[46] Titik Akhir Perjuangan
Komentar yang seru yaaa hahhahaha
❤❤❤
Aqila berlari menjauh setelah Lian mengucapkan talak untuknya. Lian menyusul kemudian menarik tangannya. "Aqila." Tangan Lian disentakkan. Mata Aqila mulai memerah hingga kelopak bawahnya.
Lian terlihat tak acuh lalu melanjutkan kata-kata yang terpenggal, "Mulai hari ini aku menceraikanmu. Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi baik di mata agama maupun di mata hukum karena pernikahan kita yang telah lalu tidak ada kekuatan hukumnya. Pergilah," pungkas Lian.
Setelah itu, Aqila benar-benar pergi. Pelan aku maju ke hadapan Lian. Tanganku begitu ringan untuk melayangkan telapak ke pipinya. Lian hendak menyentuh bahuku tapi aku segera menangkisnya.
"Tadi siapa yang mengatakan tidak akan melepaskan satu di antara kami? Lalu yang itu barusan apa?! Kamu yang egois di sini!"
Lian baru saja melepaskan Aqila. Dia menceraikan Aqila tepat di depanku.
Aku berlari kecil ke luar mencari di mana Aqila. Lian menarik tanganku saat aku telah berada di atas sepeda motor.
"Wi, kamu lagi hamil. Turun!"
"Lepaskan tanganku!" kataku mengempaskan tangan Lian lalu melajukan sepeda motor.
Kurasa Aqila belum jauh. Kompleks perumahan kami memiliki beberapa polisi tidur yang tidak bisa dilalui kendaraan dengan kencang.
Itu mobil Aqila!
Kugas sepeda motor untuk menambah kecepatan hingga aku bisa bersisian dengan mobil Aqila. Aku menekan klakson kuat-kuat, tapi justru menyebabkan Aqila mempercepat laju. Aku pun tidak ingin usaha ini sia-sia lalu kudahului mobilnya dan berhenti di depan. Dia nyaris menabrakku jika tidak mengerem kuat.
Aku pun turun dan mengetuk kaca jendela mobil.
"Siwi! Kamu tahu apa hal yang paling kusesali dalam hidup?!" tanya Aqila begitu ia keluar. "Melepaskan Lian untukmu. Menyerahkan Lian yang pura-pura tidak mencintaimu. Menerima Lian hanya karena keinginannya untuk menepati janji menikahiku.
Kamu tidak akan pernah memahami apa yang terjadi sebab kamu hanya tahu Lian mencintaiku. Lian menikahimu atas permintaanku. Omong kosong, Siwi! Karena aku yakin, tanpa kulepaskan pun dia akan selalu menginginkan dirimu.
Dia sumber sakit hatiku yang bodohnya aku sangat mencintainya. Aku pura-pura tidak tahu jika selama ini dia hanya memikirkan dirimu, Siwi! Kalian sangat senang menyakiti. Dan bagi kalian, kalianlah yang korban sementara aku dalang. Puas, Siwi? Kamu sudah puas? Kamu satu-satunya istri Lian sekarang, kuat, di mata hukum dan agama!"
Aku ingin bicara tapi satu kalimat pun tak terucapkan. Jika aku bicara sedikit saja, kurasa hanya akan terdengar seperti membela diri sendiri. Aku tak mau jika nanti justru kalimatku terdengar menyalahkan Aqila.
"Siwi!"
Lian menyusul kami. Dia telah mengeluarkan kemejanya dari balik pinggang celana. Kerutan halus tampak di ujung kemeja putihnya.
"Kamu berlari?" tanyaku saat melihat keadaan Lian yang berkeringat.
"Ya, karena kamu bawa motor."
Lian menaiki sepeda motor dan menghidupkan mesinnya. Aku baru saja ingin berbicara dengan Aqila sebelum kurasakan tanganku ditarik paksa olehnya hingga kakiku terseret beberapa meter ke jalanan besar. Yang bisa kurasakan hanyalah rasa sakit di permukaan perut ketika tubuhku mendarat begitu cepat ke aspal akibat dorongan Aqila.
Setelah mendorongku, Aqila menjerit kepada Lian yang datang mencekal tangannya dengan emosi mengerikan. Mereka saling menuding dan membentak tapi sayang tidak satu pun tertangkap oleh otakku. Aku merasa bagai ditusuk tombak berkarat. Semua rasa sakit yang belum pernah kurasakan bagai menjalar ke seluruh tubuh sampai-sampai aku berkeringat. Ternyata bukanlah keringat tapi darah.
Suara-suara bentakan Lian semakin membuatku pusing. Lalu dalam detik yang tidak bisa kukira, sebuah klakson nyaring dan pekikan memekakkan telinga. Kejadiannya cepat sekali hingga meluruhkan jantungku. Di depan mataku, tubuh Aqila dihantam oleh sedan merah menyala.
Semuanya terasa mengabur. Kesadaranku seolah terenggut setelah melihat Lian membawa Aqila yang berlumuran darah ke mobil. Ia segera meninggalkan tempat ini sebelum banyak orang mendatangiku.
Dalam keremangan penglihatan, aku dapat menyaksikan Aqila yang sedang tertawa dengan seragam SMA. Dia yang sangat cantik dan idola di sekolah saat itu datang menyapaku pertama kali. Dia ulurkan tangan dan menyebutkan nama. Dia selalu menemuiku di kelas mau pun di rumah karena ternyata kami bertetangga. Dia pernah ikut membantuku bersembunyi dari Lian. Namun, dia jugalah yang memilihkan baju ketika aku akan keluar setelah jadian dengan Lian. Dia mengubah penampilanku dari upik abu menjadi putri ketika Lian mengajakku keluar di malam minggu.
"Sial!" ucap suara yang begitu kukenal.
Aku berupaya membuka mata dan mendapati Gara menghardik orang-orang yang mengerumuniku.
"Kalian pikir ini tontonan?!" bentaknya sebelum mengangkat tubuhku ke mobilnya sendiri. "Jangan pingsan, Siwi! Kamu harus tetap sadar!"
Bisa kurasakan mobil Gara bergerak meninggalkan jalan raya di mana Aqila mengalami kecelakaan. Perlahan-lahan semua suara lenyap meninggalkan kekosongan. Aku ingin melupakan kejadian hari ini. Mungkin tidur bisa membantu. Setelah membuka mata nanti, aku harap semua ini hanya mimpi.
***
Rasanya aku memiliki tidur yang cukup panjang dan lelap. Saat aku membuka mata, tenang melingkupi hatiku. Gradasi warna hijau dan putih yang sangat menarik menjadi pemandangan pertama. Teduh dan sejuk hingga aku merasa rileks. Namun, ada yang mengganggu dari segala keelokan itu. Aku merasakan sakit di bagian perut dan membuatku meraba bagian itu.
Gara segera mendekatiku ketika aku menjerit. Dia pegang tanganku yang ternyata ditusuk oleh jarum infus.
"Hey, tenang tenang. Ada apa, Siwi?"
Di balik wajah tenangnya, kutangkap raut khawatir. Alih-alih penuh kepanikan, ia bersikap seolah baik-baik saja.
"Anakku? Bagaimana bisa aku tidak hamil lagi? Mana dia, Mas Gara?"
Lelaki itu mencuri kesempatan untuk mengusap kepalaku. Aku segera menjauhkan tangannya yang lancang itu.
"Ada tuh di sana. Kamu ingin melihatnya?"
Aku mengangguk.
"Ya Tuhan, benarkah ini? Aku telah melahirkannya? Bagaimana bisa? Aku bahkan baru bangun tidur dan mendapati perutku rata."
"Tapi aku takut, Nyonya. Bagaimana kalau aku panggil suster dan menyuruh mereka membawakan bayimu?" Gara meringis dan menggaruk pelipisnya. Dan itu benar-benar style Gara, bukannya meminta tolong tapi dia mengatakan akan 'menyuruh'.
"Ya sudah. Tolong panggilkan."
Sebelum Gara datang dengan suster, pintu kamarku terbuka. Kedua mertuaku masuk dengan tergesa-gesa. Mama Nora memeluk dan mencium seluruh wajahku. Wajahnya bersimbah air mata. Sementara Papa Juan di samping Mama mengusap puncak kepalaku.
"Siwi, maaf karena Mama dan Papa baru datang sekarang. Mama malu sekali telah mengabaikan kamu. Maaf, Nak, maafkan Mama."
Kucari-cari dan kunanti kedatangannya di belakang mama. "Lian di mana, Ma?"
Mama mengusap kepalaku bagai permintamaafan. Papa kini duduk di tempat mama setelah menyentuh pundak mama agar mama beranjak.
"Jangan tanyakan anak itu. Mulai sekarang, yang anak Papa hanya kamu."
"Apa maksud Papa?"
"Setelah keluar dari rumah sakit, Papa akan bicarakan hal itu. Sekarang, kamu harus segera pulih dan sehat seperti semula."
Mama Nora mengambil bayiku, menimangnya sambil mengajak bicara.
"Ini susternya, Nyonya," kata Gara begitu tiba di sebelah ranjangku.
Mama dan papa memberi jarak dari tempatku berbaring. Kurasa Garalah yang memberikan kabar persalinanku kepada mereka sehingga ia tidak kaget melihat kehadiran kedua mertuaku. Gara menyingkir ke bangku sofa di dekat pintu. Suster melakukan pengecekan singkat. Setelah semuanya selesai, ia meninggalkan kamar rawat.
"Mama, anak Siwi laki-laki atau perempuan?"
Mama Nora membawa bayiku mendekati tempat tidur hijau ini. "Perempuan, Siwi, anakmu perempuan. Persis seperti kamu, dia sangat cantik."
Mama menyerahkan bayiku. Anakku terlihat begitu kecil, lembut, rapuh, dan merah. Air mataku terasa membentuk segaris halus di pipi.
" Anakku. Ya Allah, ini anakku. Dia ada. Dia bisa kupeluk. Wajahnya bisa kupana. Bibirnya yang kecil terlihat merah sekali. Dia begitu sempurna."
"Lian di mana, Mama?"
Sederet air kembali luruh menuruni pipiku ketika tak sepatah kata pun keluar dari bibir mama. Aku mengedip beberapa kali untuk menyuruh pergi si air mata. "Anak kami harus diazani. Ke mana dia, Ma?"
"Papa bisa. Dengan Papa saja. Berikan kepada Papa." Papa mengulurkan tangan meminta bayiku.
Papa Juan membawa bayiku menjauh ke dekat jendela lalu mulai menunduk ke telinganya. Segumpal duri bagaikan ingin menembus hatiku ketika ikamah mulai dikumandangkan oleh Papa.
"Siapa nama cucunya Papa?"
Duri itu akhirnya menyebabkan hatiku berdarah. Perihnya semakin menyala-nyala hingga tangisanku lepas tanpa kendali.
"Siwi belum pikirkan namanya, Pa." Ketika aku menoleh ke kanan, mataku menangkap pergerakan Gara yang berjalan tergesa keluar ruangan.
***
Seminggu telah berlalu sejak aku tinggal di rumah mertuaku. Dia belum juga datang untuk melihat anaknya. Jangankan untuk mengetahui kondisiku pascaoperasi caesar, memperlihatkan wajahnya kepada anak kami dia tidak sudi.
"Siwi."
Papa Juan menguak pintu kamar lalu berjalan ke boks bayi putriku. Papa berdiri sedikit lama di sana kemudian berpindah ke depanku.
"Angkat kepalamu," ucap Papa. "Kamu masih belum memberi nama putrimu?"
Ketika aku menggeleng, Papa mengimbuhi, "Jangan menunggu suamimu untuk melakukannya. Berilah nama yang baik, yang bisa menjadi doa untuk dirinya kelak."
Papa meletakkan sebelah tangan di pinggang dan tangan satunya melepaskan kacamata.
"Tinggallah di sini sebagai anak Papa dan mama, bukan sebagai menantu. Papa akan mengurus gugatan ceraimu untuk Lian."
***
Ada kalanya aku ingin jarum jam berhenti di sebuah angka. Biarkan waktu tetap kekal dan tidak beranjak sehingga aku tidak menyadari waktu yang kuhabiskan untuk menunggu.
Hari-hari yang kulewati untuk menanti Lian pada akhirnya membuatku jengah. Aku jadi teringat pada apa yang dia katakan tentang perceraian. Katanya, sebaiknya kami tetap mempertahankan pernikahan demi anak. Aku pun telah membujuk papa agar tidak mengurus surat perceraian. Aku masih berharap Lian akan datang. Namun, lihat apa yang dia lakukan?
Kini kesabaranku telah binasa.
Aku maklumi jika dia bersedih atas kehilangan Aqila. Oh, aku belum bercerita? Kecelakaan hari itu membuat kami benar-benar kehilangan Aqila. Kata Papa Juan, nyawa Aqila tidak dapat diselamatkan ketika tiba di rumah sakit. Dia meninggal tepat saat aku berjuang di dalam kamar operasi. Aku mengerti jika pada hari itu Lian tidak datang. Hari-hari pun berlalu, tapi dia belum juga memperlihatkan iktikad untuk menyembuhkan lukaku.
Inilah saatnya aku menyelesaikan semua. Aku akan terus menjadi orang bodoh yang menunggu dirinya jika aku tidak segera keluar dari lingkaran setan ini. Semua demi putriku. Aku harus membesarkan putriku dengan pikiran tidak dirusak oleh kesedihan memikirkan ayahnya. Sudah cukup rasanya selama ini diriku dibutakan oleh cinta dan mengabaikan kesehatan psikisku. Aku tidak ingin kondisiku berpengaruh buruk terhadap perkembangan mental putriku.
Menguatkan tekat, aku mendatangi mama dan papa yang sedang minum teh sore.
"Nama anak Siwi Leeandra Agaisha," ucapku secara tiba-tiba membuat mereka mengerutkan kening.
Mama meletakkan mug teh ke meja dan terlihat sedikit berpikir. "Lean? Lian?"
"Leeandra, Mama, artinya perempuan sekuat singa. Siwi berharap dia akan menjadi perempuan yang kuat, tidak seperti Siwi. Kita panggil dia Lea. Dan Agaisha artinya perempuan yang baik hati. Di balik kekuatannya, Lea harus menjadi manusia yang baik dalam segala segi kehidupan."
Mama mengangguk paham. "Leeandra Agaisha Wiratama," ucapnya. "Kalau begitu, kita sudah bisa mengurus penerbitan akta kelahiran Lea."
"Dan juga mengurus surat yang lain, Ma. Papa," ucapku kepada papa yang sejak tadi hanya menyimak. "Siwi sudah siap. Tolong usahakan Siwi mendapatkan hak asuh Lea."
***
Papa mendatangkan pengacara ke rumah. Dengannya kuceritakan semua masalah selama berumah tangga dengan Lian termasuk ketika dengan mudahnya Lian membentak dan menamparku di tempat umum. Yang terakhir kali—ini membuat dadaku terasa ditikam oleh besi panas—saat Lian tidak peduli padaku yang merasakan sakitnya kontraksi. Tentang rasa cemasku ketika melihat darah menggenang di seluruh tubuh. Tentang tidur panjangku ketika pisau-pisau beda membelah perutku.
Dia sama sekali tidak ingin tahu.
Setelah aku menandatangani surat kuasa, pengacara mengatakan akan menguruskan surat gugatan cerai dengan segera. Di sanalah aku mulai merasa bahwa langkah yang kuambil telah tepat. Aku sama sekali tidak merasa menyesal dan tidak takut kehilangan. Semoga inilah awal baik untuk hidup baruku bersama Lea.
"Leeandra Agaisha Wiratama."
***
❤❤❤
OKI, 19 April 2020
👏👏👏👏
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro