Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

16 | Buku Nikah

Elka menatap Yasa dengan tatapan merana usai dirinya membaca pesan dari Daniyal dan Gabri. Apa dia masih bisa fokus bekerja bila tekanan yang ia rasakan serumit ini?

"Lo bilang apa tadi, Yas?" tanya Elka lemas.

"Lo buronan Bu Bos. Dan kenapa nomor lo nggak aktif dari semalam? Lo nggak bisa sembunyi gitu aja setelah bikin gempar semua orang." Yasa mengerang gemas. "Elka ... lo beneran udah nikah? Jadi selama ini, alasan lo tertutup karena ingin menyembunyikan fakta bahwa lo udah jadi istri orang dan sekarang punya anak segede itu?"

"Pertama, gue belum nikah. Gue sama Daniyal memang punya hubungan, tapi bukan pernikahan."

"Kedua?" desak Yasa tidak sabaran. "Anak itu ... beneran anak lo? Ka, lo nggak lagi ikutan acara prank, 'kan?"

"Rafael, namanya Rafael. Anak gue," jawab Elka lugas.

Ia mengepalkan tangan kala mengucapkan hal tersebut. Akan dia buat semua orang percaya bahwa Rafael adalah anaknya. Anak Elka Dyatmika.

"Maaf. Bukannya gak percaya kalian, tapi alasan gue menjaga privasi kehidupan gue selama ini, tidak lain karena gue nggak mau melibatkan kalian dalam kompleksitas hidup gue. Itu terlalu berat buat buat gue bagi sama kalian. Gue nggak mau kalian ikutan pusing sama kerunyaman itu."

Yasa menatap Elka dengan pandangan tak terbaca. "Sure, Ka, be as stubborn as a mule. You're good at it," sambungnya datar.

Elka membungkam bibirnya. Otot di rahangnya mengejang. Ucapan Yasa mengandung nada penghakiman yang bercampur ketidakpercayaan. Pertanda dia sudah cukup muak pada kerasnya hati Elka yang masih enggan berbagi cerita.

Kedua kaki mereka melangkah berirama mendekati divisi dengan bibir yang sama-sama terkatup rapat.

Ketika tiba di ruangan, orang-orang yang tadinya sedang mengobrol mendadak terdiam. Belasan pasang mata segera terpaku pada dua orang yang baru saja tiba. Atau lebih tepatnya, hanya tertuju pada Elka.

Sekali lagi, Elka mereguk berita buruk yang tak putus. Rekan sedivisinya terang-terangan menatapnya seolah ia adalah seorang penghianat yang sudah melakukan dosa besar.

Senyum simbul yang Elka berikan, dibalas dengan tampang dingin. Mendapati ketegangan di sekitarnya, ia segera memangkas jarak dengan meja kerjanya. Sementara Yasa melenggang pergi ke mejanya sendiri.

Elka harus mengonfirmasi Karlina lebih dulu terkait persoalan briefing. Lalu kemudian segera pergi ke Mall PI agar tidak menciptakan situasi tak nyaman di sini.

"Hei."

Sapaan tersebut membuat Elka menoleh kala tangannya menarik kursi kerjanya.

Javis.

Pria itu ternyata duduk di tempat Jahira yang eksistensinya belum terlihat.

"Lo sama Yasa habis dari mana?"

"Nggak sengaja papasan di depan."

"I see."

Elka menipiskan bibir. Tingkah Javis mengisyaratkan bahwa dia belum mengetahui kehebohan yang terjadi pada Elka. Javis terlalu santai, tak seperti Yasa yang terang-terangan menunjukkan konfrontasi.

"Tadi, lo gak lewat pintu utama?"

"Briefing-nya jadi nggak?"

Elka dan Javis berucap bersamaan hingga membuat mereka saling tatap.

"Lewat pintu samping." Javis menjadi orang pertama yang menjawab pertanyaan. "Jadi, briefing-nya gimana? Hari ini giliran kita berdua yang handle persiapan festival. Lo mau sekalian ngecek ke tenants, 'kan?"

Diam-diam Elka bersyukur sebab Javis tak menuntut penjelasan mengapa ia menanyakan hal aneh barusan. "Gue udah WA Bu Bos untuk konfirmasi briefing, cuma belum dibalas."

"Ya sudah, kita ke ruang rapat aja kalau gitu."

Rasanya, Elka ingin mengacungkan dua jari jempol pada Javis. Dia tampak tak terpengaruh pada pemberitaan yang sedang menerpa Elka. Senang rasanya saat tahu ada orang lain yang tidak peduli pada drama hidupnya.

"Jahira belum sampai?" Elka kembali bangkit dari kursi kerjanya, mengambil langkah di samping Javis yang sudah lebih dulu beranjak.

"Dikit lagi mungkin sampai, nah, itu dia." Javis mengarahkan dagunya pada pintu masuk ruangan di mana Jahira baru saja tiba. "Ra, langsung ke ruang rapat gih."

Sepersekian detik tatapan Jahira terarah pada Elka, ia langsung melengos dan melangkah cepat ke ruang meeting. Yasa juga terlihat mengekori langkah gadis tersebut. Sebersit ngilu Elka rasakan di hati. Namun, bila ia menyalahkan keadaan yang berada di luar kontrol dirinya, rasanya sia-sia sebab bagaimana pun juga, pembelaan yang dia lakukan tak bisa sepenuhnya mengurai kelumit yang ada.

Javis yang juga melihat gestur dingin Jahira, tak memberikan tanggapan apa pun. Dia terlihat cuek.

"Bu Karlina belum nongol. Cuma tadi, mobil beliau papasan sama gue di pintu masuk kantor. Kita harus cepet-cepet briefing supaya yang di mal bisa kepantau semua."

"Pesan gue belum dibaca. Apa gue susul aja, ya?" Elka bersiap mengubah haluan ketika kakinya baru saja menapaki ruang rapat, akan tetapi pergerakannya malah dihadang Javis.

"Udah biarin, tunggu di sini aja."

"Tapi, Vis, gu--"

"Nggak usah, Elka. Biarin beliau datang sendiri."

"Oh, oke."

Elka pun ikut bergabung bersama Yasa dan Jahira yang sudah lebih dulu menempati meja besar berbentuk lonjong di tengah ruangan.

"Pulang nanti ada agenda lain gak, Ka?"

Pertanyaan Yasa langsung memecah konsentrasi Elka yang semula fokus memperhatikan Jahira.

"Ada. Kenapa?"

"Pengen ngobrol. Punya waktu senggang hari ini?"

"Emm ... hari ini belum ada waktu. Mungkin ... besok?"

"Boleh deh. Di rumah lo, ya."

Jantung Elka seketika berdesir tak nyaman. Keputusan sepihak Yasa jelas mengartikan kejemuannya pada aksi kucing-kucingan Elka.

"Mau ngobrolin apa?" Elka bertanya tenang. Ia berusaha mengendalikan situasi hatinya yang kacau.

"Gue boleh angkat pembicaraan itu sekarang? Kita masih di kantor. Lo, 'kan, selalu memisahkan urusan pribadi dan kerjaan sampai-sampai kita semua gak tahu lo sebenarnya siapa ketika di luar kantor. Gue cuma ... ingin kenal lo lebih dalam. Aneh aja, Ka, kita nyaris enam tahun kerja bareng, tapi lo tertutup banget. Gak salah dong, ya, kita berniat untuk kenal lo lebih dalam lagi."

"Yas gu--"

Perkataan Elka terpotong oleh dering ponselnya sendiri. "Ya, Bu? Selamat pagi," ucapnya selepas menerima panggilan Karlina yang tiba-tiba masuk.

"Ke ruangan saya sekarang," titahnya singkat lalu memutuskan panggilan secara sepihak.

"Bu Karlina udah di ruangannya. Beliau minta gue menghadap. Nanti ... nanti kita lanjutkan pembicaraan ini."

Tanpa menunggu respon dari ketiga orang tersebut, Elka buru-buru keluar dari meeting room, bergegas ke ruangan Karlina yang berada di ujung divisi. Dia telah terpojok, mustahil berkelit. Kini, semua orang menuntut penjelasan atas berita itu.

Seperti yang sudah-sudah, saat tiba di depan ruangan sang kepala divisi, Elka meregulasi pernapasannya sebelum masuk ke ruangan sang bos. Ritual rutin sebelum 'berperang'. Diketuknya pintu ruangan sambil disertai perasaan was-was.

"Masuk," sahut Karlina dari dalam.

"Pagi Bu. Tim MarCom satu sudah berada di ruang rapat."

"Setelah ini kita briefing, tapi saya kira, kita perlu berbicara empat mata terkait pemberitaanmu semalam. Have a seat," titah wanita setengah baya tersebut.

Elka duduk di hadapan Karlina, ia meletakkan tangannya yang bertaut gelisah di atas paha.

"Elka, kamu orang media yang setiap harinya bersinggungan langsung dengan media massa. Kamu juga tahu bagaimana cara kerja media itu sendiri, dan paham betul dengan dampak-dampak negatif yang berpotensi dapat merugikan perusahaan bila analisismu tak cukup tajam." Karlina menumpukan dua lengannya di atas meja sambil menatap Elka lurus-lurus. "Untuk itulah, saya ingin memastikan apakah kamu dapat bertanggungjawab bila sewaktu-waktu pemberitaan tentang kamu akan menimbulkan paparan negatif pada perusahaan? Khawatirnya, Elka, ini semua dapat mempengarungi citra HL Property, terlebih HL Group itu sendiri karena bagaimana pun juga, kamu adalah figur yang cukup sentral di perusahaan."

Suara tegas Karlina membuat Elka menegakkan punggung.

"Selain itu, saya tidak ingin timbulnya ketidakkondusifan lingkungan kerja. Kamu tahu, 'kan, kita memiliki up coming project yang cukup penting? Selain Felicity Fest, kita masih punya penggarapan iklan Mal CL di mana kita menjalin kerja sama dengan Vega Media. Jadi ... apa tanggapanmu mengenai hal ini, Elka?"

"Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kericuhan yang sudah saya timbulkan. Saya tahu ini bukanlah perkara kecil yang bisa dibiarkan terlewat begitu saja. Namun, Ibu, saya tentu tidak akan membiarkan pemberitaan tersebut mendatangkan dampak negatif pada perusahaan."

"Dengan cara apa?"

"Saya akan mengajukan resign seusai Felicity fest," ujar Elka dalam satu tarikan napas.

Karlina tergemap. Matanya seketika berkilat marah. "Luar biasa Elka, saya pikir setelah bertahun-tahun bekerja di HL Property, terlebih di bawah komando saya, pikiranmu tak akan sesempit ini," ungkapnya disertai nada kecewa.

"Saya tahu kesalahan saya cukup fatal, untuk itulah saya memilih opsi resign agar tidak semakin mencoreng nama baik perusahaan."

"Siapa yang mengatakan itu kesalahanmu?"

Elka langsung mengangkat kepalanya, ia mengerjab bingung.

"Jangan harap kamu bisa keluar dari HL Property. Sekali pun masalah ini cukup kompleks, saya tidak akan mengizinkanmu resign. Kita bisa mencari jalan keluar lain untuk pemberitaanmu. Segera lakukan issue management untuk langkah awal. Sisanya biar saya yang urus."

Sebenarnya, Elka telah memikirkan pilihan terburuk yang akan dia ambil bila situasi di kantor benar-benar kacau. Dia tidak masalah untuk resign sebab ia punya rencana lanjutan yang sudah sejak lama ia pikirkan, jauh dari sebelum mengenal Daniyal.

Namun, mendengar ketidaksetujuan Karlina, Elka tak bisa tidak terkejut. Dia tidak salah dengar, bukan?

"Kerut di keningmu mengganggu saya. Kenapa? Apa pemberitaan itu membuat rasa percaya dirimu terbabat habis hingga kau gentar menghadapi orang kantor? Ke mana perginya rasa percaya diri Elka Dyatmika, salah satu PR terbaik HL group? Elka, saya tidak cukup bodoh melepas sosok ideal sepertimu dari perusahaan. Kamu figur sempurna. Melepaskanmu sama saja dengan mendatangkan kerugian lebih besar pada perusahaan."

Ya, tentu saja. Semua ini tentang untung rugi. Manusia perhitungan dan mendetail seperti Karlina tentu sudah memikirkan segala risiko, sepaket dengan peluang-peluang menguntungkan yang berpotensi timbul dari permasalahan Elka.

Bisa dipastikan, alasan Elka diminta menghadap oleh Karlina, tak lain sebab wanita ini hanya ingin memastikan Elka tidak berniat resign setelah semua yang terjadi padanya. Karlina tahu betul, bawahan kesayangannya ini bisa bertindak ekstrem bila kedapatan mencoreng sendiri reputasinya sebagai PR karena sejak dulu, Elka amat menjaga kredibilitasnya.

Unexpected turn of events. Paling tidak, masalah dengan Karlina sudah beres. Elka dapat menjamin situasi di perusahaan akan segera mendingin usai Karlina berkoordinasi dengan sang suami yang merupakan Chief Executive Officer HL Property. Mereka pastinya akan menindak langsung para biang gosip yang dapat memperkeruh situasi perusahaan.

"Baik, Bu, terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya. Kedepannya, saya berjanji akan lebih berhati-hati agar tidak lagi menciptakan masalah serupa yang dapat mencoreng integritas perusahaan," terang Elka diplomatis.

"Bagus."

"Kalau begitu, saya izin kembali ke meeting room, Bu."

"Ya. Saya akan menyusul."

"Baik."

Elka lekas bangkit dari tempatnya duduk, kemudian mulai mengambil langkah menuju pintu keluar. Ternyata ini lebih mudah dari bayangannya. Dia beruntung memiliki bos yang selalu bersikap profesional. Elka yakin, selama Karlina bertahan di HL Property, masa depan perusahaan akan terjamin.

"Elka."

Tangan Elka baru saja menyentuh gagang pintu saat mendengar namanya diseru Karlina.

"Boleh saya lihat buku nikahmu bersama Daniyal?"

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro