2- Reifansyah Justin Abqari
Happy Reading!!
-
-
-
Sebarapa jauh kamu mengelak, bila memang itu ketatapan-Nya, kamu harus apa?
-Suddenly-
Reifansyah Justin Abqari begitulah orang tuanya memberikan nama, lelaki muda 25 tahun, gagah dan berwibawa yang menjabat sebagai CEO di perusahaan Ab'Corp, perusahaan turun temurun dari nenek moyangnya.
Kelihatannya, dia nampak frustasi pagi ini, berangkat kantor kali ini saja sudah lumayan siang.
"Pagi pak," sapa salah satu karyawan yang dilewatinya. Dia tak menjawab sama sekali.
Terus berjalan dengan penuh wibawa, memasuki lift menuju lantai 35 dimana letak ruangannya berada.
Sesampai di ruangannya, dia langsung menghempaskan tubuh di singgasana miliknya. Pikirannya nampak melayang entah kemana. Belum lagi masalah satu selesai, masalah kembali lagi muncul.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya, dirinya nampak malas untuk sekedar berucap. Pintu terbuka lebar menampakkan sosok lelaki tinggi berhidung mancung yang membawa map.
"Ini pak, silahkan ditanda tangani." Dia menyerahkan map tersebut pada Rei. Lelaki tadi yang menjabat sebagai sekretaris Rei mengerutkan keningnya, menyusuri lekat wajah Rei dihadapannya. Sampai ....
Plak
"Aduh, sakit ... tega banget lo sama gue," Ringisnya, sambil mengusap kening yang kena timpuk map tadi.
"Lagian lo kenapa si? Pak bos yang berwibawa, yang dingin, cuek bebek. Tambah dingin aja nih, ngeri gue," Lanjutnya, jika kalian berpikir bahwa sekretaris Rei ini tidak sopan?
Memang, tetapi mereka adalah sepasang sahabat sejak SMA. Bisa-bisanya Rei bersahabat dengan seorang Rafa Naufal yang absurd ini. Sifat yang berbanding terbalik, namun nyatanya persahabatan mereka awet sampai tua.
"Hmm," Jawabnya.
"Yailah, cerita kenapa si, gue aja selalu cerita sama lo. Walaupun Lo cosplay jadi sabyan, tapi kadang ya bos," ucapnya sambil terkekeh. Kemudian Rafa berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Rei.
"Gue dijodohin," ucapnya singkat, terlihat Rafa yang mengerjap berkali-kali.
"Beneran lo? Gila si gila." Dalam pikiran Rafa, ini yang membuat bosnya menjadi lebih dingin, dan malas berbicara. Memang zaman sekarang masih ada perjodohan? Zaman modern seperti ini.
"Nah kan, gue hampir lupa, bahas perjodohan elo nanti aja ya, sekarang ada meeting sama perusahaan Dara's Company."
"Langsung aja." Rei langsung berdiri dan merapikan jas-nya, diikuti oleh Rafa. Mereka berjalan beriringan menuju ruang meeting, kaum hawa yang melihatnya pasti akan menjerit melihat ketampanan mereka, walaupun Rafa sudah beristri dan memiliki anak, namun kadar ketampanan nya masih terlihat, malah terlihat seperti perjaka.
—*—
"Cukup sekian, semoga kerja sama kali ini berjalan dengan lancar," ucap Rei penuh wibawa.
"Aamiin, terimakasih pak Rei. Senang bekerja sama dengan anda," ucap Dani— CEO Dara's company, sambil menjabat tangan Rei.
Setelah semua orang hengkang dari ruangan meeting, hanya tersisa Rei dan Rafa, ini saatnya Rei meminta bantuan Rafa.
"Sekarang lo ceritain dulu, kenapa lo dijodohin, dan lo frustasi gini."
Rei masih diam dalam pikirannya.
"Bos, kenapa lo dijodohin?" Rasanya mulut Rafa gatal ingin bertanya sejak tadi.
"Tahu tuh, orang tua gue pengin gue nikah." Enteng sekali dia menjawab, hanya keinginan orang tua. Memang dia belum ingin menikah. Padahal pria seusia Rei sudah matang untuk menikah.
"Lagian elo. Gue aja udah gendong anak, jangan-jangan lo homo, lo juga selalu deket gue."
"Makan tuh homo," ucap Rei, sambil melemparkan bolpoin yang mengenai tepat di kepala Rafa.
"Dari dulu, gue selalu teraniaya sama lo, emang siapa yang mau dijodohin sama lo?"
"Gue juga nggak tahu." Lah, dia yang dijodohkan, dia tidak tahu dengan siapa dia akan dijodohkan. Benar-benar seperti drama yang istrinya tonton, pikir Rafa.
"Gimana si lo, ogeb."
"Namanya Shasa, gue cuma tahu itu, setelah pertemuan kemarin, baru gue lihat wajahnya, dia langsung kabur entah kemana."
"Gimana-gimana? Cantik nggak?" Tanya Rafa pemasaran.
"Cantik si, tapi pakaian kurang bahan." Rei akui perempuan itu cantik, tetapi Rei tidak menyukai gaya berpakaian perempuan itu.
"Terus selanjutnya gimana? Jangan-jangan dia takut sama elo, makanya kabur."
"Coba lo lacak pakai nomor hp ini. Mau gimana lagi, perintah mutlak orang tua."
"Kalau misalnya nggak cocok, elo tolak lah, lagian masih banyak perempuan yang mau sama lo, lo ganteng, kaya, kurang apalagi coba?"
"Berarti lo terima perjodohan ini. Sampai lo mau cari dia?" Lanjut Rafa, karena tadi tidak mendapat jawaban dari Rei.
Rei hanya mengangkat bahunya acuh, dengan cepat, Rafa melakukan tugasnya, Rafa adalah orang kepercayaan Rei dalam bidang apapun.
"Ketemu?" tanya Rei pada Rafa yang sedang serius menatap laptopnya.
"Lokasi terakhir di bandara Soekarno Hatta, ini menandakan dia masih di sana, nih lihat." Dalam waktu lima menit Rafa sudah menemukan keberadaan Shasa.
—*—
Dengan langkah seribu Rei memasuki area bandara Soekarno Hatta, mengikuti arahan tempat yang tadi Rafa sampaikan. Rafa diperintahkan Rei untuk mengurus data-data di kantor, sedangkan dirinya mencari seseorang yang akan menjadi pelengkap imannya kelak, maybe.
Rei tampak menyipitkan matanya, menangkap perempuan bergamis panjang yang sepertinya sedang mencari-cari seseorang. Tanpa berpikir panjang Rei langsung menghampirinya.
"Shasa," panggil Rei pada seorang wanita berpakaian syar'i itu, perempuan yang dipanggil Shasa itu menoleh ke arah Rei. Perempuan di depan Rei ini nampak bingung.
"Shasa, kamu ...." Rei hampir menarik tangannya, namun dia segera menjauh.
"Maaf, mungkin anda salah orang, permisi," ucap perempuan yang dipanggil Shasa oleh Rei itu segera menarik kopernya agar menjauh dari Rei. Sangat jelas jika perempuan itu sangat risih.
Namun, baru satu langkah, Rei sudah mencegah dengan menarik tangannya. Shasa langsung menepis dengan kasar.
"Bahkan saya masih bisa mengenali kamu, walaupun kamu berpakaian panjang seperti ini, saya menyukainya," ujar Rei padanya.
Dalam hati perempuan itu tak hentinya merapalkan doa, apa dia orang yang terlepas dari rumah sakit jiwa? Tetapi, pria itu begitu tampan. Bahkan dalam ingatannya sama sekali belum pernah bertemu dengan lelaki jangkung itu. Pikiran-pikiran negatif mulai menyelubungi otaknya. Perempuan itu ingin menangis, ia takut.
“Ayo calon istriku kita pulang. Jangan coba-coba untuk kabur dari saya.”
Seketika napasnya terhenti, pandangannya mulai kabur, dan semuanya menjadi gelap.
Dengan cekatan Rei menangkap tubuh lemas yang limbung itu. Rei sangat khawatir, ia langsung meminta bantuan pada orang yang melewatinya untuk membawa kopernya. Dan ia membopong perempuan itu menuju mobil.
Rei segera melajukan mobilnya sedikit cepat, ia akan membawanya ke rumah sakit, setelah sampai ia terburu-buru membawanya ke dalam.
"Cepat sus," ujarnya tak sabaran, ia juga merasa tak enak pada perempuan itu.
"Masnya tunggu istrinya di luar ya," ujar salah satu suster pada Rei sambil tersenyum manis seolah menenangkan seorang suami yang sangat khawatir kepada istrinya.
"Drama apalagi ini?" Batin Rei bertanya-tanya.
"Gimana kak?" Tanya seorang wanita yang menghampiri Rei dengan tergesa.
"Mama nggak papa?"
"Gue tanya sama elo, malah ngalihin pembicaraan. Tante nggak papa kok."
"Gue bingung, Sebenarnya dia Shasa atau bukan, pas tadi ketemu di bandara, seolah dia nggak pernah ketemu gue, tapi gue percaya kalau itu Shasa, tapi versi hijab," jelas Rei pada Karin—istri Rafa.
Karin cengo, ia tak menyangka hidup seorang Rei penuh Drama. Karin melirik tas yang di pegang Rei, tanpa meminta izin, Karin langsung mengambil dari Rei dan membukanya.
"Zea? Ya Allah sayangnya aku, udah pulang," pekik Karin kegirangan saat membaca KTP milik perempuan yang di bawa Rei.
"S– siapa, Rin?" Tanya Rei tergagap.
"Savya Zea Fatharani, gue tahu dia. Dia orang baik kok bahkan baik banget."
Chapter 2 done publish!!
Jangan lupa vote komen
TBC!!
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro