Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bab 24 ~ Luka

Happy Reading ^^

Gak kerasa udah mau 25 bab aja:)

"Gimana Ma rasanya enak gak?" tanya Ayra dengan harap-harap cemas pada mamanya Liam.

Saat ini dirinya tengah berada di rumah Liam dan membuat kue bersama mamanya Liam.

"Enak Ay. Liam pasti suka," jawab mamanya Liam setelah mencoba kue buatan Ayra.

"Serius Ma?" tanya Ayra tak percaya. Pasalnya ini kali pertama dirinya mencoba membuat kue.

"Iya dong. Jangan-jangan kamu pura-pura lagi ya belum bisa masak kue?" tanya mama sambil tertawa kecil.

"Ih engga Mama. Ayra emang belum pernah buat. Sepertinya ini karena Mama yang ngasih resep deh," puji Ayra.

"Kamu bisa aja," kata mama dengan senyum merekah.

"Mama seneng deh kamu bisa jadi sama Liam. Liam beruntung bisa dapetin kamu," ucap mama.

"Mungkin aku yang lebih beruntung Ma," kata Ayra sambil tersenyum.

"Kalian berdua sama-sama beruntung karena saling memiliki satu sama lain," kata mama.

"Mama titip Liam sama kamu ya Ay. Dia itu pria yang setia, percaya sama mama. Saat dia memutuskan untuk menjadikan kamu pendampingnya, saat itu pula tidak ada kesempatan untuk perempuan lain bisa masuk ke dalam hatinya," lanjut mamanya Liam.

"In Syaa Allah Ma. Ayra bakalan jaga bang Liam baik-baik seperti Abang yang juga selalu jaga Ayra," kata Ayra.

"Iya Ay. Nah itu suara mobil sepertinya Liam deh," kata mamanya Liam.

"Assalamu'alaikum," suara salam dari Liam terdengar sampai ke dapur dan itu membuat Ayra tersenyum lebar.

"Wa'alaikumsalam," ucap keduanya bersamaan.

"Loh Ay ada di sini?" tanya Liam cukup kaget melihat Ayra ada di rumahnya dengan memakai apron.

"Lagi belajar masak sama mama," jawab Ayra dan mencium tangan Liam.

Ayra memang sengaja mengatur waktu memasaknya bertepatan dengan kepulangan Liam. Semenjak bertunangan, Liam memang selalu pulang ke rumahnya setiap minggu.

"Lagi belajar jadi calon istri yang baik ya," goda Liam.

"Mama gak kerepotan kan, ngadepin Ayra?" tanya Liam dan mencium tangan ibunya.

"Kamu ini ngomong apa. Mana ada Ayra ngerepotin. Justru keberadaan Ayra itu sangat menyenangkan buat mama," jawab mamanya.

"Tuh kata mama aja gak ngerepotin wlee," ujar Ayra dan memeletkan lidahnya.

"Jadi mana nih hasil masakannya?" tanya Liam dan mengelus lembut kepala Ayra.

"Ini, abang cobain," tawar Ayra dan menyerahkan sepotong kue.

"Mama tinggal dulu ya," kata mamanya.

"Mau kemana Ma?" tanya Ayra.

"Gak mau mengganggu kemesraan ini," kekeh mamanya dan membuat Ayra tersipu malu.

"Enak Ay," komentar Liam.

"Beneran?" tanya Ayra mengedip-ngedipkan matanya lucu.

"Iya sayang beneran. Kamu jago juga ternyata," puji Liam membuat Ayra tersenyum senang.

"Iya dong kan Ayra pintar," ucap Ayra memuji dirinya sendiri.

"Iya-iya. Calon istrinya aku kan pintar," kata Liam dengan lembut dan Ayra salah tingkah karenanya.

"Nanti malam keluar yuk," ajak Liam kepada Ayra.

"Kemana?" tanya Ayra sambil membereskan beberapa peralatan masaknya.

"Ke Dago gimana?"

"Boleh tuh. Eh besok Abang bisa temenin Ay gak?" tanya Ayra.

"Bisa dong," jawab Liam.

"Kok gak nanya temenin kemana?" tanya Ayra lagi.

"Karena kamu mau di temenin kemana aja aku mah hayu," jawaba Liam dengan kekehannya.

"Kalau Ayra minta temenin di kuburan gimana?" tanya Ayra.

"Eh jangan ngobrol gitu ah, dark jokes banget," komentar Liam.

"Yang bilang mau nemenin kemana aja siapa ya?" cibir Ayra.

"Udah ah sayang jangan bahas itu," ucap Liam.

"Mau aku bantuin gak?" tanya Liam melihat Ayra yang sibuk beres-beres di dapurnya.

"Enggak lihatin aja," sindir Ayra dan membuat Liam tertawa geli.

***

Udara dingin dan angin sepoi-sepoi menemani Ayra beserta Liam yang tengah duduk di salah satu cafe. Ayra mengamati sekitarnya yang tampak cukup ramai sedangkan Liam masih sibuk dengan ponselnya.

"Niat ngajak aku keluar gak sih?" sindir Ayra.

Ayra sungguh tidak menyukai Liam yang sibuk dengan ponselnya ketika sedang bersamanya. Dan dari awal hubungannya, baru kali ini Liam melakukan hal itu.

"Maaf-maaf. Aku lagi balesin whatsapp dari teman-teman kantor," ucap Liam dan segera menyimpan ponselnya di atas meja.

"Kalau emang lagi sibuk mendingan kita pulang aja lagi yuk," kata Ayra masih kesal.

"Ay aku kan udah minta maaf. Udah aku juga gak bakalan main handphone lagi kok," kata Liam.

"Jadi aku yang salah?" tanya Ayra.

"Siapa yang ngatain kamu salah Ay? Kan aku yang udah minta maaf," jawab Liam.

"Enggak ngatain sih, tapi perkataan kamu itu menjurus ke sana," kata Ayra masih dengan kekesalannya yang semakin bertambah.

"Ya Allah Ay. Aku enggak maksud ke sana sama sekali loh," kata Liam masih berusaha mengontrol emosinya.

"Yaudah kita pulang aja," kata Ayra sambil bersiap-siap dengan tas nya.

"Ay kok jadi gini sih?" tanya Liam dengan menarik napas panjang.

"Jadi maunya gimana? Aku pulang sendiri? Yaudah," kata Ayra dan langsung beranjak dari duduknya.

Liam menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada apa dengan Ayra? Kenapa dia begitu sensitif?

Akhirnya Liam pun mengikuti Ayra dan tak lupa ia ke kasir dulu untuk makanan yang belum sama sekali mereka sentuh.

"Pulang sama aku," kata Liam sambil menggandeng tangan Ayra menuju mobilnya saat wanita itu telah bersiap memesan ojek online.

"Aku bisa sendiri," kata Ayra sambil melepaskan tangan Liam.

"Gak boleh! Kamu datang kesini sama aku, ya pulangnya juga harus sama aku!" kata Liam.

"Maksudnya aku bisa sendiri ke mobil kamu!" kata Ayra sambil menghentakkan kakinya dan berjalan menuju mobil Liam.

"Lagian kamu juga terpaksa, kan pulang? Ini hanya sebagai bentuk tanggung jawab kamu terhadap papa, kan?" tanya Ayra begitu mereka telah berada di dalam mobil.

"Ya ampun Ay kamu kenapa sih? Kamu lagi datang bulan?" tanya Liam merasa tak habis pikir.

"Gak usah ngerubah topik pembicaraan deh," ujar Ayra.

"Tapi serius kamu kenapa? Oke tadi aku salah karena main ponsel saat sedang bersama kamu. Tapi aku udah minta maaf, kan ke kamu? Lalu permasalahannya apa lagi?" tanya Liam.

"Memang semua hal bisa kembali begitu saja hanya karena satu permintaan maaf?" tanya Ayra.

Sebenarnya Ayra sendiri begitu bingung dengan dirinya saat ini. Kenapa persoalan kecil ini begitu mengganggunya dan dia begitu kesal dengan Liam?

"Lalu mau kamu gimana Ay? Aku tadi udah bilang kalau aku gak akan mainin ponsel lagi," ujar Liam.

"Kamu bisa balikin waktu aku yang merasa di abaikan oleh kamu?" tanya Ayra.

"Ok aku emang gak bisa lakuin itu. So, please tell me bagaimana cara aku buat nebus kesalahan aku itu?" tanya Liam.

"Udahlah jalan aja. Kita pulang, aku gak mau ngomong dulu!" kata Ayra.

"Gak bisa gitu Ay. Aku mau permasalahan ini clear dulu sebelum kita pulang," tolak Liam.

"Selesain aja sendiri!" kata Ayra dan membuang mukanya melihat ke arah jendela.

"Enggak bisa kaya gitu Ayra Sherly. Masalah ini ada di antara kita berdua. Otomatis harus di selesaikan oleh kita juga," kata Liam mulai ikut terpancing emosi.

"Kok Abang ngomongnya gitu? Kenapa pake nama panjang Ayra?" tanya Ayra dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.

"Karena aku sudah bingung mau kamu itu gimana? Aku bilang apapun selalu salah!" kata Liam dengan nada tegas.

"Aku gak mau ngomong. Kita pulang aja," ucap Ayra sambil berusaha menahan air matanya yang hendak keluar.

Tanpa menjawab akhirnya Liam menjalankan mobilnya meninggalkan cafe.

Tidak ada pembicaraan apapun. Hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan mereka.

Sesampainya di depan rumah Ayra. Ayra yang hendak turun di tahan oleh Liam.

"Kita selesain ini dulu ya," kata Liam dengan nada yang sudah melembut.

"Nanti aja. Saat ini perasaan aku masih gak baik-baik saja dan aku gak mau nanti yang ada permasalahan ini bukan selesai tapi malah semakin melebar," jawab Ayra.

"Ay mari bersikap lebih dewasa. Ini hanya permasalahan kecil, dan aku gak mau permasalahan kaya gini malah kita biarkan," ucap Liam.

"Jadi menurut kamu aku gak dewasa?" tanya Ayra membuat Liam mengusap wajahnya kasar.

Sepertinya memang benar bicara di saat seperti ini tidak benar. Apapun yang ia katakan akan menjadi sebuah kesalahan.

"Aku pulang dulu," kata Ayra dan keluar dari mobil Liam.

Liam hanya bisa terdiam dan menatap kepergian Ayra yang mulai memasuki rumahnya.

Setelah sampai di dalam kamarnya Ayra langsung mendudukkan dirinya di bawah kasur. Menelungkupkan kepalanya dan mulai terisak.

Ia tidak suka dengan Liam malam ini. Ia pun tidak suka dengan dirinya untuk saat ini.

Meskipun ini hanya permasalahan kecil, tapi kenapa pria itu tidak bisa memahaminya? Meskipun Ayra tahu bahwa mungkin memang benar sikapnya saat ini sangat kekanakan, tapi apa perlu pria itu pun ikut emosi?

Lalu bagaimana mungkin ia akan melangkah lebih jauh dengan pria ini bila ternyata pria ini pun belum memahami secara utuh perihal emosinya.

Bukan Ayra tidak ingin memahami Liam. Selama ini ia yang terus-terusan memahaminya. Tapi untuk saat ini, dirinya hanya ingin di mengerti tanpa perlu mendapat pertanyaan apapun.

Satu pesan masuk ke ponselnya. Ayra melihat siapa yang mengirimnya dan ternyata dari Liam.

Liam : aku punya kabar bagus untuk kamu hari ini. Tapi karena situasi tadi akhirnya aku gak bisa kasih tau kamu. maaf kalau sikap aku tadi bikin kamu kecewa. Jangan nangis ya Ay. Aku tau kamu pasti sekarang lagi nangis. Aku bener-bener nyesel dengan apa yang aku lakuin tadi. Dan aku lebih nyesel lagi karena buat kamu nangis. Padahal aku udah janji pada diri aku sendiri bahwa aku bakalan buat kamu bahagia terus. Sekarang kamu mendingin istirahat aja ya sayang jangan banyak pikiran. Kejadian tadi semuanya salah aku. Maaf dan maaf, i love you.

Air mata Ayra turun lebih deras setelah membaca pesan dari Liam. Ia tahu kalau Liam maupun dirinya bukanlah manusia yang sempurna. Hidupnya tidak akan selalu bahagia tapi dia sepertinya lupa dengan hal itu.

Ia terlalu menuntut untuk segalanya berjalan sesuai keinginannya. Malam ini bukan hanya hatinya yang terluka. Hati dari pria yang ia cintai pun ikut terluka.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro