Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

16. Kilas Balik

.
.
.

"Berjanjilah untuk tidak meminum anggur merah, Dareena. Minuman itu akan membuat kesadaranmu raib."

(Ivina)

.
.
.

🗡⚔🗡

Dareena dibimbing masuk ke dalam oleh seorang wanita yang diduga adalah tabib. Dirinya diberikan mantel serta segelas teh hangat.

"Duduklah di dalam, Tuan Putri. Di luar begitu bising dan berdebu," ucap salah seorang dari mereka. Dareena menggeleng, pandangannya kosong.

"Tuan Putri?"

"Biarkan aku duduk di sini, tidak ada yang akan membunuhku," balas Dareena dingin, mengarahkan tatapan berang yang begitu tajam ke arah empat wanita di dalam tenda.

"A-ah, b-baiklah." Tidak ingin mendebat, mereka berlalu masuk, meninggalkan sang putri seorang diri.

Dareena menyesap teh hijau hangat pemberian salah satu tabib. Menghirup dalam-dalam uap panas dan aroma khas yang dihasilkan. Jemari yang sedikit ditumbuhi kapalan itu masih bergetar, berusaha menyeimbangkan gelas yang dipegangnya.

Sungguh sedikit pun ia tak menyangka akan kehilangan Alfredo dan Javiero dalam peperangan ini. Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana leher mereka terpisah dari kepala, membuat gadis itu tertegun lagi, sedikit mual tidak dihiraukan. Ia merasa dadanya begitu sesak, seakan dihimpit batu yang tak terkira beratnya.

Seketika bayangannya melanglang buana saat dirinya tengah berbicara dengan Javiero di halaman belakang beratapkan langit kelabu. Sang kakak yang saat itu juga melarangnya untuk ikut berperang. Senyuman jahil dan perkataan jenaka yang terkadang membuatnya begitu kesal kini seakan berlari-lari di kepala.

"Kau tahu? Aku bisa membalaskan dendammu, jadi tetaplah di sini. Bagaimana pun, wanita tidak sepantasnya ikut berperang. Karena kau dan ibu tidak boleh bernasib sama, Reena."

Dareena mencelos ketika air matanya turun tanpa dikomando.

Siapa sekarang yang berakhir seperti Ivina?

Ingin dirinya balas mengolok Javiero karena perkataannya dua bulan yang lalu. Namun, bagaimana? Bagaimana caranya ia dapat berbalas ledekan lagi? Bahkan tubuh itu kini telah dingin dan itu terjadi karena sang kakak yang hendak menyelamatkan dirinya.

Dareena mendongak, menahan laju air matanya agar tak lagi berdesakan keluar. Kepalanya menggeleng pelan, memaksa agar tidak lagi berorasi tentang masa lalu. Dirinya lelah. Lelah melihat satu per satu orang yang dicintainya meregang nyawa.

Sesak, hendak bernapas saja sulit rasanya.

Mengapa? Mengapa dirinya harus melihat hal ini?

Memorinya kembali memulai reka ulang adegan di paviliun beberapa hari lalu. Seperti arus sungai saat hujan turun, begitu lancar otaknya menyusun plot masa lampau.

"Nak, umurku sungguh tidak akan panjang. Siapa yang tahu kapan si tua ini akan mati? Aku ingin, kau dan Jav melanjutkan singgasanaku, tumbuh kuat bersama. Ditambah lagi jika kelak nanti kau menikah dengan Eneas, memiliki anak dan menjadi permaisuri kerajaan suamimu. Masa depanmu masih begitu cerah dibandingkan kau mengundi kematian dalam peperangan."

"Mengapa? Mengapa ayah tidak bisa bertahan lebih lama?!" lirih Dareena, menahan emosinya yang melonjak.

"Aku tidak tahu kau akan menurut atau tidak, tapi dengarlah nasihatku, aku takut kelak tak lagi bisa menasihatimu."

Tak dapat dimungkiri, sedikit bagian hatinya merasa begitu menyesal menyadari bahwa nasihat hari itu benar-benar nasihat terakhir dari sang ayah dan tatapan sebelum sang raja keluar dari gerbang istana adalah payung teduh terakhir yang menaungi hatinya.

"Tetaplah di istana, maka kau akan selamat. Meski mereka kejam karena merampas tanah kita, tapi dari yang kudengar, mereka begitu menghormati dan memuja wanita, kau tidak akan disakiti. Gunakan pedangmu dengan bijak, jangan mengayunkannya karena kebencian. Kau adalah wanita, mengabdilah pada Tuhanmu, juga suamimu kelak."

Namun sekarang bagaimana?

"Argh!" Tak memedulikan rasa sakit, Dareena menjambak rambutnya sendiri, begitu kuat, namun kulitnya seakan sudah mati rasa. Yang ia inginkan sekarang adalah tidak lemah dan bersedih karena mengingat pesan sang ayah.

Namun, bagaimana bisa?

Bahkan menangis saja sudah tidak lagi mampu menghilangkan dukanya. Kilas balik yang hadir tanpa instruksi seakan garam yang tertabur atas luka menganganya. Membuat dendam dan kesedihan baru.

Meletakkan gelas berisi teh hijau di sisinya, Dareena tak berniat untuk menghabiskan. Ia sungguh terpukul, sebuah teh hangat tidak akan mengangkat lukanya.

Empat tabib wanita yang duduk beberapa meter dari Dareena ikut merasakan perih. Mereka baru saja mendapat kabar bahwa Alfredo dan Javiero telah tewas di medan perang. Membuat mereka berempati pada sosok Dareena yang tengah terisak dalam. Ikut merasakan sesak, tapi mereka beku di tempat.

Kabar tentang kematian sang raja membuat semua orang terpukul. Begitu mendadak, begitu cepat. Bahkan belum lama peperangan ini berlangsung, tapi dua orang yang paling berpengaruh sudah dijemput maut. Lantas bagaimana keadaan mental para prajurit yang mengehtahui perihal kematian sang raja beserta pewaris takhtanya? Lalu, bagaimana perihnya jiwa Dareena?

Lelah melampiaskan kesedihannya, Dareena memutuskan masuk ke dalam tenda, menghampiri empat tabib yang kelabakan sendiri didatangi oleh putri raja.

"Berikan aku anggur merah." Empat tabib wanita itu saling pandang.

"Kami tidak menyimpannya, Tuan Putri," ujar salah satu yang paling tambun di antara mereka. Dareena tertawa sumbang.

"Kalian pasti menyimpannya. Kalau tidak, bagaimana mungkin stok anggur merah serta gandum hanya tersisa sedikit di gudang peyimpanan kerajaan?" sambar Dareena.

Ah, empat tabib itu lupa bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang putri dari Kerajaan Al-Khadhra yang tidak mudah dikelabui. Terdiam lama, tak ada yang berani bersuara. Bahkan untuk saling pandang saja mereka tak ingin, membuat empat kepala hanya tertunduk.

"Kenapa kalian diam saja?! Apa kalian hendak menolak perintahku?! Apa kalian ingin kupenggal karena tidak mematuhi perkataanku?!" teriak Dareena, tak terkendali. Matanya mendelik. Bahkan para tabib wanita dari tenda-tenda lain terpancing untuk keluar karena kericuhan dari Dareena.

Merasa terancam, salah satu tabib yang paling tinggi di antara mereka bangkit. Meski mendapat gelengan dari salah satu tabib bertubuh gempal, ia tak peduli. Tak ingin kepalanya sia-sia dipenggal hanya karena melarang tuan putri untuk meminum anggur merah.

"I-ini, s-sila-silakan, Tuan Putri."

Saat Dareena baru saja hendak meraih botol itu, sebuah tangan gempal menahannya.

"Kau tidak boleh meminumnya, Tuan Putri."

"Berjanjilah untuk tidak meminum anggur merah, Dareena. Minuman itu akan membuat kesadaranmu raib."

Pesan mendiang Ivina beberapa tahun lalu kini begitu saja terngiang di kepala Dareena saat salah satu tabib dengan tegas melarangnya di saat tak ada lagi yang berani menggagalkan keinginannya.

"Silakan penggal saja kepalaku ini, tidak apa. Aku hanya tak ingin Tuan Putri kehilangan kesadaran di saat rakyatmu membutuhkanmu."

Dareena terdiam, sejumlah titik air kembali menggenangi iris indahnya. Di hadapannya, tiga tabib saling pandang, menunggu reaksi mengerikan yang mungkin akan mereka terima. Begitu pula tabib yang baru saja melarang, tampak tertunduk dengan tangan yang masih memegang botol anggur merah.

"Ah, Tuhan, bahkan saat kehilangan ibu saja, aku bagai kehilangan tumpuan. Lantas bagaimana kelak aku hidup setelah kehilangan ayah dan Jav?" Lutut Dareena seakan tak bersendi, tubuhnya merosot seketika.

Luruh sudah tangis keempat tabib itu. Betapa tidak? Seorang putri yang terlihat begitu kuat dan tegas di hari-hari yang lalu kini tampak begitu lemah, menderita, sedih. Bagaimanapun, Dareena hanyalah seorang wanita, begitu lunak dan rapuh.

"B-bolehkah ... bolehkah aku memelukmu? B-bolehkah ... bolehkah aku menangis di hadapanmu? B-bolehkah---"

Tanpa pertimbangan apa pun, tabib bertubuh tambun itu bergegas memeluk Dareena sebelum gadis itu menuntaskan kalimatnya yang terdengar penuh luka. Tak banyak berujar, gadis bersurai coklat menumpahkan segala sesaknya pada wanita yang bahkan tidak dikenalnya.

Pelukan serta rangkulan hangat itu seakab memberikan kekuatan magis bagi dirinya yang kalap.

"Tidak apa, Tuan Putri. Kau masih memiliki Pangeran Eneas. Yakinlah bahwa Pangeran Eneas akan pulang membawa kemenangan."

Dareena mengurai pelukan, meraba kalung pemberian Eneas, mengangguk singkat lalu mengusap pipi.

"Kabar buruk!" Seorang laki-laki dengan pakaian yang masih lengkap itu berujar ketika memasuki tenda.

"Ada apa? Apakah butuh pasukan tambahan?" Kali ini, Dareena yang bertanya.

Laki-laki itu menggeleng. "P-pa-pangeran Eneas ...."

"Ada apa dengan Eneas?"

"Pangeran Eneas ... tewas."

🗡⚔🗡

Yoru up lagii!
Jangan lupa tinggalkan jejak 💚
Oh iya, kalau nemu typo, bantu ingatin, yah. 😉






Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro