SIA
HO ANGUR, AHU SI BAU HOSA. [Kau wangi, aku bau napasnya]
Ruang kerja Grandiflora,
Apa yang ada di pikiran cewek yang beberapa jam lalu terang-terangan dipermalukan di depan kedua orangtuanya? Revenge, that is. Kalo Lukas kira nge-joke tentang makian khas Medan saat sarapan itu lucu banget (SANGAT-SANGAT-SANGAT NGGAK LUCU TBH), I wonder kayak apa nanti dia ketawanya saat aku membalasnya dengan bertubi-tubi.
*insert mata mlotot-mlotot kayak mbak-mbak jahat di sinetron here*
Ah... was... aja... ya... lo... nanti..., Kas. Watch your fuckin' back!
*
Setengah jam kemudian...,
I got nothing.
Sial.
Ternyata aku baru nyadar sama sekali bukan tipe yang jago balas dendam. Bukti tak terbantahkannya adalah fakta kalo aku harus googling 'best revenge idea' segala. Bukannya aku nggak dapat beberapa usulan lho! Banyaknya link yang muncul di hasil pencarian menunjukkan kalau orang-orang seperti aku cukup banyak jumlahnya di luar sana.
Aku bacain satu-satu ya: The best revenge is a massive success. Omong kosong apa ini?! Massive success? Emangnya jadi orang terkaya di Indonesia bisa menutupi rasa malu ditatap tajam oleh Mamak dan Bapak dari seberang meja?! Dan seolah itu nggak cukup buruk, Mamak bela-belain ngintilin aku sampai ke pintu depan, hanya demi menginterogasi aku soal Pukimak-gate itu. "Kau ya yang ngajar-ngajarin Lukas bahasa kotor itu?"
"Nggak, Mak! Beneran deh...."
"Lukas itu lama kali tinggal di luar negeri. Mana mungkin dia masih inget soal Puk-Mamak nggak mau ngulang bahasa kotor tokka (pantang) kayak gitu dengan mulut Mamak. Magigi (jijik)!"
"Semua orang yang merasa Batak dan pernah tinggal di Sumatera nggak mungkin nggak tahu Pukimak, Mak." Shit, kok malah disebutin sih. Dipelototin Mamak lagi deh! "Dan, jujur aja, aku malah tahu kata itu lebih dulu daripada lirik Sik Sik Sibatumanikam."
A.K.A. Lagu rap-nya halak hita (orang kita). Jangan ngaku Batak asli kalo nggak bisa ngelafalin lirik gibberish-nya dengan lancar: sik sik sibatumanikam, niparjoget sormadi gottam dinamangingani sibangbangkara julajula, sibangbangkara julajula! Awal-awal disuruh nyanyi lagu itu, serius, lidahku sampe keseleo gitu.
[Seharusnya ada GIF atau video di sini. Perbarui aplikasi sekarang untuk melihatnya.]
"Ahhh, Mamak nggak percaya!"
"Terserah! Emang nasib aku deh punya orangtua yang lebih percaya tamu daripada anaknya sendiri."
Mamak geleng-geleng kepala aja, tapi setelah itu balik badan dan pergi. Itulah alasan lain kenapa aku merasa harus bikin Lukas kena batunya. Nggak nyampe sehari, kedua orangtuaku ada di kubunya dia-how cray cray is that?!
*insert mata mlotot-mlotot lagi here*
GUE. NGGAK. TERIMAAAAAAAAAAAAAAA!
....
....
Oke, tenangin diri dulu sebelum menganalisis ide balas dendam selanjutnya.
....
....
Hmm, ini apa? Nggak ngasih satu-dua ide spesifik, tapi isi artikelnya lumayan membuka wawasan. Dia bilang, balas dendam terbaik nggak terletak di seberapa besar usaha yang kamu keluarkan untuk melakukannya, tapi separah apa kerusakan yang akan dialami targetnya. Misalnya, balas dendam terbaik untuk ikan adalah membuatnya menggelepar-gelepar di darat. Dia bilang lagi, untuk tahu apa yang bakal bikin dia sangat menderita, pastikan kamu ngenal dirinya dulu luar-dalam. Lebih bagus lagi, kamu membuatnya nyaman bersamamu hingga lengah dan-BAM!-kamu menyerangnya di titik paling vital.
Terlepas dari artikel ini kemungkinan besar ditulis oleh seorang psycho (entry lain di blog itu adalah 100 Cara Membunuh Berdasarkan Novel Agatha Christie), harus aku akui, isinya bikin aku sadar kalau aku nggak tahu apa-apa tentang cowok yang annoyingly manggil aku 'Iban' terus. Selain fakta kalo dia kuliah Musik dan jauh-jauh datang dari Reykjavik sana, siapa sih si Lukas ini?
Psychoman (sebut aja namanya begitu), lo bener. Aku memang harus mulai bikin pedekate gencar ke cowok itu.
*
Setelah memarkirkan mobilku di carport di samping rumah, dengan kaki berdenyut (thanks to Christian Dior Fertility Goddess Heels yang cantik luar biasa tapi sumpah nggak nyaman banget dipake berjam-jam)aku melangkah ke pintu depan dan membiarkan pembantu di rumah membukakannya untukku. Usai bertukar sapaan basa-basi dan diingatkan tentang menu makan malam hari ini (ayam betutu, sop iga, tahu telur, dan oseng kacang panjang bumbu balacan), aku mengucapkan terima kasih dan melanjutkan perjalananku menuju kamar. Sejurus kemudian, aku mengurungkan niat itu ketika menemukan Lukas di ruang tamu, berbaring santai seolah sedang berada di rumah sendiri, membolak-balik majalah golf lama milik Bapak. Ketika menyadari kehadiranku, cowok itu langsung menurunkan kakinya dari sofa.
"Baru pulang, Iban?"
"Nggak. Cuman numpang pipis doang kemari."
"Are you trying to be funny right now? Because that's just plain stupid answer."
"Jangan nanya bego kayak gitu kalo nggak mau dikasih jawaban bego." Tiba-tiba teringat misi untuk ngebaik-baikin Lukas. Shit. Wrong move! "Sori, gue capek banget hari ini. Rapat seharian, abis itu ngetes produk baru... why do I have to explain this? Lo nggak akan peduli."
"Please, do tell. Cerita lo jauh lebih menarik daripada-" Lukas melirik majalah di pangkuannya. "-liputan pertandingan golf se-Asia Tenggara."
Aku tertawa. "Daddy looooves his game!"
"Apparently...." Cowok itu tersenyum. "Ngomong-ngomong, udah makan?"
"Belon. Lo?"
"Udah." Matanya langsung berbinar-binar seperti lampu seratus watt. "Oseng kacang panjangnya enak banget!"
"Oh ya? Good to know." Reaksi orang yang kelamaan tinggal di luar negeri lalu balik ke Indonesia rata-rata kayak gini nih! Kelakuannya langsung norce sama hal-hal lokal. Makan oseng kacang panjang aja kok senengnya kayak habis dicium Katy Perry sih? Nggak banget.
"Makanya, makan gih," saran cowok itu. "Jangan sampe keburu dingin."
"Lo segitu niatnya ngingetin gue makan. What is this? Another plot to fuck me up?"
Lukas nggak langsung menjawab. Kaget banget dia kayaknya sama reaksiku barusan. "Actually, gue memang lagi ngebaik-baikin lo. Biar gue ada jalan buat minta maaf sama lo-"
"Minta maaf karena...? Emangnya lo ada salah apa sama gue?" Kura-kura belanja di Hero, pura-pura berlagak bego.
"Soal kejadian tadi pagi. Becanda gue emang keterlaluan waktu itu." Keterlaluan? Sesederhana itu lo menyebut situasi tadi pagi? Allang ma uttut i (makan kentut sana-I swear, it's way more insulting in Bataknese)!
"Ooooh, maksud lo tentang PUKIMAK?!" Aku menatapnya tajam. Membuat dia semakin salah tingkah.
"Yeah... that."
"Atau tentang lo bikin statement tentang gue ini adalah tipe lo?"
"That too."
"Bagus deh kalo inget. Lo jadi punya bahan buat didoain sebelum tidur nanti."
"Apa kita nggak bisa mulai dari awal dan... berteman?"
"Gue nggak tertarik."
Bahu Lukas langsung terlihat lemas. Hooo, jadi dia beneran serius nih tentang proposal 'let's be friends'-nya? Hmmm....
"Gue masih nggak punya alasan buat percaya lo seratus persen. Tapi kita bisa mulai dengan ngobrol-ngobrol dulu. Tawaran nemenin gue makan masih berlaku kan?"
Senyuman kembali tersungging di wajah Lukas. "Masih dong!"
So far, so good. Kita lihat sejauh apa bisa mengorek hal-hal pribadi dari orang ini, Psychoman.
*
Untuk yang satu ini, gue nggak bisa menyangkal opini Lukas. Oseng kacang panjangnya memang enak-lebih enak malah daripada yang biasanya. Sejauh ini obrolan kami hanya sebatas hal-hal ringan; terakhir baca buku apa, film favorit sepanjang masa. You know..., shitty information. Give me something, Man! Something juicy and so scandalous! Kasih aku kesempatan buat balas dendam! Grrr!
Sambil mengunyah, aku memperhatikan ketika Roa datang mendekati Lukas, mengendus-endus lutut cowok itu sambil bertingkah cari perhatian. Aku baru saja mau bilang, Roa itu nggak hanya sejelek arti namanya, kelakuannya juga jelek sama orang asing. Korban terakhir Roa adalah istri pengusaha mebel yang bertamu bersama suaminya minggu lalu. Pumps Giuseppe Zanotti-nya-yang seluruh permukaannya bertabur kristal Swarovski-nggak hanya jadi mainan baru Si Roa, juga digigit-gigit sampe nggak berbentuk lagi. Si Ibu benar-benar menahan diri atas nama kesopanan, padahal dilihat dari tampangnya udah pengen nangis banget. Mamak nawarin untuk mengganti sepatunya dengan yang baru, tapi Si Ibu bilang nggak usah. Thanks to Roa, malam itu beliau pulang dengan sandal Crocs milik Bapak karena nggak satu pun sepatuku maupun punya Mamak yang sesuai dengan ukuran kaki beliau.
Tapi cerita itu belum sempat keluar dari mulutku karena kalah cepat dengan Roa yang kini membiarkan Lukas memegang perutnya. Helaan napas puas keluar dari moncong anjing itu ketika Lukas menggaruk-garuk perut buncitnya (Roa memang tukang makan) dengan sukarela.
Bikin marah!
Sejak kapan anjing jelek itu ikrib-ikrib dengan cowok ini? Bah! Aku bener-benar nggak habis pikir. Jadi sekarang, nggak hanya Mamak dan Bapak, Si Roa juga?!
Cowok itu kemudian mengeluarkan handphone dari saku celana pendeknya. Lock screen-nya meminta password berupa pola menggunakan sembilan titik. Aku diam-diam mengawasi Lukas ketika membuat garis panjang ke bawah, lalu garis lurus ke samping kanan. Pola L-seperti inisial namanya. Setelah terbuka, cowok itu memilih aplikasi kamera dan mengabadikan ekspresi memalukan Si Roa yang berada di antara kepuasan penuh dan semi-semi horny. "Eh, anjing lo udah makan atau belum?"
"Bukan anjing gue," kataku, lalu menyuapkan potongan ayam betutu ke mulutku sendiri.
"Tapi kan... peliharan di rumah lo. Gimana sih?"
"Tetep nggak lantas bikin dia jadi peliharaan gue. Itu idenya Bokap buat melihara anak anjing kampung pemberian tetangga sebelah. Kalo gue sih milih yang tipe cute macam maltese atau pomenarian." Aku refleks menyeringai ketika menunduk untuk melihat si Roa di bawah meja. "Roa is so... ugly."
Tahu lagi diomongin, Roa menyalak ke arahku. Ugh!
"Nggak usah dimasukin ke hati, Roa." Lukas mengelus-elus puncak kepala anjing itu. "Sesama cewek emang biasa jealous-jealous-an."
"EXCUSE ME?!"
Lukas ketawa-ketawa aja menanggapi kemarahan instanku. Sialan!
"Roa, ayo nyari Bibik. Kita tanya makanan lo dia simpan di mana."
"Sekarang, gue punya dua musuh di rumah ini."
Drrt, drrt.
Aku menoleh. Suaranya berasal dari handphone Lukas. Cowok itu lupa membawanya serta saking terlalu perhatiannya sama Si Roa.
Drrt, drrt.
Kali ini, meskipun sekelebat, aku bisa membaca bagian awal pesan SMS-nya. Something-something pake bahasa sana, lalu kalimat berbahasa Inggris: I miss you so much I could die!-dan diakhiri dengan emoji menangis. Idih, alay amat nih anak!
Pandanganku melayang ke arah pintu dapur. Belum ada tanda-tanda Lukas bakalan datang. Oke, aku nggak tahan lagi. Aku harus baca SMS lengkap yang masuk barusan!
Pattern password-L-shape. Yesss, I'm in!
Well, well, well, si alay ternyata Anna. Sungguh disayangkan, semua percakapan mereka sepenuhnya dalam bahasa Islandia. Tapi beberapa kali mereka bicara pake bahasa Inggris juga.
... I can explain....
... You said you love me. Do you even mean it?....
... Why can't you give a chance to explain?....
... Goodbye, Anna....
... I love you, Lukas....
... There's nothing left to say. I wish you the best....
... There is no goodbye between us, Lukas. I refuse to believe that....
Dan yang terakhir, sekaligus yang paling alay:
I miss you so much I could die.
Ketika itulah aku bisa mendengar suara Psychoman di dalam kepalaku. "BAM!" katanya.
Aku tersenyum lebar. "BAM!" kataku.
*
Malam itu, aku mimpi indah banget.
Grandiflora luar biasa terkenal dan dijual di seluruh penjuru dunia, bahkan Macy's! Dan iklan produk lini for men kami dibintangi oleh cowok yang paling ganteng sejagad raya-at least, buatku: Chris Evans.
Adegan yang muncul selanjutnya bertempat di sebuah restoran high end di Manhattan. Chris Evans menantiku di meja yang dia reservasi, tampak menawan dalam balutan kemeja putih dan celana panjang hitam. Dua kancing teratas kemejanya sengaja dilepas, melepas akses pandanganku pada bulu dada berwarna gelap cowok itu yang nggak hanya seksi juga jenggut-able.
Setelah duduk, Chris menawariku segelas sampanye Moët & Chandon, lalu menginstruksiku untuk mengangkatnya di udara. Toast untuk kesuksesan Grandiflora, katanya.
Aku mengangguk setuju. "Omzet Grandiflora naik sampai 400% karena kamu jadi spokeperson produk kami."
"Apa sih yang nggak aku lakukan buat cewek secantik kamu." Chris mencubit pelan daguku, membuatku tersipu-sipu malu. By the way, Chris Evans kok fasih banget sih bahasa Indonesianya? Hihihi!
"Chris, stooop! Nggak baik ah ngegombal kayak gitu."
"Tapi ini yang sesungguhnya, Sayang. Aku setuju dikontrak oleh Grandiflora karena tahu kamulah pemiliknya." Aku sampai nggak bisa berkata-kata sedikit pun. "Masa kamu nggak tahu sih? Aku nggak dibayar sama sekali lho!"
"Yang bener?!"
"Kalo sekarang sih, aku maunya dibayar. Mencium bibir indahmu adalah harga yang setimpal."
"Tapi-" Aku menggigit bibir bawahku, lalu memberi Chris tatapan sendu. "-kamu kan udah punya pacar...."
"Udah diputusin jauh-jauh hari."
"Oh, Chris...."
"Oh, Iban."
IBAN?!
Tok, tok, tok.
"Iban, bangun! Gue butuh ngomong sama lo."
Lukas sialan! Gara-gara dia, batal deh ciuman sama Chris Evans.
Tok, tok, tok.
"What the hell?!" bentakku ketika membuka pintu. Lukas nggak bilang apa-apa, hanya memandangiku dari atas sampai ke bawah dengan... heran? Kurang lebih begitulah. Ya, ya, ya, gue juga sadar kok lagi nggak oke buat nerima tamu di kamar. Puncak kepala gue disesaki roll rambut, muka gue masih berlepotan masker (lupa cuci muka karena ketiduran pas nonton-makasih lho remake MacGyver! You really as suck as what people said on the internet). Plus, daster batik gue sama sekali nggak matching sama sandal tidur gue yang berbentuk kepala Minion. "Nggak bisa ya lo nunggu sampe pagi aja?!"
"Nggak!"
"Mo ngomong apa sih?" tanyaku sambil menyipitkan mata.
"Nggak usah berlagak polos. Lo tahu persis alasan gue nyamperin lo tengah malem gini."
Aku mengedikkan kedua bahu. "Nggak tahu."
Lukas mengacungkan handphone-nya tepat di depan wajahku. "Ini. Ini kelakuan lo kan?" tanyanya dengan nada tajam. "Lo kan yang bales SMS Anna tanpa seizin gue?!"
Aku yang biasa akan langsung mengaku di tempat. Tapi aku yang terbakar dendam membara ini memutuskan untuk nggak membuat cowok itu puas dengan cepat. "Gue nggak akan ngaku apa pun sampe pengacara gue datang."
---
Keterangan visual di awal bab: Daniel DiTomasso as Lukas.
HORAS!
Buat yang lama nungguin update-an SWEET PARIBAN, mihip yeee! Abang harus nyelesaiin novel nih. Udah setengah jalan. Ini aja bisa sempet nulis karena kebetulan lagi senggang aja.
Seperti request mayoritas, bab ini bercerita tentang balas dendamnya Si Iban. PUAS KELEN, PUAS?! Haghaghag~
Kalo udah kelar baca, Abang minta tolong lagi. Hayo, punya usul nggak tentang isi SMS yang ditulis Si Iban buat mantannya Lukas?
Abang tunggu di kolom komen ya.
CHRISTIAN SIMAMORA
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro