Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 13

Selamat datang di chapter 13

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo yang bertebaran

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like me

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Selamat datang di dunia kecemburuan yang indah, pikirnya. Untuk harga tiket masuk, Anda mendapatkan sakit kepala yang membelah, dorongan yang hampir tak tertahankan untuk melakukan pembunuhan, dan rasa rendah diri. Hura!

—J.R. Ward
____________________________________________________

Bentar.... Bentar.... Kok, kayaknya ada yang aneh, batin Jameka yang tiba-tiba teringat sesuatu. Perasaan tadi Karina nyetir mobil sendiri, deh. Kenapa jadi mobil gue yang diba—sialan! Duo kroco itu pasti sekongkol ninggalin gue! Dasar kampret! Maksudnya apa coba? Awas lo, lo pada kalau ketemu. Gue sledging!

Rampung merutuki kedua sahabatnya, Jameka kembali berpikir sangat susah mencari makan bagi vegetarian seperti dirinya di PIM. Kebanyakan restoran menyediakan menu protein hewani. Memang ada satu restoran berkonsep olahan sayur organik yang berasal dari hasil kebun. Namun, di samping itu mereka juga menjual berbagai menu hasil dari peternakan dan boga bahari.

Bisa saja Jameka makan sayur-sayuran di sana, tetapi sangsi minyak yang digunakan memasak tidak free hewani. Kendati sudah ada Hazard Standar Internasional, Jameka tetap berpikir negatif. Siapa tahu itu minyak ikan? Atau mungkin minyak bekas menggoreng protein hewani lain? Jika bisa, Jameka memilih untuk tidak makan bersama orang omnivora. Bisa dibilang ia kapok setelah diajak makan Tito di warteg. Menurut Jameka, ini bukan soal gaya hidup, melainkan tentang hati nurani.

Jameka berpotensi besar menangis tersedu-sedu lantaran membayangkan ayam-ayam, sapi-sapi, kambing-kambing, domba-domba, kalkun-kalkun atau hewan lainnya yang harus disembelih untuk dimasak. Itu amat menyiksa batin.

Namun, bukankah selalu ada pengecualian dalam hidup? Khususnya sekarang. Dikarenakan tidak ingin mengecewakan Papanya soal tata krama, ia harus berusaha membaur dan berprilaku baik di hadapan Tante Bianca. Nyatanya respons yang didapatnya tidak sesuai harapan. Malah bisa disebut di luar ekspektasi Jameka.

Masih sambil menggamit lengan Jameka, Tante Bianca memberi gagasan. “Mumpung matahari belum terbenam, kita belanja dan masak makanan yang bisa kamu makan di apartemen Kevino aja.”

“Sebenarnya nggak apa-apa kalau misalnya Tante sama Kevino mau makan di sini. Selagi dapurnya nggak keliatan saya, nggak masalah. Saya bisa pesan minum,” terang Jameka yang tentu saja langsung menolak.

“Loh, masa kamu cuma minum? Ya jangan, dong .... Mumpung Tante di sini, jadi sekalian kita masak bareng. Pasti seru. Tante juga penasaran apa makanan kesukaan kamu selain orichiette brokoli, Sayang,” cetus Tante Bianca.

Kevino teringat ucapan Jameka tempo hari tentang kehamilan. Maka lekas-lekas ia mencari cara menolak permintaan bundanya dengan cara sehalus mungkin. “Aku biasanya nemenin makan siang Jameka ke restoran kesukaannya. Menurutku lebih praktis ke sana aja sekarang. Di sana menunya enak-enak. Bunda pasti suka.”

Tante Bianca malah menyikut lengan Kevino lalu berbisik, “Ish! Kamu ini, Kev. Bunda, kan, pengin deket sama calon menantu.”

Kevino mengusap-usap kedua lengan wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu untuk membujuk, “Bun, kasihan Jameka. Dia habis pulang kerja langsung ke sini terus muter-muter nyari kado. Masa harus masak juga? Kita makan di restoran kesukaannya aja, ya?”

Rupanya Tante Bianca tetap berpegang teguh pada pendiriannya. “Tenang, nanti Bunda yang masak. Kalian nonton TV aja. Kan, sama-sama capek habis kerja.”

“Justru aku yang ngelarang. Bunda juga jauh-jauh dari Bandung. Masa mau masak-masak? Harusnya aku yang menjamu, Bunda,” elak pria berkemeja putih gading yang lengannya digulung hingga siku sehingga terkesan lebih santai. Rambutnya masih tertata rapi dan ia wangi parfum mahal khas pria.

“Kamu, kok, mendadak kayak Gavino gini?” gumam Tante Bianca. “Tapi bagus, sih.”

Jangan-jangan ini gara-gara ada Jameka? prediksi wanita paruh baya itu yang malah kegirangan karena berpikir Jameka bisa membuat Kevino melunak. Tidak seperti sikap Kevino yang biasanya keras kepala dan sarkas terhadap semua yang dilihat atau didengarnya. Lebih-lebih, hari ini. Kevino sama sekali tidak menunjukkan sikap ingin memberi komentar pedas atau mencaci maki saat diberitahu tentang prestasi adik bungsunya yang membanggakan keluarga. Sisi positif lain, Kevino mungkin memang ingin Jameka tidak terlalu lelah. Berhubung merasa menemukan alasan paling masuk akal, ia akhirnya menyetujui usul Kevino. Mereka lantas pergi ke restoran kesukaan Jameka.

Setelah selesai makan, Kevino mengantar bundanya ke apartemennya lebih dulu. Di sama sudah ada papanya yang menunggu sambil menonton TV di sofa, bersantai setelah menemui adik bungsunya. Jameka mampir, basa-basi sedikit, barulah pulang diantar Kevino.

“Kok, kamu nggak bilang kalau orang tuamu mau ke sini?” tanya Jameka saat mereka sudah berada di jalan raya menuju kondominium Jameka. Ia mengusap-usap tangan setelah mengolesi hand cream aroma stroberi sesuai kebiasannya. “Untung aku pas lagi jalan sama temen-temen di PIM doang. Nggak pas lagi ada kerjaan di luar kota.”

“Sorry, nggak bilang-bilang. Orang tuaku tiba-tiba dateng. Katanya mau nengok adik bungusuku. Tapi Bunda ganti haluan ngebet ketemu kamu. Aku sempet waktu nanya kamu lagi di mana. Tapi Bunda kalau ngotot agak susah ditolak,” aku Kevino sembari melihat spion kanan. Alisnya mengernyit ketika mendapati Civic turbo putih full modif sedang berada di belakang kendaraannya.

Agak berpikir, Kevino sebenarnya salah lihat atau memang benar mobil itu telah mengikutinya sejak keluar dari PIM. Ia bakan sempat melihat mobil tersebut parkir di depan restoran kesukaan Jameka, tepat di depan warung sate kambing.

Sedangkan Jameka sama sekali tidak tahu-menahu soal Civic putih itu sebab sibuk mencari cara membujuk Kevino agar bersedia menemaninya ke dokter kandungan.

“Tapi nggak apa-apa, sih. Kalau udah kenal, Tante Bianca lumayan seru juga.” Jameka tidak membual, mengada-ada, hipokrit atau oportunis. Meski merasa kesal saat pertama kali bertemu Tante Bianca lantaran kong-kalikong menjodohkannya dengan Kevino, tetapi karena sudah lama tidak memiliki figur ibu, ia merasa nyaman diperlakukan layaknya anak kesayangan oleh beliau. Ia seperti mendapat pengganti Mama, yang sebenarnya juga mengejutkan dirinya sendiri.

Di acara makan malam tadi, Tante Bianca dengan telaten mengambilkan makanan untuk Jameka sembari bertanya tentang bagaimana keseharian dan pekerjaannya. Emosional Jameka tersentuh sampai hampir menangis haru. Rasa ingin memeluk Tante Bianca lebih lama kala berpamitan di apartemen Kevino tadi rasanya sudah mencapai ubun-ubun. Namun, ia sungkan dan memilih lebih realistis. Bahwa hubungan percintaannya dengan Kevino hanyalah sandiwara belaka. Bulan berikutnya mereka akan putus. Jadi, lebih baik ia tetap menjalin hubungan dengan keluarga Kevino sedangkal mungkin.

Kevino mendengkus dan meringis. “Heboh gitu.”

“Ya, di situlah serunya.”

“Omong-omong, aku tadi ngiranya kamu nggak mau dijemput soalnya nurutin saranku pergi ke dokter kandungan.”

Dari jalan raya, tatapan Jameka sontak beralih ke Kevino. Demi Neptunus! Ini sungguh keberuntungan yang tak disangka-sangka. Suatu kebetulan pria ini menyinggung-nyinggung dokter kandungan yang sedari tadi menjejali pikiran Jameka. Sehingga, ia tentu tidak ingin membuang kesempatan untuk segera melancarkan aksinya.

Speaking of that. Jujurly aku takut ke sana sendirian. Takut hasilnya ... em ... ekhm ... positif. Pasti entar aku nggak tahu mesti gimana cara ngadepinnya,” papar Jameka yang suaranya makin mengecil di bagian akhir kalimat. “Maksudku, kamu mau nggak nemenin aku ke sana? Aneh emang. Tapi cuma kamu yang tahu masalah ini. Sahabat-sahabatku tadi enggak.”

Ini sesuatu yang tidak biasa. Jameka sudah siap apabila Kevino menolak permintaannya. Namun, untuk ke sekian kali, lagi-lagi ia salah menduga. Sambil memindah persneling, Kevino justru menjawab santai. “Kalau aku ayok aja. Pokoknya pas lagi nggak ada jadwal.”

Oh My God, Oh My God, Oh My God! Rasanya Jameka ingin jungkir balik lalu memeluk Kevino detik ini juga lantaran berpikir ada yang di pihaknya, ada yang sedikit menjadi tempatnya berbagi masalah, ada yang menguatkannya seandainya nanti hasil pemeriksaan dari dokter ia dinyatakan hamil.

Namun, apabila hasil pemeriksaan itu positif, mau tidak mau, suka tidak suka, bukankah Jameka harus memberitahu Tito tentang ini?

Astaga .... Memikirkan kadal sawah satu ini rupanya malah memicu jantung Jameka berdebar-debar dengan gilanya sampai-sampai takut gendang telinga Kevino dapat menangkap suara tersebut. Namun, ia berusaha untuk tetap duduk anteng.

“Ok. Kita cocokin jadwal aja,” usul Jameka sembari mempertahankan ekspresi dan nada suara agar tetap datar seolah-olah tanpa emosi. Padahal hatinya rasanya bagai dimasukkan ke pengaduk lalu diaduk-aduk.

Jameka sampai tidak memperhatikan Kevino yang lebih memperdalam kerutan alis. Kala membelokan kendaraan ke kanan, Civic turbo full modif putih itu terang-terangan mengekori mobil Kevino. Meski demikian, ia tetap santai menanggapi Jameka. “Weekend gimana? Sekalian makan, nonton atau apa gitu?”

“Weekend ini?”

Sebelum Pagani hitam itu resmi menyalakan lampu sen kiri yang mengarah ke gedung kondominium Jameka, Civic itu menyalip lalu masuk ke parkiran basement lebih dulu.

Oh, ternyata penghuni sini yang kebetulan searah aja, duga Kevino yang kemudian lebih rileks dan tidak ambil pusing. Ia lalu menjawab Jameka sama santainya seperti tadi. “Iya. Kecuali kamu ada jadwal atau kerjaan lain.”

“Coba aku pastiin dulu.”

“Oke. BTW, aku antar sampai atas, ya?” tawar Kevino.

Jameka langsung menolak, “Nggak perlu repot-repot, Kev. Turun lobi aja. Lagian Tante Bianca sama Om Davis pasti udah nungguin. Kasihan malah kamu tinggal ke sini.”

“Bentar doang, nggak apa-apa. Mereka juga pasti seneng dapet waktu berduaan,” tutur Kevino yang sudah melepas seatbelt, turun mobil, memasrahkan kunci kepada petugas valet, lalu membukakan pintu untuk Jameka.

Lagi-lagi perlakukan Kevino membuat Jameka tertegun. Sudah beberapa kali mendapat perlakuan seperti ini sejak bersama Tante Bianca sebenarnya membangkitkan kenangan masa lalu Jameka bersama River. Ke mana pun pergi, bagaimanapun bentuk hubungan mereka dulu, River selalu membukakan pintu untuknya. Bahkan saat River baru saja memutus pertunangan mereka, pria itu bersikukuh mengantar Jameka ke bandara dan menunggunya sampai pesawat menuju Jakarta siap di landasan. Padahal mereka dalam keadaan sama-sama terluka. Singkatnya, River selalu mendahulukan Jameka berjalan barulah pria itu menyejajarkan diri dengan Jameka dan tak lupa merangkulnya.

“Ayo,” ajak Kevino yang telah mengulurkan tangan. Jameka tak kuasa menolak. Ia menyambutnya dengan perasaan campur aduk. Kali ini bukan dalam artian bagus, melainkan ke arah melow. Namun, hatinya meyakinkan diri bahwa ia juga berhak mengobati kerinduan semacam ini yang ia temukan pada sosok Kevino.

Jameka berterima kasih kepada Kevino seraya berjalan berdampingan menuju lift. Ada beberapa orang yang berdiri di sana menunggu lift tersebut. Jameka tidak sadar masih menggandeng tangan pria itu sebab memperhatikan anak laki-laki setinggi lututnya sedang asyik menerbangkan mobil-mobilan dengan riang. Lagi-lagi anak laki-laki itu mengingatkannya akan sosok River. Sementara di sebelahnya, sang ibu mengobrol dengan sang suami yang membawa belanjaan.

Dentingan lift mengalihkan perhatian Jameka. Secara otomatis pintu terbuka. Ia baru melangkah, tetapi anak laki-laki tadi menyerobot masuk. Jameka sedikit oleng dan hampir terjerembab. Untung saja Kevino dengan sigap merangkul pundaknya sehingga perutnya tak sampai tertekan, menabrak seseorang atau membentur dinding besi lift.

“Maafin anak saya,” kata ibu-ibu tadi itu kepada Kevino.

“Lain kali tolong hati-hati,” kata pria itu bijak.

Ibu tersebut lantas memberi petuah kepada anak laki-lakinya. Di waktu yang sama Jameka tidak bisa bereaksi lantaran sibuk deg-degan. Ia memegangi perut dengan sikap defensif. “U-untung nggak kena perut,” gumamnya. “Untung nggak kena perut.”

Kevino yang memperhatikan Jameka lantas menariknya lebih mendekat supaya sensor pintu tidak terus terbuka karena terhalang oleh Jameka. Lift berjalan, Kevino membagi jarak sedikit dan menunduk untuk mencari-cari wajah Jameka yang masih memandangi perutnya. “Are you okay?”

“Ya. Cuma kaget,” jawab Jameka yang masih ingin melindungi perutnya.

Meski jawaban itu tampak ringan diucapkan, tetapi Kevino merasa Jameka tidak sepenuhnya baik-baik saja. Dan tanpa Kevino maupun Jameka sadari, orang-orang di sekeliling mereka rupanya melongo menyaksikan adegan yang mirip di film-film itu. Bahkan tak sedikit yang mencari-cari keberadaan kamera. Berpikir barangkali mereka masuk adegan pembuka film. Sayang sekali tidak.

“Thanks a lot. Aku nggak ngerti lagi, gimana harus ngucapin makasih kalau nggak ada kamu,” ucap Jameka tulus saat mereka sudah di depan pintu kondominium wanita itu.

“Anytime. Tapi kamu beneran udah nggak apa-apa? You look pale and shaking.”

“I’m fine. Cuma capek aja.”

“Beneran?”

•••

Dari balik tudung hitam jumper Alan Walker-nya, Tito Alvarez mendidih lantaran tidak bisa mendengar percakapan antara Jameka dan Kevino. Ia pura-pura membuka kunci pintu unit kondominium yang terletak beberapa unit di sebelah unit milik Jameka. Sesekali, ia melirik mereka. Dalam hati ia menggerutu, Bisa nggak, tangannya di kondisiin? Nggak usah terus-teruaan ngerangkul pinggang Jameka juga kaleee ....

Asyik menggali sejuta ide untuk merusak acara mereka, Tito dikejutkan oleh dering ponsel di saku jins sobek-sobeknya. Sampai-sampai genggaman pada kunci kartu di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai.

Tito ber-cak, terpaksa berjongkok untuk mengambil kunci tersebut. Bersama dengan itu, ia mengecek ponsel dan membaca nama Lih Gashani yang menelepon. Dengan jengkel ia mengangkat panggilan tersebut dan mendengar Lih nerocos, “Mau ingetin waktunya berangkat ke bandara.”

“Bentar lagi,” bisik Tito ketus. Tangannya lanjut pura-pura menempelkan kartu kunci sementara matanya kembali melirik Kevino dan Jameka. Pada detik ini juga amarahnya makin memuncak. “Bangsat! Baru ditinggal meleng dikit udah—”

“To, buruan! Lo harus berangkat sekarang atau nggak ada penerbangan lagi selain besok,” sela Lih yang sedari tadi menunggu Tito di mobil pria itu yang terparkir di basement.

Tito mengumpat-ngumpat lantaran dirundung dilema, antara harus menghajar Kevino yang dilihatnya tadi habis berciuman dengan Jameka. Atau harus pergi lantaran diburu waktu. Kalau menghajar Kevino dulu pasti ia akan ketinggalan pesawat. Belum lagi Jameka pasti akan pasang badan membela Kevino.

Kalau ketinggalan pesawat dan meski berangkat dengan penerbangan pertama besok pagi, bisa dipastikan seribu persen bosnya akan marah-marah sambil mengajarnya sampai babak belur.

Tito menggerakkan gigi dan kembali melihat Jameka serta Kevino yang rupanya sudah masuk kondominium Jameka. Tito tidak bisa berpikir positif. Dua orang dewasa berlawan jenis dan berstatus “In Relationship” alias pacaran kalau dalam satu ruangan pasti akan ....

Nggak mungkin mereka cuma main gundu! pikir Tito benar-benar di ujung kekesalan. Namun, sebelum ia berhasil melangkah ke kondominium Jameka dengan niat mengobrak-abrik acara mereka, Lih kembali mengingatkan, “To ..., gue nggak mau ambil risiko dihajar si Bos. Buruan ayok gue anter ke bandara!”

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen atau benerin typo-typo

Kelen luar biasa

And it’s a lot to me

Bonus foto Jameka Michelle

Tito Alvarez

Dan Kevino Eclipster

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Sabtu, 1 Juli 2023

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro