Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 26

Selamat datang di chapter 26

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like me

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Kadang kenyataan baik yang tersaji di hadapan kita bertolak belakang dengan kenyataan buruk yang dipilih hati kita.”

—Taming The Boss
____________________________________________________

“Jameka sayang .... Akhirnya sampai di Bandung juga ...,” pekik Bianca penuh antusias. Ia berjalan dari teras depan menuju undakan sembari membuka kedua lengan, untuk menyambut Jameka bersama Kevino yang baru turun dari mobil.

Dengan senyum lebar, sang suami mengikuti wanita paruh baya dalam balutan gaun putih gading sepanjang mata kaki yang dilapisi kardigan rajut cokelat muda itu. Bedanya Davis tidak turun, melainkan berhenti di undakan paling atas seraya memasukkan kedua tangan di saku celana supaya lebih hangat, menunggu Kevino yang merangkul pinggang Jameka berjalan ke arahnya.

Sambil mencangklong tas di bahu kiri dan menenteng bungkusan di tangan kanan, Jameka dipersilakan Kevino berjalan lebih dulu. Ia pun dengan senang hati menerima kedua uluran tangan itu sebelum memeluk Bianca penuh kasih sayang, selayaknya seorang anak yang rindu ibunya. “Apa kabar, Tante?”

“Baik .... Kamu apa kabar?” tanya Bianca berseri-seri. Lega lantaran setelah beberapa kali tidak jadi ke Bandung, akhirnya bisa Jameka datang bersama Kevino.

“Baik, Tante. Ini ada oleh-oleh dari kami.” Jameka mengulurkan bungkusan itu dan Bianca menerimanya.

“Ya ampun ..., makasih. Kamu ini persis papamu, suka repot-repot.”

“Nggak repot sama sekali, Tante.”

Di waktu yang sama Kevino bersalaman dengan Davis dan mendapat tepukan pundak bangga dari orang tuanya itu.

Bagaimana tidak? Setelah menjadi anak badung yang gemar melanggar aturan, Kevino kini menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Dulu Kevino pria yang dingin dan cenderung cuek. Bersama Jameka, Kevino menjadi hangat dan penuh perhatian. Kevino pun melaksanakan tugas dengan baik untuk memimpin lini Utama Raya Pulp and Paper menggantikan putra sulung. Ibarat kata, putranya telah menjadi pria sejati.

“Macet, Kev?” tanya Davis kepada Kevino.

“Enggak seberapa, Pa. Soalnya berangkat lebih awal, emang sengaja hindarin macet pulang kerja.” Kevino merasa lega karena tiba di Bandung ketika langit masih menampilkan warna oranye cantik.

Sebenarnya pergi ke rumah orang tua Kevino merupakan rencana yang tiba-tiba dicetuskan Jameka pada saat mereka makan siang. Siapa yang bisa menolak? Kevino tentunya dengan senang hati menerima usulan tersebut sehingga langsung menelepon ibundanya. Kabar itu disambut baik oleh kedua orang tuanya.

Berhubung tak ada persiapan apa pun untuk menangkal suhu yang biasanya turun pada sore menjelang malam, Kevino memberi ide membeli pakaian hangat di toko yang searah ke Bandung. Mereka membeli sweter kasmir putih gading kembar dengan ukuran sama. Sweter yang dikenakan Jameka sudah pasti kedodoran, tetapi cocok dengan rok plisket cokelat gelapnya yang modis, berpadu dengan sepatu kulit Loro Piana warna serupa. Sedangkan Kevino yang kebetulan tak mengenakan jas atau vest, langsung melapisi kemeja cokelat mudanya dengan sweter tersebut.

Dalam perjalanan, Jameka pun izin papanya. Allceio lantas menitip salam kepada orang tua Kevino dan ingin agar Jameka membelikan oleh-oleh untuk mereka. Pada saat gantian menjabat tangan Davis, Jameka menyampaikan salam tersebut. Dan ia bersama Kevino pun digiring Bianca menuju ruang makan.

Rumah orang tua Kevino memang tidak seluas mansion Allecio. Akan tetapi, rumah ini terawat dengan baik. Cat abu-abu terangnya tidak ada yang mengelupas sama sekali. Mereka juga melewati ruang tamu luas bergaya semi modern dengan satu set sofa kulit cokelat gelap dan meja kayu jati tanpa ukiran di sekeliling sofa. Beberapa lukisan abstrak terpajang di dinding dan kandelir kristal menggantung dari langit-langit tinggi lantai dua tanpa sekat, menjuntai hingga ke lantai satu. Guci-guci antik turut memeriahkan rumah tersebut. Dari dinding kaca sebelah kiri yang berembun, matahari terbenam yang tampak samar-samar mampu membuat Jameka terkesima.

“Walau masih sore gini, kita langsung makan malem aja, ya. Sambil minum minuman anget. Ini Tante bikin Bandrek Sunda khusus buat Jameka, loh .... Semoga suka, ya, Sayang.”

Jameka tersenyum saat diberi secangkir minuman hangat oleh ibunda Kevino. “Terima kasih, Tante,” ucapnya tulus. Telapak tangan kirinya ditempelkan ke seluruh cangkir putih berlarik emas tersebut. Kehangatannya berpindah padanya.

“Tenang, itu nggak pakai bahan-bahan hewani, kok, Sayang.”

Sekali lagi Jameka berterima kasih kemudian menghidu permukaan cangkir itu. Aroma rempah-rempah berlimpah kontan masuk ke indra pembaunya. Aroma jahe memang mendominasi, tetapi Jameka dapat mencium aroma kayu manis, cengkeh, kelapa parut, gula merah, dan sedikit aroma pala. Semua komponen itu membuat pikiran Jameka rileks. Lalu ia menyeruput minuman tersebut tanpa suara. Kehangatan mengalir di tenggorokan menuju dadanya.

“Bunda kalau udah ada Jameka lupa sama anak sendiri,” sindir Kevino dengan tawa geli sambil menuang sendiri minuman itu dari teko. Padahal biasanya dilayani bak pangeran, tetapi tak apalah. Ia akan mengalah untuk Jameka.

“Iya. Tadi siang begitu kalian ngabarin mau ke sini, bundamu, teh, langsung sibuk di dapur. Masak-masak, bikin ini, bikin itu,” sambar Davis sembari menunjuk menu-menu di meja makan yang sudah tersedia. Meski tidak ada bahan hewani, dari tampilan dan aromanya sangat menggugah selera.

“Maaf, Om, Tante, jadi ngerepotin,” pungkas Jameka.

Bianca pun mengibas tangan. “Ngerepotin apa? Tante, teh, saking antusiasnya sampai pengin bikin semua ini. Ayo, silakan dimakan atuh. Semoga masakan Tante cocok di lidah kamu. Semuanya tanpa produk hewan, loh ....” Bianca pun bangga dengan hasil masakan-masakannya.

“Yang lainnya mana, Bun?” tanya Kevino.

“Kamu tahu sendiri Bang Erlang masih di Brooklyn, Satria ada kegiatan sekolah, jadi belum bisa pulang. Kalau Gavino katanya lagi kencan sama siapa itu namanya? Yang rambutnya pirang itu, loh?”

“Siapa? Bukannya kemarin rambutnya merah? Emang ganti lagi?” tanya Kevino yang berusaha mengingat-ingat pacar saudaranya sambil ngemil kerupuk yang terbuat dari nasi.

“Nggak tahulah. Kayaknya masih sama. Tapi cuma ganti penampilan. Belum dikenalin ke Bunda sama Papa. Tapi Bunda tahu dari status WA-nya, lagi di bioskop.”

“Asal jangan kayak dulu aja,” gumam Kevino sebelum ganti mencomot cookie sayur buatan bundanya. Ia teringat beberapa insiden.

Seperti bisa membaca pikiran Kevino, Bianca lalu bercerita kepada Jameka. “Kamu tahu, Sayang, kadang-kadang Kevino itu dilabrak sama cewek-cewek yang deket sama Gavino. Pernah waktu itu sampai ditampar, ya, Kev?”

Sementara Kevino hanya nyengir kuda, Davis cekikikan, ingat betul kejadian itu. Lalu David menambahkan, “Gara-gara itu berantemlah Kevino sama Gavino. Kevino ini sering dikira Gavino. Kadang Gavino juga sering dikira Kevino. Nggak sekali dua kali Kevino atau Gavino dikira selingkuh,” sambung Davis, “mumpung kita bahas ini, jadi sekalian aja kita ingetin Jameka.”

“Iya, jangan kaget kalau tiba-tiba dapet laporan aku mesra sama cewek lain. Jangan buru-buru dianiaya dulu. Bisa jadi itu Gavino sama ceweknya,” lanjut Kevino santai. Lalu berbisik dan mengedipkan sebelah mata kepa wanita itu. “Only you, Baby.”

“Tapi kamu tenang aja, Sayang. ” Bianca menyentuh punggung tangan Jameka. “Mereka emang kembar identik, tapi bisa dibedain. Gavino punya tahi lalat kecil di pipi kiri, agak ke atas dikit gitu pas di atas cambangnya. Kalau Kevino nggak ada.”

“Kenapa kamu nggak cukur cambang aja, Kev? Biar beda sama Gavino?” usul Davis.

“Yang benar itu, Pa ..., mereka harusnya bilang juga kalau kembar. Biar nggak ada miskom. Biar nggak sembarang nuduh selingkuh,” timpal Bianca.

“Waktu lagi jemput sepupu kita, Charlotte Chaleigh, di bandara gara-gara Bang Erlang ada rapat dadakan, tiba-tiba aku dapet tabok pramugari. Padahal kenal aja enggak. Sial betul nasibku. Besok aku gundulin rambutku aja biar nggak salah lagi.”

Davis kembali menimpali, “Kayak nggak tahu Gavino aja. Lama-lama dia juga pasti ikut gundul.”

“Nggak apa-apa, biar kita dikira melihara dua tuyul, Pa,” sambar Bianca.

Saat semua orang di meja makan tertawa geli dan Jameka baru akan memproses pikirannya soal omongan Carissa tadi, tanpa tedeng aling-aling, ibunda Kevino bertanya, “Eh, kalian nginep sini, kan?”

Semua orang menatap Jameka seolah-olah menunggunya menjawab. Namun, ia malah melihat Kevino untuk meminta bantuan. Pria itu pun menolong Jameka dengan membeberkan, “Maaf nggak bisa nginep, Bun. Besok pagi aku ada rapat, Jameka juga harus ketemu klien.”

•••

“Maaf kita harus balik Jakarta malam ini,” kata Jameka ketika sudah sekitar dua puluh menit lalu mobil Kevino keluar gerbang rumah orang tua pria itu menuju jalan raya dan bergabung dengan pengendara-pengendara lain.

Pada saat makan siang dan tercetusnya ide ke Bandung, mereka memang sepakat tidak menginap. Namun, Jameka merasa khawatir kala melihat kedua alis Kevino berkerut sejak mobil yang mereka tumpangi keluar dari rumah. Itu memunculkan pertanyaan: Apakah Jameka mengecewakan Kevino? Apakah Kevino masih merindukan orang tuanya?

“Nggak apa-apa, Baby,” jawab Kevino sambil lalu sebab fokus pada mobil Civic Turbo putih yang terlihat di spion belakang. Ini hanya perasaanya saja atau memang benar adanya ia pernah melihat mobil itu? Jenis mobil tersebut memang banyak dimiliki orang Bandung dan mungkin di seluruh Indonesia atau di tempat pemasaran penjualan mobil tersebut. Namun, kenapa ia tak asing dengan bunyi kenalpot racing dan modif khas mobil itu yang sepertinya tidak semua orang miliki? Dan, mobil itu mengikutinya sejak sepuluh menit lalu. Masuk akalkah?

“Kamu marah, Baby?” tanya Jameka lembat-lambat sembari menyentuh lengan pria itu.

Perhatian Kevino lantas teralihkan ke Jameka. Memutuskan tidak ambil pusing, ia meraih tangan Jameka dan menggenggamnya sejenak untuk menenangkan. “Enggak, kok. Aku malah seneng kamu jadi ke Bandung. Kapan-kapan kita bisa ke sini lagi.”

“Aku bisa gantiin nyetir kalau kamu capek,” tawar Jameka.

“Enggak usah, Baby. Kalau capek bisa berhenti dulu istirahat, makan camilan dari bunda sambil beli minum atau apa.”

Setelah satu jam perjalanan, mereka berhenti di area peristirahatan lantaran Jameka yang tak kuasa menahan hasrat buang air kecil. Ia lekas-lekas mengambil tisu kering agak banyak dan uang receh, lalu ke toilet. Setelah kembali ke mobil, Jameka mendapati Kevino tidur.

Pria itu menurunkan kursi sampai landai. Sebelah lengannya menutupi mata dan napasnya teratur, terlihat amat nyenyak. Seperti baru mendapat kualitas tidur yang baik. Setelah menyemprot antiseptik dan menggunakan krim tangan, Jameka ikut menurunkan kursi sampai landai seperti Kevino. Ia lantas mengubah posisinya menjadi miring, menghadap pria itu.

Kevino pasti lelah sampai ketiduran, pikir Jameka muram. Namun, pria itu mau menuruti idenya, bahkan menyetir dan melarang Jameka menggantikannya. Benak Jameka pun berkelana, berandai-andai bagaimana seandainya bila ia tidak melakukan kesalahan pada malam itu bersama Tito?

Jameka menguap, tanda kantuk menyerangnya. Ia menatap Kevino lagi. Sebelum berlayar ke pulau mimpi, ia kembali berpikir. Bagaimana mungkin ia akan melepas pria se-green flag Kevino?

•••

“Thanks for today,” ucap Jameka setelah mereka berdiri di depan pintu kondominium Jameka.

Kevino yang setengah menguap pun menjawab, “Maaf semalam ketiduran. Jadi pulang subuh gini.”

“Mestinya aku yang minta maaf soalnya tiba-tiba punya ide ke Bandung di hari kerja.”

“Aku tahu. Tapi itu bagus, mumpung kita bisa.” Kevino juga berpikir kalau diundur atau diagendakan lagi, ia takut tidak jadi seperti kemarin-kemarin. Bagaimana kalau Jameka menghilang lagi? Ia rasa akan gila karenanya.

“You can stay here if you’re very sleepy,” tawar Jameka. “Lumayan masih ada dua jam buat tidur.”

Senyum melekuk di bibir Kevino. Ia menyentuh pipi Jameka seraya berkata, “I would like too. Tapi takut kebablasan. Tidurnya maksudnya, takut telat rapat, jangan mikir aneh-aneh.”

“Aku nggak mikir aneh-aneh,” bantah Jameka. Makanya ia menawarkan pria itu istirahat di rumahnya.

Kevino membuang napas agak banyak sebab sebenarnya tak rela pulang. Namun, ia harus berpikir waras. Masalah yang satu belum beres. Jadi, diselesaikan satu per satu dulu, pikirnya. “Well, see you soon.” Ia lantas memeluk Jameka dan sedikit mencicipi rasa bibir wanita itu sebelum pergi.

Jameka mengatupkan bibir untuk menyembunyikan senyum yang berpotensi membuat pipinya naik. Ia membuka pintu, menutupnya, lalu bersandar. Sebelah tangannya yang tidak menenteng bungkusan oleh-oleh dari ibunda Kevino menyentuh bibirnya.

“Dari mana aja? Kenapa baru pulang, Jameka?”

“Astaga!” pekik Jameka sambil mengurut dada ketika mendengar suara berat seorang pria. Jantungnya pun berdegup kencang. Detak itu bertambah kala matanya menangkap sosok pria yang duduk di sofa tunggal di ruang tamu, persis beberapa langkah di depannya. Sebelah kaki pria itu diletakkan di atas kaki yang lain. Sedangkan kedua tangannya masing-masing diletakkan di lengan sofa. Tatapan pria itu muram dan terlihat siap membanting apa pun yang ada di hadapannya. “Nga-ngapain lo di sini, To?”

Bukannya menjawab, Tito malah bertanya, “Lo nginep di tempat cowok lo?”

Mood Jameka langsung terjun bebas. Setelah tiga hari hilang komunikasi, kenapa pria itu tiba-tiba ada di sini? Bukankah seharusnya Tito di Inggris bersama Jayden?

Sepertinya Jameka harus menghapus sidik jari Tito dari keamanan kondominiumnya agar pria itu tak bisa keluar masuk seenaknya.

“Bukan urusan lo,” jawab Jameka tidak bertenaga seraya membuang muka. Ia lelah dan mengantuk, ingin tidur tanpa gangguan. Apalagi berdebat dengan Tito.

“Bisa nggak, sebentar aja lo nggak ngusik pikiran gue?”

Itu pertanyaan yang lucu menurut Jameka. “Are you fucking kidding me? Nggak kebalik? Gue nggak pernah ngusik lo sama sekali.”

Sepertinya Tito memang tidak mendengarkan sedikitpun jawaban Jameka. Sebab masih dengan nada serak dan dalam, ia kembali bertanya, “Lo abis tidur sama si Bang Ke?” Pria itu sudah berdiri dan berjalan perlahan-lahan menuju Jameka.

Entah kenapa Jameka merasa takut. Pria itu tampak berbahaya. Namun, harga diri membantunya untuk berani menjawab, masih dengan nada baik-baik. “Udah gue bilang itu bukan urusan lo. Lebih baik lo keluar dari kondo gue. Gue ngantuk, mau tidur.”

Lagi dan lagi Tito tidak menghiraukan Jameka. Kedua lengannya terjulur ke pintu, bermaksud mengunci wanita itu agar tetap di tempatnya. Dengan tatapan tajam dan nada masih serendah tadi, ia menegaskan, “Bisa nggak lo tinggalin si Bang Ke? Dia berengsek. Jangan jadi cewek murahan ke dia.”

“What?” Jameka memelotot dan amarahnya bangkit. Hatinya bagai ditusuk-tusuk. Setelah mengatainya pantas ditinggal River, sebentar lagi akan ditinggal Kevino, dan Jameka akan tua serta sendirian, sekarang Tito mengatakan dirinya cewek murahan? Benar-benar kurang ajar! “Maksud lo kayak cewek-cewek yang lo bungkus tiap datang ke suatu tempat? Termasuk Carissa?”

“Ini nggak ada hubungannya sama Carissa. Ini tentang kelakuan lo dan si Bang Sat. Dia itu berengsek. Gue nggak mau lo jadi murahan—”

Satu tamparan kencang mendarat di pipi Tito yang berhasil menghentikan pria itu bicara. Rasanya panas dan membekas.

“How dare you!” maki Jameka. Get out of my house now,” titahnya dengan mata berkaca-kaca dan nada rendah serta penuh penekanan.

“Si Bang Ke selingkuh dari lo, Jame! Gue punya buktinya. Jadi, lo harus tinggalin dia.”

“Get out of my house now!” ulang Jameka yang tak ingin mendengar omongan Tito. Pria itu sama saja dengan Carissa. Bikin sakit hati.

Wajah kacau dan air mata yang mengalir di pipi wanita itu bagai meremas hati Tito. Ia menatap Jameka agak lama, bertanya-tanya apa yang salah darinya, dari tindakan atau perkataannya. Namun, tak menemukannya. Bahasa mereka sehari-hari seperti ini. Kenapa Jameka menangis?

You’re going too far. Please, To. Gue nggak pengin liat muka lo atau ngobrol atau apa pun sama lo. Udah cukup jahat lo ngatain gue pantes ditinggal River, bakal ditinggal Kevino juga, lo juga ngatain gue bakal tua dan sendirian. Sekarang lo malah ngatain gue murahan. But at least gue nggak sama lo. Tapi sama Kevino. So, get the fuck out of my house now.”

Tapi gue nggak pengin lo dikadalin sama si Bang Ke.”

Jameka mengelap air mata kasar, menjatuhkan bungkusan oleh-oleh dari ibunda Kevino ke lantai agar memiliki tenaga lebih untuk mengusir Tito. “Get the hell out of here!”

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen atau benerin typo-typo

Kelen luar biasa

And it’s a lot to me

Bonus foto Jameka Michelle

Kevino Eclipster versi gundul

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Minggu, 21 Januari 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro