Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Prelude

Naren Arshadikara

Aku ingin mengawali ceritaku dengan kebahagiaan, dan mengakhirnya dengan kebahagiaan pula. Sayangnya, cerita yang melulu berisi kebahagiaan dianggap monoton, mengada-ada. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian sepertinya menjadi keniscayaan dalam hidup. Tambahkan buaya, jeram, dan ngarai, cerita jadi makin seru. Klimaksnya di kelas 12.

Itu menurutku, karena aku kelas 12 sekarang dan seseorang berteriak, "Welcome, Hell!"

Namaku, Naren Arshadikara. Panggil saja Ren. Usia 18 tahun, tetapi dalam sekejap aku harus menjadi lelaki dewasa menggantikan Ayah. Masalah keuangan rumah tangga, itungan biaya hidup dan pendidikan, yang semula menjadi urusan Ayah dan Ibu, menjadi urusanku dan Ibu. Dulu aku hanya membantu Nazhan belajar membaca, kini aku harus memikirkan juga terapi disleksianya. Belum lama, aku tidak peduli dengan PMS yang diderita Natya. Tiba-tiba saja, aku terimbas oleh gejolak hormon gadis 15 tahunan itu.

Siap tidak siap, Ibu menjadi pilot, dan aku menjadi kopilotnya. Namun, kalau Ibu sudah menangis diam-diam di dapur, itu tandanya aku harus ambil alih kemudi. Padahal, mengambil keputusan untuk diriku saja, aku masih gamang.

Setelah lulus SMA nanti, aku hendak ke mana? Kuliah atau bekerja? Ataukah ada pilihan ketiga? Setelah itu apa? Bagaimana dengan adik-adikku?

Jarak pandangku pendek sekali, hanya sepanjang titian dari hari ke hari. Aku sibuk jaga keseimbangan agar tidak jatuh, sementara tujuan masih kabur.

Adakah spoiler bagaimana kisahku akan berakhir?

❖❖❖

Wening Ayu Rengganis

Kalau ditanya, setelah lulus SMA mau apa, aku bisa jawab dengan yakin. Kuliah. Semua orang juga tahu, jenjang pendidikan setelah SMA adalah perguruan tinggi. Berbeda dengan sekolah kejuruan, SMA tidak menghasilkan lulusan siap kerja. Justru karena itu, aku masuk SMA. Aku pengin sekolah setinggi-tingginya. Cita-cita itu bahkan sudah tercetus sejak masuk SMP.

Lalu, kuliah di mana, prodi apa?

Universitas Tokyo, College of Arts and Sciences, prodi Earth System and Energy Sciences.

Aku tahu, targetku sangat tinggi, dan usaha untuk meraihnya tidak main-main. Entah sejak kapan aku mempersiapkan diri. Fisik, mental, prestasi akademis, portofolio, dana, kemampuan bahasa, apa lagi?

Satu sekolah sudah tahu, aku serius.

Namun, tidak ada yang pernah bertanya, kenapa aku memilih perguruan tinggi dan prodi itu secara spesifik. Paling mereka berasumsi, aku mengikuti jejak Ayah.

Itu cuma separuh cerita. Separuhnya lagi adalah tujuan utamaku. Hanya dengan kuliah di sana, aku bisa membawa Ayah pulang dan keluargaku akan kembali utuh.

Worth it! Layak diperjuangkan. Meski kelas 12 adalah tahun pendek dengan perjuangan panjang, aku optimis.

Sampai seseorang berkata, "Welcome, Hell!"

Tahu-tahu saja, pijakanku runtuh.

❖❖❖

Arvind L. Devara

"Welcome, Hell!"

What hell?

Kalau yang dimaksud hell adalah kelas 12, kamu lebay. Kelas 12 tidak ada bedanya dengan kelas 1 sampai 11. Cuma satu tahap yang harus dilalui. Angka terakhir pada tangga pendidikan menengah. So what? Kenapa harus dibesar-besarkan?

Aku bilang sih, hell-nya bukan kelas 12 itu sendiri, melainkan ketakutan menghadapi ujian kelulusan SMA dan masuk perguruan tinggi. Jadi, kelas 12 didorong untuk belajar lebih keras, juga mengikuti bimbel dan les, dalam sisa waktu yang mepet. Ekskul dan olahraga diganti pemantapan. Semua demi terlatih menyelesaikan soal-soal matpel yang diujikan. Paham atau tidak dengan ilmu yang mendasarinya, itu beda cerita.

Kalau ujian-ujian itu sebegitu fatalnya menentukan masa depan, kenapa dipersiapkan hanya pada 35 minggu terakhir SMA? Kenapa tidak dimulai sejak kelas 11 atau kelas 10 sekalian? Kenapa jungkir balik, tegang, dan stres di bulan-bulan terakhir di SMA dibiarkan terjadi setiap tahunnya, dari generasi ke generasi?

Itu masih ditambah dosis harian ceramah dari orangtua dan guru yang dijejalkan ke telingamu. Bahkan penjual bala-bala di warung belakang sekolah ikut menasihati, sudah kelas 12, jangan main melulu. Dia tidak mau kamu senasib dengannya.

Apa salahnya jadi penjual bala-bala? Selama bahan-bahan dan minyak yang digunakannya bersih. Tanpa vetsin dan pengawet. Bala-bala juga bisa dikembangkan dengan inovasi rasa, topping, rendah kalori, lalu diekspor ke manca negara.

Whatever.

Aku bukan pakar pendidikan, cuma Arvind L. Devara, yang tidak melihat manfaat tunggang langgang di kelas 12. Tidak membuatku mampu menghindari anak-anak nongkrong di belakang sekolah. Tidak membekaliku cara berkelit dari geng motor. Dan yang paling bikin sesak, justru membuatku kehilangan dua sahabat yang memilih berjuang mati-matian di kelas 12: Ren dan Wening.





___________

Note:

Neo Hou (Hou Minghao) untuk Ren

Hu Xianxu untuk Arvind


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro