[29] Aku Memang Gila
Maaf masih bikin Siwi ngenes aja. Selamat membaca ya... Sayangilah Lian yang tidak tahu maunya dia itu apa.
🍂
🍂
🍂
🍂
🍂
🍂
🍂
"Dari mana saja kamu, Istri? Lihat jam, sudah pukul berapa ini?" Lian menyongsong kedatanganku dengan cepat. Dia sempat melihat arloji di pergelangan tangan kanannya.
Melihat dia biasa saja, aku pun tidak setakut tadi. Aku melewatinya begitu dia mendekat. Tidak mengacuhkannya lantas masuk ke dalam rumah mami. Kuletakkan kunci mobil pinjaman pada guci kecil yang biasanya mami gunakan untuk menyimpan kunci apa pun. Aku lelah.
Setiba di dalam kamarku, aku langsung berbalik badan untuk melihat Lian yang menyusul. Kuamati dia yang memasang wajah bertanya. Kutelan saliva pelan sebelum bicara, "Aku minta maaf. Aku tadi tidak memberitahumu. Tapi aku melakukan panggilan sekali ke nomormu."
Lian mengembuskan napas tenang. Dia terlihat sudah tidak peduli lagi. Itu membuatku menyesal meminta maaf. Dia tidak kelihatan khawatir seperti Mama Nora. Ia melewatiku begitu saja seperti yang kulakukan tadi. Baiklah, kita sama-sama tidak ambil pusing masalah ini.
Aku masih belum kuasa mandi malam-malam. Dinginnya bahkan sampai menusuk ke tulang walau aku belum menyentuhkan air ke tubuhku. Aku hanya mengambil air wudhu untuk salat Isya. Itu pun membuatku berjengit. Setelah menunaikan kewajiban vertikal tersebut, aku beranjak dari kamar.
"Mau kemana?" Suara Lian murni bertanya.
Aku tidak berbalik karena kurasa kami masih belum berbaikan. Aku masih kesal sejak mendapat telepon dari istrinya malam itu. Rasanya aku tidak memiliki alasan kuat untuk marah kepadanya. Tapi aku ingin. Ah, entahlah. Bahkan saat ini aku malas melihat dia di dekatku. Aku berniat untuk menyusup ke kamar mami.
"WI kamu mau kemana lagi?" tanyanya mendesak.
Aku menunduk tanpa berbalik. "Ke kamar mami."
"Mau ngapain?"
Aku membuka pintu dan berjalan cepat ke lantai bawah. Kamar mami tidak dikunci. Sebelum menutup kembali kunci pintu, aku melihat ke luar. Lian berdiri di ujung tangga terakhir. Segera kututup dari dalam. Lian menghilang dari pandanganku.
Ketika baru merebahkan punggung di samping mami, ibuku itu memukul lengan atasku. Aku sudah menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Dia menyibak selimutku dengan kasar. Matanya yang merah bangun tidur menatapku nyalang.
"Iih, dingin tahu," keluhku dengan menarik lagi selimut yang ditarik mami.
"Pukul berapa kamu sampai?" tanya mami. Mami duduk dengan tangan diletakkan di pinggang.
"Baru saja. Ini sudah ngantuk sekali mau tidur." Aku menguap menunjukan bukti kalau aku memang sedang mengantuk hebat.
"Terus Lian bilang apa?" tanya mami galak.
Aku mengangkat bahu. "Dia tidak bertanya apa-apa."
"Artinya kamu ke sini bukan karena kamu diusir olehnya?"
Lantas aku menggeleng. "Aaaauh, Mami kenapa memukul Siwi?"
"Kamu kenapa? Ada masalah? Bandel sekali. Pergi tidak pamit. Sekarang kamu tinggalkan dia sendiri!"
"Siwi mengantuk, Mi. Jangan marah-marahlah. Lian juga tidak apa-apa Siwi tinggal. Cuman beda kamar saja."
"Dia khawatir kepadamu. Dia pulang tergesa-tega tadi. Dia hubungi nomor kamu, tidak aktif. Kalau bukan dia yang mau menunggu kamu pulang, mungkin Mami yang berdiri di pintu malam-malam menunggu anak perempuannya pulang."
"Tuh 'kan, Mi, kantuk Siwi hilang." Aku duduk lalu melempar selimut ke kaki. "Mami, buatkan susu Siwi, ya," pintaku dengan nada memelas.
Mami menahan gerungan kemarahan. Dia beranjak keluar dari kamar dengan langkah pelan. Walaupun sedang marah, mami tidak pernah menolak jika aku sudah menginginkan susu cokelat. Dari dulu. Susu buatan mami rasanya sama dengan buatanku. Letak bedanya ada perasaan kasih. Itu membuatku merasa lebih tentram.
"Kenapa Mami lama sekali?"
Aku ingin tidur kalau saja rasa khawatir tidak menguasaiku. Aku harus periksa mami di dapur. Langkah kakiku mengendap-endap saat telingaku mendengar orang sedang bercakap. Mereka berbisik membuat rasa penasaranku naik ke mata. Aku memasang telinga baik-baik.
"Keraslah kepada istrimu, dia terlihat semena-mena," ujar mami kepada Lian.
Mami bilang aku semena-mena? Dari mananya?
"Mana bisa, Mi." Lian membela. Aku semakin penasaran.
"Bagaimana mobilmu? Kapan bisa dibawa pulang?"
Kenapa dengan mobil Lian?
"Besok. Tadi sebenarnya kalau langsung diselesaikan bisa langsung bawa pulang. Tapi aku tidak bisa," ucap suara Lian semakin lama semakin menghilang.
"Kamu yang terlalu berlebihan! Lihat, dia tidak apa-apa. Dia itu sudah biasa melakukan semuanya sendiri."
"Sering pulang malam, Mi?"
Ini sedang membicarakanku? Serius? Hanya karena aku terlambat pulang. Acaranya memang selesai satu jam lebih cepat. Akulah yang mengulur waktu dengan membawa Grace makan malam hingga baru mengantarnya pukul sebelas malam.
"Tidak!" jawab mami sewot.
Bagus Mi, dikiranya aku ini wanita apa! Aku tidak pernah ke mana-mana sepulang dari kampus.
"Siwi masih tidak suka susu ini?" tanya mami.
"Iya. Dia kelihatan tersiksa meminumnya. Tapi belakangan ini sudah tidak mengeluhkan rasanya lagi."
Lian memperhatikanku? Belakangan ini aku tahu kalau susu itu adalah susu untuk ibu hamil! Mau tak mau aku harus meminumnya!
Tunggu-tunggu! Mereka tahu?
"Kemarin Siwi muntah-muntah. Apakah terjadi sesuatu dengan kandungannya?"
Lututku bergetar. Seluruh badanku bertambah menggigil, dingin. Aku mundur perlahan.
"Itu tandanya anak kalian sehat."
Lian tahu. Mami tahu. Mengapa mereka merahasiakannya dariku?
Aku kembali ke kamar mami. Tidur dalam posisi miring dengan kaki kulipat hampir sejajar dengan perut. Tangan kiri kuletakkan di mana anakku ada. Lian sudah tahu. Lian sudah tahu. Itulah alasannya dia tidak meributkan masalah bayi-bayi lagi. Dia sudah tidak punya alasan menyentuhku lagi.
"Katanya tadi tidak mengantuk. Ini susunya untuk siapa?" tanya mami kepada dirinya sendiri. Dia mengira aku sudah tertidur.
***
Aku terbangun karena merasakan mual yang parah. Sebisa mungkin kutahan hingga aku berhasil keluar dari kamar mami. Pilihanku ke kamar mandi dekat dapur agar tidak mengganggu mami yang masih tidur. Kenapa aku mengalami gejala ini? Rasanya sangat menyiksa.
Setelah agak lega, kuambil sikat gigi dan meletakkan pasta gigi di atasnya. Ketika mulai menggosok gigi, mual yang tadinya sudah hilang datang lagi. Kali ini lebih parah. Perutku terasa dikeruk hingga seluruh isinya tercongkel keluar. Sementara itu, ketukan tak sabar di pintu mengganggu telingaku. Berulang kali dorongan dari dalam perut yang menyiksa itu membuatku menunduk ke wastafel. Setelah berkumur-kumur, rasa lelah menyerang. Aku menyandar di dinding. Harusnya tadi aku mencari roti, begitu kata Mama Nora tempo hari.
"WI?"
Lian. Dia mendengar aku muntah? Rasa panik menjalar. Cepat-cepat aku membasuh wajah. Kulihat pantulan diriku di cermin. Lalu kubilas wajah agar kelihatan segar. Ketika pintu kubuka, Lian mendesakku hingga masuk lagi ke kamar mandi. Dia memperhatikanku dari atas hingga bawah. Netranya tertumbuk pada wajahku. Dia memelukku. Meletakkan kepalaku di bawah lehernya. Mengapitku dengan dagu. Tangannya sebelah kiri menekan kepala belakangku.
"Semoga yang dikatakan mami benar. Semoga benar begitu," ucapnya mengulang-ngulang dengan suara lemah.
Aku gerah. Aku lepaskan diriku dari rangkulannya. Mundur selangkah untuk menjauh lalu meninggalkannya.
Aku merasakan perhatiannya. Aku tidak yakin itu tulus untukku atau anakku. Aku harus jaga jarak. Dia tidak boleh mendekat hanya untuk meluluhkan agar aku mau menyerahkan anakku.
Aku tidak butuh perhatiannya. Aku sangat membutuhkannya.
Aku tidak menyukai perhatiannya. Aku sampai terbuai oleh sikap baiknya.
Aku harus menjauh darinya. Aku ingin dia memelukku seperti tadi.
***
Aku sudah bersiap untuk mengunjungi Ibu Wimeka. Saat kutelepon, Grace mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ikut jika pergi hari ini. Dia memiliki jadwal dengan Profesor Wirsal. Kutahu itu artinya jadwal yang benar-benar ajaib sebab dosen itu benar-benar sibuk. Jadwal yang sudah ditetapkan harus dimanfaatkan sebisanya.
Aku memoleskan lipstik tipis ke bibirku. Setelah itu, kuraih hand bag dari gantungannya. Seseorang memeluk pinggangku dari belakang. Langkahku tertahan.
"Lepaskan tidak?!"
Dia meletakkan dagunya di pundakku. Aku semakin geram dengan ulahnya. Dia menghambat langkahku. Yang sesungguhnya adalah dia membuat jantungku melompat-lompat kegirangan.
"Istriku cantik sekali. Kamu mau kemana?" tanyanya masih setia menopangkan dagunya di pundakku. Ketika dia berbicara, dagunya menusuk-nusuk pundakku.
Aku mencekal tangannya untuk melepaskan kaitannya di pinggangku. Dia malah mengunci perutku semakin kuat.
"Mau kamu itu apa, Lian?!" bentakku.
"Akhirnya kamu bicara denganku." Tangannya ia kendurkan.
"Lepaskan! Aku ingin pergi!"
"Kemana?" Dia menekan dagunya ke bahuku.
"Bukan kemana-mana. Menyingkirlah, LIAN!"
"Kalau tidak mau memberitahu, aku akan mengurungmu seperti ini. Kamu tidak boleh ke mana-mana." Dia mendorong kepalaku dengan kepalanya. Lalu tertawa setelah melakukannya.
"Kamu." Kujeda sambil mengambil napas. Aku harus mengatakannya, aku harus melempar dia jauh-jauh. "Pulanglah ke rumahmu. Aku bukan satu-satunya istrimu. Ada rumah satu lagi yang harus kamu tinggali."
Tangannya mengendur. Dengan cepat, aku meloloskan diri. Siwi sudah benar. Lian harus menjauh. Dia tidak boleh mendekatiku—anakku.
Aku mengambil kunci mobil mami.
"Eeeh!!" Kunci di tanganku disambar seseorang. Dia lagi. "Kamu maunya apa sih?!" Nada suaraku naik.
"Mengantar kamu, kemana pun." Dia membuka pintu di sebelah kursi kemudi. Mendorongku masuk lalu menarik seatbelt untuk dia pakaian. Aku terikat.
Dia mengambil posisinya sendiri. Setelah itu, mulai menghidupkan mesin mobil. "Jadi, kemana aku akan mengantarmu?" tanyanya dengan senyuman di ujung bibirnya. Dia mencondongkan tubuh kepadaku sehingga mataku semakin melebar. Dia melabuhkan satu ciuman ringan di bibirku. Aku kaku.
"Kita berangkat. Kamu tunjukkan jalannya saja."
***
Rumah Sakit Ernaldi Bahar. Kuminta Lian menunggu di luar. Aku tidak ingin dia mendengar curhatanku kepada Ibu Wimeka. Ketika aku datang, Ibu Wimeka terlihat sedang melamun. Dia duduk di sisi tempat tidur single-nya.
"Aku datang dengan suamiku. Dia membuatku kesal akhir-akhir ini. Tapi aku tidak pernah bisa menolak dia." Kuembuskan napas nelangsa.
"Aku ingin dia jauh-jauh karena sering membuatku marah terus. Tapi aku juga ingin dia di dekatku. Rasanya sulit. Aku sangat bingung kenapa aku tidak bisa tegas dengan pilihan sendiri."
Ibu Wimeka mengubah duduknya. Dia membelakangiku dan menghadap ke luar jendela kamarnya.
"Aku capek mencintai seorang diri. Aku ingin membencinya. Aku ingin dia menjauhiku tapi aku tidak sanggup berjauhan dengannya."
"Aku takut, mereka akan bahagia mendengar kabar kehamilanku. Menjadi orang-orang yang peduli kepada anakku. Seolah merekalah yang sangat bahagia memiliki anakku. Aku harus menjauhi semua orang yang berniat jahat kepada anakku. Anakku milikku bukan milik mereka—"
"Siwi."
"Ibu Wimeka?" Aku menggali pendengaranku. Baru saja, Ibu Wimeka memanggilku? Di belakang tidak ada siapa-siapa. Benarkah apa yang diceritakan Grace bahwa ibunya mengenaliku?
"Istri. Kamu lama sekali." Aku kembali menoleh ke arah belakang dan mendapati Lian berjalan mendekat.
Dari sudut mataku kulihat Ibu Wimeka melihat ke arah kami sebelum berbaring di tempat tidurnya.
"Siapa orang di sana?" tanya Lian menunjuk ke arah Ibu Wimeka.
Aku tidak menghiraukannya. "Ibu, aku permisi dulu. Eehm lain kali aku datang lagi. Sampai bertemu lagi. Nanti kusampaikan salam Ibu untuk Grace."
Lian tidak membawaku ke rumah mami tapi ke apartemen. Setelah menutup pintu di belakangnya, dia mendekat kepadaku. Tatapannya tidak mampu kuartikan. Marah, kesal, atau sedih? Sedih karena apa?
Sekali sentak, dia berhasil meloloskan kepalaku dari hijab. Dia tidak akan macam-macam. Semarah-marahnya dia—kurasa belum pernah—tidak pernah kasar. Dia pernah menamparku, tapi bukan marah. Katanya untuk memisahkanku dari istri kesayangannya.
Aku salah. Dia mendesakku hingga tertatih mundur ketika dia mempertemukan bibir kami. Dia marah. Kenapa? Aku ingin mendorongnya tapi dia seperti batu tak tergoyahkan. Dia menjatuhkanku ke sofa. Aku ingin menendangnya tapi kakinya menghimpit kakiku. Aku ingin berteriak tapi dia membungkam teriakanku. Aku sesak. Dia berpindah ke leherku. Aku seharusnya bisa lepas karena tanganku bebas tetapi aku lemah. Dia berengsek dan aku gila. Aku merindukannya. Aku memalukan. Kurasa ada cairan hangat yang mengalir dari sudut mataku.
repost 30 maret 2020
WindSevyent
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro