Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 17

Selamat datang di chapter 17

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like me

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Aku bukan pencemburu. Aku hanya suka ingin memukul setiap pria yang melihatmu lebih dari dua kali.

Tito Alvarez
____________________________________________________

Kinerja Lih Gashani jauh beda dengan Tito Alvarez. Meski telah mempelajari semua seluk-beluk Heratl, terutama bagian jadwal Jameka untuk beberapa hari ke depan selama Tito belum kembali, Lih tidak seberapa cekatan. Pria pendiam itu lebih mirip anak anjing yang mengekori majikannya daripada asisten pribadi CEO. Contohnya seperti sekarang.

“Iya, Jang. Jadwal yang barusan lo konfirmasi dari klien catet di buku catetan. Tito udah ngasih lo buku jadwalnya, kan? Aktifin pengingat juga biar nggak lupa.”

Lih yang duduk di kursi depan meja CEO pun menggaruk kepala menggunakan ujung pena yang tumpul. Setelah berpikir selama beberapa detik, ia lantas menulis semua yang diarahkan Jameka di buku catatan kecil milik Tito. Lalu ia memindah ke pengingat di ponsel.

“Nah, gitu, dong,” puji Jameka yang diam-diam bernapas lega. Akhirnya ia bisa membimbing anak anjing satu ini. Ia jadi bangga pada dirinya sendiri sekaligus pada Lih yang mau berusaha.

“Udah, Yang Mulia Ratu,” lapor Lih, menunggu titah selanjutnya, tetapi rupanya tidak ada tindakan lain dari Jameka.

“Good job. Good boy, Bujang.”

Kedua alis Lih mengernyit lantaran tersinggung. Kok, gini banget? Kayak anjing aja, batinnya. Namun, ia jenis manusia yang tidak ingin ambil pusing dengan urusan remeh temeh. Terutama ketika ia mengenal baik Jameka. Wanita itu memang sering kali berbicara blak-blakan dengan wajah dan intonasi datar. Kendati kadang-kadang tersurat, bahasa yang digunakan Jameka juga agak ekstrem. Sekali lagi Lih bersyukur lantaran sudah mengenal lama Jameka. Kalau belum, ia pasti sudah mengobrak-abrik tempat ini.

“Habis Tito balik, kayaknya lo harus magang di sini, deh. Biar nggak balapan mulu isi hidup lo,” usul Jameka. Sesekali ia memeriksa berkas di depannya, meneliti satu per satu. Barangkali ada hal yang luput dari perhatiannya.

Sayangnya membujuk Lih tidak semudah berkedip atau membalik telapak tangan. Selain menghindari hal-hal rumit, Lih juga tidak terlalu percaya diri. Oleh karenya balapan ialah satu-satunya hal yang cocok bagi Lih. Pekerjaan yang sangat gampang. Hanya mengumpulkan masa—itu pun tugas Arga, lalu kong-kalikong dengan kedua belah pihak yang akan balapan sesuai uang taruhan yang didapat dari kubu masing-masing. Selanjutnya bagian pacarnya Arga yang memulai sesi balapan sesuai penetapan berapa putaran dengan hadiah yang disepakati atau dipertaruhkan.

Ibaratnya Lih itu juri yang menonton; kadang-kadang dari dekat, kadang-kadang dari jauh sambil merokok. Ia tidak banyak berpikir dan tidak mengeluarkan energi untuk bergerak atau bicara terlalu banyak. Sangat santai.

Sebagai pria yang paling muda di basecamp, Lih bisa jadi sangat penurut. Terutama ketika menerima mandat dari Jayden—yang tentu saja wajib dilaksanakan—atau dimintai tolong Tito melakukan sesuatu. Namun, untuk magang di Heratl yang diambang kebangkrutan? Jelas tidak. Menjadi asisten pribadi Jameka saja sudah memusingkah. Apa lagi harus magang dengan posisi lainnya? Lih pasti muntah di hari pertamanya magang.

Lih pun menanggapi, “Nggak, makasih. Gue nggak cocok jadi pegawai. Public speaking gue jelek.”

Jameka mengangkat wajah untuk menatap Lih. “Itu Bisa dilatih, Jang. Entar Tito atau gue bisa ngajarin lo. Oh ya, entar lo ke bokap gue duluan aja. Gue nyetir sendiri. Karina pinjem mobil gue kemarin. Entar mau dibalikin.”

“Kenapa ngasihnya nggak di Om Alle aja?” tanya Lih heran. Kalau ada yang simpel, kenapa harus cari yang ribet?

“Sekalian dia mau bareng Pak Zavi katanya. Jadi, dia bawa mobil gue ke sini, terus dia sama lakinya bareng-bareng sama gue ke rumah bokap gue. Iring-iringan gitu.”

Sekali lagi Lih menggaruk kepala menggunakan pena yang ujungnya tumpul. “Ribet bener. Atur ajalah.” Suka-suka Yang Mulia Ratu Jameka.

Jameka senang. Bila Tito mirip anjing doberman disiplin yang dilatih untuk melindungi pemilik dari mara bahaya, Lih lebih mirip anak anjing shih tzu. Omong-omong soal Tito ....

Jameka spontan meletakkan tangan di perut. Tak ingin memikirkan lebih daripada itu, ia melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya sebelum memerintah Lih. “Jang, tolong telepon Carissa. Ingetin dia harus hadap gue sebentar lagi.”

Kalau yang diperintah adalah Tito, Jameka yakin pria itu sudah mencak-mencak; bertanya hal tersebut dari A sampai Z. Jika belum puas dengan jawaban yang diberikan Jameka, Tito pasti akan terus bertanya, mengejarnya sampai dapat. Sering kali sampai membuat Jameka nyaris meledakkan amarah besar.

Untung saja ini Lih Gashani. Tanpa banyak tanya, pria yang menenteng buku catatan Tito itu mengiyakan dan bergegas keluar ruangan Jameka. Tidak sampai lima menit kemudian, Carissa mengetuk pintu. Jameka pun mempersilakan wanita itu masuk.

Tanpa sadar Jameka meneliti penampilan Carissa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita itu mengenakan pakaian formal berupa blazer hitam untuk melapisi kemeja merah mudanya, rok pensil di bawah lutut yang senada dengan kemejanya, dan stiletto hitam. Rambut panjang sepunggung wanita itu yang dicat pirang seluruhnya dibiarkan tergerai. Sejujurnya riasan tebal kurang cocok dengan Carissa karena membuatnya terlihat jauh lebih tua daripada umurnya. Pasalnya Jameka tahu persis Carissa masih berumur 24 tahun. Riasan tebal membuatnya tampak berusia 40 tahun.

Apa yang disukai Tito dari Carissa selain cantik? Maksud Jameka, banyak yang lebih cantik dari Carissa. Jangan lupa Carissa itu centil.

Jameka kemudian mereka-reka sambil meneliti Carissa lebih detail. Oh, pasti karena dada dan pantat Carissa lebih besar daripada Jameka.

Sebentar .... Sebentar .... Kenapa perbandingannya harus dengan Jameka? Kenapa bukan, Karina, Bella, Melody, Tante Amanda, atau wanita-wanita lain? Kenapa Jameka harus membandingkan wanita yang disukai Tito dengan dirinya sendiri?

Jameka memperhatikan Carissa lagi. Wanita itu memang tidak setinggi Jameka, malah tingginya tergolong standar wanita Indonesia. Namun, Carissa sangat seksi. Montok, begitulah kata orang-orang.

Yah, kalau begitu Jameka seharusnya tidak heran Tito menyukai Carissa, bukan? Apa lagi yang diincar Tito selain itu?

“Selamat pagi, Bu Jameka,” sapa Carissa dengan senyum kaku. Mukanya keliatan tegang. Pikirannya terus menggali apa yang kira-kira akan dibicarakan Jameka. Ia juga bertanya-tanya, apakah ia telah melakukan kesalahan fatal sampai akhirnya dipanggil? Ataukah ia justru akan dinaikkan gajinya karena kinerjanya cekatan?

Jameka yang pada saat ini menggenggam beberapa proposal kerja sama lantas menunjuk kursi di depan mejanya. “Selamat pagi. Silakan duduk, Bu Carissa.”

“Baik, Bu.”

Sambil menulis di sticky note, menempelkannya di halaman yang ia maksud, menutup proposal itu, lalu meletakkannya di meja, Jameka melihat Carissa duduk. Tangan Jameka pun langsung saling bertautan di meja untuk menampilkan sikap berwibawa yang telah ia pelajari dari Papanya.

“Lagi banyak tamu nggak tadi?”

“Nggak juga, Bu. Tapi kalau misalnya ada, udah di-handle sama Bu Fifian.” Fifian adalah sahabat Carissa di bagian resepsionis. Wanita itu sebelas dua belas dengan Carissa.

“Maaf sudah menyita waktu Anda, Bu Carissa.”

“Nggak apa-apa, Bu Jameka.”

Bagaimanapun, bos lebih penting daripada segalanya. Jangan sampai Carissa bebal tak menuruti Jameka. Bisa-bisa gajinya tidak turun. Lebih parah lagi, bisa dipecat. Carissa tidak mau seperti itu. Harga skin care-nya lumayan mahal dan seluruh tuhuhnya harus dirawat dengan benar. Gaji dari Heratl sangat mumpuni untuk menutupi kebutuhan tersebut.

Jameka menggerakkan kepala agar rambut indahnya jatuh ke punggung seperti kebiasaannya. Carissa yang memperhatikan Jameka pun sedikit membelalak begitu melihat leher jenjang Jameka yang tersibak.

Waduh, cupangnya banyak cuy, batin Carissa. Jadi iri, deh. Mana cowoknya ganteng banget lagi. Udah gitu tajir melintir, mobilnya Pagani item.

Eh, nggak, deh. Yang paling ganteng itu Tito Alvarez.

Omong-omong dia ke mana, sih? Kok, nggak masuk? Tahu-tahu asisten pribadi Bu Jameka diganti gitu aja. Di-WhatsApp nggak dibales. Ditelepon juga nomornya di luar jangkauan. Jadi nggak semangat ngapa-ngapain.

Jameka memulai percakapan. “Begini, Bu Carissa. Tujuan saya manggil Anda sebenarnya nggak terlalu ada kaitannya sama pekerjaan.”

“Ya?” Carissa refleks bertanya kilat, takut salah dengar sebab baru saja melamunkan sang pujaan hati.

“Iya, saya cuma mau tanya hubungan Bu Carissa sama Pak Tito.”

“Ha?” Carissa tambah melongo, “mohon maaf, kenapa, ya, Bu?”

“Obrolan ini sebenarnya karena women support women. Seperti yang udah Bu Carissa ketahui, Pak Tito itu asisten pribadi saya. Nggak cuma itu sebenernya. Dia juga sahabat saya dari sebelum beliau kerja di sini. Dari hampir sepuluh tahun lalu. Dari saya masih di bagian finance. Jadi, saya tahu banget soal seluk beluk Pak Tito.”

Ke mana obrolan ini akan mengarah? Carissa makin tak mengerti. “Maksudnya gimana, ya, Bu? Apa hubungannya sama women support women?”

Gini, Bu Carissa sekarang lagi deket sama Pak Tito, kan?”

Wajah Carissa jadi tersipu malu. “Sekelihatan itukah sampai-sampai Bu Jameka juga notice?” tanyanya yang kemudian memainkan ujung rambut yang ia keriting gantung. Jangan-jangan women support women yang dimaksud Jameka ialah untuk mendukung hubungannya dengan Tito.

Carissa menggigit bibir bawah dengan mupeng. Ya ampun, ini udah pasti gue hoki banget. Nggak lama lagi bakalan jadi satu circle sama Bu Jameka.

Emang boleh se-circle ini?

Entah kenapa Jameka jadi ngeri sendiri melihat muka Carissa yang menjadi merah bak kepiting rebus dan tingkahnya mirip jadi cacing kepanasan yang dijemur di atas genteng.

Meski demikian, Jameka tetap mempertahankan ekspresi dan nada suaranya agar tetap datar. “Iya, emang kelihatan banget, Bu Carissa. Semua di kantor ini juga pasti notice. Nggak ada aturan larangan juga buat relationship sesama karyawan di kantor ini. Makanya saya—”

“Ya ampun, Bu Jameka,” potong Carissa, “saya terharu banget, nih, Ibu seperhatian itu sama saya dan Pak Tito.” Carissa menutupi wajah dan bergerak-gerak di tempat duduknya. Wanita itu benar-benar salah tingkah.

Orang ini kenapa, sih? Kok, kayak kesurupan gini? batin Jameka.

“Maksudnya gini, Bu Carissa—”

Kalimat Jameka dipotong oleh bunyi interkom dan nada tanda pesan masuk dari ponselnya yang tergeletak di meja. Nada pesan itu khusus Jameka atur untuk nomor Kevino. Konsentrasinya pun ambyar.

“Bentar, ya, Bu Carissa.”

Dengan buru-buru, Jameka menekan tombol interkom agar bisa mendengarkan Lih.

“Ya, ada apa?” tanya Jameka sembari mengambil ponselnya dan membaca layarnya. Pop up pesan dari Kevino hampir menjungkirbalikkan jantungnya. Jameka lantas mengatupkan bibir supaya tidak tersenyum.

Sementara itu, Lih di ujung sambungan menjawab Jameka. “Ada kiriman paket dari—”

“Dari inisial K.E.?” sambung Jameka kelewat semangat.

Tanpa Jameka sadari Carissa memperhatikannya dan membatin, wah, kayak gini rupanya kalau Bu Jameka kasmaran. Pipinya bisa langsung merah gitu, ya? Ajaib bener inisial K.E. ini. Sampai bisa bikin Bu Jameka klepek-klepek.

Carissa pun mengingat inisial K.E. pernah mengirimkan buket mawar kepada Jameka. Fix. Tidak salah lagi. Itu yang membuat hickey di leher Jameka, yang tak lain ialah pacar Jameka. Yang kapan hari tidak sengaja bertemu di bioskop.

“Iya, Bu Jameka,” jawab Lih dengan bahasa formal lantaran tahu ada Carissa di ruangan CEO. Tidak etis menggunakan bahasa sehari-hari bila didengarkan orang lain, lebih-lebih di kantor. Lih cukup paham dengan ini.

“Tolong langsung bawain ke sini aja. Terima kasih.”

“Baik, Bu.”

Interkom pun ditutup. Ketika Jameka hendak fokus kepada Carissa yang sudah menjadi wanita normal lagi, ponselnya berdering. Bertepatan dengan itu, pintu ruangannya diketuk Lih. Jameka memang bingung, tetapi hatinya senang. Ia lantas bicara kepada Carissa.

“Mohon maaf, Bu Carissa. Kayaknya obrolan ini kita sambung lain kali. Anda boleh balik ke meja resepsionis lagi. Terima kasih.”

“Baik, Bu Jameka. Omong-omong Bu Jameka tambah cantik kalau lagi kasmaran. Saya ikut seneng. Langgeng-langgeng, ya, Bu.” Itu bukan karena Carissa ingin menjilat, tetapi memang tulus diucapkan.

“Beneran?” tanya Jameka yang tanpa sadar memegang pipinya dan hampir salah tingkah.

“Iya, Bu. Bu Jameka sama inisial K.E. cocok banget.”

Carissa ternyata baik juga. Sosoknya ceria dan menghangatkan suasana. Jameka jadi merasa makin kasihan dengan wanita itu kalau sampai dipermainkan Tito. Untuk berterima kasih atas pujian tersebut, Jameka mengatakan, “Kapan-kapan kita ngobrol di luar, ya. Nggak perlu di kantor. Ngopi-ngopi gitu atau apalah.”

Mata Carissa sontak berbinar-binar. Paten, ia pasti sudah masuk ke lingkar pertemanan Jameka. Namun, untuk lebih meyakinkannya, ia bertanya, “Beneran, Bu Jameka?”

“Iya.”

“Makasih banget, Bu Jameka. Kalau gitu saya permisi dulu biar Bu Jameka bisa telepon sama K.E.”

Ya ampun, nambah lagi satu anak anjing malang yang harus diurus, batin Jameka.

Carissa beranjak. Jameka langsung mengangkat telepon, dan Lih masuk ruangan. “Hai, maaf lama. Tadi masih ada karyawan,” katanya kepada Kevino sementara tangannya mengode Lih untuk meletakkan paket di meja sebelah pintu ruangan Jameka. Tanpa bertanya, Lih melaksanakannya. Setelah Lih keluar, Jameka lekas-lekas ke sana untuk membaca nama si pengirim dan senyumnya pun terbit.

“Maaf banget aku ganggu kamu,” balas Kevino. Desau angin menjadi latar belakang telepon, mengindikasikan Kevino berada di luar ruangan. “Soalnya itu titah dari bunda. Aku direcokin terus dari tadi. Padahal kita lagi sama-sama kerja,” lanjutnya.

“Jadi, parsel vegan cookies dan buket bunga ini dari Tante Bianca?” Jameka menghidu bunga tersebut lebih dulu sebab ada di luar bungkusan parsel cookies.

“Vegan cookies-nya dari bunda. Katanya biar kamu bisa ngemil waktu coffee break. Tapi kalau bunganya dari aku.”

Sekali lagi Jameka menghidu buket bunga dari Kevino. Sepertinya ia mulai menyukai bunga mawar. “Makasih banget. Aku suka bunganya. Suka banget. Entar aku cobain vegan cookies-nya juga. Tolong bilangin makasih ke Tante Bianca.”

“I’m glad to see you are happy, Baby.”

Jantung Jameka hampir copot mendengar Kevino memanggilnya “Baby” padahal bukan yang pertama kali. “BTW, kamu bisa ngasih nomerku ke Tante Bianca.”

Desau angin sudah sedikit berkurang. Omongan Kevino makin jelas. “Nggak mau. Entar kamu dimonopoli bunda.”

“Aku nggak masalah.”

“Aku yang masalah. Masa aku ngebiarin kamu lebih sering sama bunda daripada sama aku?”

Oh My God .... Boleh salto nggak, sih? Wajah Jameka tiba-tiba panas.

“Oke, kalau gitu lewat perantara kamu aja kalau misalnya aku mau hubungin Tante Bianca,” balas Jameka yang duduk dan membawa buket bunga mawar dari Kevino. Sekali lagi ia menghidunya sambil tersenyum.

“Nggak apa-apa aku jadi kurir pesan.” Desau angin sudah tidak terdengar sama sekali di seberang sambungan.

“Oh, ya. Tadi aku denger suara angin. Kamu lagi di luar ruangankah?”

“Kenapa kamu nggak nyalain aja video call-nya?”

Buru-buru Jameka melakukan usul Kevino dan ia tertawa kecil melihat gaya pria itu yang rupanya memang sudah di ruangan.

Sementara Kevino malah protes, Curang. Masa aku dikasih liat buket mawar doang. Kamunya mana?”

Baru saja Jameka akan mengarahkan kamera ke dirinya sendiri, tetapi ketukan pintu menghentikannya. “Bentar, ada yang ngetuk pintu.”

“Mau ditutup dulu. Entar kita sambung lagi. Aku juga masih ada kerjaan.”

Senyum Jameka berubah datar lantaran sedikit kecewa. Ia jadi ingin mengutuk si pengetuk, tetapi tentu tidak melakukannya. “Oke, nggak apa-apa. Entar kita sambung lagi.”

“Well, see you soon, Baby.”

“See you.”

“Ya?” teriak Jameka agak kesal lantaran suara ketukan pintu yang sedari tadi masih menjadi latar belakangnya panggilan video bersama Kevino.

Lih pun masuk.

“Ada apa?” tanya Jameka. Wajah pria itu yang kelihatan bingung memicu Jameka untuk bertanya, “Kenapa, sih?”

Lih mendekat dan berkata, “Mau ngambil buket sama parsel.”

“Loh, kenapa mesti diambil? Ini, kan, punya gue, Jang.”

“Takut itu media suap.”

Dari sebal, Jameka malah tertawa. “Suap apaan, Jang?”

“Ya, pokoknya gitu.”

“Siapa yang bilangin lo?”

“Gue baru inget. Tito kemarin pesen kalau ada yang ngirim buket bunga atau apa gitu dari inisial K.E. katanya ditolak aja. Soalnya potensi media suap.”

“Apa?”

Tito lagi! Tito lagi! Gggrrr! Tito emang nyebelin pangkat 99!

Jameka pun murka. “Asal lo tahu, Jang! Inisal K.E. itu cowok gue! Terserah dia mau nyuap gue atau enggak! Nggak ada urusannya sama Tito! Gue menghargai keloyalan lo sama Tito atau adek gue. Sekarang lo lanjut kerja aja! Tito biar gue yang ngurus.”

Tak ingin ambil pusing, Lih mengangkat bahu ringan kemudian keluar ruangan Jameka untuk melanjutkan pekerjaannya.

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen atau benerin typo-typo

Kelen luar biasa

And it’s a lot to me

Bonus foto Jameka Michelle

Kevino Eclipster

Tito Alvarez


Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Rabu, 15 November 2023

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro