Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Pillow Talk

Gunakan headphones atau earphones biar kedengeran lebih syahdu 😌
. . .

"Jam berapa ini?" tanyaku sambil mengguap.

Dion menengok ke arah kanannya. "Setengah sebelas. Kamu udah ngantuk?" tanyanya.

"Belum sih, cuma capek aja."

"Ya udah, aku ambil baju ganti buat kamu ya. Biar kamu nyaman tidurnya."

"Thank you," ucapku sambil mendongak untuk melihatnya.

Dion tersenyum kecil lalu mengusap lenganku. "My pleasure, Angel Face."

Dion melepaskan pelukannya dan membereskan kotak merah itu serta buku sertifikat rumahnya. Lalu ia mengambil sebuah kaus berwarna biru tua polos serta celana pendek berwarna hitam dan memberikannya kepadaku. Aku menerima itu lalu pergi berjalan menuju kamar mandinya untuk berganti pakaian. Kaus miliknya terlihat kebesaran di badanku, bahkan ini terlihat seperti dress shirt dan menutupi running shorts yang kupakai.

Aku membasuh wajahku lalu melihat pantulan diriku di cermin, kedua mata yang sembab dan bibir merah ini membuatku mendengus pelan. Kenapa harus ada tangisan malam ini disaat aku hanya ingin menikmati momen dengan Dion? Pikiranku kembali memutar informasi yang Dion utarakan tadi, tentang dirinya dan Stella yang saling berkomunikasi selama tujuh tahun ini tanpa sepengetahuanku. Bagaimana aku harus menghadapinya besok? Apa aku harus pura-pura tidak tahu atau aku menanyakan ini semua kepada sahabatku? Apa dia akan berkata jujur? Aku menggelengkan kepala dan membuang jauh-jauh pikiran itu, setidaknya untuk saat ini. Aku tidak mau malam ini tidur dengan suara yang menganggu kepalaku.

Sebuah ketukkan pintu dari luar kamar mandi sedikit menggagetkanku. Aku mendengar Dion berbicara dari luar, "Steph, kamu udah ganti bajunya?"

Aku berjalan menuju pintu dan membukanya. "Udah. Kenapa?"

Dion mematung di ambang pintu sambil memperhatikanku dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya berlangsung terlalu lama ketika terhenti di pahaku. Dasar cowok!

"My eyes are up here, Dion."

Ia dengan sergapnya mengalihkan pandangannya kembali ke mataku. Seringai tipis terukir di bibirnya. "Sorry. Oh iya, kalau kamu udah selesai aku ikutan masuk. Aku mau cuci muka sama gosok gigi," jelasnya.

"Ya..." Aku mengangguk dan memberi jalan untuknya agar bisa masuk ke kamar mandi. Aku mengikutinya dan melakukan hal yang sama.

"Sikat giginya ada di laci bawah wastafel," katanya sambil membasahi sikat giginya dengan air. "Mm, baju kotor kamu ditaruh aja di keranjang ya. Besok sekalian biar di cuci dulu sebelum kamu pakai lagi."

"Oke," jawabku. Lalu kumasukkan pakaian yang kupakai tadi ke dalam keranjang yang ia maksud. Setelah itu aku membuka laci yang ia maksud dan mengambil sebuah sikat gigi warna biru-putih. Dion memberikan pasta gigi yang sebelumnya ia gunakan kepadaku. "Thank you."

"Anytime, Baby." Ia tersenyum.

Kami berdua tenggelam dalam diam dan mengosok gigi masing-masing. Sesekali aku menangkap laki-laki di sampingku ini menatapku dalam pantulan cermin dengan mata yang tersenyum. Itu membuatku tersadar betapa dalamnya perasaanku untuknya. Aku ingat saat kuliah dulu ketika ada seorang laki-laki mendekatiku, namanya Hendri, dan ia berniat ingin mengenalku lebih jauh. Kami satu fakultas dulu hanya saja bukan satu hati.

Namanya Hendri. Orangnya sangat baik, ia juga penyabar dan pengertian. Namun entahlah, pedomanku kala itu untuk menemukan laki-laki yang akan menjadi pasanganku adalah aku harus mempunyai kadar cinta seperti halnya cintaku kepada kedua orang tuaku dan Adrian. Cinta yang tidak mengenal batas dan akan selalu kembali bersama walaupun setelah bertengkar. Jika aku tidak mempunyai perasaan itu, artinya ia bukan jodohku dan perasaan kepada Hendri hanya sebatas teman saja, tidak lebih dari itu.

What I feel towards Dion is fathomless. Sometimes I feel overwhelmed with this feeling, but one thing for sure, despite anything that happens, we always find our way back to each other. I guess now we're both really becoming adults, not just physically but also mentally. I'm smiling once again when I catch him staring at me through the mirror.

Setelah merasa bersih dan segar, kami berjalan keluar dari kamar mandi. Dion berhenti di depan jendela dan sedikit menyibakkan tirainya. "Aku kirain tadi cuma ngayal, ternyata beneran hujan." Kemudian ia menutup kembali tirai itu.

Aku menghela napas. Semakin mendukung diriku untuk tidak pulang malam ini.

Baru saja aku ingin melangkah menuju tempat tidurnya, Dion melakukan hal yang tidak kuduga; yaitu melepas kaus putih yang ia kenakan dan meletakkannya di kursi, menyisakan celana hitam yang ia pakai.

Ya, Tuhan. Cobaan apa lagi ini? Apakah aku bisa bertahan sampai pagi?

"Oh iya, tadi aku bawa ke sini tas kamu yang ada di sofa," ucapnya sambil berbalik badan dan menatapku. Otot lengannya begitu menggoda saat ia mengangkat tangan dan menunjuk ke arah kuris yang ada di depannya.

God damn. Look at those biceps. Shit, he really does have a great body. Im curious, what it's feels like to have those arms...

Aku berdeham dan mengusap pangkal hidungku seakan itu membantu untuk menghilangkan pikiran kotor yang ada di kepala.

"Makasih," balasku dengan lirih dengan suara sedikit parau.

"You good?" tanyanya sambil melangkah mendekatiku yang masih berdiri kaku tidak jauh dari pintu kamar mandi.

Aku menelan ludah. "Yeah, why wouldn't I be?"

"Cause you look all flustered," jawabnya sambil mengamati wajahku.

"Apaan sih? Orang enggak juga," bantahku yang membuat Dion terkekeh.

"Sure, Babe." Lalu ia melenggang me tempat tidur dan menyelimuti dirinya. "Aren't you gonna join me?"

Tawarannya itu semakin memperparah keadaan. Namun dengan kaki yang sedikit bergetar, aku berjalan mendekati tempat tidur lalu masuk ke dalam selimut dan merebahkan diriku di sampingnya. Rasanya nikmat sekali saat punggungku menyentuh kasur empuk ini. Terlalu lama duduk sering membuat punggung dan pinggangku pegal. Dion mematikan semua lampu yang ada di kamarnya yang membuat mataku sedikit kaget, butuh beberapa detik untuk menyesuaikan pandanganku. Untung saja lampu yang ada di balkon kamarnya tetap menyala, menjadikan suasana kamarnya tidak terlalu gelap.

"Kamu masih simpan gantungan kunci itu." Wajahku menghangat mengetahui jika dia menemukan gantungan kunci pemberiannya yang tergantung di resleting tasku.

"Iya. Sayang kalau di buang," jawabku sambil bermain dengan tanganku sendiri. Entah apa yang lucu dari jawabanku, namun itu membuat Dion terkekeh. Ia bahkan sekarang berbaring menyamping menghadapku, yang mana semakin membuatku grogi dan bingung harus bersikap bagaimana.

"I'm glad you still have those," ucap Dion yang terdengar semakin dekat di telingaku.

Aku menjilat bibirku. "Sabrina pernah pernah bilang kalau dia juga punya gantungan kunci kayak gitu. Kamu juga kasih itu ke dia?"

"Oh itu. Sebenarnya yang ngasih bukan aku sih, mama yang kasih itu ke Sabrina. Waktu itu Sabrina enggak bisa lepas lihat gantungan itu ditas mama, karena mama terlalu sayang sama cucu pertamanya, jadi dikasih deh." Tiba-tiba lengannya melingkar di perutku dan ia mengecup lenganku. "Kapan Sabrina bilangnya ke kamu, hmm?"

"Itu..." Aku mencoba untuk tidak mengerang saat napas hangatnya menyapu telinga dan leherku. Ralat. Bukan hanya napasnya yang hangat, namun tubuhnya yang tidak terbungkus pakaian pun tidak kalahnya membuatku panas-dingin. "Pas pertama kali aku ketemu Randi, di bank."

"Hmm," gumam Dion yang masih memelukku. Bibir panasnya tiba-tiba saja sudah berada di pipi kananku. Dengan reflek, aku menutup mata dan menggengam lengannya yang ada di sekitar perutku. Aku memalingkan muka ke arahnya yang membuat bibirnya menyentuh sudut bibirku. Mataku tertutup, mengantisipasi apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

"Let me kiss you," pintanya sambil berbisik yang membuatku sedikit gelagapan.

For God's sake, Steph! This isn't your first time spending the night with him. Grow a pair and stop being such a prude!

Setelah mendengar suara di kepalaku itu, aku memutar tubuhku menghadapnya. Aku menyentuh wajahnya dan mengusap pelan bibirnya. Lalu tanpa lagi ada rasa ragu, aku mengecupnya. Decapan demi decapan terdengar seiring dengan diperdalamnya ciuman kami. Tanpa sadar, tanganku bergerak menyusuri punggung dan kepalanya yang membuat pria di dekapanku ini mengerang. Dion menjauh dariku dan menyudahi ciuman kami, namun dengan cekatan, ia mengangkat tubuhku dan membuatku terduduk di perutnya. Mataku sedikit terbelalak akan akasinya, namun belum sempat aku mengeluarkan sepatah kata, ia sudah berhasil merengkuh tengkukku dan kembali menyatukan bibir kami. Mataku kembali tertutup. Tanganku yang menopang tubuhku meremas sarung bantal yang ada di bawah kepalanya saat sensai yang ia ciptakan menjadi terlalu berlebih.

Aku merasakan kedua tangan hangatnya membelai bagian tubuhku yang belum pernah tersentuh oleh laki-laki, yaitu di balik paha dan... pantatku. Bahkan saat aku tidak sengaja menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas salah satu bagian belakangku yang membuat diriku meloloskan sebuah erangan. Bibir panas milik Dion meninggalkan punyaku dan berpindah menciumi leher dan bagian bawah tulang selangkaku.

Dear, God!

Dengan tangan yang gemetaran, aku mendorong dadanya dan menjauh dari bibir menggoda yang penuh dosa itu. "We... need... we need to stop," ucapku terengah dengan mata terpejam.

Aku perlahan membuka mata. Napas kami saling beradu, detak jantung kami begitu memburu. Di dalam kegelapan ini aku bersyukur karena ia tidak bisa melihat bagaimana keadaan wajahku, pasti sudah memerah dengan rambut yang berantakkan.

"I'm sorry," ucap Dion dengan suara yang terdengar lebih berat dan serak. Tangannya mengusap punggung dan pahaku yang masih mengapit tubuhnya. Tersadar masih duduk di atasnya, aku bangkit dan menidurkan diri di sampingnya.

"It's okay," balasku beberapa saat kemudian. "Kayaknya kita harus tidur sekarang."

"Gimana mau tidur kalau ada perempuan seksi di sebelahku kayak gini, hmm," kata Dion sambil merengkuh tubuhku mendekat kepadanya.

"Gombal," cibirku.

"Aku ngomong berdasarkan fakta kok," belanya sambil terkekeh, lalu ia mengecup puncak kepalaku dan memelukku erat. "I love you," lanjutnya.

Aku tidak membalas itu, hanya mengeratkan lenganku untuk memeluknya kembali. Malam ini untuk kedua kalinya aku tertidur di dekapan pria yang sangat aku cintai dan mencoba untuk tidak memikirkan tentang apa yang akan terjadi besok. Tidak lama setelah itu, aku terlelap dalam tidur dan bermimpi tentang sesosok laki-laki yang memberiku sebuah keranjang yang penuh dengan permata. Namun sebagai gantinya, ia mengambil mahkota yang ada di atas kepalaku. Diriku terbangun sekitar pukul dua pagi dengan hujan yang masih betah mengguyur deras, aku merasakan hangatnya tubuh Dion meninggalkanku.

Aku melirik jam yang menyala merah di meja, lalu melihat ke arah Dion. "Kamu mau kemana?" tanyaku setengah tersadar.

Dion berdiri di ujung tempat tidur sambil mengusap wajahnya. "Maaf, Sayang. Aku bikin kamu kebangun ya? Aku cuma mau ke kamar mandi bentar."

"Oh, oke," responku singkat lalu tertidur kembali dengan lelap.

. . .

Panjang ya 😌

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro