Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🐬 Part 3 🐬

Still Love Him

Part 3

🐬🐬🐬🐬🐬🌷🌷🌷🐬🐬🐬🐬🐬

Kue ulang tahun Rakka sudah terhias dengan cantiknya, Dias dan Alvie begitu bangganya menatap kue hasil karya mereka. Sejak sore tadi, mereka masih duduk di ruang tengah menunggu kedatangan Rakka. Dias terlihat begitu antusias untuk memberikan kejutan kepada papanya.

Akan tetapi, tidak dengan Alvie. Ia yang mengetahui Rakka tidak pulang sejak sore tadi, jujur saja ia merasa gelisah. Sebenarnya, ia sudah terbiasa akan hal ini. Hanya saja, saat ini ada hal lain yang menjadi kegelisahannya.

Makan malam sudah tiba, tetapi Rakka belum datang juga. Alvie menatap putranya yang duduk di sampingnya. Wajah Dias masih sama seperti beberapa jam lalu, terlihat begitu semangatnya. Tangan Alvie terulur membelai kepala Dias yang membuat Dias membalas tatapannya.

"Dias makan dulu, ya. Ini sudah waktunya makan malam." Dias menggeleng, membuat Alvie melipat keningnya.

"Kenapa?" tanya Alvie.

"Dias mau menunggu Papa, Ma. Dias mau kasih kejutan dulu buat Papa. Habis itu, kita makan bareng-bareng." Mendengar penuturan putranya membuat Alvie tersenyum. Bukan, bukan senyuman bahagia. Melainkan senyuman getir. Merasa kasihan pada Dias yang mungkin saja dikecewakan oleh Rakka.

"Nanti biar Papa nyusul. Kalau nunggu Papa, Dias nggak kelaparan memang? Mungkin Papa pulangnya malam karena masih banyak pekerjaan." Dias kembali menggeleng. Alvie yang mendapat jawaban itu hanya menghela napas dalam. Teguh sekali putranya ini.

Keduanya kembali terdiam, kembali menunggu kepulangan Rakka demi kejutan yang sudah mereka rencanakan. Saking lamanya menunggu, badan mereka pun terasa pegal. Berbagai posisi mereka berubah, hingga saat ini Dias yang berada di posisi tidurannya dengan kepala berbantalkan paha Alvie. Napas Dias pun terdengar teratur menandakan bahwa anak itu sudah terlelap.

Alvie menatap jam dinding di sampingnya, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Ini sudah terlalu larut, dengan gerakan pelan, Alvie mulai membopong tubuh Dias dan memindahkannya ke kamar.

Setelah menyelimuti putranya, Alvie beranjak meninggalkan kamar sang putra. Seperti biasa, ia akan menunggu kepulangan Rakka, suaminya. Untuk kali ini, ia akan meminta kejelasan akan perbuatan Rakka hari ini. Padahal, sebelum berangkat tadi Alvie sudah mengatakan kalau Rakka harus pulang cepat. Karena Dias mempunyai sesuatu untuk suaminya itu. Nyatanya, sama saja. Seperti hari biasanya. Membuat Dias harus menelan kekecewaan.

Baru saja langkah Alvie berada di pertengahan anak tangga, suara mobil Rakka yang memasuki pekarangan rumah membuat Alvie segera berlari menuju pintu utama.

Sosok Rakka terlihat ketika Alvie membuka pintu. Tanpa kata, Rakka berjalan masuk melewati Alvie begitu saja, tanpa menghiraukannya seperti biasa. Alvie yang biasanya hanya diam, kini dia tak ingin diam lagi. Masalahnya, bukan hanya dialah yang merasa kecewa atas kepulangan Rakka yang terlambat. Alvie yakin, Dias pun juga merasakan hal yang sama.

Alvie mengikuti Rakka yang berjalan ke arah dapur, pasti untuk mengambil air minum. "Kenapa baru pulang, Mas?" tanya Alvie langsung pada intinya.

Gerakan Rakka yang baru saja menuangkan air ke dalam gelas terhenti sesaat. Tanpa menoleh ia menjawab pertanyaan Alvie. "Pekerjaanku banyak," jawabnya tanpa menoleh, dengan santainya ia meminum minumannya.

Alvie yang mendapat jawaban seperti itu tentu saja merasa tidak puas. Karena setiap harinya jawaban itulah yang ia dapat. Alvie menghela napas, mencoba mengontrol emosinya agar tak melewati batas. "Mas. Tadi pagi, kan aku sudah bilang untuk pulang lebih awal. Kenapa masih tetap pulang jam segini?"

Rakka yang sedang minum melirik sekilas, ia teguk air putih itu hingga tersisa setengah. "Aku lupa." Jawaban Rakka kali ini tentu saja membuat Alvie tak habis pikir. Ini sudah keterlaluan.

"Mas. Kamu tau nggak, sih kalau Dias nunggu kamu pulang dari tadi sore? Dia sampai tidak makan malam karena ingin makan dengan kamu dan merayakan ulang tahun kamu," ucap Alvie panjang lebar, berharap Rakka mengerti akan ucapannya.

Namun, siapa sangka. Suara keras akibat benturan sebuah gelas yang Rakka letakkan secara kasar menjawab ucapan Alvie. Cukup untuk membuat Alvie mengerti bahwa segala ucapannya tidaklah ada artinya.

Rakka menatap Alvie sembari melipat tangan di depan dada. "Mau bagaimana lagi? Namanya juga orang lupa."

Mata Alvie melotot. Benar-benar tak habis pikir akan sikap suaminya. "Mas!" teriak Alvie, ia kini tak mampu lagi menahan emosinya.

Sedangkan Rakka yang mendengar teriakan Alvie balik menatap tajam Alvie. Merasa tidak suka akan teriakan yang baru saja Alvie layangkan padanya. "Aku nggak masalah kalau kamu kecewain aku. Aku nggak masalah kalau harus tunggu kamu pulang kerja sampai malam. Tapi ini Dias, Mas. Dias. Anak kamu. Dia hanya ingin merayakan ulang tahun kamu. Tapi tega-teganya kamu melakukan ini. Kamu punya hati nggak sih, Mas? Kamu punya o-"

"Diam!" bentak Rakka keras. Suara bentakan itu bebarengan dengan suara pecahan kaca, di mana Rakka baru saja melempar gelas yang sebelumnya ia gunakan untuk minum. Ia melempanya ke dinding tepat samping Alvie. Meski gelas itu tak mengenainya, itu cukup membuat Alvie terkejut dan menutup matanya. Deguban jantungnya semakin cepat dengan apa yang baru saja terjadi.

Tak ada lagi kata yang terucap, hanya deru napas yang terdengar memburu saling bersahutan berembus. Alvie membuka mata dan menatap Rakka. Di sana, Rakka terlihat sangat menyeramkan. Tatapan tajam itu, baru kali ini ia dapat.

Langkah terburu Rakka yang mendekatinya membuat Alvie gemetar. Alvie mendongak, menatap Rakka yang saat ini berdiri menjulang di depannya. "Jangan banyak bicara," ucap Rakka tajam.

Alvie melotot, semakin tak habia pikir dengan suaminya. "Ada apa sebenarnya dengan kamu, Rakka?" Alvie yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, kini memanggil suaminya dengan nama. Merasa jengah dengan sikap yang beberapa waktu ini ia dapat.

"Kamu sudah berubah, Mas. Kamu bukan Rakka yang aku kenal dulu. Aku nggak kenal ka-"

"Diam!"

"Aku nggak akan Diam!" Alvie membalikkan teriakan Rakka. Namun, tanpa diduga, teriakan Alvie mendapat balasan sebuah tamparan. Tamparan yang sangat keras sehingga membuat kepala Alvie terlempar ke samping, rasa panas menjalar di pipi Alvie. Tak lama, satu titik air jatuh dari kelopak matanya.

"Jaga sikap kamu," ucapnya dengan desisan. Rakka berlalu dari dapur, keluar dari rumah, meninggalkan Alvie yang masih mencerna sikap Rakka. Rakka, baru saja menamparnya, untuk pertama kalinya.

Bahu Alvie bergetar, mulai meluapkan tangisnya. Rasa sesak yang sedari tadi ia tahan, kini ia luapkan dengan air mata. Tubuhnya luruh ke lantai, bersandar padai dinding di belakangnya dan mulai meluapkan tangisnya.

Tak Rakka dan Alvie sadari, pertengkaran mereka sebelumnya telah disaksikan seseorang. Seseorang yang bersembunyi di balik dinding, seorang anak kecil yang sudah menangis tak bersuara karena melihat pertengkaran kedua orang tuanya.

Dias. Dia menyaksikan semua pertengkaran itu. Sebenarnya, Dias sudah bangun saat Alvie mengangkatnya untuk dipindahkan ke kamar. Akan tetapi, ia mengurunkan niatnya untuk tidur saat mendengar suara mobil papanya.

Ia bergegas bangun untuk menemui papanya dan melanjutkan rencananya akan merayakan ulang tahung sang papa. Akan tetapi, sesuatu mengurunkan niatnya tak kala ia mendengar mamanya berteriak di dapur. Pelan ia berjalan, lalu bersembunyi di balik dinding. Sehingga ia bisa melihat semua pertengkaran itu.

Tak ingin mamanya mengetahui keberadaannya, Dias pun memilih kembali ke kamarnya. Menaiki tempat tidurnya, menutupi seluruh tubuhnya. Malam itu, Dias tertidur karena kelelahan akibat tangisnya.

🌷🌷🌷

Alvie memasuki kamar Dias, ia tersenyum saat melihat seluruh tubuh putranya tertutupi selimut. Alvie duduk di tepi kasur, lalu tangannya terulur untuk mengguncang pelan tubuh Dias.

"Sayang. Bangun, Nak. Ayo sekolah." Dias menggeliat. Tak lama, selimut itu terbuka, membuat Alvie dapat melihat putranya.

Saat itulah, ia melihat bekas air mata di wajah Dias. Kening Alvie melipat, ia menangkup wajah Dias dengan khawatir. "Sayang. Kamu habis menangis? Kenapa? Kamu sakit?" tanya Alvie bertubi.

Dias tersenyum, ia tahu mamanya sangat menghawatirkan dirinya. Dias tersenyum, berusaha bersikap biasa agar Alvie tidak lagi merasa khawatir. "Dias nggak papa, Ma," jawabnya dengan senyuman.

"Lalu, kenapa kamu menangis?"

"Semalam, Dias terbagun. Lalu dias membaca buku cerita, ternyata ceritanya sedih. Sehingga buat Dias menangis," jelas Dias. Ada embusan napas lega dari Alvie. Dalam hati, Dias mengucapkan beribu-ribu maaf karena sudah membohongi mamanya.

Alvie tersenyum dengan membelai kepala Dias. "Memangnya, ceritanya seperti apa sampai kamu menangis begini?"

Dias tampak berpikir. "Cerita tentang kasih sayang orang tua kepada anaknya," jawab Dias. Membuat Alvie tersenyum. Tiba-tiba, raut wajah Dias berubah.

"Ma," panggil Dias lirih, membuat Alvie melipat keningnya karena perubahan raut wajah Dias.

"Dias sayang Mama." Alvie tersenyum mendengarkan penuturan putranya. Ia meraih tubuh Dias untuk ia rengkuh. Ia rengkuh dengan erat menandakan bahwa ia pun juga menyanyangi putranya.

Dias membalas pelukan Alvie. "Dias sayang Mama. Dias akan melindungi Mama sampai kapan pun." Tak terasa, air mata Alvie mengalir. Merasa terharu aku ucapan putranya.

"Terima kasih, Sayang. Terima kasih." Alvie merasa beruntung karena memilik Dias. Putranya yang sangat ia sayangi. Obat dari segala obat, penyembuh dari sakit di hatinya.

🐬🐬🐬🐬🐬🌷🌷🌷🐬🐬🐬🐬🐬

Mulai lanjut up.

Diusahakan up rutin
Jangan lupa vote.
Jangan lupa komen
Jangan lupa follow WPnya
Jangan lupa follow IGnya = evi_edha94

😊😊😊😊

🐬Salam🐬
🌷EdhaStory🌷
💘💘💘💘💘

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro