Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

P R O L O G

Selamat datang di cerita ini.
Apa pun yang ada di dalam cerita ini adalah fiksi.

🚫DON'T PLAGIARISM🚫

Jangan menjadi orang jahat untuk karya orang lain. Plagiat adalah kejahatan. Jangan membunuh mental seorang penulis dengan memplagiat karyanya.

Ngomong-ngomong, cerita ini udah ada lima/enam kali di unpub-publish. Wkwk. Alasannya kurang pede aja dengan alur yang 'yagitudeh'.

Selamat membaca,
Semoga betah.

****


Di jalanan yang begitu sunyi, gadis itu berjalan perlahan meninggalkan sepedanya. Lampu di sepanjang jalan mendadak redup saat gadis tersebut melewatinya.

Severine-gadis bermata hazel itu terdiam ketika angin berhembus pelan menghampirinya. Menghantarkan bau amis dari darah yang mengalir dari tubuh seseorang yang tergeletak di tengah-tengah jalan, tepat di hadapannya.

Severine perlahan meraih buku kecil berwarna hitam yang ada di dalam saku piyamanya. Sedang manik matanya tak berhenti memperhatikan seorang wanita setengah baya yang tengah meregang nyawa. Menatap ke arahnya, seakan tengah berusaha meminta pertolongan kepadanya.

"Tolong, aku. Putraku menungguku di rumah. Tolong selamatkan aku."

Severine bisa mendengar bagaimana wanita setengah baya itu berbicara di dalam hatinya, tetapi Severine tidak bisa menolongnya.

"Aku tahu, kau mendengarku."

"Aku tidak bisa menolongmu, Bibi. Takdirmu adalah kematian. Jika aku menolongmu, maka kau akan berada dalam lorong kesialan seumur hidupmu. Waktumu sudah benar-benar habis di dunia ini. Meskipun menyakitkan, pada akhirnya kau juga akan mengikhlaskan segalanya yang kau tinggalkan."

"Aku belum siap untuk mati."

"Semua manusia juga mengatakannya. Termasuk mereka yang memilih untuk bunuh diri sekali pun. Pada kenyataannya, mereka tidak benar-benar ingin meninggalkan dunia ini."

Severine berjalan semakin dekat. Saat tubuhnya mulai berjongkok, kedua bola mata wanita tersebut perlahan menutup. Setelahnya, Severine tidak melakukan apa pun, selain mencatat kejadian tersebut di dalam buku hitamnya sebagai jejak. Sementara arwah wanita tersebut, perlahan masuk ke dalam pintu keabadian tanpa mengatakan apa pun lagi.

Setelah kepergiannya, Severine merasa sedih. Sejak dulu, ia tidak pernah menolong seseorang yang meminta tolong kepadanya saat meregang nyawa. Severine selalu bersikap seperti manusia tidak berhati. Meskipun itu berat, tetapi Severine tetap melakukannya.

"Jika menolong mereka yang memiliki usia pendek tidak membuat kehidupannya menjadi sial, aku mungkin sudah melakukannya. Bahkan ketika kakekku meregang nyawa saat itu."

Severine mengembuskan napasnya. Perlahan, gadis itu berdiri dari posisinya. Memandang mayat wanita setengah baya yang terus mengeluarkan darah dari bagian kepalanya.


Angin malam yang dingin kembali berhembus, bercampur dengan beribu rasa ketakutan. Menghantarkan bau amis dari cairan merah pekat yang masih mengalir dari tubuh wanita tersebut. Severine tidak merasa mual, karena ia sudah begitu biasa dengan hal tersebut.

Sudah sejak kecil Severine memilikinya. Tepat ketika sang kakek meninggal dunia, dan gadis itu tentu tidak bisa menolak sebuah takdir. Takdir yang menurutnya sangat menakutkan, takdir yang selalu ia anggap sebagai kutukan yang selalu mengganggu seluruh pikirannya sejak ia masih berumur lima tahun, hingga sekarang.

"Aku selalu membenci perpisahan."

Setelah mengirimkan do'a pada mayat wanita tersebut, Severine perlahan berjalan menjauh. Berlalu-lama di tempat itu rupanya mengundang atensi dari makhluk-makhluk lain yang sekarang tengah menatap dirinya secara bersama-sama.

Severine tidak merasa takut, meskipun tidak ada satu pun orang yang melewati jalur tersebut. Jalur yang selalu diklaim seram dan dihuni oleh banyak hantu menyeramkan itu sama sekali tidak membuat Severine ketakutan.

"Apakah kau malaikat pencabut nyawa?"

"Kenapa kau tidak menolongnya?"

"Hey! Kau bisa melihat kami, bukan? Jangan berpura-pura."

"Dasar gadis menyebalkan."

Severine mencoba bersikap buta dan tuli ketika ia kembali mengambil sepedanya. Meladeni makhluk-makhluk penjaga jalanan hanya akan membuatnya kerepotan. Lama-kelamaan, mereka akan merengek, menangis, bahkan mengganggu, jika Severine tidak mengabulkan permintaannya.

Hutan yang saat ini Severine tapaki terletak lima ratus meter dari rumahnya. Cukup jauh, tetapi tidak untuk seorang Severine. Meskipun jalan yang ditempuh cukup berbelok-belok dan curam, karena tepat di samping jalanan besar tersebut adalah jurang yang dalam. Di mana saat seseorang tidak sengaja jatuh ke sana, orang tersebut akan dipastikan tidak akan bisa naik kembali ke atas jalanan.

Severine mulai mengayuh sepedanya perlahan. Mencoba mengasingkan suara-suara yang memanggilnya di sekitar pohon-pohon besar dan juga di sepanjang jalan. Mereke begitu ramai, berjejer, meminta Severine untuk mengobrol dan menemani mereka.

Namun, Severine sadar, ini sudah jam tiga pagi. Dia tidak boleh terlalu lama berada di luar. Kedua orang tuanya mungkin saja tidak akan membiarkannya berkeliaran kembali, jika mereka tahu Severine pergi mengunjungi seseorang yang tengah meregang nyawa pada dini hari.

****

Apa kesan pertama kalian?

Cerita ini lebih ke horor sama thriller, sih. Kenapa aku bilang cerita ini terkesan kaya kurang sempurna, karena ini pertama kalinya aku bikin genre yang kaya gini. Apalagi thriller:)

Bantu dengan vote dan komen, ya, teman-teman:)

Updatenya belum bisa ditentukan:)


•22 Desember 2024
🌸Asteria Jung🌸

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro