Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

05

Hedya memberikan helmnya pada Sean dan langsung ngacir masuk ke rumahnya. Tak berkata apa-apa lagi pada Sean. Sean terkekeh dan pulang.

"Woi, bocah. Sini lu," panggil Nevan. Hedya mencebikkan bibirnya.

"Apaan?" tanyanya malas.

"Abis kemana lu? Baru pulang jam segini. Bukannya kasih kabar, si Oma ampe panik tau gak, lu gak pulang dari tadi siang. Kasih kabar kek kalo mau kemana gitu," omel Nevan sambil menjitak kepala adiknya itu.

"Iya-iya. Maap. Gue tadi abis jalan sama Sean-"

"Hah? Lu bisa jalan sama cowok juga, Hed?" ledek Nevan pada adiknya itu. Karena selama ini, Hedya tidak pernah mau yang namanya pergi sama cowok. Engga setelah kejadian 3 tahun yang lalu.

Hedya mendelik dan berkata, "Gak suka aja lu, Kak. Udah gue mau ke kamar dulu. Dah."

Selesai ganti pakaian, Hedya memilih untuk tidur. Hari ini sangat melelahkan baginya.

Kilasan balik mulai terputar di dalam kepalanya. Mulai saat Sean yang mengingatkannya kalau mereka ada jaji berdua, ditarik ke parkiran motor, di taman, bahkan saat tadi dia diantar pulang.

Dan ingatannya terpaku pada saat Sabrina, si anak kecil yang malang, dipukul dan diomeli Mamanya. Hedya tak habis pikir, kenapa bisa ada ibu yang seperti itu.

Flashback on.

Hedya kecil menarik-narik ujung kaus yang dipakai oleh kakaknya itu. Nevan menoleh ke bawah untuk melihat adiknya. "Kenapa?"

"Kakak, Hedya bosen," katanya pelan sambil menunduk.

"Yauda, kita pergi ke taman bermain saja, mau?" ajak Nevan. Mendengarnya, Hedya yang tadinya menunduk langsung mengangkat kepalanya dan menatap kakaknya dengan mata yang berbinar.

"Benarkah?" Nevan mengangguk.

Tapi, Hedya langsung menunduk lagi, membuat Nevan bingung. "Kenapa, Hed? Tadi bukannya seneng?"

Hedya menggeleng pelan. "Engga. Hedya gak jadi bosen deh, Kak. Nanti kalo Hedya bosen, terus kita pergi ke tempat bermain, Hedya dipukul Mama lagi," lirihnya sembari memainkan jarinya.

"Gak apa-apa. Nanti Kakak minta ijin dulu ya ke Mama. Kamu tunggu sini." Nevan berjalan kearah Mamanya yang tengah sibuk bercengkerama dengan teman lamanya di belakang mereka.

Mereka sedang duduk di cafe, menemani ibundanya yang sedang bertemu teman lamanya. Hedya dan Nevan duduk di kursi belakang Mamanya. Jadi mereka hanya dibatasi oleh kursi. Beda meja.

(Ngerti kan ya? Hihi)

Tak lama, Nevanpun kembali. "Ayo, Hed."

Hedya menggandeng tangan kakaknya sambil tersenyum. Keluar cafe dan berjalan ke taman bermain tidak memakan waktu yang lama. Karena lokasi tamannya tidak jauh dari cafe tadi.

Banyak anak-anak yang bermain disana, ditemani oleh orangtuanya. Garis bawahi kata orangtuanya. Ya, bersama Ayah dan Ibu. Hari ini adalah Hari Libur Nasional. Seharusnya Nevan dan Hedya juga seperti itu. Tapi, ayahnya lebih memilih untuk terbang ke Australia untuk meeting dadakan disana.

Hedya hanya bisa teraenyum pahit melihat banyaknya keluarga bahagia yang ada disana. "Hed?" Hedya menoleh.

"Katanya mau main. Ayo kita main." Hedya mengangguk mantap.

Mereka berdua bermain dengan senyuman bahagia yang tertera di wajah mereka.

Hingga mamanya datang, dan memukuk Hedya. "Kamu ini! Memang kamu sudah besar hah? Main pergi seenaknya saja. Kamu tau gak kalo kamu bisa hilang?"

Hedya yang masih kecil hanya bisa menangis. "Maaf, Ma," lirihnya.

Nevan memeluk adiknya itu dan menenangkannya. "Mama. Kan tadi Nevan sudah ijin sama Mama untun pergi ke taman bermain. Kenapa Hedya juga diomelin? Dipukul lagi."

"Nevan. Kamu jangan membela adik mu itu. Dia pantas untuk dihukum."

"Tapi engga di depan orang juga."

Lalu Nevan membawa adiknya itu pulang. Diantar siapa? Tentu saja supirnya.

Flashback off.

Ting!

Notifikasi masuk ke hapenya. Membangunkan ia dari tidurnya. Dia belum sepenuhnya tertidur, istilahnya tuh, tidur ayam.

Sean: Oi!

Hedya: ?

Sean: Gak nangis lagi, kan?

Hedya: Yakali

Sean: Pendek amat jwbnya --"

Hedya: Suka-suka gue. Ngapain sih nge-line?

Sean: Suka-sukq hue jufa.

Sean: *suka-suka gue juga.

Hedya: Belajar ngetik dulu sana baru nge-line.

Sean: Songong --"

Hedya: Bodo

Ya, setidaknya mood kembali baik lagi karena Sean.

Sean: Hed.

Hedya: ?

Sean: Hed.

Hedya: Apa?

Sean: Hed.

Hedya: Apaan sih?

Sean: Hed.

Hedya: Tae. Apaan?!

Sean: Cantik deh.

Blush

Padahal dia sudah sering dibilang cantik, tapi kenapa kalo Sean yang bilang, pipi dia terasa panas?

Hedya: Jelas --"

Sean: Wkwk

Hedya: Kenapa sih? Gak penting kan? Udah gue mau tidur.

Lebih baik ia menghentikkan percakapan ini daripada dia dibuat baper terus.

"Dek." Nevan ngelongo ke dalam kamar dan dijawab dengan satu alis terangkat di wajah Hedya.

"Kenapa?"

"Gapapa. Mau cao gak? Bosen nih gue," katanya. Dan dengan seenaknya, Nevan berbaring di kasur Hedya.

"Mau cao kemana? Udah malem kali."

"Yahh, kemana kek. Kita kan udah lama gak quality time. Ikut gak?"

Hedya mengangguk dan mengganti pakaiannya.

Setelah Hedya naik ke motor, Nevan langsung menggas motornya menuju suatu tempat.

#SEVENTEEN#

"Kak. Tempat ini .." Hedya menatap kakaknya sendu.

Nevan menatap balik adiknya. "Inget, kan?"

"Kenapa lu bawa gue kesini?! Lu tau gue benci taman ini, Kak. Lu tau itu." Air mata mulai menumpuk di pelupuk mata. Kenangan pahit mulai terputar dibenaknya.

"Gue cuma-"

"GUE GAK BUTUH BANTUAN LU BUAT LUPAIN HAL ITU, KAK. KARENA SAMPAI KAPANPUN GUE GAK AKAN BISA MELUPAKAN KEJADIAN ITU," bentaknya.

Hedya susah payah menahan tangisnya. Mau dicoba sesusah apapun, kejadian itu sudah terlaku melekat di dalam benak dan hatinya. Ia sudah pernah mencoba untuk melupakan itu, tapi tak bisa.

"Hed! Setidaknya lu harus coba buat maafin Mama. Lagipula, ini hanya tempat, gak ada gunanya lu benci ama tempat ini." Hedya menggeleng. Kakaknya tidak mengerti.

"Lu gak ngerti, Kak. Lu gak ngerti. Lu gak tau gimana sakitnya dipukulin Mama hanya karena kesalahan kecil. Lu gak tau malunya gimana saat diomeli dan dipukul Mama di depan banyak orang. Karena lu, lu selalu disayang sama mereka."

"Hed-"

"Sampai kapanpun, kehadiran gue gak akan pernah diakuin di keluarga ini. Gue cuman biang masalah. Dari gue masih di kandungan, gue emang udah gak diinginkan. Gue sadar itu, Kak. Hanya Oma dan elu yang nerima gue."

"Hed-"

Hedya mengangkat tangannya menandakan cukup. Tanpa mau mendengar kata-kata kakaknya lagi, Hedya berlari tanpa arah.

Air mata yang sedari tadi ia tahan, sekarang turun begitu saja.

Brugh!

"Kalo jalan pak- elu?" Hedya buru-buru menghapus air matanya.

"Maaf. Lu kenapa nangis, Hed?"

Hedya mendelik dan menatap tajam orang didepannya. "Lu ngapain kesini? Gak usah sok peduli sama gue."

"Hed. Gue emang peduli sama lu."

"Cih." Hedya hendak pergi dari sana kalau saja orang itu tidak menariknya kedalam pelukan.

Hedya tersentak kaget dan memukul-mukul dada itu berkali-kali. Air mata yang tadinya sempat berhenti, sekarang mengalir lagi. Membasahi baju orang yang memeluknya.

"Kenapa? Kenapa lu balik lagi? Kenapa lu harus balik lagi disaat gue ingin melupakan elu," lirihnya. Pukulan yang tadi dilemparkan Hedya, sekarang berubah dengan eratnya pelukan Hedya pada tubuh orang itu. Takut jika orang itu pergi lagi.

Yovan membalas pelukan Hedya dengan lebih erat. "Maaf. Maaf karena aku pergi begitu saja. Maaf aku pergi tanpa memberi tahumu."

Hedya terisak dan menatap Yovan tepat di manik matanya. "Kamu jahat."

"Maaf." Hanya satu kata dan kecupan di keningnya, Hedya seperti melupakan apa yang sudah terjadi.

2 Agustus 2016

Update yey. Maafkan daku, updatenya lama. Maaf sekali. Disibukkan dengan tugas kelas 12. Maafkan yaa(?) Oke oke. Gue gak mau ngomong panjang-panjang. Vommentnya jangan lupa ya.

Makasihh muahh wkwk

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro