Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 33

Selamat datang di chapter 33

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like me

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Jodoh nggak mengenal tempat, waktu, dan cara mereka jadi berjodoh. Nggak peduli cara itu baik atau buruk.

—Soka Alvarez
____________________________________________________

“Kamu di mana?”

Sambil menggigit ujung kuku jempol, Jameka yang duduk di closet yang ditutup dengan kaki bergerak-gerak gelisah pun membalas, “Di toilet kantor di lantai bawah. Soalnya toilet ruanganku lagi rusak. Lagi diperbaiki sekarang. Aku takut, Kev,” rengeknya, “maaf sampai kebobolan. Harusnya aku langsung rutin minum pil KB aja.”

Syukur-syukur sekarang Kevino langsung meneleponnya, alih-alih mengabaikannya. Pria itu juga tidak bereaksi berlebihan. Bahkan dengan nada tenang, Kevino menjawab, “Aku ke sana sekarang.”

Setelah sambungan telepon mati, Jameka memejamkan mata sebentar untuk merampok oksigen dan membuang karbon dioksida secara brutal. Pikirannya berusaha tenang dengan meyakinkan diri bahwa Kevino ada bersamanya.

Semuanya gara-gara Tito, batin Jameka. Ataukah memang dirinya yang ceroboh, bodoh, dan tidak bisa membaca peluang? Jikalau tahu Kevino termasuk husband material golongan paling tinggi, tentunya Jameka tidak akan memilih mabuk malam itu sampai berakhir dengan alat uji kehamilan positif siang ini, bukan? Dalam benaknya, sekali lagi ia mengutuk Tito. Lalu ia menyadari tidak ada yang bisa diperbuatnya lagi saat ini kecuali membiarkan dirinya menangis.

“Hah! Berengsek,” umpat Jameka pelan ketika harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa hubungan antara dirinya dan Kevino sudah pasti akan kandas, sementara hubungan Tito dan Carissa makin membaik. Buktinya tadi pagi ia melihat Tito mengantar Carissa dengan Vespa Lih, tetapi tidak memilih kerja; Lih masih menggantikan Tito—entah apa alasannya.

Jangan lupa beberapa waktu lalu Jayden mengambil keputusan terburuk menurut Jameka. Bagaimana tidak? Adiknya itu lebih memilih melepaskan berhektar-hektar lahan HTI Heratl untuk Kepala Desa di Samarinda sebagai aset alam sana. Lalu dengan tidak habis pikir Jayden malah meminta Jameka mencari lahan lain yang bisa ditanami jati Belanda yang lebih ramah lingkungan dan tidak terancam punah seperti pohon di HTI.

Yang benar saja?

Dengan kehamilan ini, apa yang bisa dilakukan Jameka untuk Heratl? Sumbangsih apa yang bisa ia berikan? Tidak ada, selain beban moral dan materi yang mungkin akan membuat Heratl lebih merugi. Mungkin satu-satunya jalan adalah menutup Heratl sepenuhnya.

Belum lagi, seandainya papanya dan Jayden tahu. Jameka tidak bisa membayangkan reaksi mereka. Seratus persen ia yakin mereka akan sangat kecewa. Hidup Jameka rasanya hancur seketika. Dan ia tidak bisa melakukan apa pun lagi selain menerima kenyataan.

“Take a deep breath, Jameka. Take a deep breath,” katanya pada diri sendiri kala harus mengingat bahwa sedari awal mula ia juga memang sudah nekat mengambil keputusan untuk melindungi anak ini, bagaimanapun kondisinya. Ia berjanji tidak akan seperti dulu lagi yang teledor sampai bisa keguguran.

Jadi, sebaiknya Jameka mencuci wajah dulu sebelum menemui Kevino dan mendiskusikan segalanya dengan pria itu, bagaimana baiknya nanti. Mumpung tidak ada orang di toilet ini; karena itu jugalah ia tadi memilih toilet ini, bukan toilet di lantai-lantai lain yang ada penggunanya.

“Ya, Kevino pasti punya solusi.” Lagi-lagi Jameka bermonolog sambil mengelus perut.

Maka, dengan sisa tenaga yang dimiliki, Jameka bangkit, mengusap wajah penuh air mata sampai kering. Setelah meluruskan rok pensilnya yang berkerut, ia meraih beberapa alat uji kehamilan yang diletakkan di tempat menaruh tas—berupa marmer di atas closetyang nantinya akan ditunjukkan ke Kevino.

Sayangnya, tidak semujur itu. Kala Jameka baru membuka pintu, rupanya Carissa tengah berdiri di depannya. Pacar ayah dari calon anaknya itu memang tidak mengatakan apa pun, tetapi ekspresi wajah Carissa menjelaskan segalanya. Bahwa Carissa mendengar obrolan Jameka dengan Kevino di telepon lengkap dengan monolognya. Tidak hanya itu. Carissa juga melihat Jameka menggenggam beberapa alat uji kehamilan.

Jameka langsung lemas tak kira-kira. Ia menunduk, sebelah tangannya yang bebas menahan lutut, tetapi genggaman tangan satunya terlepas sehingga menyebabkan seluruh alat uji kehamilan itu berserakan di lantai.

“B-Bu Jameka ...,” pekik Carissa yang spontan memegangi lengan-lengan Jameka agar tidak ikut jatuh ke lantai. “Bu Jameka nggak apa-apa?”

Lihat? Dengan tulus Carissa menolongnya. Tak menyangka kalau hati Jameka akan sesakit ini. Bagai terpecah belah menjadi kepingan kecil-kecil yang kemudian jatuh berserakan di lantai seperti alat-alat uji kehamilan itu. Jameka spontan ngos-ngosan. “Siapa lagi yang ada di toilet ini?” tanya Jameka yang membodoh-bodohkan diri sendiri karena tak peka, tak mendengar orang masuk toilet.

“Nggak ada, Bu Jameka. Cuma saya aja,” jawab Carissa penuh keyakinan.

Jameka mengangkat kedua tangan, memberi isyarat agar dilepaskan. Berikutnya, sambil gemetar, ia memunguti alat-alat uji kehamilan itu dibantu Carissa. “Tolong jangan cerita ke siapa pun, Bu Carissa,” mohon Jameka tanpa tenaga dan tanpa menatap wanita itu. “Termasuk Tito,” lanjutnya.

“Tapi Bu Jameka nggak apa-apa?”

Jameka tidak menjawab pertanyaan Carissa. Ia memberi pernyataan, “Kevino lagi otw ke sini.”

“Tapi Pak Kevino mau tanggung jawab, kan? Kenapa Bu Jameka nangis?”

Ingin sekali Jameka berteriak bahwa calon anaknya bukanlah anak Kevino, melainkan anak Tito. Jadi, tidak mungkin Kevino akan mau bertanggung jawab. Sayangnya melihat kepolosan, kenaifan, serta ketulusan Carissa, Jameka tidak tega untuk menyakiti hati wanita itu dengan mengatakan yang sebenarnya. Lagi pula siapa yang tidak menangis saat menyadari dunianya sudah hancur?

Jadi, Jameka hanya menjawab sekenanya. “Kami belum ngobrol lebih lanjut. Mungkin habis ini.” Sekali lagi Jameka mengingatkan Carissa. “Tolong jangan cerita siapa-siapa. Saya mohon.”

“Iya, Bu Jameka,” janji Carissa dengan wajah khawatir. “Tapi Bu Jameka beneran nggak apa-apa?”

“Nggak tahu,” jawab Jameka impulsif sambil menggeleng. “Saya takut banget Kevino ninggalin saya gara-gara saya—” Jameka menghentikan kalimatnya saat menyadari hampir mengutarakan kebenaran.

“B-Bu Jameka tenang aja. Pak Kevino pasti nggak bakal ninggalin Bu Jameka,” kata Carissa menyemangati.

Jameka menatap wanita itu sejenak. “Sa-saya harap begitu.”

Namun, apakah mungkin? Walau tidak ada yang mustahil di dunia ini, tetapi Jameka ragu dengan omongan Carissa. Mana mungkin Kevino akan tetap mau bersamanya setelah tahu alat uji kehamilan itu menunjukkan dua garis? Mungkin beda cerita kalau di dalam perutnya itu anak Kevino.

“Sebaiknya saya cuci muka sebelum Kevino dateng. Biar nggak dilihat karyawan lain juga.”

Carissa memperhatikan Jameka membasuh muka. Ia bahkan membantu Jameka mengambilkan tisu kering untuk digunakan bosnya itu. Setelah penampilan Jameka tertata sempurna, Carissa membantu Jameka membungkus alat-alat uji kehamilan tersebut menggunakan tisu. Butuh beberapa lilitan agar bisa menutupi semuanya.

“Makasih, Bu Carissa,” ucap Jameka.

Carissa mengangguk-angguk. “Bu Jameka bisa telepon saya kalau situasinya nggak memenuhi ekspektasi.”

Gantian Jameka yang mengangguk sebelum berjalan beberapa langkah menuju pintu keluar, tetapi akhirnya berbalik lagi dan memeluk Carissa. “Makasih, sekali lagi makasih.”

Carissa yang terharu mengangguk-angguk. “Semoga semuanya baik-baik aja ya, Bu.”

Carissa tidak mengikuti Jameka keluar toilet. Setelah melanjutkan urusannya dalam mengosongkan kandung kemih, Carissa kembali ke meja resepsionis. Dilihatnya Jameka sedang duduk di sofa yang terletak beberapa meter di depan resepsionis dengan tatapan kosong. Bosnya itu sudah membawa tas. Carissa menduga mungkin Jameka izin tidak lanjut bekerja.

Tak lama kemudian, mobil Kevino tiba. Jameka yang semula duduk sambil menyilangkan kaki kontan bangkit untuk menghampiri mobil pria itu yang berhenti di lobi. Sementara di waktu yang sama, Fifian menyeletuk, “Untung lo ngasih tahu kalau ternyata Pak Kevino itu kembar, Ris. Nggak selingkuh. Jadi, gue bisa nge-crush-in doi lagi.”

“Udahlah, Fi! Jangan nge-crush-in cowok yang udah punya cewek! Apalagi mereka bakal punya anak!” omel Carissa sambil menampol pelan lengan sahabatnya itu.

“Punya anak?” ulang Fifian. “Maksud lo Bu Jameka hamil?”

Carissa yang sadar baru saja keceplosan pun merevisi kalimatnya. “Maksud gue dengar-dengar Bu Jameka mau nikah sama Pak Kevino. Mereka, kan, saling cinta. Kalau udah nikah mereka pasti bakal punya anak, kan?”

“Lo dari dulu kalau ngomong emang suka ambigu,” cemooh Fifian, “kirain Bu Jameka lagi hamil.”

“Hus! Jangan kenceng-kenceng, Fi! Omongan Lo bisa aja didenger orang dan bisa jadi gosip! Yang bener itu Bu Jameka kalau nikah sama Pak Kevino pasti mereka bakal punya anak!” Carissa harus melindungi bosnya lantaran amat kasihan dengan kondisi Jameka.

“Abisnya lo ngasih info ambigu.” Fifian tiba-tiba jadi loyo. “Berarti udah nggak ada kesempatan buat gue, dong?”

“Ya jelas enggaklah! Udahlah! Ayo kita kerja lagi.”

•••

Dengan mata terpejam, Kevino Eclipster meletakkan kepala di kemudi mobil. Tadinya ia masih bisa tenang saat hanya melihat foto alat uji kehamilan dengan hasil positif yang dikirim Jameka. Namun, saat kini semua alat itu nyata ada di dasbor depannya, bahkan salah satunya berada di genggamannya, perasaannya kontan campur aduk.

Di samping pria itu, Jameka duduk dengan risau. Sekujur tubuhnya terasa dingin sampai-sampai menelan ludah pun sulit. Berbanding terbalik dengan cuaca di luar tepi pagar pembatas lapangan udara yang panas. Ia tak protes ketika Kevino memarkir mobilnya di dekat alang-alang yang tingginya hampir mencapai tinggi pria dewasa. Mobil mereka tertutup, obrolan pun menjadi ekslusif.

Mereka sama-sama diam dengan napas mirip orang habis lari cepat. Lalu tanpa melihat Jameka, Kevino turun dari mobil menuju bagian samping, ke arah jalan setapak yang tidak ditumbuhi ilalang. Di tengah terik matahari, pria itu melempar alat uji kehamilan yang dibawanya. Alat itu melambung jauh ke aspal seberang jalan lalu pecah berkeping-keping, persis gambaran hatinya. Setelahnya ia menunduk dan mengusap wajah kasar. Lalu Kevino menekan kedua sudut mata menggunakan tangannya yang bergetar.

Melihat reaksi pria itu, Jameka kembali tidak bisa mengendalikan diri. Air matanya kembali berlinang lantaran amat sadar telah menyakiti Kevino dan semua orang. Dengan pikiran dan hati kacau, Jameka turun dari mobil untuk menghampiri dan memeluk pria itu dari belakang.

“I’m so sorry. I’m so sorry, Kev.”

Kondisi ini amat sulit bagi Kevino sehingga tidak bisa membalas pelukan Jameka. Benaknya masih bingung, marah, dan kecewa. Ia berusaha menguasai emosi dengan menarik garis peristiwa dari awal mula bertemu Jameka. Yah, tampaknya memang salahnya karena memaksakan diri hadir di waktu yang tidak tepat. Salahnya juga karena lebih memilih mengambil kesempatan ketimbang mengakhiri perasaannya kepada Jameka sebelum memulai menjalin hubungan dengan wanita itu secara serius. Salahnya! Semua ini salahnya!

Namun, sudah terlambat untuk memutar balik haluan. Semua sudah terjadi. Jalur putar balik tidak tersedia, yang ada hanyalah jalan ke depan. Kevino sudah jatuh cinta pada Jameka dan sebaiknya melakukan apa pun demi wanita itu.

Salah satu pesawat melintas di atas mereka. Kevino melepaskan diri dari pelukan Jameka dan berteriak sekencang-kencangnya sambil mengumpat-umpat di antara suara mesin pesawat yang bising. Tangis Jameka makin deras.

Kevino berbalik menghadap Jameka dan agaknya telah berhasil membuang kemurkaan. Buktinya sambil memegangi kedua pundak Jameka, pria yang tersenyum getir itu menukas, “Bukan salahmu, Jameka. Jangan nyalahin diri sendiri.”

“Tapi aku ceroboh.”

“Ya, aku emang mau bilang kamu ceroboh karena nggak nuruti saranku buat segera ke dokter kandungan waktu itu. Tapi itu dulu, waktu kita masih pura-pura dan setelah denger ceritamu, aku ngerti kenapa kamu takut banget. Sekali lagi aku tekankan ini bukan salahmu. Aku aja yang tiba-tiba dateng di waktu yang salah. Yang akhirnya bikin kita maju-mundur buat ke dokter kandungan. Tapi berhubung kamu udah cek pakai tespack, jadi sebaiknya kita ke dokter kandungan secepatnya. Kalau bisa sekarang juga.”

Kendati pria itu tidak membicarakan tentang hubungan mereka ke depannya, tetapi Jameka tidak ingin menuntut. Bagaimanapun, ia harus bersyukur Kevino masih ada untuknya sekarang, tidak meninggalkan dirinya di saat terpuruk seperti ini.

•••

“Tito bawain nasi padang, Yah.”

Pria beruban dalam setelan baju oranye bertuliskan ‘TAHANAN’ beserta nomor urutnya yang duduk di depan Tito itu mengangguk-angguk sambil tersenyum. “Makasih, tapi kenapa akhir-akhir ini kamu jadi sering ke sini?”

“Emangnya nggak boleh? Lagian ini mumpung Tito senggang.”

Pria tua itu mengudarakan tawa kecil sambil membuka kotak nasi padang. “Jangan bohong sama Ayah, To.” Ia menyuapkan sesendok nasi penuh lauk rendang, sayur singkong, dan sambal hijau. Begitu nikmat. Sambil mengangguk-angguk dan setelah menelan makanannya, ia bertanya, “Ada yang kurang beres?”

Ayahnya selalu saja pandai menebak situasi yang dialami Tito. Namun, ia tidak ingin mengutarakannya. Jadi, ia pura-pura membelokkan topik. “Tito punya pacar, Yah.”

Kedua alis Soka Alvarez berkerut. Itu jawaban di luar ekspektasinya. Ia pikir setelah peristiwa bertahun-tahun lalu, Tito tidak akan pernah bisa mempercayai seseorang wanita, apalagi menjalin hubungan dengan salah satu dari mereka. Ternyata setelah bertemu wanita tepat, semua orang bisa berubah. Itu pertanda bagus. Oleh sebab itu, ia lebih memilih mengikuti arah obrolan Tito. Lalu dengan bangganya ia menebak, “Jameka Michelle? Kakaknya bosmu?”

Tersenyum getir, pandangan Tito beralih ke meja sekilas. “Bukan Jameka.”

Soka menghentikan kunyahannya dan langsung menelan makanannya. Dengan kening berkerut-kerut, ia kembali bertanya, “You met someone else?”

Tito mengangguk-angguk pelan.

“What happened with Jameka?” tanya Soka penasaran. Pasalnya selama hampir enam bulan ini, setiap kali Tito menjenguknya, hanya Jameka yang dibicarakan. Jameka yang inilah, Jameka yang itulah. Jameka yang ngamuk saat Tito menjahilinya, Jameka yang takut melihat ikan digoreng di warteg, Jameka yang sering menyapa kucing di jalan, Jameka yang mengobrol dengan kucing domestik, yang kebetulan duduk di kursi kafe, dan Jameka yang lain-lain. Kenapa pacar Tito malah bukan Jameka?

Tito mengangkat bahu ringan. “Nggak mujur. Jameka nolak soalnya.”

“Kok, kamu gampang putus asa?”

“Bukannya putus asa, Yah. Tapi emang udah nggak ada harapan. Jameka punya pacar karena itu nolak Tito.”

Masih dengan tenang, Soka mengusulkan, “Kenapa nggak kamu rebut?”

“Masalahnya, dia tipe cewek setia. Mana pacar Jameka itu ganteng, kariernya bagus, bucin ke Jameka, nggak ada berengsek-berengseknya. Belum lagi Om Alle sama bos welcome sama dia. Pokoknya pacar Jameka itu suami-able, bikin insecure.” Lagi-lagi Tito tersenyum getir.

“Wah, kayaknya susah, ya, To?” komentar Soka sambil nyengir kuda.

“Salah Tito juga kenapa nggak confess dari dulu. Udah telat banget sampai Jameka punya pacar serius. Bahkan mereka mau nikah, Yah. Tadi Lih telepon ngabarin berita itu karena nggak sengaja denger gosip resepsionis.”

“Makanya kamu ke sini?”

“Iya. Tito nggak sanggup kayaknya kalau mesti di sini sampai lihat Jameka nikah sama pacarnya. Rasanya Tito mau balik Inggris aja. Tapi Ayah gimana nanti kalau Tito balik Inggris?”

Rupanya ini memang bukan sekadar obrolan basa-basi. Jadi, Soka meletakkan sendok plastik dan menutup nasi padangnya. Setelahnya ia menyeruput es teh manis. Sebenarnya dalam Lubuk hati, ia cukup kecewa dengan keputusan Tito, tetapi apa yang bisa dilakukannya?

“Ayah udah lama di sini, udah hampir dua puluh tahun. Rasanya udah kayak rumah. Kamu juga sering jenguk Ayah. Bawain makanan kesukaan Ayah. Cerita kehidupanmu ke Ayah. Kamu juga cukup sukses. Apalagi yang Ayah pengin lihat selain kamu hidup bahagia? Kalau ke Inggris bisa nyembuhin luka dan bahagiain kamu, kenapa Ayah harus nyegah? Jadi, nggak usah khawatirkan Ayah. Toh, kamu udah pernah di sana lama, tapi masih bisa jenguk Ayah, kan? Tapi ada hal-hal yang mesti kamu ingat, To.”

“Hal-hal apa, Yah?” tanya Tito tanpa tenaga.

“Kalau udah jodoh, pasti nggak akan ke mana. Kamu bisa aja putus sama pacarmu. Jameka bisa aja putus sama pacarnya. Terus kalian bisa mulai dari awal. Setelah nikah pun—misalnya kamu nikah sama pacarmu dan Jameka sama pacarnya, masing-masing dari kalian bisa cerai. Terus kamu sama Jameka bisa mulai dari awal. Jodoh nggak mengenal tempat, waktu, dan cara mereka jadi berjodoh.

“Nggak peduli cara itu baik atau buruk. Tinggal kitanya aja mau maju, mundur, atau pasrah. Pilihan semuanya ada di pribadi masing-masing. Tapi kita harus ingat, sesuatu yang didapat dari hasil tindakan buruk, karma selalu menyertai. Karena itu, berusahalah jadi versi terbaik buat jodohmu nanti, To. Ada Dan kalau kamu sanggupnya pergi, Ayah cuma bisa berdoa supaya kamu bahagia.”

•••

“Silakan duduk, Pak, Bu,” tukas seorang perawat yang mempersilakan Jameka dan Kevino duduk di depan meja dokter spesialis kandungan.

Dokter wanita berkacamata itu membaca sekilas daftar riwayat pasien di tablet, kemudian memastikannya dengan bertanya pada Jameka dan Kevino. “Di sini saya lihat, ada riwayat pernah pernah hamil dan keguguran, ya?”

Jameka menatap Kevino sekilas sebelum menatap dokter lagi. “Iya, Dok,” jawab Jameka pelan.

Dokter itu kembali bertanya, “Tidak pakai alat kontrasepsi dan hari ini sudah diperiksa di beberapa tespack, hasilnya positif semua.”

“Iya, Dok,” jawab Jameka lagi.

Dokter kembali membaca anamnesa pasien di tablet. “Terakhir kali menstruasi tiga bulan lalu dan nggak ada gejala morning sickness.”

“Iya, Dok.” Kali ini Kevino yang menjawab sambil mengangguk-angguk.

“Ok, saya nggak akan bicara panjang lebar dulu. Sebaiknya kita periksa menggunakan USG dulu ya? Silakan Bu Jameka berbaring di sana.”

“Mari silakan sebelah sini, Bu,” kata perawat yang sudah siap membantu Jameka.

Jameka meletakkan kepala di lengan Kevino sejenak seolah-olah mencari sumber kekuatan, sebelum akhirnya berbaring. Perawatan tadi membantu mengoles lubrikan di perut Jameka sebelum dokter memeriksa menggunakan USG.

Tatapan dokter fokus pada layar USG sementara tangannya yang memegangi alat bergerak-gerak di perut bagian bawah Jameka. Kevino yang bersidekap ikut memperhatikan di LCD depan brangkar. Satu tangannya yang sedingin es mencengram rahangnya. Cengkraman itu mengetat saat dokter berkata, “Setelah saya teliti secara saksama, nggak ada tanda-tanda kehamilan di sini. Tapi ada satu masalah, Pak, Bu.”

____________________________________________________

Pusing nggak kelen? 😂

However thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo-typo perusak ketampanan naskah, I appreciate it.

Dan berhubung naskah Mr. Mafia and I akan diterbitkan, jadi maap ya teman-teman saya harus hiatus dulu nulis Jameka buat revisi Jayden. Doain aja bisa cepet biar bisa langsung lanjutin Jameka.

Well, Bonus foto Jameka Michelle

Kelen kubu mana gaes?

Kevino Eclipster?

Atau

Tito Alvarez?

See you next chapter teman-temin

With Love
👻👻👻
©®Chacha Prima

Minggu, 25 Februari 2023

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro