[43] Dia Pun Pergi
Udah la nggak up di jam kalong. Ada yang masih jaga?
"Siapa yang nelpon lagi, Jen?"
Sehabis telepon dari Gara, ponselku berbunyi lagi. Setelah melihat caller id, Jeny memutuskan panggilan tersebut.
"Eh bunyi lagi, sini Jen, mahasiswa mungkin."
"Bukan. Itu dari—Le, itu kayaknya papa anakmu udah datang deh, Le."
"Bukan, JEN! HIH, jangan bicara yang tidak-tidak, ya!"
"What ever! Aku ke depan dulu bukain pintu untuk Papa Gara."
Jeny berjalan dengan setengah antusias menghampiri pintu. Eh jika Gara di depan, mungkinkah yang meneleponku tadi adalah Lian? Untung Jeny meninggalkan ponselku di atas meja. Oh ya, aku sedang duduk meluruskan kaki di sofa panjang menyampingi televisi. Setelah berhasil menjangkau ponsel, aku segera melihat panggilan masuk pada ponsel.
Lian.
Benar Lian. Ya Allah, dia meneleponku! Begini saja rasanya aku sudah tidak kesal lagi. Haruskah aku telepon balik? Ehhm... apa dia akan mengangkat teleponku? Lalu aku harus bicara apa? Bertanya kenapa dia lupa mengajakku pulang? Ah tidak tidak. Kalau itu seperti istri yang merajuk. Aku tidak.
Eeh? Lian menelepon lagi. Aku harus menjawabnya. Aku ingin tahu Lian dimana.
"Ekhm. Lian."
"Kamu dimana?"
"SUDAH AKU BILANG, LEZYA ITU BAIK-BAIK SAJA! AKU TIDAK MUNGKIN MEMBUNUH TEMANKU SENDIRI! KAMU BEGO APA BEGO!"
Jeny mengejar Gara yang berjalan cepat ke arahku. Wajah kedua orang itu sama-sama mengeras. Mereka tersulut emosi. Sudah aku bilang, Jeny salah mengajak Gara bercanda.
"Li, aku sama Jeny. Aku tutup dulu ya, assalamu'alaikum."
Tepat saat aku meletakkan ponsel, Gara telah berlutut di sebelahku. Dia benar-benar mencemaskanku? Kenapa harus dia? Matanya yang dinaungi alis hitam lebat mencari ke dalam mataku memastikan aku baik-baik saja. Benar. Aku bisa mendengar tarikan napasnya ketika dia mengalihkan pandangan ke bawah. Kedua tanganku dia genggam.
"Kali ini aku tidak akan mengalah lagi. Dia benar-benar sudah keterlaluan kepadamu."
"Kamu maksud Lian? Bukan kapasitas kamu turut campur urusan rumah tangga kami, Mas Gara."
"Dia lelaki tidak punya otak! Masih mau dibela juga? Nyonya, kamu jangan bodoh! Dia meninggalkanmu! Kamu itu kenapa sih?!"
"Kamu yang kenapa marah-marah sama saya?" Aku tarik tanganku dari genggamanya. Jujur, volume suaranya menakutkan. Aku memalingkan wajah darinya. "Turunkan suaramu. Saya tidak suka kamu marah-marah ke saya untuk urusan yang tidak ada kamu di dalamnya. Saya perjelas, ini bukan urusan kamu!"
Gara yang kulirik tengah menjambak rambutnya. Wajahnya yang putih memerah. Daun telinganya menjadi warna pink. "Ngomong-ngomong, kenapa Mas Gara bisa tahu Lian dan Aqila ada di gedung itu?"
"Kebetulan."
Gara mengacak rambutnya lagi. Mungkin karena itu rambutnya menjadi ikal.
"Aaah!! Baik aku jujur. Aku datang ke rumahmu tadi. Kulihat Nyonya dan lelaki itu pergi. Lalu aku ikuti. Waktu kalian masuk ke gedung, aku menunggu di luar. Ternyata dugaanku tepat. Lelaki tak punya otak itu meninggalkan kamu dan pergi dengan madunya. Dan kamu hilang dari pesta! Aku mencari-carimu, Nyonya!"
"WOW. Keren!" Jeny yang terlupakan bersuara. Dia mengurai lipatan tangannya. Dia tarik kerah kemeja Gara hingga lelaki itu berdiri.
"Lezya aku bawa lari. Aku juga tidak suka melihat laki-laki tak punya otak itu—" Jeny mengerling kepada Gara, barangkali bermaksud meminjam istilah Gara untuk menyebut nama Lian, "pergi meninggalkan Lezya. Demi Tuhan, aku membencinya sejak dulu. Dia memang tak berotak, istri hamil besar ditinggal sendirian! Dia lebih pilih istri mudanya. Anj*ng memang."
Gara menggaruk-garuk rambutnya. Jangankan aku, Gara juga sepertinya shock mendengar Jeny mengumpati Lian.
"Jeny tolong disaring kata-katanya. Tidak baik bicara sembarangan di dekat anakku. Aku tak ingin anakku mendengar yang tidak-tidak karena yang kamu kata-katai itu adalah ayahnya."
"HUH!! Aku ingin memecahkan kepalamu! Aku ingin membelah kepalamu, Lezya Aurora!"
"Aku yang akan membunuhmu lebih dulu," kata Gara menaggapi Jeny. Nadanya yang terdengar santai namun mampu menambah derajat kemarahan Jeny.
"Okey. Calm down." Jeny mengambil napas lalu mengembuskan perlahan. Dia lakukan beberapa kali. "Namamu Gara? Kamu ikut aku. Aku ingin diskusi hanya denganmu."
"Kalian memutuskan berteman?" tanyaku. Jeny mendelik kesal. Gara mengangkat bahunya pertanda tak mengerti.
Jeny membawa Gara ke kamarnya. Ya ampun, ke kamar! Sepertinya, Jeny menyukai Gara. Aku harusnya tidak di sini. Lalu bagaimana caranya aku pulang? Oh iya, aku bisa memesan grab. Tapi takut. Aku tak berani di mobil bersama orang asing.
"Ibu perutang itu apa?"
Kudengar Jeny bertanya sebelum memasuki pintu kamar.
Gara berjalan di belakang Jeny. Sesekali dia masih menoleh kepadaku. Makanya dia tertinggal jauh dari Jeny. "Perusak rumah tangga orang."
Mereka menutup pintunya.
Kenapa aku harus merasa lapar sekarang sih? Aah... dengan berat hati aku harus mencari makanan di apartemen Jeny.
"Anak Mama jangan marah, ya. Tadi di pesta, Mama lupa makan. Habisnya Bicek kamu tarik Mama dulu sebelum makan. Sekarang kita habisi makanan dia. Ayo, Sayang."
Lemari es milik Jeny tidak terlalu besar tapi isinya membuatku ternganga. Lengkap sekali mulai dari daging sapi, ayam, tahu, tempe, hingga sayuran. Sayurannya terlihat hijau dan segar. Aah, Jeny ternyata rajin memasak. Baru pindah ke apartemen ini saja, dia sudah berbelanja dapur. Beruntung sekali nanti Gara jika mereka benar menikah. Aku berharap, mereka akan bersama. Mereka sama-sama keras orangnya. Semoga Jeny bisa lebih dewasa dan meredam emosi Gara kalau lelaki itu sudah tak dapat mengontrol emosinya.
Masak apa yang cepat?
Aku ingin makan sop ayam. Pokoknya Jeny tidak boleh marah. Aku akan memasak untuk mereka juga. Lagi pula katanya Jeny sayang keponakannya. Dia tak mungkin membiarkan keponakannya kelaparan? Hihi.
***
Mereka lama sekali. Ya ampun, jangan sampai mereka berbuat yang tidak-tidak di dalam sana. Huft. Masakanku sudah kuhidangkan di meja. Lebih baik aku duluan saja karena sejak tadi perutku keroncongan. Mereka juga entah kapan akan keluar dari kamar.
"Loh, ini kapan jadinya?"
Tahu-tahu suara Jeny menghentikan tanganku yang sedang memindahkan nasi ke piring. "Aku memasaknya. Ayo makan." Aku melanjutkan dengan menyendok sop ke atas piring yang telah kuisi dengan nasi putih yang mengepulkan asap.
Jeny menarik kursi di sebelahku.
"Mas Gara sekalian," ajakku.
Dia pun duduk di hadapanku dan Jeny. Matanya memindai masakan yang kubuat.
"Kenapa? Tidak suka, ya?"
"Bukan. Hanya saja aku jadi makin bersemangat untuk menjadikan kamu istriku. Aku suka masakan rumah." Gara tersenyum lebar sekali. Kuputar bola mata untuknya yang telah bicara ngawur.
"Makan saja. Jangan bersuara lagi, kamu."
"Baiklah, Nyonya."
Karena kelaparan, aku memindahkan seluruh nasi dalam piring ke lambung dengan cepat. Sementara Gara dan Jeny entah kenapa menjadi lamban makannya. "Kenapa kalian belum selesai juga? Sopnya tidak enak?"
"Wow!! Nafsu makan kamu besar sekali, Le. Kamu makan bagai kilat. Aku sampai tak jadi menyuap nasiku karena melihatmu makan."
Kulihat ke arah Gara. Lelaki itu mengangguk.
Sebal.
"Kalian teruskan makannya. Aku ingin istirahat. Aku tidak dapat jatah cuci piring, ya. Ibu hamil ini ingin tiduran dulu."
"Untukmu aku akan bersihkan piring-piring ini, Mama. Mama istirahatlah—aw! Kenapa lagi pukul tangan orang!" Gara memarahi Jeny. Mereka saling pandang lalu sama-sama terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Tidak mungkin Jeny akan diam setelah dibentak meskipun dia yang memukul Gara lebih dahulu. Jeny orangnya tak pernah diam.
"Kalian tadi diskusi apa?"
Tak ada yang menjawab.
"Kalian jadian?"
"HUWEEEK!" Jeny menirukan wajah muntah.
"Nyonya! Aku cinta sama kamu. Tidak sudi jadian dengan betina ini!"
"Baiklah terserah kalian. Aku ke depan duluan."
Biarkan saja mereka dengan rahasia mereka. Aku tidak pandai mengorek informasi. Hanya buang-buang tenaga lebih baik aku berbaring. Kakiku terasa sedikit pegal karena berdiri untuk memasak tadi.
Waktu aku tiba di ruang tamu, ponselku sedang berbunyi. Kupercepat langkah menuju meja. Semoga itu Lian. Yah.
Allan.
"Apa kabar, Siwi?"
Aku duduk di tempat tadi dengan berselonjor. Kuusap perutku yang semakin hari semakin besar. Semoga kamu sehat, Nak.
"Alhamdulillah, sehat. Kamu? Sudah lama sekali kamu tidak menghubungiku. Kukira kamu melupakanku. Eh tapi aku memang sudah melupakanmu lho. Habisnya terlalu lama tidak berkomunikasi denganmu. Maaf."
"Sepertinya kamu tengah bahagia. Bagaimana dengan kandunganmu, sehat juga 'kan?"
"Hmm. Allan, kurang lebih dua bulan lagi aku akan benar-benar menjadi ibu." Entah kenapa aku merasa senang bercerita dengan Allan. "Pertama kali bertemu denganmu, aku bahkan belum menikah."
Allan tertawa. Mungkin dia mengingat kasus yang pernah menimpaku dulu. Kasus yang membawaku ke kantor Allan dan menjadi temannya.
"Besok bisa bertemu?" Nada suara Allan lemah. Aku tahu dia pasti tidak enak mengajakku.
"Kalau aku bilang tidak bisa?"
"Lain kali berarti."
"Kalau aku bilang bisa?"
"Jadi kamu bisa pergi besok? Makan di tempat kesukaanmu?"
Mataku berair akibat tertawa. Allan seperti orang lain saja. Dia begitu hati-hati bicara denganku. Dia berubah sangat jauh dari Allan yang kukenal. Suaranya terdengar kurang percaya diri. Atau hanya perasaanku saja?
"Allan."
Allan diam. Dimana dia? Kenapa ramai sekali di sekitarnya?
"Allan—"
"YA, bicaralah Siwi."
"Kemana saja kamu? Kamu hilang bagai ditelan bumi. Kamu tugas luar daerah?"
"Sebenarnya, aku menyukai seseorang. Bahkan aku telah jatuh cinta kepadanya. Sayangnya aku dan dia berbeda, Wi."
Allan ditanya apa jawabnya apa. Tapi kalimatnya berhasil mengusik rasa penasaranku. Kalau dia ingin bercerita, dengan senang hati akan kudengarkan.
"Lalu? Kamu sudah bilang sama orangnya?"
"Susah sekali, Wi. Aku bahkan memilih jauh darinya karena perasaanku ini."
"Dia orang yang dekat denganmu? Kenapa tidak kamu coba bicara dengannya? Kurasa akan ada jalan keluar untuk memulai hubungan kalian."
"Tidak bisa. Aku menyerah. Aku akan mengubur perasaanku."
Terdengar seperti aku. Allan pasti sedang mengalami pergolakan dan masalah yang sangat besar. Aku beruntung, dia menceritakan kepadaku. Itu artinya dia menganggap kami masih berteman meskipun telah lama tidak bertemu.
"Kuharap kamu mendapatkan yang terbaik. Kalau memang dia adalah jodohmu, Allah akan mendekatkan kalian. Tapi kalau Allah berkata bukan, Dia pasti akan menggantikan cinta itu dengan yang lain."
"Ekh. Terima kasih. Aku ingin bilang aku merindukan kamu tapi aku tahu tidak pantas. Jadi, besok aku bisa menemuimu 'kan?"
"Ya. Kalau kamu ingin menceritakan versi lengkap, termasuk siapa orangnya, aku pasti akan senang sekali."
"Kuharap kamu jangan sampai tahu siapa wanita itu."
"Lho kenapa?"
"Kamu akan marah sekali."
"Allan! Kamu membuatku penasaran sekali. Pokoknya besok kamu harus kasih tahu!"
"Siwi."
"Apa?"
"Tidak. Kamu harus minta izin dulu dengan suamimu. Kalau dia tidak memberikan izin, juga tidak apa-apa. Lain kali kalau ada kesempatan kita pasti akan bertemu lagi."
Ya Tuhan. Pantaskah aku keluar dengan laki-laki lain? Aku hanya bertemu Allan untuk menyambung kembali tali silaturahmi. Tidak ada niat buruk. Boleh 'kan?
"Siwi. kamu masih di sana?"
"Eh iya, apa, Allan? Hhm... besok aku berangkat sendiri saja. Kamu tunggu di rumah makan pertama kita bertemu. Bagaimana?"
"Hmmm. Kalau begitu aku tutup. Sebenarnya aku sedang berada di pesta temanku. Karena aku tadi meihat seseorang yang mirip denganmu, aku jadi ingin meneleponmu."
"Sampai besok, Allan. Assalamu'alaikum."
"Jangan bilang Allan yang bicara denganmu tadi adalah Pak Polisi yang itu?"
Aku menoleh ke samping dan melihat Gara berdiri dengan tangan masuk ke saku jeans hitamnya. Dari eskpresinya terlihat kalau Gara tidak menyukai Allan.
"Memang Allan."
"NYONYA SIWI—"
"JANGAN BERTERIAK KEPADAKU!" Aku berdiri lalu kupukul tangannya. Aku sangat-sangat membenci lelaki itu.
"Kenapa wajahmu senang sekali waktu telponan dengannya?"
"Dia temanku tentu saja. Kamu dendam pada Allan? Eh ingat tidak, Allan jugalah yang membantu pembebesanmu!"
"Aku tidak peduli dengan itu. Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengannya!"
Aku menarik napas. Dadaku rasanya akan meledak. Emosiku telah mencapai batas paling akhir untuk disemburkan.
"Sejak awal, aku tidak suka kamu ikut campur apa pun perihal kehidupanku. Aku bosan mendengar kamu memanggilku nyonya. Aku tidak suka kamu mengatur hidupku. Aku tidak suka kamu marah-marah kepadaku. Terlebih lagi kamu memarahi dan mengomentari apa yang suamiku perbuat. Aku tidak suka melihatmu!"
"Astaga. Tahan emosi kamu, Le. Kamu sedang hamil. Jangan marah-marah."
"Aku tidak marah. Aku hamil bukan berarti aku tidak boleh marah, Jeny. Aku tidak akan seperti ini kalau dia diam saja dan tidak mengomentari apa pun yang kulakukan."
Jeny memegang bahuku. Diremasnya lalu dituntunnya aku duduk di bangku.
"Aku pasti akan membantumu. Jangan khawatir. Tapi untuk sekarang, sebaiknya kamu pergi dulu, Gar."
Gara tidak berkata apa-apa. Dia meninggalkan apartemen tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Kamu mengirim pesan ke siapa?"
"Suamiku. Aku minta dijemput di sini."
"Terserahlah kalau begitu. Kalau dia sudah datang kamu langsung pergi saja tidak perlu memanggilku. Aku tidak ingin melihat mukanya. Ya sudah aku masuk kamar dulu, Le."
***
🍑🍑🍑
TBC
16 April 2020
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro