Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bab 22 ~ Mencari Sebuah Alasan

Happy reading🥰

"Satu satu Abang cinta Ayra. Dua-dua Abang cinta Ayra. Tiga-tiga Abang cinta Ayra. Satu dua tiga, Abang cinta Ayra," ucap Ayra riang menyanyikan lagu anak-anak dengan menganti liriknya.

"Kamu sehat Ay?" tanya Liam sambil tertawa melihat kelakuan Ayra yang semakin hari semakin aneh saja.

"Ish! Abang! Ayra kan lagi nyanyi," ucap Ayra menggerutu.

"Habisnya nyanyian kamu gak sesuai usia," kata Liam dan Ayra dengan sigap langsung memukul lengan pria itu.

"Eh jangan mukul dong, lagi nyetir nih," ucap Liam sambil terkekeh.

Saat ini mereka tengah dalam perjalanan menuju rumah nenek nya Ayra.

Entah angin dari mana tiba-tiba Ayra ingin berkunjung ke rumah neneknya dari sang papa. Dan kebetulan Liam sedang berada di rumahnya jadilah Ayra mengajak pria itu.

"Biar nyetirnya tambah fokus jadi Ayra pukul," ujar Ayra.

"Enggak gitu konsepnya Ay," bantah Liam membuat Ayra mendengkus pelan.

"Eh Abang tahu kan alamat rumah nenek?" tanya Ayra sepersekian menit kemudian.

"Tahu dong. Kan kamu udah kasih tahu," jawab Liam.

"Masa aku cuman nyebutin alamatnya Abang udah tahu?" tanya Ayra sangsi.

"Kebetulan aku dulu sering juga ke daerah itu. Jadi sedikit tahu lah," jawab Liam.

Setelah lebih dari satu jam akhirnya mereka sampai di rumah nenek Ayra. Sebuah rumah dengan gaya belanda yang terawat dan tampak asri.

"Assalamu'alaikum," salam Liam dan Ayra bersamaan.

"Wa'alaikumsalam, eh udah sampai. Ayo masuk," ajak neneknya begitu keluar dari rumah dan mengajak Ayra dan Liam untuk masuk.

Mereka pun menyalami nenek dan kemudian masuk ke dalam rumah.

"Teh hangatnya di minum dulu. Udara di sini dingin," ucap neneknya begitu ART di sana menyuguhkan teh yang masih mengepulkan asapnya.

"Nenek apa kabar?" tanya Ayra.

"Alhamdulillah baik nak. Kamu juga sehat, kan?" tanya neneknya dan diangguki oleh Ayra.

"Liam kapan ke Jakarta lagi?" tanya nenek.

"Besok Nek," jawab Liam.

"Oalah gak capek nak setelah hari ini malah nganterin cucu manja nenek kesini?" tanya nenek sambil terkekeh dan Ayra hanya merajuk mendengarnya.

"Aku gak manja loh Nek. Kebetulan aja bang Liam juga pengen ke sini," ucap Ayra.

"Hehe iya enggak papa kok Nek. Lagian Liam juga kan belum pernah ke sini jadi biar tahu," ucap Liam menambahi ucapan Ayra.

"Eh udah ada rencana buat tanggal pernikahan?" tanya neneknya membuat Ayra meringgis.

"Belum Nek. Mohon do'anya saja supaya secepatnya kami bisa menentukan tanggal," Liam yang menjawab karena Ayra merasa kebingungan harus menjawab seperti apa.

"Oh iya Nek. Ay mau ajak bang Liam ke kolam ya. Mau pamer," kata Ayra sambil terkekeh.

"Kamu ini!" kata neneknya.

"Yaudah sana. Seneng banget sama kolam," lanjut neneknya.

Ayra pun mengajak Liam menuju kolam yang tak jauh dari rumah. Sedikit turun dari rumah dan tibalah mereka di sebuah kolam yang terdapat gazebo dari kayu juga beberapa bunga dan rumput liar.

"Abang adem banget, kan di sini?" tanya Ayra dan mengajak Liam untuk duduk di gazebo.

"Iya. Pemandangannya juga bagus," komentar Liam dan menatap jauh ke bawah yang memperlihatkan pemandangan yang mengangumkan karena posisi mereka saat ini seperti di atas bukit.

"Kamu sering ke sini Ay?" tanya Liam.

"Iya pas kecil aku sering banget tinggal sama nenek. Tiap weekend pasti aku pengen ke sini," jawab Ayra.

"Kalau ke nenek dari mama jauh ya Ay, harus ke luar kota," ucap Liam dan diangguki Ayra.

"Tapi kapan-kapan boleh tuh Bang sambil kita jalan-jalan ke puncak," ujar Ayra karena nenek dari mama nya memang berada di Bogor.

"Nanti deh kesananya kalau udah nikah," kata Liam membuat Ayra langsung menoleh.

"Kenapa nungguin nikah dulu?" tanya Ayra.

"Emangnya kamu yakin bakalan diijinin ke luar kota sama orang tua kita sebelum nikah?" Liam balik bertanya dan Ayra pun akhirnya mengerti dan hanya terkekeh menanggapi.

"Padahal Leni udah ngajakin aku buat main ke Jakarta sama Abang," ucap Ayra kemudian.

"Eh dia tinggal di Jakarta?" tanya Liam dan diangguki oleh Ayra.

"Terus pertanyaan aku waktu dulu kamu belum jawab loh Ay," ucap Liam mengingatkan.

"Pertanyaan yang mana?" tanya Ayra pura-pura lupa. Padahal ingatannya masih segar.

"Itu loh waktu Leni suka sama aku, perasaan kamu sama aku gimana?" tanya Liam memperjelas.

"Ohh yang itu," ucap Ayra mengulur waktu.

Ia bingung harus mengatakan apa pasalnya saat itu memang dia tengah menyukai Liam juga. Tapi rasanya memalukan untuk mengatakan secara jujur kepada pria itu.

"Kalau Abang sendiri gimana?" Ayra malah balik bertanya.

"Pertanyaan itu di jawab sayang bukan malah nanya balik," kata Liam.

"Kan Ayra pengen tahu dulu waktu itu perasaan Abang gimana ke Ayra," ucap Ayra tetap pada pertanyaannya.

"Suatu hari nanti bakalan aku kasih tahu. Tapi enggak sekarang," jawab Liam.

"Sok misterius amat Abangnya," ucap Ayra sambil mendelik.

"Ayo kamu jawab dulu," kata Liam masih penasaran dengan jawaban Ayra.

"Ya gitu aja deh Bang biasa kaya kita dulu," jawab Ayra gak jelas.

"Kita dulu yang mana nih? Yang masih kecil?" tanya Liam sambil tertawa kecil.

"Bukan itu! Maksudnya ya aku sedikit suka sama Abang. Tapi aku sadar Abang juga udah punya pacar waktu itu. Jadi ya aku jadinya biasa aja ke Abang gak jadi suka," jawab Ayra.

Ia merutuki jawabannya sendiri. Sangat terlihat munafik bukan dirinya?

"Bisa-bisanya kamu Ay melepaskan perasaan begitu aja. Masa begitu tahu aku punya pacar kamu langsung gak suka lagi sama aku sih?" tanya Liam.

"Ya emang gitu kenyataannya Abang. Ay kan gak doyan pacar orang makannya langsung Ayra hempaskan tuh perasaan suka," jawab Ayra dan tertawa pelan.

Ia menertawakan dirinya sendiri. Dan ia pun yakin setan sekarang tengah tertawa menyaksikan kebohongannya.

Entah lah Ayra masih tidak mau Liam mengetahui bagaimana dirinya dulu hingga saat ini begitu menyukai pria ini.

"Dulu Airin suka cemburu loh Ay sama kamu," ucap Liam tiba-tiba.

"Hah? Kok bisa? Kenapa?" tanya Ayra bertubi-tubi.

"Satu-satu dong," ucap Liam dengan gemas dan menjawil hidung Ayra pelan.

"Ish nanti tambah mancung!" protes Ayra.

"Mau dengerin gak?" tanya Liam pada Ayra yang sedang mengusap-usap hidungnya sendiri.

"Iya Ay pengen tahu," jawab Ayra.

"Kan dulu aku sering nyeritain kamu ke Airin makannya dia cemburu mungkin," ujar Liam.

"Nyeritain apaan Abang?" tanya Ayra semakin penasaran.

"Ya banyak lah. Tentang aku punya tetangga dia rajin banget. Tiap hari ikut les, anaknya sopan, gak pernah neko-neko dan pinter pula," jawab Liam.

"Lah kenapa bisa kesana ceritanya?" tanya Ayra merasa heran.

"Gak tahu lupa lagi dulu awalnya bahasa apa. Pokoknya dulu sering banget tiba-tiba pembahasan aku itu malah nyambung ke kamu," jawab Liam dan mengangkat bahunya.

"Terus gimana cara Abang buat nenangin kak Airin biar gak cemburu?" tanya Ayra.

"Terus aku ceritain kalau kamu itu anaknya Prof. Hadi dan udah aku anggap adik sendiri. Lagian kenapa Airin harus cemburu sama anak-anak? Begitu cara aku dulu nenangin Airin," jawab Liam dan sukses membuat Ayra langsung memukulnya.

"Kenapa Ay?" tanya Liam merasa aneh dengan Ayra yang tiba-tiba memukulnya. Apakah jawabannya salah?

"Enak aja bilang aku anak-anak!" protes Ayra.

"Lah dulu kan kamu emang masih SMA Ay, jadi wajar dong kalau aku bilang anak-anak," ucap Liam membela diri.

"Terus kenapa sekarang malah ngelamar anak-anak?" tanya Ayra dengan judes.

"Soalnya anak-anaknya udah jadi gadis dewasa yang bikin aku jatuh cinta terus tiap harinya," jawab Liam dengan senyum menggoda yang malah membuat Ayra tertawa keras.

"Abang ih sumpah gak pantes banget tahu berekspresi kaya gitu," ucap Ayra.

"Hargain dong Ay ini aku udah berusaha keras buat bisa kaya gini," kata Liam dan membuat Ayra semakin tertawa.

"Mau aku hargain berapa?" tanya Ayra.

"Dengan kesediaan kamu buat nikah secepatnya dengan aku," jawab Liam.

"Dengerin ya Bang. Menikah itu bukan tentang cepat tapi tentang tepat. Buat apa kita nikah cepat jika tidak dengan orang yang tepat? Yang ada nanti setelah menikah bukannya bahagia malah sengsara. Selain itu juga harus tepat secara waktu. Maksudnya adalah kita harus menikah di waktu yang tepat. Jangan karena terburu-buru hingga akhirnya kita lupa bahwa waktu belum cukup untuk kita dewasa dan siap menghadapi ujian dalam pernikahan," papar Ayra panjang lebar.

"Point pertama. Kamu merasa aku masih bukan orang yang tepat?" tanya Liam.

"Bukan gitu maksudnya Bang. Bagaimana pun kita menjalin hubungan hanya sebentar. Walaupun kita sudah mengenal sejak lama tapi tetap saja kita belum mengenal lebih dalam secara personal," jawab Ayra.

"Yang Abang lihat sekarang mungkin hanya sifat-sifat baik Ayra aja. Tapi setelah nikah mungkin Abang bakalan lihat sifat buruk Ayra juga. Nah tidak mudah bukan menerima sifat buruk seseorang? Dan kita perlu waktu untuk menyesuaikan itu."

"Jadi lebih baik kita saling mencocokkan dulu satu sama lain. Hingga nanti saat kita menemukan satu alasan kenapa kita harus menikah dan saat kita menemukan alasan untuk tidak pernah meninggalkan satu sama lain hanya karena kekurangan masing-masing. Saat itu lah kita menikah," tutur Ayra.

"Ay kamu gak lupa, kan kalau kita enggak lagi di kampus?" tanya Liam dan Ayra kembali tertawa mendengarnya setelah beberapa saat yang lalu dirinya berada dalam mode serius.

"Hampir saja Ayra lupa kalau Abang itu bukan mahasiswa Ay," jawab Ayra.

"Tapi kamu benar sih Ay. Meskipun untuk saat ini aku sangat mencintai kamu, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk kita menikah begitu saja. Pernikahan terlalu sakral untuk diberi alasan yang sederhana," ucap Liam.

"Jadi mari kita temukan satu alasan yang cukup untuk kita menikah," kata Ayra.

"Ini jadi tugas akhir ya Ay?" kata Liam sambil terkekeh.

"Iya nanti wisudanya di pelaminan," jawab Ayra menanggapi candaan Liam.

"Semakin cepat aku mengerjakan semakin cepat pula dong aku wisuda," kata Liam.

"Semangat ya Bang buat nemuin alasan," kata Ayra sambil menepuk-nepuk bahu Liam.

"Semangat dong kan mau nikahin kamu," ucap Liam.

"Bantu Ay juga buat nemuin alasan yang bagus," ujar Ayra.

"Gak boleh nyontek tapi," kata Liam.

"Iya-iya. Pelit amat," ucap Ayra.

Dan mereka pun kemudian tertawa. Entah menertawakan kekonyolan mereka atau menertawakan bagaimana semesta bekerja begitu rumit untuk mempersatukan mereka.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro