Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[02] Cubitan Cinta

Please tekan bintang sebelum baca ya, kalau mau koment aja, mana tahu ada yang merasa 'iih kok gini sih?' hehehee

Ini cerita lain banget, keluar banget dari genre KaSev sebelumnya. Lebih frontal kali ya, atau lebih mesyumim hihi tokoh di sini emang begitu....

Selamat membaca....






“LAKI GUEEE! OOOOM!”

Yuka menghambur secepat kakinya waktu lagi kebelet, nyandung nyandung deh asal cepet. Niatnya sih ingin mendekap pria yang dipanggil laki dia, tapi Yuka orangnya malang sih jadi yang dipeluk Yuka seorang bapak-bapak yang pakai seragam biru. Kalau Yuka nggak salah ini seragam office boy alias tukang sapu-sapu. Hiiiish!!

“Om, jangan tinggalin Yu--” Yuka menoleh ke belakang waktu kemeja putihnya ditarik seseorang.

Si Om udah jalan tanpa nengok Yuka lagi.

“Apaan sih Mbak narik-narik baju saya?! Saya itu mau ngejar suami saya, Mbak jangan ganggu deh.” Yuka sewot sebab rindunya untuk melihat si Om mesti tertunda karena embak-embak tukang ganggu hubungan orang narik kemeja Yuka sekuat tulang. Demi surga dunia yang bikin teriakan pemeran ceweknya ngalahin suara klakson kereta api parkir, Yuka pengen lari ke pelukan si Om sekarang.

“Mbak ini Yuka Sierra dari kantor cabang bukan?”

Lah, ini sih waktu yang tidak tepat banget bagi Yuka. Seharusnya si mbak ini manggil Yuka nanti-nanti aja setelah Yuka ketemu Om El.

“Om El makin ganteng aja sih semenjak dua menjak nggak ketemu Yuka.” Yuka mengentak-entak kaki.

“Mbak Yuka,” panggilan kedua membuat Yuka mengembus napas malas.

“Bisa ikuti saya ke ruangan Bapak Vegas?” si embak tadi memberikan instruksi. Pasrah akhirnya Yuka ikut.

“Mbaknya tahu itu tadi siapa?” Yuka jadi penasaran Om El itu ada urusan apa di gedung ini.

“Maksud Mbak Yuka Pak Elrangga?”

Yuka mengangguk sesemangat mungkin di belakang punggung si embak. By the way, mereka masih jalan menuju ruangan Pak Vegas, pimpinan organizing dan staffing perusahaan tempat Yuka bekerja.

Yuka juga lihat kanan dan kiri, siapa tahu bisa melihat Om El lagi. “Om, kangen banget...” Yuka menekuk bibirnya.
***

Kini Yuka sedang duduk-duduk lelah di kantin kantor barunya. Tidak ada yang menegur Yuka di sini, jangankan itu, ada yang senyumin Yuka aja enggak. Yuka menggigiti sendok baksonya gemes. Dia jadi membayangkan masa lalu yang indah saat dia getol-getolnya mendekati Om El.

Waktu itu hujan turun sangat lebat. Yuka berteduh di bawah atap bus stop sambil menunggu bus ke arah indekosnya datang. Melihat mas-mas yang mendorong gerobak bakso, Yuka jadi kepengen makan bakso. Maklum ya, cuaca sedang dingin banget hingga Yuka Sierra kelaparan dan ingin makan yang panas-panas.

Pesan bakso semangkok besar, yang pedes terus cabenya banyakin ya, Mas.

Mas-mas bakso langsung melayani pesanan Yuka. Namun, sayangnya sewaktu mangkok itu berada di tangan Yuka, seseorang menabrak pundak Yuka hingga kuah bakso panas  menyiram kemeja sekolah Yuka. Rasa panas langsung membakar kulit di balik kemeja Yuka. Teriakan gadis berkucir dua itu membahana di antara hujan yang turun.

Kenapa nggak hati-hati hah? Ceroboh banget jadi anak!”

Gadis remaja itu ingin menangis karena menahan sakit di kulitnya dan terkejut karena Om El datang dengan marah sambil membentaknya. Tapi setelah itu Yuka tersenyum karena Om El membungkus tubuh Yuka dengan jaket kulit milik pria itu.

Cepat pasang helm kamu, kita nggak mungkin nunggu hujannya berhenti.”

Yuka mengangguk lalu memperlihatkan senyuman kepada Om El.

Ganti kemeja kamu,” Om El memberikan kaus berwarna ocean blue  dengan gambar tengkorak di tengahnya. Hiiih kenapa gadis semanis dia harus pakai gambar ini sih? Yuka merungut.

Ayo cepat ganti, nanti masuk angin.”

Om, emang nggak ada gambar yang lebih manis ya?” Emang dasar ya, remaja zaman sekarang, dikasih hati minta jantung. Dikasih kaus gratis malah minta diganti yang lain. Yuka ini pinter atau bego sih, mana ada cowok semacam Om El menyimpan kemeja yang manis. Walaupun ada, manis dari sudut pandang El jelas beda dengan manis seperti yang ada dalam kepala Yuka. Of course!

Nggak ada. Nggak mau pake, ya sudah. Kalau masuk angin, aku nggak akan ngerokin kamu lagi!”

Tuh kan, dengan ancaman kayak gini, Yuka langsung ngibrit ke balik pintu kamar mandi buat ganti baju. Keluar dari kamar mandi, Yuka rentangkan tangannya.

Om kenapa beli baju yang gede-gede begini sih?”

Baju El ternyata menelan tubuh kecil Yuka. Di baliknya, Yuka nggak pakai apa-apa kecuali celana dalam. Kalau benda itu mah, wajib ya dia pakai kalau nggak ingin masuk angin dengan cepat. Basahnya nggak seberapa dan yang pasti nggak kena kuah bakso. Amit-amit deh, Yuka ngeri kalau sampai asetnya itu tersiram kuah bakso panas dan pedas. Bisa dibayangkan gimana masa depan Yuka kalau sampai kejadian seperti itu. “Hiiii,” Yuka geleng-geleng lalu mendekat ke Om El.

“Om ada salep luka bakar nggak?

Kalau pertanyaan tadi nggak dihiraukan sama Om El, pertanyaan yang ini langsung membuat kedua alis Om El bertaut. “Lukanya parah ya?” Om El merhatiin tubuh Yuka. Matanya bikin Yuka pengen lompatan saking segernya.

Aku baring di sini, ya.” Ditariknya selimut menutupi kaki hingga ke pinggang. Lalu dinaikkannya bajunya sedikit memamerkan kulit putih yang kemerahan akibat tersiram kuah bakso.

Beneran ngerepotin aja kamu, Ka! Lagian kenapa kamu makan bakso sambil berdiri?” Walau sambil ngomel begitu, Om El tetap berusaha menemukan salep yang Yuka butuhkan. Pria itu duduk di samping Yuka, membuka penutup salep dan memencet isinya ke telunjuk.

Dingin,” Yuka nggak merasakan sakit. Ah, pengaruh tangan Om El dan kedekatan mereka saat ini rupanya lebih hebat daripada luka bakar. Om El nampak serius mengolesi salep ke perut Yuka.

Gantengnya Om El, Yuka sampai gigit bibirnya nggak kuat melihat karya Tuhan paling tampan yang sedang ngusap-ngusap perut Yuka dengan penuh perasaan. “Om,” Yuka tahu betul kalau dia cuma manggil kayak begini, Om Elnya nggak bakalan nyahut.

“Temen-temen aku udah tahu rasanya ciuman lho,” masih nggak ada tanggapan. Yuka mah tahu walau nggak merespon, tapi Om El dengar. “Mau nggak kasih tahu aku rasanya gimana?”

“Udah selesai. Nanti kalau hujan sudah reda, balik ke kos cepat.” Si ganteng El nutupin perut Yuka lagi. Menaikkan selimut hingga ke batas dada Yuka.

“Om!”

Gadis yang telah putus urat malunya itu main terjang aja bibir Om El dengan bibirnya. Amatir banget. Yah, tapi itu pengalaman pertama yang nggak akan Yuka lupakan sampai ia mati. Hanya dia yang tahu gimana akhirnya Om El ngasih tahu Yuka rasanya ciuman seperti yang teman-teman sekelasnya ceritakan.

Yuka tertawa sendiri sambil gigitin sendok, persis kayak Sumiati kabur dari Rumah Sakit Jiwa. “Om El, dimanakah dirimu sekarang?”

Gagal gagal gagal! Niat mau nyari pengganti Om El, eh malah ketemu lagi dengan si mantan suami. Maka acara move on Yuka nggak akan pernah terjadi. Untuk kali ini, Yuka nggak akan gagal menjadi tulang rusuknya Om El.

“Ya ampun, anak baik kayak gue emang selalu untung,” ia tinggalkan mangkok baksonya yang masih penuh dan lari ke arah Dovan Elrangga. Pria itu muncul di saat Yuka sedang memikirkan masa lalu manis milik mereka. Emang jodoh nggak kemana ya.

“Baru aja dipikirin. Iih Om mah aku cari dari tadi lho, kemana aja?”

Yuka menghadang Om El yang lagi jalan ke arah kantin. Kayaknya sih mau makan, bawa pasukan gini. Satunya seorang cewek cantik, satunya Pak Vegas.

“Hay Pak Vegas, boleh gabung sama kalian nggak?”

Pria cakep nomor dua setelah Om El tergelak dan memberikan anggukan setuju. Yey! Yuka ambil kesempatan melingkarkan tangannya di lengan kanan Om El. Tapi sayang, Yuka nggak akan seberuntung itu, tangan kirinya Om El langsung melepaskan tangan Yuka lalu mengibaskan kemejanya seolah bekas tangan Yuka mengandung kuman.

Yuka sebel, dulu aja suka banget ditempeli sama Yuka. Sekarang sok jual mahal. Yuka mendengkus, kaki ia entakkan kuat dan tanpa aba-aba ia cubit pinggang Om El kuat-kuat.

“Jangan buat aku begini,” teriak Yuka saat tangannya bekerja kasih cubitan sayang kepada Om El kesayangan.
***

TBC
04122017

Nggak mau mau cerita apa hahaa
Mau bilang, ini project percobaan.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro