Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

03

Hedya mengeluarkan semua isi tasnya dan melempar tasnya kesembarang arah.

Ia mengubrak-abrik barang-barangnya, mencari sesuatu. Rasanya ia tadi sudah memasukkannya di dalam tas. Tapi kemana barang itu sekarang.

"Arghh! Kemana sih tuh hape. Aduh elah." Hedya mengacak rambutnya gusar.

Lalu, Nevan masuk ke kamarnya Hedya. Dia menaikkan kedua alisnya seakan berkata -napa-lu?-

Hedya menatap kakaknya sinis. "Apa lu? Ngapain lu kesini? Mau gangguin gue lagi? Mendingan lu keluar sono sekarang ye. Gue lagi gak mood buat digangguin elu," geramnya sambil mendorong-dorong Nevan.

"Wowowow selaw, Dek. Lu napa sih? Sampe isi tasnya lu acak-acakin gini."
Hedya duduk diatas kasurnya dan menghela nafasnya kasar. "Hape gue ilang. Lu liat kaga?" Nevan menggeleng.

"Coba lu inget-inget terakhir lu taro dimana?"

Hedya mencoba mengingat kembali, dan ..

"Oh iya. Waktu di restoran gue taro diatas meja. Dan .. dan gue tinggal di atas meja. Astaga, Hedya. Lu ceroboh banget dah," katanya lrbih ke dirinya sendiri.

Nevan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tok tok tok

"Masuk." Lalu Bi Amah masuk.

"Kenapa, Bi?" tanya Nevan.

"Anu, itu, Den. Ada yang nyari Non Hedya."

"Bilang Hedya gak terima tamu dulu," kata Hedya.

"Dek. Tamu tuh disambut. Bukan diusir. Gimana sih lu." Nevan menggelengkan kepalanya dan menoleh ke Bi Amah. "Udah, Bi, langsung suruh ke kamar Hedya aja."
"Baik, Den."

"Elu sih, Dek. Ceroboh banget."

"Ehem!" Hedya dan Nevan otomatis menoleh kearah suara.

Hedya menatap sengit orang yang dibilang adalah tamunya Hedya. "Mau ngapain sih lu disini? Lagi gak mood tau gak sih buat ladenin elu."

Orang itu berjalan mendekat ke arah Nevan dan Hedya. "Bukannya lu cari ini?" tanyanya sambil menacungkan barang berbentuk persegi panjang itu keatas.

Hedya membulatkan matanya saat tau bahwa hapenya ada di orang itu. "Sean! Balikin hape gue." Hedya berdiri berusaha buat menggapai hapenya yang diacungkan Sean tinggi-tinggi. Sementara mereka sedang beradu, Nevan diam-diam undur diri dari kamar Hedya.

Sean mengeluarkan senyum smirknya. "Mau? Coba ambil. Makanya jangan pendek-pendek."

Hedya sampai loncat-loncat untuk menggapainya dan tak sadar kalau ada tas yang dilemparnya tadi di depannya.

Brugh!

Hedya menubruk tubuh Sean karena tersengkat oleh tasnya sendiri. Mereka berdua sampai jatuh ke lantai. Mata bertemu mata, hening tak ada yang membuka suara.

Rasanya waktu seperti berhenti.

"Udah puas liatin guenya?" Hedya mengerjapkan matanya dan berdiri.

"Ap-apaan sih lu. Eng-engga. Gue gak liatin elu. Pede gila lu. Siniin udah hape gue. Iseng banget sih."

"Gue kasih kalo lu mau ikut gue besok sepulang sekolah." Hedya mengernyitkan dahinya.

"Ikut kemana?"

Sean mengendikkan bahunya dan tersenyum. "Rahasia. Mau gak? Kalo gak ya gak gue balikin hapenya."

Hedya menimang-nimang apakah ia akan setuju atau tidak. "Oke. Gue ikut. Sini balikin hape gue." Sean tersenyum dan mengembalikkan hapenya ke Hedya.

"Udah, kan? Sono lu keluar." Hedya mendorong-dorong tubuh Sean keluar.

Lagi-lagi Sean tersenyum. "Iya-iya. Sampe ketemu besok, princess." Sean mengacak rambut Hedya gemas dan berbalik pergi. Meninggalkan Hedya yang terpaku dikamarnya sendiri dengan wajah yang sudah semerah tomat.

"Dia gak liat itu kan?" gumamnya. Hedya menggeleng. "Gak mungkin, gak mungkin."

Tapi tak bisa dipungkiri, Hedya tersenyum karena Sean.

##

Sean senyum-senyum sendiri di kamarnya. Membuat kedua sobatnya itu, si Brian dan Ion kunyuk, jadi bingung sendiri.

Ion melempar keripik kentang ke Sean, membuat Sean menatap Ion garang. "Yon, kotor. Entar gue diomelin Mama kalo gini."

Ion tidak peduli dan tetap melempar keripik kentangnya ke Sean. "Yon. Gue pites pala lu ye."

Ion mengendikkan kedua bahunya dan berhenti melempar. "Lu napa adah, Sean? Aneh banget. Masa senyum-senyum sendiri. Kayak orang gila aja."

Mendengarnya, Sean kembali tersenyum. "Ada deh. Gue udah ngelancarin aksi gue. Dan gue udah ketemu cara biar Hedya bisa suka sama gue." Ion dan Brian langsung pandang-pandangan.

"Gimana caranya?" tanya Ion. Sean hanya membalasnya dengan senyum misterius yag penuh kerahasiaan, membuat kerutan di dahi Ion dan Brian semakin dalam.

Mereka sekarang hanya bisa berharap Sean tidak melakukan hal yang salah, yang membuatnya menyesal.

"Eh. Lu berdua gak pulang?" tanya Sean.

Ion menaikkan alisnya, "Lu ngusir kita ceritanya? Oke. Ayo, Bri. Kita balik, udah diusir sama TUAN RUMAH." Sengaja Ion tekankan kata 'tuan rumah' untuk menyindir Sean.

Sean terkekeh melihat tingkah temannya yang baperan itu. "Elah. Baperan amat dah lu," ejek Sean sambil melemper bola basket ke Ion. Brian tertawa melihat tingkah kedua temannya yang seperti anak kecil ini.
"Udah udah. Yon, ayo, tadi katanya mau pulang. Duluan ye, Sean." Sean mengangguk.

Sepeninggalan mereka, Sean langsung berkutat dengan hapenya.

Sean: Hedya

Sean: Princess

Sean: Eh cewek

Hedya: ?

Sean: Buset singkat amat tuh balesannya.

Hedya: Apaan sih?

Sean: Engga napa-napa. Udah malem. Udah jam 11. Lu gak tidur?

Hedya: Entar

##

Hedya: Entar

*read

Hedya mendengus kesal. "Tadi nih orang yang mulai chat. Sekarang malah di read doang. Emangnya koran apa?"

Hedya langsung melempar hapenya ke sampingnya.

Lalu hapenya bergetar. Membuat Hedya kembali mengambil hapenya dengan malas.

Sean's calling

Hedya langsung membulatkan matanya dan menggeser tanda telepon hijau itu.

"Apa lu?!"

"Jangan jutek-jutek dong, princess. Entar akunya kabur loh. Nanti kamu sendirian."

Tak bisa dipungkiri, Hedya memang senang dipanggil Princess, itu masuk di salah satu wishlistnya. Tai di saat bersamaan, dia juga kesal karena digombalin sama Sean yang notabenenya adalah playboy cap kapak di sekolahnya.

"Gak usah kepedean lu. Ngapain sih telpon telpon?"

"Gapapa. Kangen aja denger suara lu. Udah malem nih. Gak tidur?"

"Dibilangin, entar lagi."

"Tidur gih. Udah mau tengah malem luh. Entar sakit."

Blush

Sean sukses membuat pipi Hedya bersemu merah hanya dengan perhatian kecil lewat telepon, bukan, lebih tepatnya lewat line freecall.

"Gak usah sok perhatian! Gak usah ngegombal juga! Gak suka!" geramnya menutupi rasa saltingnya.

"Engga sok perhatian kok. Engga gombal juga. Tidur gih. Entar sakit."

"Entar aja."

"Yaudah. Gue nyanyiin deh. Tapi abis itu lu tidur ya."

Hedya mengernyitkan dahinya. Mendengar seorang Sean nyanyi? Gak boleh dilewatkan. Urusan nyanyi, Sean selalu kabur. Entah kenapa.

"Hed?"

"Ah? Iya."

"Yaudah. Tapi abis itu tidur ya?"

Hedya mengangguk walaupun tau kalau Sean tidak bisa melihatnya.

"Kau dan Aku tercipta oleh waktu
Hanya untuk saling mencintai
Mungkin Kita ditakdirkan bersama
rajut kasih jalin cinta

Berada dipelukanmu
mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta

Berdua bersamamu
mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta

Kau dan Aku tercipta oleh waktu
Hanya untuk saling mencintai
Mungkin Kita ditakdirkan bersama
merajut kasih menjalin cinta

Reff:
Berada dipelukanmu
mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta

Berdua bersamamu
mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta

Tak pernah terbayangkan olehku
Bila kau tinggalkan aku
Hancurlah hatiku musnah harapanku sayang

Berada dipelukanmu
mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta

Berdua bersamamu
mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta"

Rizky Febian - Kesempurnaan Cinta

Hedya menelan liurnya susah payah. Bagaimana Sean bisa tau ini? Tak mungkin Sean melihat daftar keinginannya.

"Hed?"

"Apa?"

"Goodnight, Princess. Tidur yang nyenyak ya. Mimpi indah. Sampe ketemu besok."

Lagi-lagi Hedya dibuat terdiam oleh Sean dengan kata-katanya yang tidak langsung.

"Iya." Tak sanggup mendengar yang lain lagi, Hedya memilih untuk lebih dulu memutuskan panggilan.

Deg deg deg

Hedya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. Tangannya bisa merasakan betapa cepatnya detak jantungnya di dadanya itu.

"Gak mungkin. Gak mungkin. Pasti dia cuma main-main. Cuma kebetulan. Hedya, wake up!"

Tapi, perhatian, panggilan Princess, dinyanyikan lagu kesempurnaan cinta, itu semua beberapa dari wishlistnya.

Hedya menepuk-nepuk pipinya sendiri dan memilih untuk tidur.

Berbeda dengan Sean yang sekarang sedang senyum-senyum sendiri di kamarnya. "Bentar lagi."

##

Suasana di ruang makan sepi sekali. Ya iyalah, sepi. Yang makan cuma bertiga. Oma Linda, Hedya dan Nevan. Tak ada orangtua. Hedya sudah menganggap kedua orangtuanya sudah mati.

"Permisi, Nyonya, Den, Non. Eh, anu, itu ada tamu."

"Siapa, Bi?" tanya Hedya.

"Itu, yang kemaren dateng."

Nevan langsung tersenyum, sedangkan oma bingung. "Jangan sur-"

"Suruh masuk aja, Bi." Omongan Hedya terpotong oleh Nevan. Nevan yang dipelototi hanya terkekeh dan mengangkat kedua bahunya.

Sean masuk dengan senyuman lebar. "Pagi semuanya. Pagi, Oma." Sean membungkuk hormat.

Nenek hanya tersenyum dan mempersilahkan Sean untuk duduk. Dan Sean memilih untuk duduk di samping Hedya.

Hedya hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Suasana ruang makan yang tadinya sepi, jadi rame karena kedatangan Sean.

"Yauda deh, Oma. Hedya mau berangkat dulu ya. Pamit pergi dulu, Oma." Hedya berdiri dan berlalu begitu saja, tapi langkahnya berhenti begitu ada yang mencekal tangannya. Hedya melototi tangan yang mencekalnya tersebut.

"Lepasin gak?!"

Sean menggeleng dan menoleh ke arah Oma. "Oma, saya pamit dulu ya. Ngaterin Tuan Putri saya. Tenang aja, Oma, saya bakal tiap hari kok kesini. Tenang, tenang. Yauda, Oma. Saya ama Hedya pamit pergi dulu." Sean menjnduk lagi dan tersenyum lalu mengajak Hedya keluar.

Oma Linda hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum, begitupun dengan Nevan. "Itu tadi siapanya Hedya, Van?"

"Calon cowoknya kayaknya."

Nenek menanggapi hal itu dengan senyuman lagi. Ia hanya berharap yang terbaik buat Hedya.

23 Juni 2016

Yeyeye. Belum ada adegan bapernya ya? Iya belum. Tunggu aja ya wkwk

Vommentnya boleh kali ya(?)

Okelahh. Makasih buat para readers wkwk lopyuol lahh muah :*

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro