Bab 21 ~ Mengikat Janji
Happy Reading ^^
"Ayra Sherly Muktahar, hari ini, di sini. Di depan orang tua kamu, orang tua ku dan keluarga kita. Aku mengajak kamu untuk hidup bersama denganku, berbagi suka dan duka, menua bersama dan saling menyempurnakan. Maukah kamu menjadi istri ku?" ucap Liam sambil berlutut dan membuka sebuah kotak cincin.
Ayra terdiam dan air matanya mengalir begitu saja.
Ia menyeka air matanya dan melirik ke arah orang tuanya yang tengah tersenyum ke arahnya.
Ayra pun mengaguk sebagai jawaban dan Liam pun tersenyum memasangkan cincin ke jari manis Ayra.
Harapannya bertahun-tahun telah terbayar sudah. Entah ini akan menjadi awal yang bahagia atau tidak, Ayra hanya berharap ini menjadi keputusan terbaik dalam hidupnya.
"Abang Ayra gak janji akan menjadi perempuan yang sempurna, tapi Ay janji akan menjadi perempuan dengan versi terbaik," kata Ayra dengan senyum manis di wajahnya.
"Untuk hari-hari berat yang mungkin akan kita lalui setelah ini, aku janji akan selalu ada buat kamu dan berjalan bersama dengan kamu untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya," ucap Liam.
"By the way, Abang yang nyiapin ini semua?" tanya Ayra dan diangguki oleh Liam.
"Pastinya dibantu oleh orang tua kita," jawab Liam sambil terkekeh.
"Jadi ini alasan Mama bawa Ay ke toko perhiasan? Buat tahu ukuran cincin Ayra?" tanya Ayra pada mamanya yang telah berdiri di dekatnya bersama sang papa dan orang tua Liam.
"Ini semua ide Liam," kekeh mamanya.
"Berarti kita sekarang tinggal nentuin tanggal pernikahannya?" tanya papanya Liam dengan jenaka.
"Kita serahin aja sama mereka. Biar Liam dan Ayra yang nentuin sendiri," kata papa Ayra.
"Kalau gitu mama sama papa tinggal dulu ya. Kalian lanjutin obrolannya," kata mama Liam sambil mengajak para orang tua untuk pindah tempat.
"Ciee yang udah di lamar," kata Ananda menghampiri Ayra dan Liam.
"Iya dong. Nih," kata Ayra sambil memamerkan cincin di jari manisnya.
"Sombongnya nih anak," cibir Ananda sambil terkekeh.
"Selamat ya Ra. Selamat juga buat kak Liam," kata Dito.
"Makasih. Kamu temennya Ayra ya. Kita belum berkenalan secara resmi ya waktu ketemu tempo hari," kata Liam membuat Ayra meringgis mengingat momen saat ia menolak ajakan Liam dan malah jalan-jalan bersama Dito.
"Hehe iya Kak," jawab Dito sambil tertawa canggung.
"Dito, Ananda, kalian belum makan kan, ya? Ayo cicipi dong hidangannya," usir Ayra secara halus tidak mau terjadi suasana canggung. Sebenarnya hati kecilnya merasa bersalah pada Dito.
"Iya Ay duh aku lapar banget. Ayo Dit temenin aku," ajak Ananda yang sepertinya mengerti perasaan Ayra.
"Kenapa? Kamu merasa canggung ada aku di depan dia?" tanya Liam sepeninggalnya Dito dan Ananda.
"Canggung apa sih Bang. Aku emang nyuruh mereka makan," elak Ayra kemudian duduk di salah satu kursi diikuti oleh Liam.
"Dia beneran bukan mantan kamu?" tanya Liam.
Ayra menghembuskan napasnya keras dan menjawab. "Bukan Abang. Lagian kenapa sih harus bahas mantan di tengah acara setelah lamaran?"
"Aku cuman mastiin aja. Kamu gak usah nyolot," kata Liam.
"Abang ngajak ribut sekarang?" tanya Ayra. Ia tak habis pikir bisa-bisanya setelah acara romantisnya barusan berubah menjadi huru-hara.
"Enggak Ayra sayang. Maaf kalau perkataan aku barusan nyinggung perasaan kamu," kata Liam dan menggenggam tangan Ayra lembut.
"Iya Ayra maafin tapi jangan di ulang lagi. Mantan Ayra hanya Ardan ya dan gak ada yang lain," ucap Ayra memperingati.
"Iya iya," ucap Liam.
"Kamu udah makan belum?" tanya Liam.
"Belum. Dari tadi aku kesal soalnya Abang gak datang ke ulang tahun aku," jujur Ayra.
"Kamu jangan gitu dong Ay. Aku gak mau kamu sakit lagi. Tunggu di sini ya aku bawain kamu makanan," ucap Liam.
"Makasih Bang Liam," kata Ayra dengan senyum menghiasi wajahnya.
***
@ayrasherly_muktahar
I lay my love on you
It's all I wanna do
Every time I breathe I feel brand new
You opened up my heart
Show me all your love and walk right through
As I lay my love on you
Thank's for everything @liambramantio
#westlife #myengagement
Ayra tersenyum begitu selesai memposting sebuah foto yang diambil di hari di mana Liam melamarnya. Hari itu menjadi hari ulang tahunnya yang begitu berkesan. Ia kadang masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
Sebuah panggilan video Ayra terima dan itu rupanya dari Leni.
"Anjirr Ay bisa-bisanya tunangan ama kak Liam," kata Leni begitu Ayra mengangkat panggilannya.
"Kenapa emang Len?" tanya Ayra sambil tertawa dan menyandarkan kepalanya ke belakang kursi. Saat ini dirinya memang tengah duduk di kursi balkon kamarnya yang menghadap ke arah kamar Liam. Meskipun pria itu telah kembali ke pekerjaannya, tapi tetap saja Ayra senang duduk di sana dan memandang ke arah kamar pria itu yang kosong.
"Gila sih ini plot twist banget buat aku. Pantes aja ya kamu dulu gak mau ngenalin kak Liam ke aku. Ternyata oh ternyata ada udang di balik batu," ucap Leni masih menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Namanya juga jodoh Len, siapa yang tahu," kata Ayra.
"Iya deh iya yang udah ketemu jodohnya," kata Leni sambil terkikik.
"Eh anak sama suami kamu kemana Len?" tanya Ayra merasa sedikit heran karena Leni bisa dengan leluasanya menelpon dirinya.
"Suami aku belum pulang, biasalah banyakin lembur biar anak istrinya sejahtera. Dan anak aku udah tidur," jawab Leni sambil terkekeh yang mau tak mau membuat Ayra ikut terkekeh.
"Nyesel gak nih kamu kemarin gak hadir ke ulang tahun aku?" tanya Ayra.
"Nyesel tau Ay! Tapi kok kamu gak bilang sih mau ada acara lamaran?" tanya Leni dan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku juga gak tahu Len ada acara semacam itu. Pokoknya bang Liam dan orang tua aku sukses bikin kejutan yang berkesan banget buat aku," tutur Ayra.
"Jadi pengen di lamar lagi deh," canda Leni.
"Hush! Gak boleh ngomong kaya gitu," ucap Ayra memperingati walaupun tahu Leni hanya becanda.
"Iya Ay cuman becanda loh," kekeh Leni.
Satu panggilan masuk dari Liam tapi Ayra tidak mungkin memutuskan panggilannya dari Leni. Ia merasa tak enak jika harus melakukan itu pada sahabatnya.
Bang Liam : kok sedang dalam panggilan lain?
Ayra membaca pesan dari Liam yang muncul di bilah notifikasinya. Dengan segera Ayra pun membalas.
Ayra : Lagi vc sama Leni. Tunggu bentar ya..
"Ada panggilan dari ayang ya? Mulai gak fokus gitu," goda Leni.
"Jangan goda aku gitu dong, kan jadi malu," kata Ayra dengan centil.
"Dih najis, yaudah sana aku tutup aja ya telponnya," ucap Leni.
"Ih Len gak apa-apa kali. Bang Liam tahu kok aku lagi vc sama kamu," kata Ayra.
"Jangan geer ya. Aku juga sibuk nih mau manasin makanan sebelum ayang aku pulang. Makannya cepat nikah biar bisa hidup serumah," ledek Leni membuat Ayra mencibirnya.
Ia memang belum memutuskan tanggal maupun bulan pernikahannya dengan Liam. Untuk saat ini Ayra hanya ingin mengenal Liam dan segala teka-tekinya lebih jauh lagi. Karena ia tak ingin menikah begitu saja karena dorongan yang hanya sekadar keinginan. Nikah itu membutuhkan kesiapan mental yang begitu besar. Dan Ayra sadar sepertinya mentalnya belum cukup untuk itu.
"Yaudah, bye Len. Entar kapan-kapan aku main ke sana," kata Ayra.
"Oke Ay aku tunggu. Lagian kak Liam kan kerja di Jakarta juga," ucap Leni.
"Siap, siap," ucap Ayra.
Setelah panggilannya dengan Leni terputus, Ayra pun langsung menelpon Liam.
"Hai, baru pulang?" tanya Ayra dan melirik jam di dinding yang menunjukkan hampir pukul tujuh malam.
"Iya. Leni itu temen kuliah kamu, kan?" tanya Liam.
"Iya yang waktu itu pernah kenalan sama Abang. Dia dulu naksir loh sama Abang," jawab Ayra sambil terkekeh.
"Oh ya? Aku gak sadar," jawab Liam.
Ayra menggerutu dalam hati. Jangankan Leni yang hanya sekilas menyukai pria ini. Dirinya yang bertahun-tahun pun sepertinya tidak di sadari keberadaan perasaannya oleh pria ini.
"Eh kamu lagi ngapain Ay?" tanya Liam menyadari Ayra yang sepertinya tengah duduk di kursi balkon.
"Lagi lihatin kamar Abang yang kosong," jawab Ayra santai.
"Buat apa?" tanya Liam dengan polos.
"Ya takutnya ada maling gitu," jawab Ayra asal membuat Liam terkekeh.
"Sabar ya. Semoga aku segera di mutasi," ucap Liam dengan senyum teduh yang membuat kaki Ayra lemas.
"Iya aamiin," ucap Ayra.
"Abang kan baru pulang kerja. Udah makan?" tanya Ayra.
"Udah sayang. Tadi aku makan sama anak-anak kantor," jawab Liam.
"Ada perempuannya?" tanya Ayra.
"Ya ada dong. Kan perusahaan aku enggak hanya terdiri dari karyawan laki-laki," jawab Liam.
"Abang awas loh kalau genit!" ucap Ayra memperingati.
"Enggak akan. Sebanyak apapun wanita di luaran sana, kan hati akunya hanya milik kamu," ucap Liam dan Ayra hanya tertawa mendengar gombalan receh dari Liam.
"Kamu juga Ay jangan tebar pesona ke para mahasiswa. Ingat sekarang udah ada cincin di jari manis kamu," kata Liam kemudian.
Ayra kembali tertawa renyah. Rupanya pria ini masih mengingat ketika dulu dirinya mengatakan belum ada cincin di jari manisnya.
"Iya Abang iya santai aja," ucap Ayra.
"Eh Ay orang tua aku kemarin nanyain. Katanya kita udah ada kesepakatan belum buat nikah?" tanya Liam membuat Ayra langsung berpikir.
"Kalau enggak usah buru-buru gak apa-apa?" tanya Ayra.
"Ya engga apa-apa dong Ay. Aku mau pernikahan kita di lakukan saat kita berdua sama-sama siap. Bukan salah satunya," jawab Liam dan tersenyum lembut.
"Oh iya, kalau kita nikah kan Abang udah bilang dulu ya ke Ay kalau Abang bakalan tetap dukung aku walaupun aku milih untuk terus berkarir?" tanya Ayra dan diangguki oleh Liam.
"Kalau misalkan kita nikah dan aku belum juga di mutasi, kamu mau Ay kalau pindah ngajarnya ke kampus yang ada di sini?" tanya Liam.
"Ayra nurut kok Bang. Lagian ngajar di mana aja juga sama aja kok," jawab Ayra.
"Syukurlah kalau gitu Ay. Oh ya aku jadi penasaran tentang Leni teman kamu itu. Dulu kan dia pernah suka ya sama aku. Saat itu perasaan kamu ke aku gimana?"
Dan pertanyaanLiam sukses membuat Ayra kehabisan kata-kata
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro