Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

3. Bolos

Sekolah ternyata lebih menyebalkan daripada di rumah, bukan karena pelajaran, tapi karena para gadis yang mendekatinya untuk mengetahui Danudara lebih lanjut. Mungkin, pikir mereka sesama wanita lebih mudah menggali informasi tentang pemuda idaman satu sekolah tersebut. Namun, bukannya informasi mereka malah mendapat pandangan lirikan tajam dari Arunika, bahkan ada satu gadis yang menangis saat melihat lirikannya.

Hancur sudah reputasi Arunika, gadis itu sudah dapat menebak kehidupan SMA-nya nanti.

Guru di depan kelas menjelaskan materi, tetapi alih-alih memandang papan tulis Arunika memainkan penanya. Mata gadis itu melirik ke arah jendela, pikirannya berkelana mencari solusi dari situasi dalam rumah. Danudara tak terlihat ingin berdamai dengan ibunya—dan meski Arunika memberi peringatan pemuda itu tak terlihat takut. Gadis itu juga tak bisa mengadu pada Batara—ayah dari Danudara—pria itu pasti akan lebih mempercayai anak kandungnya dibandingkan anak tiri yang baru dikenal. Jika begitu, bukankah dia harus menciptakan situasi yang membuat aduannya terdengar meyakinkan?

Tapi, bagaimana caranya?


"Kau ingin belajar bersama?" Arunika mengangguk saat Danudara menanyakan hal tersebut. Keduanya sedang ada di dalam mobil menuju rumah. Pemuda itu memandang Arunika dengan sangsi sebelum menggeleng.

"Nggak, belajar saja sendiri," ketusnya kemudian kembali fokus pada buku yang dibaca, tak ingin melanjutkan pembicaraan yang diawali oleh Arunika.

Arunika sendiri kesal, gadis itu memandang tajam Danudara yang sayangnya tak berhasil membuat atensi pemuda itu tertuju padanya. Perjalanan pulang berlangsung canggung bagi supir yang mengantarkan mereka.

Lebih sejam kemudian mereka sampai di rumah. Pintu didorong kuat oleh Arunika, kesal masih menguasainya berbanding terbalik dengan Danudara yang berjalan santai di belakang. Tak lama, seorang muncul dari arah dapur, Hanun, ibu Arunika menyambut anak-anaknya dengan senyum lebar.

"Bagaimana sekolahnya?" tanya wanita itu ramah. Arunika hendak menjawab saat Danudara menyenggol bahunya, kemudian berjalan menjauh tanpa rasa bersalah.

"Oy! Sakit—" Aksi Arunika terhenti saat sang ibu mengangkat tangannya, wanita itu hanya tersenyum sebentar sebelum mengajak anak gadisnya duduk di sofa yang paling dekat.

"Masih sakit?" tanya wanita itu pelan. Arunika menggeleng, dia yakin sakit hati ibunya lebih terasa dibandingkan senggolan Danudara.

"Ibu sendiri, kenapa tak ingin menegur Danudara? Dia sudah sangat keterlaluan, loh. Sikapnya berubah banyak kalau sudah tak ada ayahnya.

Wanita itu diam, alisnya sedikit berkerut, tanda bahwa dirinya sedang mencari kata-kata yang pas. "Danudara itu ... punya luka dalam hatinya, kita harus paham atas situasinya."

"Lantas, karena dia punya luka kita harus menormalisasikan setiap tindakan tak sopannya? Seberapa terlukanya sih dia sampai harus dijaga seperti piring kaca?"

Belum sempat menjawab Danudara turun. Pemuda itu memandang keduanya lama sebelum berlalu ke dapur. Ibunya tak meneruskan pembicaraan mereka setelah itu, wanita itu lebih memilih kembali ke kamarnya dan meninggalkan Arunika.

Cara pertama yang Arunika ambil untuk mencari cara membuat pengaduannya terdengar meyakinkan ialah memperhatikan Danudara. Namun, alih-alih mendapatkan informasi seputar pemuda itu dirinya malah semakin bingung atas tindakan Danudara. Terkadang, pemuda itu terlihat ingin mendekat ke arah ibunya, tetapi Danudara malah melakukan hal sebaliknya tak lama kemudian.

Terjebak dalam kebingungan, tampaknya gadis itu harus sedikit lebih lama memperhatikan Danudara. Entah dia memang tak suka dengan ibunya, atau ada suatu hal yang membuatnya melakukan hal kasar tersebut.

Seperti sehari sebelumnya, Arunika diam-diam mengikuti Danudara saat jam istirahat berbunyi, beruntung mereka sekelas, jadi Arunika tak payah mencari ke sana kemari.

Danudara sendiri, setiap jam istirahat keluar dari kelas dan duduk di bangku taman belakang—tampak tak ingin terganggu kegiatan membaca bukunya oleh para siswi.

"Kau, kenapa tiba-tiba mengikutiku?" Pemuda itu berucap sembari melirik ke arah semak-semak tak jauh darinya, tempat Arunika memperhatikan.

Arunika terpaksa keluar dari tempat persembunyiannya. "Aku hanya ingin duduk saja, kok," ujarnya.

"Yakin? Duduk kok di tanah?"

"Ya suka-suka akulah," ketus Arunika kemudian.

Merasa tak ada yang perlu dipermasalahkan, Danudara memilih kembali terfokus pada bukunya. Menganggap Arunika tak ada di sana. Gadis itu sendiri pada akhirnya memilih duduk di bangku, masih memperhatikan Danudara.

"Kalau hanya ingin melihat kembali saja ke kelas." Pemuda itu berkata sambil tetap melihat buku, Arunika mendengus.

"Siapa pula yang ingin melihatmu, geer."

"Lah, situ sendiri dari tadi melihat gitu, malah mengelak." Arunika diam.  Gadis itu hendak pergi saat sebuah ide melintas di otaknya.

Tak memperhatikan pendapat Danudara, Arunika menarik tangan pemuda itu. Mereka berjalan menjauh dari taman belakang.

"Hei, hei. Kau ini kenapa main tarik tangan orang, sih!" Protes Danudara tak gadis itu dengar. Dia malah mengencangkan genggaman tangannya. Setelah agak lama melangkah, mereka berhenti di depan pintu dengan tanaman rambat yang menutupi. Engsel pintu itu sudah rusak, membuatnya miring ke arah belakang.

Tanpa menunggu lagi Arunika menarik tanaman rambat, pemandangan luar terlihat dari baliknya. Gadis itu menarik tangan Danudara yang segera dihempas oleh sang pemuda.

"Apa-apaan ini? Kenapa ke sini?" tanyanya dengan pandangan penuh menyelidik. Arunika sendiri diam. Kalau boleh jujur, gadis itu baru tahu ada pintu tua semacam ini saat kemarin berkeliling setelah jam pulang. Dia tak menduga, sedikit jauh dari taman belakang sekolah ada pintu tua yang menghubungkan luar sekolah dengan dalam sekolah.

"Untuk membolos, apa lagi?" jawabnya enteng. Mendengar jawaban itu Danudara sendiri malah melotot tajam.

"Yang benar saja, kau ingin membolos? Kau gila?!" Suara Danudara naik satu oktaf. Meski begitu, Arunika tak terlalu peduli dia malah menyenandungkan lagu.

Geram, Danudara balik badan. Dia tak ingin terlibat dalam setiap tindakan nakal Arunika. Namun, belum juga jauh melangkah sebuah tangan mencengkram lengannya.

"Kau, ikut denganku," perintah mutlak dan tarikan kuat. Danudara tak sempat protes dan terseret arus Arunika. Tanpa dirinya sadari keduanya sudah ada di di luar. Seakan tak puas, Arunika menyeretnya semakin menjauh dari lokasi sekolah, dan saat keduanya susah jauh cengkraman tangan Arunika baru dilepaskan.

"Ayo kembali sekarang." Mata Danudara memandang tajam Arunika, gadis itu tersenyum melihat wajah merah saudara tirinya itu.

"Kembali? Pulang saja sendiri. Kamu tahu jalannya, kan?" Bukan rahasia lagi kalau Danudara itu buta arah. Itulah kenapa meski sudah SMA, dia masih diantar-jemput.

Mendengar ucapan Arunika makin merahlah wajah Danudara. Pemuda itu memilih diam saja, mengetahui kalau tanpa Arunika dapat dipastikan Danudara akan tersesat, walaupun dia memakai aplikasi maps di ponselnya, hal itu juga percuma dia tak bisa membaca maps.

Mengetahui fakta itu Arunika semakin melebarkan senyumnya, dia menarik tangan Danudara kemudian, mengajak pemuda itu pergi membolos entah ke mana.

°°°

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro