
24
Sean berlatih begitu giat, karena sebentar lagi akan ada Zero to One Cup. Pertandingan antar sekolah yang diadakan setiap tahun oleh sekolahnya. Dan hanya ada waktu kurang dari 2 minggu sebelum ia bertanding.
Dan sialnya, pertama kali tanding, ia harus melawan Farel. Musuh bebuyutannya.
Setelah pertandingan terakhir, Sean dan Farel tidak bertanding lagi. Dan kini, mereka berdua akan bertanding lagi, dengan membawa nama sekolah masing-masing.
"Yan!" Sean menoleh keasal suara.
Tau kalau itu Brian, Sean berlari kecil menghampiri temannya itu. Disamping Brian, tentu saja ada Ion. Hanya saja sekarang ada tambahan, yaitu Noel.
"Gimana? Udah dapet info?"
"Belum. Si Magentong belum mau buka mulut," ceplos Ion.
Sean mengernyit bingung. Siapa Magentong?
"Magentong?"
Ion mengangguk. "Manda gentong."
Sean berdecak dan menatap Brian yang dibalas kedua bahu yang diangkat. Biarin aje. Sesuka dia. Seakan itulah yang Brian katakan.
"Bahkan dia gak gendut, Yon. Langsiung loh dia," ujar Noel.
Ion menyipit, "lu suka sama Manda ye?"
"Yakali."
"Heh. Udeh. Jadi belum ada info nih?"
Ketiganya menggeleng kompak. "Gue udah coba suruh agen bokap sih buat nyelidikin."
"Agen bokep?"
Kesal, Brian menoyor kepala Ion dengam agak kencang. "Agen bokap gue, goblog."
"Lu goblog?"
Rasanya Sean ingin menelan Ion hidup-hidup sekarang. "Biarin aje deh, Bri. Cape gue. Temen siapa kali."
"Terus? Belum ada kabar?"
Brian menggeleng. "Belum. Karena mereka juga berpencar. Antara mencari nama asli Wendy atau nama yang sekarang ia pakai."
"Yauda. Makasih udah mau bantuin. Kita tunggu lagi aja. Thanks, bro," ujarnya menepuk bahu Brian.
"Yailah. Kayak sama siapa aje."
"Sean!"
Ia menoleh dan mendapati ada Hedya di pintu masuk. Segera ia berbalik, "jangan sampe Hedya tau. Duluan."
Sean tersenyum, mengacak rambut Hedya dan menggandeng tangannya ke parkiran.
Hari ini, Sean sudah setuju untuk pulang ke rumahnya. Setelah tiga hari tidak pulang, kedua orangtuanya dan adiknya juga memaklumi. Tapi tetap saja mereka membujuk Sean untuk pulang.
Dengan tangan Hedya di tangannya, Sean melangkah masuk ke dalam rumahnya. Tangan Hedya yang lain menenteng kantung plastik berisi ice mango pesanan Marsha tadi. Pas jalan pulang, mereka mampir ke kios ice mango dulu karena Marsha menitip pada Hedya. Adik laknat Sean itu. "Yan."
"Hm?"
"Senyum kek. Judes amat kali mukanye," katanya dengan kedua tangan yang menarik kedua ujung bibir Sean ke atas, membentuk sebuah senyuman.
Sean terkekeh kecil, mengacak rambut Hedya.
Cup!
Heyda terkejut mendapatkan kecupan kilat di ujung bibirnya dari orang yang sednag berdiri, menyengir, di depannya ini. "Sembarangan aje ye. Malu tau."
"Bodo. Ayo masuk."
"Hm."
Mereka berdua langsung menuju ke ruang keluarga, dimana disana sudah duduk Omanya, kedua orangtuanya dan juga adiknya, Marsha.
Suasana hening, rasanya dingin. Hedya sampai bernjingkit ngeri. Tidak biasanya seperti ini. Ia mengeratkan genggamannya pada Sean. "Ma. Pa. Sean mau pergi lagi ya. Ada kerja kelompok sama 'PACAR' Sean. Baliknya bisa maelem kayaknya." Sean sengaja menekankan kata PACAR agar Omanya tau kalau sudah ada orang yang ia sayang.
Hedya yang mendengar namanya, oke bukan secara jelas, tapi sudah jelas dong kalau Hedya itu pacarnya Sean, menoleh ke arah Sean. "Kerja kelompok? Kerja kel--mpphhh." Segera Sean membungkam mulut Hedya.
Terkadang pacarnya ini bisa sanat polos dan tidak bisa diajak bekerja sama.
"Eh, Cha. Ambil tuh titipan lu. Seenaknya aje nitip ke Hedya."
Marsha mencibir, tapi ia juga mengambilnya dari tangan Hedya dengan senyuman dan tentunya ucapan terimakasih. Maunya Marsha sih, dia bayar, tapi saat uangnya sudah dikeluarkan, Heyd amenggeleng dan berkata anggap saja ia mentraktir.
Tentu Marsha girang bukan main.
Setelah selesai berurusan dengan Marsha, Sean menyuruh Marsha mengikutinya.
Omanya hanya diam mendenagr itu semua. Ada rencana yang sudah ia susun.
"Hed. Hedya nunggu Sean di kamar Marsha dulu aja ya. Mau ganti baju dulu. Abis itu kita baru pergi." Hedya mengangguk paham.
Sepeninggalan Sean, Marsha menarik tangan Hedya untuk duduk di kasurnya. "Kakak nunggu yang anteng aja oke? Kak Sean itu lama kalo ganti baju."
Hedya mengangguk paham. "Sha."
"Ya?" Sesekali Marsha menyeruput ice mangonya.
Hedya tampak berpikir sejenak. Apakah tidak apa-apa untuk menanyakannya? Apakah ia tidak keluar batas? "Sha. Sean sama Oma kamu, gak deket ya? Ada masalah apa sih?"
Marsha yang tadinya sibuk menyeruput minumannya, langsung terdiam, menghentikan kegiatannya. Ia tak berani menatap Hedya, takut keceplosan. "Eng, aku kurang tau deh. Kakak tanya ke Kak Seannya aja ya, Kak."
"Tapi Sean gak akan mau kasih tau. Ayo dong, kasih tau aku."
"Aduh, gimana ya, Kak. Tanya sama Kak Sean sen--"
"Hed. Ayo jalan."
Marsha menghembuskan nafasnya lega saat Sean memanggil Hedya. Timing-nya tepat sekali.
Dengan enggan Hedya berjalan keluar kamar Marsha dengan pikirannya yang masih bertanya-tanya. Bahkan sampai di mobil pun, Hedya masih memikirkannya. "Yan."
"Hm?"
"Kamu sama Oma kamu gak deket ya? Atau emang lagi ada masalah?"
Sean meneguk salivanya susah payah. "Engga. Kita berdua emang gitu. Kenapa emangnya?"
"Aneh aja."
Sean menggeleng dan fokus untuk mengemudi. Belum waktunya Hedya mengetahui masalahnya yang sesungguhnya. Ada saatnya nanti.
###
"Kita ngapain ke sini?"
Sean tersenyum dan menggenggam tangan Hedya masuk ke dala wahana bermain.
Banyak sekali permainan di dalam sana. "Salah satu keinginan kamu, ke amusement park, iya kan?" Hedya menyunggingkan senyumnya dan mengangguk.
Permainan pertama. Sudah pasti roaller coaster. Hedya menarik tangan Sean untuk segera mengantri. Karena ini hitungannya masih hari biasa, jadi tidak seramai hari libur. Lagipula, sekarang langit sudah menjelang sore.
"Eh. Senyum dikit kek, elah," ujar cowok yang duduk di belakang mereka. Sean dan Hedya terkekeh melihat cowok yang duduk di belakang itu seperti didiami oleh ceweknya. Tapi mereka serasi. Sama-sama cakep.
Dan permainan dimulai.
Dari satu permainan ke permainan lain. Mereka berdua seperti tidak ada lelahnya. Sampai langit berubah menjadi gelap dan rintik air mulai turun, barulah mereka berhenti. Berlindung di dalam mobil. Dan untungnya, mobilnya tidak terparkir terlalu jauh dari pintu masuk. Jadi tubuh mereka tidak terlalu basah. Lagipula tadi mereka sempat menutupi dengan jaket yang dipakai Sean.
"Nih, keringin rambutnya yang basah." Sean memberikan handuk keci yang selalu ia taruh di kantung kursinya, dan juga jaket cadangan. Karena dia suka diajak main basket dadakan, jadi dia menyiapkan handuk kecil untuk cadangan. dan juga kaus erta jekat cadangan.
Hedya menerimanya dan megeringkan ujung rambut basahnya yang tidak sempat terkena air hujan. "Baju kamu basah tuh, Yan. Nih pake aja jaketnya."
Sean menggeleng. "Gak usah. Aku ada baju ganti kok." Ya, kaosnya basah, karena Sean tadi lebih mementingkan tubuh Hedya daripada tubuhnya sendiir. Jadilah kausnya basah.
Sean mengambil kaos gantinay dan berniat membuka kaos basahnya saat Hedya memukulnya. "Disini ada cewek yaampun."
"Nanti juga ada waktunya kamu liat semuanya," ujar Sean mengerling iseng. "Yauda kamu tutup mata kamu dulu."
Hedya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, yang membuat Sean merasa lucu saat melihatnya. Sean buru-buru mengganti baju nya dan membuka kedua tangan Hedya.
Hedya terdiam saat mendapati wajah Sean yang sudah berada dekat di depan wajahnya. Hedya menutup matanya, membuat Sean terkekh dan mengecup kening Hedya penuh sayang. "Ngapain tutup mata, sayang?" Hedya membuka matanya dan melihat Sean yang sudah menjauh dari wajahnya, sedang terkekeh.
Wajahnya terasa panas sekali sekarang. Ia memalingkan wajahnya malu, tak berani melihat Sean.
"Hed."
Masih tak mau berpaling dari jendela mobil Sean.
"Hed."
Dia malu sekali sampai tak mau menatap wajah Sean.
"Hedya. Nengok dong."
Ia menoleh dengan kedua tangannya yang kembali menutup wajahnya malu.
"Buka ilah tangannya. Ngapain Sean ngeliatin tangan kamu?" Sean membuka tangan Hedya, tapi dia masih menutup matanya. Wah, sejak pacaran sama Sean, Hedya bukan lagi Hedya yang dulu. "Tangan itu gunanya digenggam." Sean menggenggam erat tangan Hedya erat. "Kayak gini."
Hedya memberanikan diri membuka matanya dan tersenyum.
Cup!
Sean mengecup kilat bibirnya, membuat wajah Hedya yang tadinya sudah panas, menjadi lebih panas lagi. "Kalo Mama tau aku udah cium kamu lebihd ari sekali, Mama pasti bisa suruh aku tidur di luar rumah," kata Sean memecah keheningan.
"Pulang."
"Hm?"
"Pulang sekarang."
Sepertinya Hedya akan malu untuk menemui Sean lagi untuk beberrapa hari. Ah, ada apa dengan dirinya. Ia merasa seperti anak kecil. Jadi sering ngambek dan malu.
Inikah efeknya kalau sudah punya pacar?
###
"Dari mana saja kamu?"
Sean hampir saja melompat saking kagetnya. rumahnya sudah dimatikan lampunya, kecuali lampu kecil di sudut-sudut ruangan. Ia mendengus mendapati nenekny sedang duduk di ruang keluarga.
Ia melengos pergi begitu saja. "Bukan urusan Oma."
"Kalau kamu masih jalan sama cewek itu juga, jangan salahkan Oma kalau Oma sendiri yang turun tangan untuk memisahkan kalian berdua."
Emosi Sean sudah tersulut. Rasanya ia ingin berteriak pada Omanya. Tapi dia masih memandang Omanya tersebut. "Bukan Oma yang berhak menentukan pasangan untuk Sean," ujarnya menahan emosi dan berusaha bicara senetral mungkin. daripada ia meledak disini, Sean memilih untuk berlari masuk ke kamarnya.
Bersyukurlah ia, kalau waktu itu ayahnya sempat memasangkan samsak dikamarnya. Ia bisa memelampiaskan amarahnya disana.
Marah? Tentu saja. Siapa juga yang tidak marah. Tapi ia tentu saja tidak bisa berteriak marah pada Omanya, karena itu adalah orangtua Papanya, dan lebih tua dari Sean.
Apa yang harus dia lakukan sekarang?
###################
31 December 2017
sudah dipenghujung tahun 2017 kawan-kawan. gak berasa ya? gue nulis ini 2 tahun ga selesai-selesai juga wkwkwk tapi 2018, cerita ini akan gue selesaiin.
gue mau minta maaf kalo gue kadang suka gak tepat janji buat update wkwkwk kadang gue juga suka ingkar janji wkwkwk
maafkan gue ya atas semuanya.
maafkan kelakuan Brian dan Ion yang kadang juga suka nyebelin.
maafkan cerita ini yang kadang suka gak jelas, gak masuk akal, gak nyambung sama ceritanya wkwkwkwk
jadi, tulis dong harapan kalian di tahun 2018 nanti. disini, inline comment wkwkwk
gue tau ini kecepetan, tapi, gue mau ucapin,
SELAMAT TAHUN BARU 2018
semoga blueprint yang kalian buat, bisa tercapai di 2018!!
HAPPY NEW YEAR SEMUANYAAA🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro