Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Kelelawar dan Buah yang Rusak

Aku tak suka bulan oktober, sama dengan beberapa orang lainnya. Mungkin aneh rasanya saat aku spesifik menyebut bulan "oktober" sebagai bulan yang tak kusuka, tapi percayalah kami yang membenci bulan oktober memiliki alasan kami sendiri.

Beberapa orang bilang setelah "SADtember", maka terbitlah "okTROUBLE". Sejujurnya aku tak menolak kalimat itu.

Kau tau, bulan oktober benar-benar penuh masalah bagiku dan keluargaku yang menggantungkan diri pada kebun buah. Entahlah, setiap bulan oktober para kelelawar  secara gila-gilaan mendatangi kebun kami, merusak buah-buah segar siap petik.

Hanya dalam satu malam buah dari seperempat kebun bisa hancur dan habis, membuat keluargaku rugi besar. Secara langsung dan jelas itu mempengaruhi ekonomi keluarga kami.

Tapi bukan itu hal yang sangat kubenci.

Satu yang selalu membuatku menggerutu adalah para kelelawar yang berisik, mereka tak hanya merusak buah kami tapi juga membuat gaduh loteng, terutama di atas kamarku. Dan hal lain.

Tapi yang paling sering kubahas pada keluargaku adalah masalah kegaduhan yang  ada di atas kamarku. Suara cicitan dan derit kayu di atas seringkali mengganggu tidur malamku, membentuk kantung mata di bawah mata.

"Suara apa?"

Justru itu jawaban yang selalu kudapat dari ayah.

Ini membuatku frustasi.

Pukul 23.26, aku menatap tajam langit kamar yang mengeluarkan suara kayu yang bergesekan dengan entah apa, gigi atau entahlah, boleh jadi cakar-cakar kelelawar sialan itu.

Aku menggeram. Sejak tadi aku tak berhasil mengirim diriku ke alam mimpi karena kegaduhan yang ada.

Tak tahan lagi. Kalau aku harus menunggu hari esok, aku tak akan tidur sama sekali. Dan itu akan begitu buruk karena esok adalah hari besar untuk menjual buah kami, yang artinya aku akan sibuk mengangkut keranjang buah di pundakku.

Aku tak akan mengambil resiko besar membawa beban berat dalam keadaan mengantuk karena kurang tidur. Maka dari itulah, aku mengambil tongkat kayu dari sudut kamar, menunggu ayah masalahnya tak akan selesai.

Kakiku melangkah menaiki tangga menuju loteng. Berusaha tak menimbulkan suara yang lebih parah agar orang tuaku tak terganggu.

Dengan perlahan aku menatap sekeliling saat aku tiba di loteng, tanganku meraba mencari tali lampu, hingga tanganku berhasil meraihnya, menariknya, membuat cahaya remang menjalar ke seluruh ruangan, menyinari setengah lebih ruang pengap berdebu itu.

Suara gaduh sebelumnya terdengar lebih kuat sekarang, derit dan kayu yang tergores memenuhi pendengaran.

Aku menyipitkan mata, melihat ke sudut yang merupakan bagian ruang loteng yang berada di atas kamarku.

Kupikir aku akan menemukan sekumpulan kelelawar sialan yang menyebalkan.

Kupikir aku akan melihat kelepak sayap tengah mencakar lantai loteng.

Memakan buah hasil pencarian mereka.

Kupikir aku hanya perlu sedikit menggertak dan selesai sudah.

Tapi yang kutemukan justru entah apa.

Merangkak selayaknya laba-laba.

Berdesis dan berdecit seperti kelelawar.

Gigi panjang menancap pada lantai, penyebab suara goresan yang menggangguku sepanjang malam setiap hari.

Cakar tajam yang patah.

Tubuh yang diselimuti kulit melepuh penuh luka bakar.

Entah makhluk apa ini, tapi melihatnya cukup untuk membuatku segera menuruni anak tangga, tak peduli suara derapku boleh jadi membangunkan kedua orang tuaku.

Sebelum makhluk itu menatapku, aku harus pergi darinya. Itu hal yang aku tahu, dan aku sangat bersyukur, aku sempat menutup pintu dan tangga menuju loteng.

Lupakan soal lampu.

Aku mendengar suara pecah di atas.

Gemuruh dan geledak suara terdengar riuh.

Aku tau, makhluk itu pasti tengah bergerak liar entah melakukan apa.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro