Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 39

Selamat datang di chapter 39

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like me

❤️❤️❤️

____________________________________________________

“Hadiah kecil yang menimbulkan dampak begitu besar.”

—Tito Alvarez
____________________________________________________

Tak terasa laju motor yang ditumpangi Tito dan Jameka sudah tiba di depan gedung kondominium Jameka. Wanita itu minta diturunkan di depan saja, di dekat trotoar yang tidak menghalangi akses masuk mobil ke gedung. Tak perlu diantar ke unitnya lantaran tak ingin Tito direpotkan oleh hal-hal kecil. Seperti mengambil karcis parkir, atau mencari-cari parkir kosong untuk motor Lih. Sementara parkiran motor gedung itu sendiri terletak di basemen paling bawah yang lumayan jauh. Hal-hal kecil tersebut tentu cukup menguras tenaga dan waktu.

Padahal bila Jameka minta diantar sampai depan unit kondominiumnya, Tito pun akan dengan senang hati melakukannya dan mengesampingkan hal-hal kecil tadi. Jangankan mengantar sampai depan kondominium. Tito disuruh mengantar Jameka ke KUA untuk mendaftarkan rencana pernikahan mereka saja langsung tancap gas detik itu juga. Apalagi hanya diminta menurunkan Jameka di trotoar dekat akses masuk mobil. Sama sekali tidak masalah.

“Thanks for today, To. Gue happy banget,” tutur Jameka tulus sembari memberikan helm kepada Tito, tetapi masih mengenakan jaket pria itu. “We were laughing a lot.”

Tito menerima helm tersebut dan memasukkannya ke jok. Tidak protes dan justru senang karena Jameka masih memakai jaket kesayangannya. “Gue happy lihat lo happy. Dan gue juga happy hari ini. However thanks for letting me be a senior high school student again. Literally made my day.”

Jangan sampai Jameka jungkir balik di sini akibat perkataan Tito. Ia harus menjaga tingkah lakunya. Jadi, ia pun membuka topik baru. “Besok masuk kantor, ya? Jujur, Lih nggak banget disuruh jadi asisten. Tahu sendiri dia passion-nya balapan. Bukan ngantor. Gue juga kasihan, dia kayak tertekan gitu.”

Tito tersenyum tulus. “Ya udah, besok gue masuk gantiin Lih. Well, gue jemput kayak biasanya?”

“Boleh,” balas Jameka yang berusaha menjaga nada suaranya tetap datar, agar tidak terdengar antusias karena akan dijemput Tito besok.

Tito mengangguk sambil menipiskan bibir. “Kalau gitu, gue cabut dulu.”

“Eh, tunggu, To. Kayaknya ada sesuatu di muka lo, deh,” cegah Jameka dengan tampang ngeri. “Coba lepas dulu helmnya.”

“Ada apaan emang?” tanya Tito yang kemudian melepas helm, lanjut mengaca di spion kiri. Menolehkan wajah ke kiri dan ke kanan. “Apaan? Kagak ada apa-apa.”

“Itu, loh ...,” tunjuk Jameka sembari berdecak sebal lalu memerintah, “Coba sini.”

Tito menunduk guna mendekatkan wajahnya pada Jameka. Lalu betapa terkejutnya Tito saat tanpa tedeng aling-aling Jameka membubuhkan bibir di pipi kirinya.

“Hadiah kecil buat hari ini! See you tomorrow, To!” seru Jameka sambil berlari-lari kecil menuju jalan masuk gedung sambil memegangi kedua tali ransel. Rambut wanita itu berkibar-kibar mengikuti langkahnya. Perwujudannya persis anak SMA yang baru saja diantar pulang pacarnya.

Di pantulan kaca spion, wajah Tito tampak rikuh dan merona. Ia pun memegangi pipi bekas kecupan Jameka. Iya juga heran, padahal itu hanya kecupan di pipi. Hal biasa bagi Tito karena sudah pernah melakukan yang lebih jauh daripada itu. Namun, hadiah kecil tersebut rupanya justru memberikan dampak begitu besar di hati Tito. Euforia melesak ke dalam dirinya seolah-olah baru saja memenangkan pertandingan tingkat dunia. Rasanya ia ingin selebrasi sekarang juga.

Maka dari itu, sepanjang perjalanan dari kondominium Jameka menuju basecamp, senyum Tito tiada putus. Saking bahagianya, ia sampai bersiul-siul mengikuti lagu-lagu bertema jatuh cinta yang berputar-putar dalam kepalanya. Lagu-lagu itu mengingatkannya pada dirinya dan Jameka.

Saat ini sudah agak larut malam bagi anak SMA yang baru pulang. Agak lucu bila Tito membayangkan ayahnya mengomel dan memberondongnya dengan pertanyaan macam-macam. Bayangan yang amat menyenangkan, dan Jameka berhasil memicunya menciptakan bayangan tersebut. Singkat kata, Jameka mengembalikan sekaligus menciptakan kenangan masa-masa sekolah Tito.

“Gue cinta lo, Jameka Michelle! Gue cinta lo!” teriaknya. Para pengguna jalan yang berada di dekat motor Tito, memperhatikannya. Ada yang menatapnya dengan tatapan aneh, ada juga yang ikut senang.

Tidak lama kemudian, Tito memarkir Vespa Lih di parkiran belakang basecamp dan melihat mobil Civic turbo putihnya terparkir tidak jauh dari sana. Itu berati Lih tidak ke mana-mana sejak pulang kerja. Pria pendiam itu pasti sedang tidur di kamar seakan-akan menjadi manusia paling lelah sedunia karena habis kerja. Oleh karena itu, Tito berencana tidak akan mengganggu Lih dan tidak ingin menukar kunci yang saat ini ia putar-putar di jari telunjuk sambil bersiul. Sebab besok ia ingin menjemput Jameka naik Vespa saja supaya bisa dipeluk lagi.

Hei, itu momen langka. Kapan lagi Jameka bakal memeluknya seperti tadi? Tito hanya berupaya mencoba peruntungan lagi. Siapa tahu mujur? Iya, kan?

Masih bersiul sambil memutar-mutar kunci, Tito membuka pintu utama basecamp, berjalan melewati ruang tamu, menuju ruang tengah di mana tangganya terletak. Ada Lih di depan kulkas, sedang menempelkan ponsel ke telinga. Walau keheranan melihat bocah itu tidak sedang tidur di kamar, Tito tetap berkata sambil lalu. “Jang, motor lo besok gue pakai lagi, ya? Besok lo istirahat aja. Gantian gue yang masuk kerja.”

Pria itu menoleh ke sumber suara berasal dan buru-buru menurunkan ponsel. Bukannya merespons ucapan Tito dengan kelegaan karena tak harus ke kantor lagi, Lih malah bertanya dengan wajah lumayan panik. “To, kenapa lo nggak angkat telepon gue? Dan kenapa lo baru pulang?”

Tito berhenti di tangga terbawah sambil menggeleng-geleng. Ia membayangkan Lih sebagai ayahnya yang mengomel karena Tito pulang larut malam. Namun, ia menjawab santai. “Mati dari siang, Jang. Dan gue lupa bawa charger.” Malas juga Tito membawa charger di saat sedang quality time bersama Jameka. Lebih asyik mengobrol dengan Jameka daripada bermain ponsel. Namun, tentu saja Tito tidak mengatakannya. “Kenapa emangnya? Bos dateng? Tiba-tiba ada sidak?” lanjut Tito. “Muka lo kenapa panik gitu, dah? Abis lihat hantu?”

“Bukan! Ini nggak ada hubungannya sama si Bos atau hantu,” balas Lih.

“Terus?”

“Ada pacar lo di kamar lo.”

Senyum Tito langsung amblas. “Apa?” pekiknya untuk memastikan. Rasanya bagai Déjà vu. Persis peristiwa tadi siang. Bedanya bukan Jameka yang berada di kamarnya. Melainkan Carissa—wanita yang benar-benar ia lupakan statusnya serta janji mengantarkannya pulang pukul lima sore tadi. Dan sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam. “Gimana bisa dia ke sini? Dia nggak tahu gue tinggal di sini!”

“Gue—”

“Lo yang bawa dia ke sini?” tandas Tito. “Ngapain lo bawa dia ke sini?” bentaknya.

“Dia maksa ikut gue, To! Sorry, gue bukannya mau bikin lo cemburu. Tapi dia beneran kayak lintah yang nempel terus sampai bisa ikut ke sini.”

Cemburu? Tito mengulang kata itu di dalam hati. Jadi, Lih mengira ia cemburu padanya karena membawa Carissa kemari?

Sejujurnya bukan salah Lih bila pria pendiam itu salah paham dengan mengira Tito cemburu. Mengingat beberapa waktu lalu, Lih melihat dengan mata kepalanya sendiri Tito yang galau sampai nyaris dua hari mengunci diri di kamar, meneriaki pengendara lain di jalan tol yang membuat mereka diberhentikan polisi, hingga bertanya kepada Lih tentang alasan wanita menolak pria. Lalu tidak lama kemudian Tito berpacaran dengan Carissa.

Lih tentu mengambil kesimpulan saat-saat galau Tito waktu itu pastilah disebabkan oleh Carissa. Karena Lih tahu, Tito tidak pernah serius dan meresmikan hubungan dengan wanita mana pun. Tito memang beberapa kali pernah mengajak wanita ke basecamp. Namun, itu dulu, dulu sekali. Sudah bertahun-tahun lalu. Sebelum Tito akhirnya pindah ke kamar atas. Jadi, bila Tito sekarang punya pacar, bukankah artinya Tito sedang sangat serius menjalani hubungannya? Dan bukankah sudah sepatutnya Tito cemburu pada Lih karena membawa serta pacar Tito?

Lih sendiri tak bisa menjawab saat ditanya Carissa soal keberadaan Tito dan alasan ponsel Tito di luar jangkauan. Padahal Lih tahu Tito pergi dengan Jameka. Maka, tidak ada salahnya juga bila Lih membawa Carissa kemari, dengan harapan bertemu Tito. Ia bahkan berbaik hati membelikan Carissa makan malam dan menjaga wanita itu dari para serigala fakir asmara urakan penghuni gedung ini selagi menunggu Tito pulang.

Sayangnya, Tito tidak ingin meluruskan kesalahpahaman Lih tentang dugaan rasa cemburunya yang sepenuhnya salah, dan langsung menaiki dua tangga sekaligus supaya cepat tiba di kamarnya. Lalu tanpa menunda waktu lagi, ia pun membuka pintu kamar dan melihat Carissa berdiri di depan kasur. Wanita itu menolehnya dan Tito disuguhi wajah kacau balau. Carissa jelas sedang menangis, tetapi bukan jenis tangisan histeris. Melainkan tangis yang tampak baru runtuh setelah berusaha ditahan mati-matian.

“Kenapa ada semua ini di kamarmu?” tanya Carissa dengan suara parau. Tangannya menunjuk ke kasur. Ada kucir, handsanitizer dengan ukiran nama Jameka, parfum Jameka yang dibelikan Tito tempi hari, dan baju yang dipakai Jameka hari ini. “Kenapa ada barang-barang Bu Jameka di kamarmu? Kamu selingkuh sama Bu Jameka?” tuduhnya.

Selingkuh? Maksud Carissa seperti yang dilakukan ibu Tito dulu? Apakah memeluk Jameka, menjalankan rencana Jameka, menggenggam tangan Jameka, dan mendapat hadiah kecil dari Jameka tadi termasuk jenis selingkuh? Namun, bukankah ia sering sekali melakukan hal-hal acak bersama Jameka? Mereka bahkan sering tidur bersama—walau tidak melakukan kontak fisik.

Goblok! Lo dulu kagak ada pacar, jadi boleh-boleh aja ngelakuin itu sama Jameka. Sekarang lo punya pacar, To! Punya pacar! Alam bawah sadar Tito memperingatkan dengan memberi kesimpulan terlogis.

Tito mereguk ludah lantaran merasa hatinya dipukul kenyataan. Namun, ia tidak ingin menganggap benar tuduhan Carissa maupun alam bawah sadarnya. Lagi pula sejak tahu Jameka putus dari Kevino, Tito juga berniat mengakhiri hubungannya dengan Carissa. Maka dari itu, ia mulai dengan berbalik tanya, “Ngapain kamu maksa ikut Lih ke sini?”

“Ngapain?” ulang Carissa tak percaya. “Kamu udah janji nganter aku pulang, dan kamu malah nggak bisa dihubungi. Apa salahnya aku maksa ikut Pak Lih ke sini, buat nyari tahu ke mana kamu pergi? Barangkali kamu sakit atau kenapa-kenapa. Makanya nggak bisa jemput aku. Apa aku juga salah kalau sekalian nyari tahu gimana kehidupan pribadimu, yang nggak pernah kamu bagi ke aku? Di mana kamu tinggal, misalnya?” cercanya sembari menunjuk seluruh kamar Tito.

“Pelanin suaramu. Jangan ganggu penghuni di sini. Ini udah malam, Carissa—”

“Lalu aku nemu barang-barang Bu Jameka di sini. Aku tahu soalnya Bu Jameka pakai baju ini hari ini,” potong Carissa yang tak menggubris perkataan Tito. Nadanya masih setinggi tadi. “Aku yang nolongin Bu Jameka waktu di rest room tadi! Aku yang bungkusin tespek hasil positif milik Bu Jameka! Dan aku yang nenangin Bu Jameka kalau Pak Kevino pasti bakal tanggung jawab atas kehamilan—”

Tiba-tiba Carissa berhenti bicara lantaran tersadar oleh sesuatu. Ia menatap Tito lekat-lekat. Sekelebat ingatan omongan Jameka tentang keberengsekan Tito menghamili wanita lain melesat ke dalam benak Carissa. Jameka tidak sekali atau dua kali menyinggung perkara itu yang sudah dibantah Tito. Melainkan beberapa kali, seperti memperingatkan Carissa supaya tidak kepincut dengan Tito. Mulanya Carissa percaya pada Tito. Namun, sekarang?

“Kamu yang hamilin Bu Jameka! Di perutnya itu bukan anak Pak Kevino! Tapi anakmu!” Carissa menutupi mulut dan tangisnya benar-benar pecah. “Teganya kamu ngelakuin itu!”

Tentu saja Tito membantah, “Aku nggak pernah sekali pun having seks sama Jameka. Dan itu bukan anakku karena Jameka nggak hamil.”

“Dari mana kamu tahu? Aku yang bantuin Bu Jameka bungkusin tespek positifnya!” tegas Carissa sambil menunjuk-nunjuk Tito. Hatinya benar-benar kacau, sekacau wajahnya. Padahal seharusnya ia lega karena Tito tidak pernah melakukan adegan dewasa dengan Jameka. Namun, bukan berarti itu tidak mungkin. Bisa saja karena ketahuan oleh Carissa, Tito jadi berbohong demi menenangkannya.

“Aku baru aja sama dia! Itulah alasannya kenapa baju dan barang-barang dia ada di sini! Dia tadi sempat mampir ke sini!” tekan Tito.

Carissa langsung berhenti histeris, tetapi air matanya masih berlinang. “Jadi, kamu lebih mentingin Bu Jameka daripada aku?” tanyanya dengan nada rendah dan suara parau.

“Jameka emang sering ke sini. Dia keluarga kami. Keluarga semua penghuni gedung ini. Adiknya juga yang punya gedung ini. Jadi, bebas aja dia mau ke sini, atau tidur di sini.” Tito membela diri. “Atau di kamar Lih, atau di kamar siapa pun penghuni gedung ini. Dan kami berkewajiban nganter dia pulang! Kami semua!”

“Jadi, kamu lebih mentingin ngantar sahabatmu daripada nganter pacarmu?” teriak Carissa yang mulai histeris lagi. “Aku tahu dia sahabatmu sampai kamu dan semua orang penghuni gedung ini anggap dia sebagai keluarga. Sampai wajib nganterin dia pulang segala! Tapi bukan berarti dia bebas ke kamarmu! Kenapa nggak penghuni lain aja yang nganter dia? Kenapa harus kamu? Kenapa? Kalau kamu nggak selingkuh sama dia, kamu pasti nggak bakal lebih milih nganter dia dan ngelupain janji nganterin aku pulang!”

Tito menghela napas, tak ingin pikirannya dicemari oleh pendapat bawah ia telah berselingkuh seperti ibunya. Apalagi Jameka yang menjadi selingkuhannya. Tidak, Tito tidak akan membiarkan itu terjadi. Jameka bukan wanita serendah itu sampai mau menjadi selingkuhannya. Lagi pula, seberapa sering ia mengutarakan perasaan pada Jameka, wanita itu selalu menolak. Hanya saja siang ini berbeda. Meski tidak ditolak, tetapi Jameka mempedulikannya. Mereka telah bersenang-senang hari ini. Kenapa Carissa harus merusak momen kebahagiaan ini?

Tito bukan ibunya yang selingkuh, yang membuat keluarganya hancur, yang membuat ayahnya jadi pembunuh sampai dipenjara, yang membuatnya jadi gelandangan, jadi broken home.

“Carissa, aku pengin putus,” ungkap Tito dengan intonasi rendah dan terdengar sedingin es.

“Kenapa?” Dengan wajah panik, Carissa menghampiri Tito dan mendorong pria itu sampai mereka berhenti di pagar pembatas lantai dua. “Kenapa kamu pengin putus? Aku nggak pengen putus! Nggak pengin ....”

“Maaf, Carissa. Aku nggak bisa lagi.”

“Kenapa? Karena aku cemburu sam Bu Jameka? Tolong maafin aku. Aku nggak bakal nuduh kamu lagi. Aku akan berusaha ngerti kalau Bu Jameka termasuk keluargamu. Bukan selingkuhanmu. Nggak masalah kamu lebih milih ngantar dia daripada nganter aku. Aku mohon, To. Aku nggak mau putus,” raung Carissa. “Aku bener-bener cinta sama kamu.”

“Udah malam. Sebaiknya ku anterin kamu pulang, Carissa,” tutur Tito lembut dan merangkul Carissa untuk menggiringnya menuruni tangga. Wanita ini jelas perusak mood. Namun, Tito sudah meminta putus. Tindakan ini sudah tepat.

“Lepasin aku! Aku nggak mau pulang! Aku nggak mau putus, To. Jangan putusin aku ...,” raung Carissa sembari berusaha berdiri di tempatnya. Sayangnya tidak bisa. Kekuatan Tito pastilah jauh lebih besar daripada Carissa sehingga dengan mudah pria itu menggiringnya turun.

“Tolong, Carissa, dewasalah. Jangan kayak gini. Selain nggak enak didengar penghuni lain, hubungan ini nggak bisa dipaksa,” balas Tito yang masih berusaha terdengar tanpa emosi. Meski hasilnya nadanya masih sedingin es. Dan ia masih berusaha menjaga perasaan Carissa dengan tidak mengakui alasannya memacari wanita itu. Bahwa itu semata-mata hanya untuk memancing kecemburuan Jameka dan sayangnya tak berhasil.

Carissa masih rajin menangis sambil meraung-raung. “Nggak mau! Jangan putusin aku, To!”

“Carissa—”

“Jangan suruh aku pulang juga. Ayo kita ngobrol! Aku nggak mau putus!”

“Udahlah, Carissa, jangan berontak! Kita lagi di tangga!” Tito berusaha menenangkan wanita ini. “Carissa, tenang!”

Carissa tidak bisa dan tidak mau tenang. Bagaimana ia bisa tenang sekarang? Hubungan mereka diakhiri Tito. Ia juga tidak dianggap dewasa. Rasanya ingin sekali ia menyalahkan Jameka atas semua yang menimpa dirinya sekarang, tetapi tidak ingin Tito membencinya. Jadi, ia terus memberontak sampai pegangan Tito terlepas, kakinya terpeleset, lalu ....

“Carissa!” teriak Tito yang tidak dapat meraih tangan wanita itu.

Carissa jatuh hingga tangga terbawah.

____________________________________________________

Jujurly saya kasihan sama Carissa, dia ini korban, wajar aja kalau sampai ngereog kayak gitu. Yah, gimana nggak ngereog coba? 😭😭😭

#pukpukCarissa

However thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo-typo perusak ketampanan naskah, I appreciate it.

Well, Bonus foto Jameka Michelle

Tito Alvarez

See you next chapter teman-temin

With Love
👻👻👻
©®Chacha Prima

Rabu, 20 November 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro