok jalan. Udah jam segini, entar keburu telat.”

Tito pun melajukan mobilnya kembali, tetapi tentu dengan kepala dipenuhi tanda tanya. Benarkah Jameka tidak apa-apa alias baik-baik saja? Sehat-sehat saja? Dan hanya membeli vitamin penjaga daya tahan tubuh setiap pagi? Namun, kenapa dalam waktu tiga hari ini Jameka tidak sekalipun menyulut rokok? Jangankan menyulut, Jameka bahkan menghindari asap rokok yang diembuskannya.

Tito semakin curiga. Ada apa sebenarnya? Apakah masalah Jameka dengan papanya sebegitu genting sampai-sampai bisa membuat wanita itu berhenti merokok? Atau jangan-jangan itu yang dipermasalahkan papanya sehingga membuat Jameka ingin mabuk-mabukan lalu pada akhirnya menurut? Aneh, kenapa dangkal sekali? Sepertinya tidak mungkin.

Rabaan pertayaan-pertanyaan Tito segera bertambah banyak ketika resepsionis Heratl yang centil terhadapnya meneleponnya sebelum makan siang.

“Pak Tito ...,” sapa Carisa dengan suara setengah mendesah. Tito sampai meriang mendengarnya.

“Ya, Bu Carisa?”

“Ada yang ngirim buket bunga buat bu Jameka. Tolong tanyain mau ditaroh mana. Dianter langsung ke ruangan? Atau gimana?”

Alarm dalam kepala Tito langsung menyalakan tanda bahaya. “Dari siapa, Bu Cariasa?”

“Kurang tahu juga, Pak Tito. Cuma ada inisial K.E. di kartu namanya. Ehehe ....”

Kini Tito benar-benar merinding mendengar wanita berumur dewasa itu menambah omongannya dengan tawa yang dibuat-buat supaya terdengar humoris. Miris, benar-benar miris. Sebenarnya kenapa dulu ia pernah sempat menggoda Carisa?

Ya gara-gara dia seksilah! teriak otak mesum Tito.

Terlepas dari itu, Tito terus berpikir. K.E. itu sebenarnya siapa ya? Kalau River, jelas tidak mungkin karena nama panjang pria itu River Devoss dan kalau disingkat harusnya menjadi inisial R.D. Lagi pula, River di Amerika, mungkinkah sampai mengirim buket bunga itu untuk Jameka?

Sok romantis kali! pikir Tito kesal. Kenapa pula ia repot memikirkan inisial nama tersebut?

Tito mengembuskan napas. “Makasih infonya, Bu Carisa. Nanti akan saya sampaikan ke bu Jameka.”

“Kalau bisa secepatnya ya, Pak Tito. Takut bunganya keburu layu. Kayak hatiku yang menunggumu, heheh ....”

Setelah menutup sambungan telepon dan memelototi pesawatnya dengan horor, Tito mengetuk pintu Jameka sebelum membukanya. Dan ia pun dibuat terheran-heran oleh Jameka yang buru-buru memasukkan sesuatu ke laci meja kerjanya. Lalu berlagak sibuk dengan berkas-berkas di meja.

“Ekhm! Ada apaan? Ngaget-ngagetin gue aja lo, Kadal,” pungkas Jameka santai tanpa melihat Tito.

Tito pun tidak jadi masuk, memutuskan memberi Jameka informasi di ambang pintu. “Dapet kiriman buket bunga. Mau gua bantu buangin nggak?”

Alis Jameka kontan mengernyit menatap pria itu. “Maksud lo? Kenapa harus dibuang?”

“Masa harus dibakar? Lo kan bukan makhluk astral yang mesti dibakarin kembang kemenyan buat sesajen,” canda Tito yang sama sekali tidak lucu bagi Jameka.

Sumpah, kenapa sih nih cowok? “Kesambet apaan sih lo?” sungut Jameka.

“Kagak. Kali aja lo butuh batuan buangin gitu. Gue mah cuma jalanin perintah adek lo buat jagain lo. Siapa tahu tuh kembang ada jampi-jampinya. Kan berabe urusannya. Jadi, biar gue buang aja ya?”

“Lo sinting ya, Kadal? Masalah bunga aja sampai bawa-bawa si Bambank! Lebay! Emang dari siapa sih?” Jameka mulai ikut emosi.

“Dari inisial K.E.” Tito mengeja dua huruf itu selayaknya balita yang baru belajar mengenal alfabet.

Jameka langsung menyambungkan isnisial itu dengan nama Kevino Eclipster karena terlalu jelas. Siapa lagi kalau bukan pria itu?

Kenapa pula mula-mula pria dingin itu memberinya buket bunga? Padahal dari sikapnya pada makan malam tempo hari, Kevino sama sekali tidak berminat pada Jameka. Memandanginya secara khusus pun tidak. Hanya seperlunya saja ketika harus berbicara dengan Jameka. Itu pun, ketika mamanya menanyai pria itu tentang perjodohan mereka dan menerimanya dengan lapang dada.

“Gimana? Jadi bibuang?” tanya Tito karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Jameka yang malah melamun. Jangan-jangan wanita ini mengingat si Sungai dengan kenangan pernah diberi bunga.

Ya elah ... Sungai lagi, Sungai lagi, rutuk Tito benar-benar tidak bisa mencegah serangan tak masuk akal yang membuat kepalanya bagai disiram air panas.

“Minta tolong OB buat bawain bunganya ke sini.”

“Ha? Serius? Kenapa kagak lo buang?”

“Ya serah gue dong. Kan gue yang dikasih, mau gua makan kek, kunyah kek, serah gue.”

Tito tidak bisa melawan atau menyesatkan pikiran Jameka lagi. “Ya udah, gue aja yang ambil di bawah,” tawar Tito secara sukarela dengan senyum penuh arti.

Membuat Jameka nyengir kuda  “Bilang aja lo pengin godain si Carisa. Tapi serah lo deh. Pokoknya makasih, Kadal.”

Lalu, Tito pun bergerak turun dengan hati setengah-setengah. Ia memang penasaran soal buket bunga itu, tetapi juga malas menghadapi Carisa.

“Nggak sekalian aku diboyong ke atas, Pak Tito?” tanya Carisa sangat genit ketika memberikan buket bunga dari K.E. ke Tito.

Pria itu memasang senyum paksa. “Lagi jam kantor, Bu Carisa. Saya takut bu Jameka keluar tanduknya. Saya ke atas dulu ya.”

Ketika Tito baru beranjak, Carisa mengatakan, “Kalau entar malem, aku free kok, Pak Tito.”

Tito nyengir dengan mata mendelik. “Maaf, Bu Carisa. Entar malem saya sibuk. Saya permisi dulu, Bu.”

Hiii ....

Baru kali ini, Tito menyesal menggoda seorang wanita bernama Carisa itu. Dulunya saja Carisa berwajah polos, sekarang malah menjelma menjadi kucing garong. Daya tariknya langsung anjlok menurut Tito.

“Permisi, bunga kemenyan buat sesajen dateng,” ucap Tito sewaktu habis mengetuk pintu. Ia membukanya dan melihat Jameka berdiri di sebelah meja kerja CEO sambil menelepon. Ia pun diberi kode menggunakan tangan untuk meletakkan buket bunga mawar merah itu di meja dekat sofa sebelah pintu. Dan ia diperbolehkan kembali ke kubikelnya.

Tito memang meletakkan bunga itu di tempat yang Jameka tunjuk. Namun, pendengarannya disetel secara maksimal untuk menguping pembicaraan Jameka.

“Ya, the red roses are here now. You know, you shouldn’t do it. But Thanks a lot. See you at lunch.”

Diam-diam Tito mengangguk. Berarti Jameka kenal yang memberi bunga. Sebagai sahabat yang baik bagi Jayden, tentu Tito harus waspada.

Beneran cuma jalanin tugas sebagai sahabat yang baik, To? Kemaren-kemaren lo dapet bonus. Untung tuh Yang Mulia kagak ngaduan ke Jayden, ledek otaknya sendiri.

Jameka mematikan ponsel lalu melihat Tito sekilas. “Makasih, Kadal. Oh ya entar lo kagak usah nemenin gue makan siang. Gue ada janji.”

“Oke, Yang Mulia Ratu Jameka.”

Tito memang pergi tanpa adanya masalah dengan itu. Namun, setibanya di kubikel, ia menelepon Carisa lewat telepon kantor. “Bu Carisa, nanti malem saya emang sibuk. Tapi kayaknya siang ini longgar. Mau makan bareng saya nggak?”

_____________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo

Kelen luar biasa 😘

Bonus foto Jameka Michelle

Ciwi ciwi bilek : aku nggak suka cowok tatoan

Tito Alvarez

Kalo ganteng gpp 😏

Kevino Eclipster

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Selasa, 15 Februari 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro