Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bab 25 ~ Pilihan

Happy Reading ^^

Pagi ini Ayra bersiap-siap untuk pergi ke salah satu mall. Ia memang berencana untuk membeli sepatu juga akan ke toko buku. Kemarin sebenarnya ia sudah meminta Liam untuk mengantarnya, tapi karena permasalahan semalam hingga saat ini pun ia belum menghubungi Liam sama sekali.

Langkah Ayra melambat ketika sayup-sayup ia mendengar suara Liam di ruang tamu. Ia melihat jam di tangannya dan sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.

"Ay kamu kok lama? Liam udah di sini dari jam tujuh loh. Tadi Mama mau ke kamar kamu tapi kata Liam jangan," ucap mamanya begitu Ayra memasuki ruang tamu.

Belum sempat Ayra menjawab, tapi papanya malah memberikan pertanyaan kembali. "Kamu gak makan dulu Ay? Tumben jam segini baru keluar kamar."

Bukan tanpa alasan sebenarnya Ayra keluar kamar setelah hari agak siang. Karena ia tak ingin orang tuanya melihat matanya yang sembab dan akhirnya menimbulkan pertanyaan kembali.

"Nanti makan di luar aja," jawab Ayra dan memberi kode pada Liam untuk pergi.

"Ma, Pa, kami berangkat dulu," kata Liam sambil menyalami kedua orang tua Ayra dan begitu pun dengan Ayra melakukan hal yang sama.

Setelah pertunangan memang mereka memutuskan untuk memanggil orang tua masing-masing dengan sebutan yang sama seperti yang mereka lakukan.

Ayra mengikuti Liam dan masuk ke dalam mobil pria itu.

"Mau kemana?" tanya Liam sebelum menjalankan mobilnya.

"Ke Ciwalk aja dulu," jawab Ayra dan akhirnya Liam pun melajukan mobilnya.

"Abang kenapa ke rumah dari pagi?" tanya Ayra.

"Kemarin kan kamu minta antar Ay. Dan aku gak tahu kamu mau jam berapa jadi aku dari pagi aja tungguin kamu," jawab Liam.

"Kan bisa whatsapp aku dulu biar gak buang-buang waktu," ucap Ayra.

"Enggak buang-buang waktu kok. Aku tadi banyak ngobrol sama orang tua kamu," jawab Liam.

"Mengenai masalah kemarin, aku benar-benar minta maaf ya Ay," ucap Liam dengan nada menyesal.

"Udah jangan di bahas lagi. Aku juga salah kok dan aku minta maaf. Semalam entah kenapa aku sensitif banget," kata Ayra.

"Kamu udah gak marah lagi, kan?" tanya Liam dan diangguki Ayra.

Melihat bagaimana pria ini masih mengingat permintaannya dan juga menepati janjinya membuat Ayra berpikir bahwa sepertinya sangat berlebihan jika dirinya masih marah atau pun merajuk pada pria ini.

"Kamu belum makan, kan? Kita cari makan dulu ya," ucap Liam.

"Nanti aja makan di ciwalk," jawab Ayra dan akhirnya disetujui oleh Liam.

***

"Jadi kabar bahagia apa yang Abang masuk semalam?" tanya Ayra.

Saat ini mereka tengah menunggu makanan yang sebelumnya telah mereka pesan.

"Aku jadi di mutasi ke Bandung," kata Liam membuat Ayra terkejut.

"Serius Bang?" tanya Ayra dan diangguki oleh Liam.

"Tapi itu sebulan lagi. Setidaknya sekarang aku telah jauh lebih tenang karena kita gak perlu ldr lagi," ucap Liam.

"Maaf ya semalam aku malah merusak kabar bahagia Abang," ucap Ayra dengan menyesal.

"Kan tadi kamu yang bilang gak usah di bahas lagi. Jadi udah Ay engga apa-apa kok. Semalam kita sama-sama salah," kata Liam dengan senyum menenangkan.

"Aku bener-bener bersyukur banget loh Ay. Aku berharap ini menjadi salah satu pertanda baik untuk hubungan kita ke tahap selanjutnya," ucap Liam dengan senyum lebar membuat Ayra malah salah tingkah.

Ini memang kabar baik, tapi hati Ayra saat ini di penuhi kebimbangan. Apa perlu ia mengatakan yang sebenarnya pada pria ini? Tapi Ayra tidak ingin merusak moment bahagia ini untuk yang kedua kalinya.

"Kamu kenapa Ay?" tanya Liam yang menyadari kalau Ayra hanya diam dari tadi.

"Hah? Enggak kenapa-napa kok," jawab Ayra sambil tersenyum.

"Kalau ada masalah atau apapun itu kamu cerita saja," ucap Liam.

"Eng—gak ada kok Bang. Ay hanya bingung aja sekarang harus bagaimana. Kabarnya terlalu menyenangkan hingga membuat Ayra kebingungan," bohong Ayra.

Saat Liam hendak bicara tiba-tiba makanan datang dan pada akhirnya ia pun mengurungkan niatnya tersebut.

"Kamu makannya di abisin ya Ay," ucap Liam sambil terkekeh dan melihat Ayra yang hanya mengangguk-angguk sambil makan.

Sebenarnya Liam pun bertanya-tanya seperti ada yang berbeda dari perempuan di hadapannya itu. Tapi tak ingin memancing pertengkaran yang baru saja usai, ia pun tidak bertanya lebih lanjut pada Ayra.

Liam telah selesai makan, tapi Ayra belum. Pria itu kemudian mengambil ponselnya dan mengunggah sebuah foto di instagram.

@liambramantio

Is another level of love @ayrasherly_muktahar

"Kenapa senyum-senyum?" tanya Ayra setelah selesai makan dan melihat Liam yang tengah memainkan ponselnya.

"Kamu cek saja instagram," jawab Liam santai.

Ayra pun langsung mengambil ponselnya dan melihat ada apa gerangan di instagram. Ia melihat sebuah notifikasi bahwa Liam menandainya dalam sebuah postingan.

"Ihh Abang kok bisa punya foto ini?" tanya Ayra heran.

Ini adalah foto saat dia masih kuliah. Saat itu dia mengisi sebuah acara di kampusnya.

"Kan foto itu aku yang ngambil," jawab Liam.

"Hah serius?" tanya Ayra dan melihat kembali foto candid nya itu.

"Kenapa Abang foto Ayra diem-diem?" tanya Ayra kemudian.

"Karena saat itu kamu terlihat lucu dengan outfit itu," jawab Liam dengan santai membuat Ayra mendengkus.

"Kaya anak SD?" tanya Ayra.

"Engga eh, saat itu aku malah mau khilaf kalau aku sudah punya pacar," jawab Liam sambil tertawa renyah.

"Ih! Jangan begitu ya! Jangan-jangan sekarang juga begitu ya kalau lihat cewek cantik langsung lupa sama Ayra," kata Ayra sambil menatap Liam tajam.

"Ya engga dong sayang. Kan aku sudah pernah bilang, saat aku memutuskan memilih kamu, saat itu pula tidak ada kesempatan untuk perempuan mana pun untuk masuk ke dalam duniaku," jawab Liam.

"Pinter ya sekarang ngomongnya," cibir Ayra.

"Kan diajarin Ayra," jawab Liam.

"Enak saja! Abang itu yang ngajarin Ayra buat bucin," elak Ayra.

"Jadi sekarang kamu bucin nih sama aku?" goda Liam.

"Yuk ah ke toko buku, ini sudah siang tahu," ucap Ayra mengalihkan pembicaraan.

Bisa berabe pikir Ayra kalau Liam sampai tahu bagaimana dirinya begitu menyukai pria ini.

"Jadi ngalihin pembicaraan nih, ceritanya," Liam belum selesai menggoda Ayra. Melihat wajah Ayra yang sering tersipu itu bagaikan candu untuk Liam.

"Abang mau aku tinggalin, ini?" ancam Ayra.

"Iya Ay ayo iya," kata Liam sambil terkekeh.

***

"Kamu inget gak sih dulu kita pernah belanja buku kaya gini?" tanya Liam. Saat ini mereka tengah memilih-milih buku.

"Iya," jawab Ayra malas.

Pasalnya hari itu menjadi salah satu hari yang Ayra benci. Karena pada hari itu ia mengetahui kalau Liam itu sudah memiliki kekasih.

"Waktu itu aku sebenarnya agak bingung loh Ay," kata Liam dan mengikuti Ayra yang berpindah menuju buku-buku sosial.

"Bingung kenapa?" tanya Ayra sambil melirik sekilas ke arah Liam.

"Waktu mama kamu minta aku anterin kamu, aku waktu itu mikir-mikir kira-kira nanti aku ngobrolin apa ya sama kamu," jawab Liam.

"Abang sampe mikirin hal kaya begitu?" tanya Ayra sambil terkekeh membayangkan bagaimana Liam saat itu.

"Waktu itu kita kan sudah lama Ay gak berinteraksi. Jadi aku mikirnya bakalan canggung bagaimana gitu," jawab Liam.

"Lalu hasilnya?" tanya Ayra.

"Ya ternyata gak canggung-canggung amat lah ya. Waktu itu kita ngobrol asyik. Dan saat itu pula aku sadar, oh ternyata gadis kecil ini sudah beranjak dewasa," tutur Liam sambil mengusap lembut kepala Ayra.

Memang ya Ayra ini. Yang di usap rambut, yang bergetar hati.

"Ayra juga dulu mikir begitu loh Bang. Waktu itu Ayra mikirnya kita bakalan diem-dieman aja," kata Ayra sambil menetralkan debar jantungnya.

"Tapi yang aku kagetin waktu itu ternyata selama ini aku gak benar-benar kenal kamu loh Ay. Aku sering dengerin cerita tentang kamu dari mama, tapi pas aku ngobrol langsung ternyata kamu itu di luar ekspetasi aku," papar Liam membuat Ayra mengernyit.

Nah kan? Berapa banyak lagi yang Ayra tidak tahu tentang apa yang dilakukan pria ini di belakangnya.

"Memang ekspetasi Abangnya bagaimana?" tanya Ayra sambil terkikik geli.

"Begitu deh pokoknya kalau di ceritain panjang banget," jawab Liam menggantung.

"Jadi aku gak sesuai ekspetasi, ini?" tanya Ayra menyipitkan sebelah matanya.

"Bukan gak sesuai Ay. Tapi di luar ekspetasi. Kamu melampaui semua hal yang di sematkan ke kamu," kata Liam.

"Jangan begitu dong kan Ayra jadi bangga pada diri sendiri," kata Ayra dan tertawa kecil.

"Kamu ini. Ini mau di beli gak?" tanya Liam sambil menunjuk buku yang dari tadi di pegang Ayra.

"Ohh enggak, cuman lihat saja," jawab Ayra sambil tertawa dan kembali menyimpannya.

"Buku-buku kamu sudah hatam semua?" tanya Liam.

"Ada sih beberapa yang gak Ay baca sampai tuntas," jawab Ayra.

"Kalau misalkan cuman butuh referensi kenapa gak ke perpustakaan saja Ay?" tanya Liam heran. Pasalnya perempuan ini memiliki buku yang menurut Liam sudah bisa membuka perpustakaan keliling.

"Kalau memiliki bukunya langsung itu lebih enak loh Bang. Lagian nanti kalau sudah punya rumah sendiri, Ayra maunya punya perpustakaan pribadi kaya Papa," ujar Ayra.

"Mendingan bangun rumah tangga aja dulu yuk Ay," gurau Liam.

"Bangun rumah dulu aja deh," tawar Ayra.

"Aku sebenernya sudah punya rumah loh Ay," kata Liam membuat Ayra langsung menatap wajah pria itu berharap kalau ia hanya becanda.

"Kok Ayra gak tahu?" tanya Ayra.

"Sejak kapan dan dimana?" tanya Ayra lagi.

"Soalnya kamu gak pernah tanya, hehe," jawab Liam sambil tertawa kecil.

"Setahun yang lalu kayanya baru selesai. Lokasinya di Bandung dan aku juga baru kesana beberapa kali sih, dan masih kosong juga baru ada beberapa furniture," lanjut Liam.

"Sayang tahu rumah gak di tempatin nanti malah rusak," komentar Ayra dan mengajak Liam berjalan menuju kasir.

"Nanti bulan depan deh mulai aku tempatin pas aku sudah pindah di Bandung, lagian kemarin-kemarin juga di tempatin sih sama yang beres-beres rumah," kata Liam.

"Kamu mau lihat kesana?" tanya Liam. Antrean di kasir cukup panjang hingga mereka leluasa untuk mengobrol.

"Mau sih. Tapi kapan ya? Daerah mana sih?" tanya Ayra penasaran.

"Di KBP, kalau kamu mau sekarang juga ayok yang," jawab Liam.

"Yaudah sekarang aja ya biar aku gak penasaran," kata Ayra sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi.

***

"Enak ya suasananya di sini," kata Ayra dan duduk di kursi samping yang terdapat sebuah taman kecil.

Sebelumnya Ayra telah mengelilingi dan melihat semua ruangan di rumah Liam.

"Iya makannya dulu aku pilih bangun rumah di sini, gak terlalu jauh juga kan kalau mau ke rumah orang tua kita," ucap Liam dan diangguki oleh Ayra.

"Kalau punya anak juga masih tenang Ay di sini suasananya," lanjut Liam membuat Ayra terkekeh pelan.

"Bang Ayra boleh cerita gak? Tapi ceritanya agak gak enak kayanya," kata Ayra.

"Cerita saja, sejak kapan kamu jadi izin dulu mau cerita?" tanya Liam sambil terkekeh.

"Soalnya Ayra takut ngerusak hari ini," kata Ayra sambil menghela napasnya.

"Aku jadi degdegan gini ya. Tapi yaudah engga apa-apa kali Ay. Gak ada hari yang rusak kok, semua hari itu ada keistimewaannya," ujar Liam dengan bijaksana.

"Yaudah Ay cerita ini," kata Ayra dan diangguki oleh Liam.

"Jadi sebenarnya itu dulu sebelum Abang ngelamar Ay, Ayra sudah pernah apply buat beasiswa ngelanjutin pendidikan Ay," tutur Ayra mengawali ceritanya.

"Kalau dulu Ay tahu bakalan di lamar cepat sama Abang, mungkin Ay gak bakalan apply beasiswa dulu," lanjut Ayra.

"Aku gak bakalan ngehalangin pendidikan kamu kok Ay. Jika memang yang masih membuat kamu ragu buat nikah karena hal ini, kamu tenang saja. Jika kamu mau bekerja setelah nikah aja aku izinkan, apalagi kalau kamu mau lanjut kuliah lagi. Aku pasti izinin," kata Liam dengan senyum menenangkan.

"Sudah keterima beasiswanya?" tanya Liam.

"Beberapa hari yang lalu Ayra dapat pengumuman kalau Ayra keterima di kampus itu dengan beasiswa. Dan sekarang Ay tinggal melengkapi persyaratan dan konfirmasi saja," jawab Ayra.

"Yaudah Ay aku serius enggak apa-apa. Aku bakalan dukung kamu. Tapi kalau aku boleh nego sama kamu, bagaimana kalau kita nikah dulu? Kamu bisa, kan kuliah sambil nikah?" tanya Liam.

Ayra menghembuskan napasnya lagi perlahan sebelum menjawab. "Pasalnya, kampus tujuan Ayra itu bukan di Indonesia. Ay dapat beasiswa untuk kuliah di luar negeri."

Dan sungguh Liam kehabisan kata-kata mendengar ucapan Ayra.



Huwaaa udah 25 bab nihh guys,

Menurut kalian Ayra bakalan milih buat kuliah dulu atau nikah nih?

Kalau kalian di posisi Ayra, kalian bakalan milih apa?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro