
31
Keputusannya sudah bulat. Semalaman tidak tidur hanya untuk memikirkan keputusan yang sekarang ia buat.
Sean, remaja lelaki itu, bangun dari tidurnya, mencuci wajah, sikat gigi, mandi dan bersiap untuk ke sekolah.
Sebelumnya, tentu saja ia sarapan dulu.
"Oma."
Semua mata secara serempak menuju pada Sean. "Lah? Kenapa pada liatin Sean semua?"
"Ck."
"Oma."
"Hm? Kau sudah buat keputusan mu?"
Sekali lagi, secara serentak semua mata tertuju pada oma dan Sean secara bergantian.
"Keputusan?"
"Keputusan apa?"
"Ya. Sean sudah buat keputusan."
##
Langkah kakinya terus melangkah secara perlahan. Sesekali ia tersenyum kalau ada yang menyapanya, atau saat melihat kegilaan temannya yang seperti memanjat jendela kelas, lempar-lemparan buku, saling mengambil sepatu dan melempar ke teman yang lainnya.
"Bos!" Dari belakang secara tiba-tiba Brian dan Ion merangkul leher Sean. "Akhirnya lu keluar kandang juga," ejek Ion.
Sean terkekeh dan meninju bahu Ion. "Kandang pala lu peang. Lu kata gue binatang."
Brian dan Ion saling menatap dan sesaat kemudian mereka berseru, "EMANG!"
"Kan anjing lu mah, Bos."
"Bangsat emang," celetuknya seraya tertawa kecil dan meninju bahu kedua temannya itu.
Sudah sekitar hampir 2 tahun ia bersekolah disini. Menjadi kapten basket yang bahkan jarang sekali ia ikuti ekskul nya.
Brian dan Ion? Entah lah. Ia tidak mau menghitung sudah berapa lama ia berteman dengan kedua teman gesreknya itu.
"Laper nih."
"Iye. Belum sarapan gue."
"Enaknya kalo ada yang peka ya, Bri."
"Anjing. Ayolah gue traktir di kantin."
"Beneran nih?"
"1 menit gak sampe kantin, bayar sendiri."
Langsung saja kedua temannya itu berlari kesetanan menuju kantin. Membuat Sean menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.
Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. Matanya kembali mengamati sekelilingnya. Merekam apapun yang terjadi sepanjang koridor, dengan senyuman kecil di wajahnya. Tanpa sadar matanya menangkap sosok Hedya di depannya dengan kedua temannya, oh mungkin tiga, karena Cherry sudah bergabung dengan Hedya sekarang.
Matanya seakan terkunci hanya pada Hedya yang kini juga menatapnya balik. Tatapan Hedya seakan menyuruhnya untuk berhenti melakukan apapun, memberi isyarat kalau Hedya sendiri juga rindu dan ingin memeluk Sean. Walaupun Sean tahu itu hanya imajinasinya, karena Hedya yang kemarin menyuruhnya pergi walaupun dengan asalan Wendy ternyata.
Sempat terbesit di benaknya untuk membawa Hedya kabur, tapi ia juga harus tahu, sadar diri bahwa ia tidak mungkin membawa kabur anak orang lain, apalagi ia masih anak-anak istilahnya. Belum bisa kerja. Boro-boro kerja, ijazah SMA aja belum dapat. Mau dihidupi dengan apa Hedyanya nanti.
Ingin sekali ia memeluk Hedya sekarang. Tapi tidak bisa. Sekali ia memeluk Hedya, bisa dipastikan keputusannya akan berubah. Ya. Kalian pasti sudah bisa menebaknya.
Ia memilih untuk pergi ke luar negeri, mengikuti saran omanya, belajar disana, dan omanya juga kedua orangtuanya akan mengurus hal Wendy pada pihak kepolisian. Omanya benar. Ia tidak boleh egois. Sudah cukup ia egois dulu saat hal Wendy dan Noel. Karena keegoisannya yang tidak ingin pertemanan mereka bertiga pecah, ia harus mengorbankan perasaannya sendiri hingga Wendy kecelakaan. Walaupun Wendy tidak meninggal, tetap saja Wendy terluka.
Dan Sean tidak menginginkan hal itu terulang kembali. Cukup sekali saja.
"Semoga kamu bahagia, Hed," lirihnya sembari menatap Hedya yang kini membuang pandangannya kearah lain. Menghindari Sean.
Melihat Sean juga membuat Hedya ingin memeluknya sekarang. Bukan hanya Sean, Hedya juga ingin memeluk Sean sekarang. Tapi ingat akan perjanjiannya dengan Wendy. Tak mungkin ia mempertaruhkan semua orang terdekatnya hanya untuk keegoisan perasaannya sendiri.
"Hed?"
Hedya tersenyum dan menatap ketiga temannya dengan tatapan -gue-baik-baik-aja-
Hubungan mereka terlalu sulit. Banyak masalah yang merandungi hubungan mereka.
Mengalah untuk orang lain bukanlah hal yang mudah. Tapi dalam hubungan mereka, mengalah memang harus dilakukan. Tidak bisa mementingkan ego mereka sendiri.
##
"WHAT?!"
Kedua tangan Sean secara refleks langsung menutup kedus telinganya. Mengantisipasi telinganya dari sakit yang dikarenakan pekikan kedua temannya.
"Biasa aja, kambing!" Ia melempar guling yang berada di kasurnya ke kedua temannya itu. Masalah Noel, ia sudah memberi tahu Noel semalam lewat telepon.
Noel awalnya mendesah, tak tahu harus melakukan apa. Tapi ia mendukung apapun yang Sean lakukan. Karena ia tahu Sean sudah besar dan sudah cukup tahu yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Sean sudah cukup besar untuk mengambil keputusan sendiri.
Dan Sean bersyukur Noel bisa mengerti dirinya.
"Serius lu, Yan?"
Sean mengangguk, "iya," jeda. "Dan nama gue Sean. Bukan Se-yan."
"Ah. Udah biasa panggil Se-yan," kata Ion santai.
"Kampret. Nama gue bagus-bagus jadi jelek gara-gara lu berdua."
"Dih. Salahin Pak Pelatih noh. Dia yang manggil lu Se-yan."
"Anjing."
Brian yang sedari tadi diam, akhirnya buka suara. "Lu yakin dengan keputusan lu, Sean?"
Sean mengangguk lagi. "Gue yakin seyakin-yakinnya. "
Brian dan Ion menghela nafas secara bersamaan. "Kapan lu pergi?"
"Besok."
"ANJING!"
"BESOK?!"
Secara serempak Brian dan Ion mengeluarkan suara mereka. Membuat Sean sedikit tersenyum dan mengangguk. "Besok gue pergi. Penerbangan pagi."
"Anjir. Kenapa lu selalu tiba-tiba sih? Tai banget."
Bukannya menjawab, Sean hanya mengendikkan kedua bahunya.
"Terus Hedya? Hedya udah tau?"
Sean menggeleng. "Belum. Jangan kasih tau dia. Biar dia tau sendiri entar," ujar Sean. "Ah. Gue nitip ini. Kasih Hedya dengan aman. Jangan sampe nyasar ke tangan lain."
Sean mengambil sebuah kotak kecil dari lemari pakaiannya dan memberikannya pada Brian. Kenapa Brian? Karena kalau sama Ion, kemungkinan sampai di tangan Hedya itu sangat kecil.
"Kasih dia besok di sekolah."
Brian dan Ion mengangguk.
Raut wajah Ion berubah sedih, seperti mendramatisir suasana. "Bos. Nanti yang kasih ide buat jailin guru siapa dong? Yang menangin tim basket siapa?" tanyanya sambil cemberut yang membuat Sean dan Brian menyerbunya dengan tinju dan pukulan secara serentak karena jijik.
Setidaknya, teman-teman terdekatnya sudah tahu. Itu sudah cukup untuk Sean.
##
The Captain
Ion: Bosqqqqq
Ion: gx bsa qlo gx prgi ap, bosq?
Brian: anjng Ion. Lu bisa gue kebiri lama-lama anunya biar jadi cewek
Sean: gue merinding kok ya disini ngebaca kata" Ion
Ion: qlian smua jahat padaku
Ion: aq slh apa sich sma klian?
Sean: @Brian. temen lu noh
Brian: ogah
Brian: buat lu aja
Brian: bawa ke Jerman aja breng elu. Simpen buat persiapan praktek bedah mayat pas lu kuliah, Yan.
Ion: Jahatttttttt
Ion: ion kn gx slh apa-apa
Ion: cmn anx kcl yg msh sucih
Brian: pale lu
Brian: udah nonton sring, msh blg ank kcl
Ion: loh kok Brian tau?
Ion: psg cctv di rmh aq ya?
Ion: aduh ga usah smpe psg cctv gtu. lgs dtg aja ke kmr aq. nanti aku ladenin.
Brian: no comment ngomong ama lu mah @Ion
Sean: lah ngakak wkwkwkwkwkwk
Sean: jgn lupa undangan buat gue ya nanti
Brian: satu lgi gila
Ion: tnang aja. bakal dikirimin. mau lwt apa? jne? tiki? jnt?
Sean: govlog anjir wkwkwkwk
Brian: middle finger up
Ion: ih ngomongnya kasar yach.
Brian: rap Lisa Blackpink
Ion: ttep aja ksar tauk. ich.
Brian: brenti atau gue bom rmh lu skrg juga
Sean: goblog sekali tmn" gue ini wkwkwkwkwk
Sean: jgn lupain gue ya kwan" kuhhhh wkwkwkwkwk
Brian: stu lgi. yg bnr atau gue bom rmh lu bedua.
Ion: udh Yan. Brian lgi pms. blm lgi ngdepin Cherry yg ga pka" wkwkwk
Sean: WKWKWKWK KASIAN
Brian: caps jebol mas?
Ion: hah? kn Sean cowok bukan cewek, Bri.
Brian: otak lu pinter pljran doang. yg lain keisi sma yg ngeres anjing
Sean: GOBLOG WKWKWKWK
Tok tok tok
"Masuk," sahut Sean tanpa memalingkan pandangannya dari ponsel.
"Sean?"
Sean menoleh dan mendapati Selvia berdiri di depan pintu kamarnya dan berjalan mendekat. "Kenapa, Ma?"
"Kamu beneran sama keputusan kamu?"
Sean mengangguk. "Serius. Kenapa emangnya, Ma?"
Selvia menggeleng dan mengangguk. "Mama cuma nanya doang. Takut kamu menyesal. Tapi kalo kamu udah yakin, itu udah cukup buat Mama."
Sean mengangguk paham. "Sean yakin kok."
Selvia mengangguk dan mengelus kepala Sean sayang. Sejak kapan anak pertamanya ini menjadi lebih tinggi darinya dan lebih dewasa? Rasanya baru kemarin ia menggendong Sean didalam dekapannya. Baru kemarin Sean belajar berjalan, bicara, masuk KB, TK, SD, SMP dan akhirnya SMA.
Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Sampai ia sendiri sempat tidak menyadari perkembangan anaknya.
"Yauda. Turun yuk. Makan malam terakhir kamu disini."
Sean tersenyum dan mengangguk.
##
Matanya menelusuri ruangan kamar nya yang sudah ia tempati sepanjang hidupnya. Selama 16 tahun Sean menempati kamar ini. Banyak cerita yang terkenang, banyak kejadian yang terjadi. Dari mulai Sean masih oe-oe, sampe menjadi Sean yang keren, yang menjadi kapten basket.
Matanya merekam kamarnya yang sebentar lagi hanya akan menjadi ruangan kosong untuk beberapa tahun. Ia akan kembali lagi. Pasti kembali. Ia juga tak mau berlama-lama tinggal di negeri orang lain.
Lalu kakinya membawanya keluar kamar dan mengetuk pintu kamar di seberang kamarnya. Adiknya, Marsha, sejak diberitahu kalau Sean akan pergi keluar negeri, ia tidak keluar kamar bahkan untuk makan sekalipun.
"Cha. Kakak masuk ya."
Sean memasuki kamar yang dominan warna pink peach itu tanpa ijin dari empunya kamar. Di meja belajar, Sean dapat melihat Marsha yang duduk membelakanginya. Bahunya terlihat bergetar.
"Cha?"
Marsha menghapus jejak airmatanya dan menatap Sean sengit sebentar sebelum akhirnya kembali menatap meja belajarnya. Oh, lebih tepatnya, album foto keluarganya.
"Cha. Kamu belum makan dari pagi loh? Di sekolah juga gak makan?"
"Apa peduli Kakak? Kakak bisa pergi gitu aja tanpa peduli perasaan Marsha, Papa sama Mama yang ditinggal," bentaknya dengan tangan yang masih membolak-balikan halaman album foto.
Sean tersenyum dan duduk di atas kasur Marsha. Menatap adiknya yang kini sudah mulai dewasa. Sudah pintar make-up. Waktu kecil, Sean ingat kalau ia pernah melarang siapapun, cowok manapun untuk mendekati Marsha, waktu mereka masih satu sekolah. Bukannya apa, tapi Sean ingin melindungi adiknya dari pria-pria. Hanya itu. Ia tidak ingin adiknya yang cantik ini jatuh ke pergaulan yang salah karena berteman dengan cowok yang salah. Ia sangat sayang pada adiknya. Sangat. Ia bisa mematahkan tulang siapapun yang menyakiti Marsha tanpa segan.
"Kakak cuma pergi sebentar, kok."
"Tai. Sekolah dua tahun, kuliah kedokteran selama 4 tahun paling lama. Total 6 tahun. Itu sebentar? Tai banget."
"Heh, ngomongnya," peringat Sean, menyentil kening Marsha pelan. Ia memutar kursi belajar Marsha hingga berhadapan dengannya. Kedua tangannya kompak terangkat untuk menghapus air mata yang keluar dari mata Marsha. "Jelek. Jangan nangis. Kakak udah bilang kan kalo Kakak akan mematahkan tulang siapapun yang berani nyakitin Cha? Yang bikin Cha nangis?"
"Tapi Kakak yang bikin Cha nangis."
"Nih. Patahin aja tulang Kakak. Kalo itu yang bisa bikin kamu berenti nangis, gapapa."
"Ngoce," sahut Marsha yang sudah mulai tersenyum tipis.
"Sejak kapan sih kamu jadi cantik, Cha? Kayaknya dulu kamu tuh jelekkkkkkk banget. Sampe gak ada yang mau deketin kamu."
"Cih. Itu kan situ yang jauhin aku dari semua orang. Gara-gara Kakak, aku gak pernah pacaran selama 14 tahun."
"Yailah. Pacaran doang."
"Bodo amat."
Sean terkekeh dan mengacak rambut Marsha. "Jangan nangis ya, Cha. Gak ada Kakak yang bisa beliin kamu cokelat yang jauhnya naujibillah kalo kamu nangis. Masa kamu suruh Papa sama Mama? Kan gak mungkin. Apalagi pacar. Temen cowok aja gak ada."
"Dih, ngeledek," ketus Marsha. Ia memeluk kakaknya dengan sayang secara tiba-tiba.
"Cuma sebentar kok. Janji." Sean mengelus kepala Marsha, berusaha menyalurkan kasih sayangnya.
"Gak bisa kalo gak pergi?"
Sean menggeleng. "Engga. Kamu tau kan kenapa."
"Yauda. Tapi jangan lama-lama perginya. Disana juga jangan lirik cewek lain. Nanti Kak Hedyanya aku suruh pergi aja, kencan sama cowok lain."
"Heh! Monyong kamu nih," kata Sean sambil menjitak pelan adik satu-satunya ini.
"Inget! Jangan lama-lama."
"Iya."
##
"Semua udah siap, Yan?" tanya Papanya, Troy.
Sean mengangguk. "Paling tinggal barang-barang nya aja yang dateng nyusul nanti."
Troy mengangguk. "Jaga diri kamu ya. Jangan seks bebas disana. Pulang Papa potong itu kamu entar."
"PAPA!" pekik Selvia memperingatkan.
"Apa? Aku hanya memperingati," ucap Troy santai.
Sean terkekeh dan memeluk kedua orangtuanya bersamaan. "Aku bakal kangen kalian." Selvia dan Troy mengangguk dan menepuk bahu Sean.
"Jaga diri kamu, Sean. Jangan lupa makan. Jangan lupa mandi. Jangan lupa beresin apartemennya."
"Iya, Ma. Iya," jawab Sean sembari menganggukkan kepalanya.
"Udah ditaro kan kertas alamatnya? Itu daerah strategis loh ya. Tempat Papa sama Mama honeymoon dulu. Sekaligus bikin kamu. Ya disana tempatnya."
Selvia langsung menabok kencang bahu suaminya itu yang bicara secara nyablak. "Gak usah dikasih tau juga, Troy."
"Kan aku cuma bilang, sayang."
"Iya. Iya. Tenang aja. Bakal aku jagain."
Ia beralih pada Omanya yang berdiri disamping kedua orangtuanya. Ia memeluk omanya sekilas. "Makasih udah mau bantuin Sean, Oma. Maaf kalo Sean kurang ajar." Omanya mengangguk dan menepuk bahu Sean.
"Belajar yang benar disana."
Sean mengangguk paham dan tersenyum.
Lalu matanya beralih pada Marsha, adiknya dan kedua teman begonya. Noel tidak bisa datang karena kesehatan tubuhnya kembali menurun. "Jagain Marsha ye lu berdua."
Brian dan Ion menegakkan tubuhnya dan tangan yang tertempel didepan alis mata kiri mereka. Bersikap hormat pada Sean. "SIAP, BOS!" jawab mereka serempak.
Sean terkekeh dibuatnya.
Ia menepuk puncak kepala Marsha beberapa kali sebelum akhirnya memeluk adiknya untuk yang terakhir kalinya. Setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.
"Jangan bikin Papa sama Mama repot ya."
"Kakak tuh yang bikin repot."
"Dih, nyolot."
Marsha mendengus dan membalas pelukan Kakaknya. "Jangan pergi lama-lama, Kak. Aku tau Kakak bego, tapi jangan sampe tinggal kelas ya."
"Anjir banget emang ade gue satu ini," kata Sean melepas pelukannya dan mengacak rambut Marsha.
"Kalo ada bule cantik bawa pulabg buat gue ya, Yan," ucap Ion asal.
Sean terkekeh dan mengangguk. "Tar gue bawain selusin. Sekalian buat Brian juga. Biar lu berdua gak jones lagi."
Ion menggeleng. "Gak. Brian gak usah. Dia udah cinta mati sama Cherry.
Buat gue sama Noel aja."
"Anjing emang nih anak satu."
Sean tertawa kecil melihatnya.
Ia melihat jam yang tertera di ponselnya. 04.30. Sudah waktunya ia pergi.
"Sean pergi dulu ya. Jaga diri kalian baik-baik."
Kakinya nulai melangkah menjauh dengan tangan yang melambai-lambai pada keenam orang tersebut.
Sekarang, ia benar-benar harus tinggal jauh dari Hedya.
Harus pindah dari negeri kelahirannya.
Selamat tinggal, Indonesia.
11 April 2018
1 bab lagi menuju Ending kawan-kawan. Siapa yang gak sabar nunggu endingnya? Hayoo wkwkwkwk
pantengin terus ya ceritanya wkwkwk
ah iya, mau extra part atau engga nih abis endingnya? hayo hayooo wkwkwkwk coba komen, coba komen. yang mau extra part siapa??? angkat tangan wkwkwkwk
sampai disini dulu.
sampai ketemu di bab terakhir dan ending part kawan-kawan..
bye bye!
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro