Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 37

Selamat datang di chapter 37

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like me

❤️❤️❤️

____________________________________________________

“Seperti rupa seseorang yang berseri-seri karena antusias membuka hadiah impian.”

Jameka Michelle
____________________________________________________

“Serius lo nyuruh gue pakai seragam SMA yang barusan lo beli di online shop kilat pakai mobile banking gue?” tanya Tito tak percaya sambil membolak-balik balik seragam putih abu-abu yang disodorkan Jameka kepadanya.

Tito tidak pernah mempermasalahkan tentang seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli seragam tersebut. Ia juga tidak peduli bila Jameka seenak jidat berbelanja ini-itu menggunakan uangnya. Selain sudah lumayan terbiasa, pikirannya begitu sibuk; mereka-reka ukuran seragam ini pas atau tidak; membayangkan dirinya mengenakan seragam SMA.

Betapa bersyukurnya Tito karena diberi kesempatan untuk menjadi anak SMA lagi—meski hanya berpura-pura. Dirinya penuh dengan rasa penasaran, antusias, sekaligus gugup, tetapi berusaha untuk tidak memperlihatkannya kepada Jameka. Wanita itu tidak tahu hati Tito bagai mendapat sentuhan kebahagiaan dengan ide tak terduga ini. Kendati Jameka ikut menyumbang masa SMA tak menyenangkan sehingga muncullah ide tersebut, tetapi tetap saja, bagi Tito, bukankah artinya Jameka peduli padanya?

Belum tentu jika Lih yang berada di posisinya sekarang akan diperlakukan sama oleh Jameka.

Jadi, buah pikiran itu rupanya mampu meningkatkan kadar cinta Tito kepada Jameka; merasa dirinya lebih spesial daripada yang lain. Hingga membuat Tito lupa total dengan status percintaannya dengan Carissa.

“Yup! Kita bakal jadi anak SMA!”

Mendengar suara antusias tersebut, Tito beralih ke Jameka. Wanita itu berdiri di depan standing mirror seukuran sepundak orang dewasa. Cermin yang cukup ramping, tetapi bisa memantulkan seluruh badan.

Jameka membuka mancing-mancing kemeja putih seragam tersebut. Sebelum menjajalnya tanpa melepas kaus Tito yang dikenakannya sedari tadi. Ia sendiri memesan seragam berukuran agak besar dan rok panjang sebab berpikir sudah sepatutnya anak sekolah tidak berpakaian seksi. Seperti kebiasaannya pada masa-masa awal kuliah hingga sekarang.

Selain seragam, untuk menunjang penampilan mereka, Jameka juga membeli dua pasang kaus kaki putih, dua pasang sepatu hitam bertali, dan dua ransel hitam tidak terlalu besar. Semua barang tersebut uniseks dan kembar. Ransel itu kemudian diisi barang-barang acak. Seperti sisir, bedak, tabir surya, tisu kering dan basah, cermin kecil, lipstik, serta barang-barang yang memang biasa Jameka bawa di tas jinjingnya. Berhubung ransel Tito hanya diisi rokok dan dompet, Jameka memasukkan buku catatan kecil—yang biasa digunakan Tito menulis jadwalnya—dan tablet supaya tidak terlihat kopong.

Tito mendekati Jameka dan berdiri di belakangnya, sehingga Jameka bisa melihatnya dari pantulan cermin. Lalu Tito pura-pura ngeri. “Lo nggak sadar umur sama muka? Mana ada anak SMA dandanannya menor banget kayak lo?” Ia melengkapi perkataannya sambil menunjuk cermin.

Jameka langsung murka dan mengomeli Tito. “Gue kagak bakal mekapan setebel ini kali! Dan asal lo tahu aja, gue cocok pakai mekap tebel. Itu bikin gue kelihatan tegas, nggak menye-menye, dan percaya diri penuh. Tebel tapi nggak norak, ya. Dan itu namanya bukan menor! Menor itu yang mekapnya norak!”

Tawa kecil pertanda geli keluar dari mulut Tito sebab respons Jameka sesuai dengan prediksinya. Belum cukup puas memancing amukan Jameka kalau wanita itu belum meledak-ledak mirip petasan banting, ia lantas memutuskan untuk melempar umpan lebih besar lagi dengan bertanya, “Apa kagak lebih kelihatan keriput-keriput lo kalau nggak mekapan setebel ini?”

“Really? Are you kidding me?” tandas Jameka yang kemakan umpan Tito. Padahal betapa rajin nan telaten ia merawat wajah maupun tubuh. Sehingga belum ada satu kerutan pun di wajahnya yang menandakan usianya sudah tidak remaja lagi. Berani-beraninya Tito mengatakan itu! “Gue belum keriput, ya, Kadal Sawah!” amuknya.

“Masa, sih? Nggak percaya, tuh.” Tito memutar tubuh Jameka agar menghadap cermin lagi, lalu menunjuk-nunjuk kening Jameka. “Coba lihat itu, jidat lo ada keriputnya.”

“Kagak ada!”

Tito berdecak. “Ya ini lagi ditutup mekap, makanya nggak terlalu kelihatan. Aslinya ada, kan?”

Gggrrr! Maunya apa sih, manusia satu ini? batin Jameka jengkel. Dandan menor dicerca, punya rencana dandan tipis juga dicerca. Dan ia tidak bisa berdandan setengah-setengah. Bagi Jameka, itu terkesan tidak niat berdandan. Kalau begitu, sekalian saja tidak usah berdandan, tidak usah mandi, tidak usah menggosok gigi, tidak usah melakukan perawatan apa pun!

Jameka menggertakkan gigi dan merebut paksa seragam milik Tito. Sudah habis kesabarannya untuk menghadapi Tito. Apa yang ada dalam kepalanya hingga bisa menyetujui kata hatinya bahwa ia telah jatuh cinta pada pria super duper menyebalkan ini? Ia merasa sudah tidak waras. Dan semuanya karena Tito Alvarez. Selalu, selalu, dan selalu!

“Ya udah! Nggak usah cosplay jadi anak SMA. Kita emang nggak cocok. Udah sama-sama tua! Gue udah keriput, lo juga bau minyak Gandapura persis kakek-kakek! Sekarang minggat sana! Gue mau tidur siang!”

Tito kontan membau dirinya sendiri. Memang benar ia bau minyak Gandapura karena tadi diolesi Jameka di punggung, tetapi tidak masalah. Ia pun pura-pura bingung. “Masa gitu aja ngambek, Jame?”

“Lo bikin gue pusing. Sana! Minggat sana!” usir Jameka sembari mendorong-dorong Tito agar keluar kamar.

Tito menurut, tetapi mulutnya tentu tak ingin diam saja. “Dih, ngambekan. Udah tua, ngambekan, nggak konsisten pula. Dia yang ngajak, dia juga yang batalin. Dasar labil!” ledeknya yang amat menyukai suasana ini.

Selain masih ingin menyembunyikan rasa antusias akan ide Jameka ini, menyulut genderang perang melawan Jameka memang sudah menjadi hobi Tito sejak dulu. Tak peduli risiko yang akan ditanggungnya bisa begitu mengerikan. Namun, bila hasil yang didapat amat memuaskan, kenapa, tidak? Iya, kan?

Tito jadi bisa melihat berbagai ekspresi wanita itu. Tidak sekadar wajah datar yang selalu dipasang Jameka di hadapan semua orang. Ada ekspresi cemberut, bingung, sebal, penuh amarah, dan tersipu. Serta, tentu saja Tito lebih menyukai ekspresi Jameka ketika wanita itu menarik sudut-sudut bibir ke atas membentuk senyum lebar.

Dengan ucapan kurang ajar bin ceplas-ceplos tersebut, Tito kembali memperkirakan amukan Jameka akan lebih menjadi-jadi. Mungkin melebihi tadi sewaktu ia mengatai Jameka kuntilanak merah. Mungkin juga bantal dan guling akan diterbangkan ke arahnya secara lebih membabi buta dan Tito sudah siap memasang kuda-kuda kokoh untuk menghadapi hal tersebut.

Sayang sekali perkiraan Tito meleset. Amarah Jameka justru bagai hutan yang pepohonannya dibabat habis sampai gundul. Wanita yang tidak lagi mendorongnya agar keluar kamar itu hanya bergumam, “Udah gue duga ini ide buruk. Ngapain juga gue ngajak lo cosplay jadi anak SMA segala? Mikirin perasaan lo yang—” Jameka berhenti bertutur sebab tak ingin mengatakan sesuatu yang buruk tentang alasan Tito putus sekolah. Lalu ia mengubah haluan gumamannya. “Ya udahlah, intinya ini ide buruk. Nggak cocok. Nggak sadar umur.”

Tadinya, Tito—yang membelakangi Jameka— tersenyum amat lebar. Namun, begitu mendengar gumaman Jameka, senyumnya pun surut. Ia memutar tubuh agar bisa melihat Jameka. Wanita itu sudah sibuk melipati seragam mereka dan mengembalikannya ke plastik, lalu melemparkannya ke meja secara asal-asalan. Tito jadi merasa bersalah. Apakah ia sudah keterlaluan? Apakah bercandanya kelewatan?

“Hei, jangan ngambek gitu, dong, Jameka,” bujuk Tito. “Gue cuma bercanda. Ayo kita cosplay jadi anak SMA,” ajaknya yang masih berdiri di posisinya, tepat di depan pintu kamar. Ia tidak lagi berniat menyembunyikan keantusiannya dalam hal ini. Sayangnya, respons yang diperoleh dari Jameka tidak begitu baik.

“Nggak usah repot-repot, To. Gue tahu ini ide yang buruk.” Wanita itu pun tersenyum getir. “Lo bener. Kita harus ingat umur sama muka.”

Setelah Jameka pikir-pikir lagi, lebih baik ia beristirahat. Ia harus ingat bahwa beberapa puluh menit lalu dokter kandungan mendiagnosanya menderita PCOS. Ia juga harus ingat hubungannya dengan Kevino baru saja kandas. Sudah sepatutnya ia bersedih, menata hati, dan menstabilkan kondisi emosionalnya yang naik-turun. Sebentar-sebentar emosi, sebentar-sebentar tertawa, sebentar-sebentar sedih, sudah mirip orang gila. Dan penyebab kegilaan itu 99 persen diakibatkan oleh Tito.

Belum lagi Jameka masih harus dipusingkan memilih tanggal untuk jadwal operasi di tengah agenda sibuknya. Lalu bagaimana nanti ia akan menceritakan itu pada papanya yang sudah lebih nyaman menikmati masa tua? Maka dari itu, istirahat merupakan ide terbaik. Bukan malah berniat kelayapan menggunakan seragam SMA. Apalagi menyetujui kata hatinya bahwa ia telah jatuh cinta pada Tito. Apa-apaan?

Tidak memperhatikan Tito lagi, Jameka menyemprot antiseptik di tangan dan menggosok-gosoknya hingga kering. Ia baru hendak merebahkan diri di kasur saat pemilik kamar ini tiba-tiba mengambil seragam dari plastik. Lalu tanpa ba-bi-bu, pria itu melepas kaus. Maka tertampanglah otot-otot liat maskulin yang membuat Jameka tanpa sadar mereguk ludah.

“Ngapain, To?” tanya Jameka impulsif. Syukur-syukur ia masih bisa berbicara lancar, tidak terbata-bata. Ia emang kerap melihat pria itu bertelanjang dada. Ia pun sering melihat pria dengan otot serupa, seperti River dan Kevino. Mesti tidak ingin mengakui, tetapi adiknya pun memiliki bentuk tubuh cukup bagus. Bahkan ada banyak pria yang bentuk tubuhnya jauh lebih bagus daripada mantan-mantannya, adiknya, ataupun Tito.

Namun, entah kenapa Jameka merasa tato-tato yang menutupi hampir seluruh tubuh Tito menjadikan pria itu lebih seksi, lebih garang, tampak berbahaya, tampak tak tersentuh, serta mengundang minat untuk ditaklukkan. Setelah pernah penasaran rasanya dicium Tito, kini Jameka tak bisa menghentikan pikirannya yang berandai-andai merasakan tangannya menyentuh otot-otot kekar Tito. Dada bidang dan perut pria itu pasti sangat keras.

Tito yang tidak sadar diperhatikan secara saksama oleh Jameka—sebab sibuk membuka kancing-kancing kemeja putih seragam sekolah—pun menjawab, “Katanya mau cosplay jadi anak SMA? Ayo, Jame. Ganti baju sana. Jangan ngambek lagi.”

“To, kalau lo terpaksa, lebih baik jangan.”

“Kata siapa gue terpaksa? Gue justru seneng. Dari tadi gue cuma bercanda doang, Jameka. Gue cuma pengin jailin lo.”

Dari dulu Jameka tahu Tito memang senang menjailinya. Hanya saja saat ini pikirannya berpusat penuh pada tubuh maskulin Tito. Ia pun kembali impulsif bertanya, “Kok, gitu? Kenapa lo pengin jailin gue?”

“Ya gue suka ngisengin lo dari dulu, kan?”

“Ya, gue tahu. Tapi kenapa?”

Tito tidak langsung menjawab. Ia berhenti beraktivitas untuk mengedarkan pandangan ke seragam putih di tangannya—yang kancingnya sudah sepenuhnya berhasil dibuka. Ke sepasang kaus kaki putih, sepatu hitam, lalu ransel kembar.  Berikutnya ia mengembalikan tatapannya ke Jameka lagi yang sedari tadi duduk di kasur. “Masa lo nggak tahu? Nggak satu atau dua kali gue ngasih tahu alasannya.”

“Ha?” gumam Jameka yang dikumandangkan dalam bisikan. Pikirannya sedang berada di awang-awang.

Melihat tampang bingung Jameka, Tito mengembuskan napas berat lalu dengan sabar bertutur, “Gue suka lihat berbagai ekspresi lo. Awalnya gue penasaran. Kira-kira apa lo bisa berekspresi lain, selain bermuka datar? Makanya gue mulai isengin lo, jailin lo, sengaja mancing lo marah. Tapi gue nggak pengin bikin lo nangis tanpa disengaja. Kecuali waktu di Samarinda itu. Gue akuin tindakan gue waktu itu berengsek banget dan gue minta maaf. Tapi lupain aja, itu udah lewat, kan? Gue cuma nyinggung buat penunjang argumen.”

Mau tak mau karena ditatap terus-menerus oleh Tito, pandangan Jameka harus tetap di mata Tito. Jangan sampai Tito memergokinya menatap otot-otot perut pria itu terlalu lama. Jameka bisa mati karena malu. Dan pria itu pasti akan meledeknya habis-habisan.

“Lo ngomong apa, sih, To? Gue nggak paham.” Bagus! Setelah merasa mirip orang gila, sekarang Jameka merasa jadi mirip orang bodoh. Orang gila bodoh; kombo buruk.

“Intinya, setelah gue tahu semua ekspresi yang bisa lo tampilin eksklusif bagi gue, lucunya gue jadi makin nggak ngerti,” terang Tito.

“Ha? Kok, bisa makin nggak ngerti?” ulang Jameka, kian tak paham mencerna kata-kata Tito atau ke mana obrolan ini akan diarahkan.

“Iya, gue makin nggak ngerti kenapa lo itu unreal banget. Kayak teknologi artificial intelligence yang keluar dari layar ponsel. Tapi gue paham ciptaan Tuhan lebih daripada AI ciptaan manusia. Dan wujud nyatanya itu lo, Jameka Michelle. Mau marah, nangis, apalagi senyum lebar kayak tadi waktu kita deep talk, lo tetap menawan,” aku Tito. Tatapannya mengunci tatapan Jameka.

Jameka tidak bisa bergerak, berpikir, ataupun menjawab. Padahal selama hidup, tidak sedikit yang memujinya cantik nan menawan. Jameka terbiasa dengan pujian tersebut. Tito pun sudah pernah mengungkapkannya berkali-kali. Namun, entah kenapa kali ini terdapat perbedaan amat besar.

Berhubung merasa Jameka masih bungkam, jadi, Tito melanjutkan penjelasannya. “Makanya lebih gampang bagi gue buat ngata-ngatain lo kuntilanak, sundel bolong, atau nenek sihir. Biar gue—” Tito berhenti untuk mereguk ludah sebab tiba-tiba rasa gugup menjalar ke sekujur tubuhnya. “Biar gue nggak tambah cinta sama lo.” Tidak kuat dengan ekspresi polos Jameka, Tito memalingkan wajah dan menutupinya menggunakan tangan yang tidak menggenggam seragam. “Sialan, Jameka! Gue jatuh cinta sama lo dan gue nggak ngerti caranya berhenti!”

Degup jantung Jameka menjadi berlipat ganda. Cara pria itu mengatakannya, cara pria itu beraksi setelah mengumumkan perasaannya, cara pipi Tito bersemu merah, dan tingkah laku tersipu yang tidak pernah dijumpai Jameka sebelumnya, sungguh berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Khusus kali ini, kepercayaan akan pengakuan Tito rupanya mulai melekat pada diri Jameka. Mengantar sinyal-sinyal asmara yang menyerbu dirinya. Segala penyangkalan akibat gengsi dan keraguan tentang perasaannya yang sudah jatuh cinta pada Tito mendadak menjadi kepastian. Bahwa, Jameka benar-benar jatuh cinta pada pria itu.

Jameka baru membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi Tito terburu-buru mendahuluinya. “Tolong jangan dijawab. Soalnya gue yakin lo nggak akan percaya sama omongan gue. Jadi, sekarang gue lebih pasrah, nggak nuntut lo percaya. Karena gue sadar, jatuh cinta itu harus ikhlas, nggak boleh nuntut atau ngarep macem-macem.” Tito berdeham sekali. “Sorry, gue malah ngelantur kemana-mana. Omong-omong, ayo ganti baju. Kita jadi anak SMA hari ini!”

Jantung Jameka kembali jumpalitan lantaran melihat senyum lebar di wajah pria itu. Wajah Tito seperti rupa seseorang yang berseri-seri karena antusias membuka hadiah impian. Senyum Tito yang berhasil ditularkan ke Jameka melunturkan segala rasa sakit hati serta kecewa pada semua hal yang telah dilaluinya pada hari ini. Dengan sendirinya, Jameka mengangguk serta buru-buru ganti baju.

____________________________________________________

However thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo-typo perusak ketampanan naskah, I appreciate it.

Well, Bonus foto Jameka Michelle dengan make bold nya

Tito Alvarez

See you next chapter teman-temin

With Love
👻👻👻
©®Chacha Prima

Jumat, 22 November 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro