[26] Kecupan Sebelum Tidur
Jangan lupa, sediakan tisu.
🍂
🍂
🍂
🍂
🍂
🍂
🍂
Bersikaplah positif dan bahagia, Siwi. Kehamilan ini merupakan anugerah dari Allah. Bahkan ia adalah karunia terindah. Ayolah Siwi, kuatkan mentalmu. Hadapilah kehamilan ini dengan ceria. Jangan gamang. Banyak di luar sana, orang-orang yang mendambakan buah hati tetapi tidak mampu memilikinya. Seperti Aqila. Ah, lupakan dia sesaat. Mengingatnya hanya akan membuatmu stres dan hal itu sungguh berbahaya untuk janin dalam rahimmu. Bersiaplah Siwi, mulai dari sekarang ada satu nyawa lagi yang harus kamu jaga. Pertahankan dia, Siwi.
Meskipun belum melihat dan bertemu dengannya, aku telah mencintainya. Aku tidak akan rela siapa pun mengambilnya dariku. Meski itu adalah ayahnya sendiri. Lihat saja, Qila, aku tidak akan membiarkanmu tertawa mendengar berita kehamilanku. Anakku ada bukan karenamu. Ini pemberian Sang Pencipta. Kamu tidak berhak atas anakku. Lian pun tak berhak mengklaim anakku.
Kututup buku ungu itu lalu kuselipkan di dalam laci, di antara berkas-berkas lainnya. Sejak remaja aku terbiasa menulis dalam buku harian. Kebiasaan itu masih kulakukan hingga kini. Aku semakin semangat bercerita bahwa aku adalah calon ibu. Satu lagi orang harus tahu berita ini. Ibu Wimeka. Beliau pasti senang mendengar kehamilanku.
"Wi, nanti sore bisa ikut aku tidak?" Lian memunculkan dirinya dari luar. Untung saja ia tidak melihat ketika aku menyimpan buku itu. Di dalamnya tentu saja nama Lian yang paling banyak. Pengakuanku semuanya kutulis di dalam buku itu. Aku belum berani jujur kepadanya tentang perasaanku. Apalagi jujur mengenai kandunganku.
Kurasa dia sudah tahu.
Sebaiknya aku pancing dia untuk bicara. "Lian, kamu tidak berniat untuk ke rumahmu? Kurasa kamu sudah terlalu sering di sini." Aku mengambil sisir lalu menyisir rambutku yang mulai memanjang. Besok akan kupotong. Aku tidak suka dengan rambut panjang karena pendek lebih praktis.
Lian berdiri di belakangku. Ia letakkan kedua tangannya di bahuku dan melihat melalui pantulan cermin rias. "Pulang pulang apa maksudmu, Istri? Kamu tidak suka aku di sini?"
"Ya. Kamu itu punya istri satu lagi. Kamu tidak boleh menghabiskan harimu di satu tempat saja." Sakit, sungguh sakit ketika mengatakan hal itu.
Dia menekan tangannya di bahuku. "Kemana lagi aku pulang kalau di mana-mana aku disuruh pergi? Atau kita tinggal bersama saja?"
"Tidak akan pernah. Agar kalian bisa mengatur hidupku? Kalian pikir aku kerbau yang dicolok hidungnya?" Aku berniat berdiri untuk menyudahi pembicaraan ini. Tapi Lian menahan bahuku, membuat untuk tetap di bangku.
"Kabur. Kabur. Kalau sedang bicara, sudahi dulu baru pergi. Kamu selalu kabur kalau kamu tidak suka dengan topik pembahasan kita. Kapan masalahnya selesai kalau kamu selalu saja menghindar?!"
"Masalah apa? Aku rasa tidak ada masalah yang harus kubicarakan denganmu. Oh, kamu mau aku tinggal dengan istrimu? Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah bersedia." Aku menatapnya tajam melalui cermin. Dia tertawa. Dia tertawa?!
"Aku tidak akan mau lagi, Lian. Cukup sekali aku ikut dalam permainannya. Untuk selanjutnya, jangan harap. Kenapa? Kamu masih ingin mengabulkan permintaannya? Menjadikan aku ibu tumpangan? Jangan bermimpi kalian!" Aku tampar punggung tangannya lalu berdiri di depannya.
"Ibu tumpangan, aduh," ucapnya dan membekap mulutku dengan telapak tangannya, "pakai istilah aneh lagi. Bagaimana mau jadi ibu tumpangan kalau kamu tidak setuju dalam usaha mendapatkan bayi."
"Kamu yang tidak melakukannya!" kesalku hingga kalimat senista itu melompat keluar dari bibirku.
Ya ampun, apa yang harus kulakukan? Mengertikah dia maksud kata-kataku? Aku hanya ingin tahu kenapa dia tidak melakukan kewajiban suami istri seperti biasanya semenjak rujuk. Sementara itu, dia pernah mengatakan mulai saat itu dia ingin memiliki bayi. Masa iya Lian tidak menuruti perintah Aqila untuk kali ini? Tumben sekali.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanyaku kemudian menunduk. Siapa yang sanggup dipandangi lama-lama olehnya. Kelemahanku memang itu, tidak bisa menatap matanya. Aku terlalu takut jika nanti dia dapat membaca perasaanku lewat mata. Aku takut menyaksikan reaksinya setelah tahu semua yang kusimpan di dalam dada.
"Kamu yakin mau 'kita' melakukan proses membuat bayi?" tanyanya menatap mataku lekat.
Aku menyesal mencuri pandang jika pada akhirnya terperangkap dalam bola mata yang selalu membuatku gugup.
Mundur selangkah sebelum berbicara, "Aku kira kamu tidak ingat permintaan aneh istrimu."
Lian menarik napasnya gusar. "Sebut istri sekali lagi, ayo!" Dia memangkas jarak. Calon ayah dari anakku itu menunduk untuk menyamai tinggi kami. "Siapa istriku?" tanyanya tepat di gaung telingaku.
"Dia. Aqila." Aku menelan saliva takut-takut.
"Lalu kamu siapa?" Dia berbisik.
"Siwi."
Dia membuatku terpojok. "Kamu Lezya Siwi Aurora," ucapnya pelan dengan tangan menjumput rambutku. Ia sapukan rambut itu ke pipiku. "Kamu, Istri. Dengar, jangan bawa-bawa orang lain jika kamu tidak ingin sakit hati setelah itu."
Melepaskan rambutku lalu dia menyentuh pipiku. Refleks aku memejamkan mata. Dia pun berbisik lagi, "Aku sudah membawa pulang gaun cantik untukmu. Nanti kamu pakai. Bersiaplah, kita akan pergi ke pesta pernikahan Sarah." Dia pergi meninggalkanku yang sedang berpacu dengan laju jantung.
***
Kami berada di acara pesta pernikahan teman sekelas Lian waktu SMA. Sudah satu jam kami tiba. Banyak sekali teman-teman lama yang hadir, baik itu teman Lian atau pun temanku. Membahas pekerjaan dan macam-macam yang tidak penting bersama mereka.
Sejak datang dia tidak membairkanku sendirian. Ketika berjalan, dia memegang tanganku seperti takut aku tersasar. Setelah berhenti, dia memeluk pinggangku. Menjengkelkan sekali. Aku terpaksa terseret-seret kemana dia melangkah. Aku ingat, Tanti menganjurkan agar aku banyak bergerak. Akan tetapi kalau berjalan terus ke sana-sini bisa patah hak sepatuku ini. Tangan lelaki ini juga membuatku geli.
"Lian, apa kabar?" sapa seorang lelaki seusianya.
Akhirnya Lian berhenti berjalan. Lagi pula, kenapa Lian semangat sekali mengelilingi area pesta untuk menyapa teman-temannya? Tadi aku minta duduk di bangku tamu itu dan membiarkan dia berjalan sendirian tapi dia tidak mengizinkan.
"Loh, kamu ini Madoni?" tanyaku kepada pria dengan kulit kecokelatan di hadapan kami.
Dia tersenyum membalas pertanyaanku. "Siwi."
Aku menyentuh tangannya agar melepaskanku tapi sebaliknya dia malah merangkul pinggangku lebih dekat. Bahkan telapak tangannya mengelus perutku. Kalau bukan di tempat umum, sudah kutampar punggung tangannya.
"Pasangan lapangan sekarang sudah naik statusnya jadi suami istri?" tanya Madoni kepada kami berdua. Pasangan lapangan. Itu memalukan sekali. Semua ulah Lian di masa lalu.
"Kamu itu yang kemana saja selama ini? Aku tidak pernah melihatmu semenjak kita tamat SMA. Eh, kata Maria kamu kuliah di luar negeri. Jadi ceritanya kamu baru kembali?"
Lian memindahkan tangannya ke bahuku. Lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Istri, jangan suka mencerocos!"
"Aku mau jawab yang mana dulu, Wi?" Madoni terkekeh. Aku makin tak nyaman saat Madoni memperhatikan ketika Lian menjauhkan wajahnya lagi.
Lian ini kenapa membuatku kepanasan saja? Padahal semenjak hamil, aku lebih sering kedinginan. Barangkali bersentuhan dengannya membuat kalor naik hingga menyebabkan aku gerah.
"Eeehm. Kabarmu bagaimana? Sudah berhasil merebut hati Syafa?" Yah, itu dia perempuan yang disukai Madoni. Dia itu dulu sering sekali mengeluh kepadaku betapa Syafa yang dia sukai sangat cuek kepadanya. Begitulah Madoni si ketua kelas yang ternyata kesusahan mengejar cintanya sendiri. Sementara dalam akademik, prestasinya hampir menyaingi Lian.
"Kalian cukup akrab," celetuk Lian membuat Madoni yang baru saja membuka mulut untuk bicara jadi menunggu gilirannya. "Kapan kamu cerita-cerita dengan ketua kelas ini, Istri? Kamu memang suka kabur ya dariku?" tanya Lian dan mengetatkan giginya sewaktu menyebut kata kabur.
Selama mengobrol dengan Madoni, Lian banyak menginterupsi sehingga aku merasa tidak enak kepada mantan ketua kelas sepuluh itu. Lian kelihatan cemburu. Bolehkah aku berharap demikian?
"Madoni, sepertinya istri saya kelelahan. Kami duluan." Lian membawaku menjauh dari Madoni sebelum aku sempat berpamitan kepada pria itu.
Di tengah jalan, aku melihat penjual sate. "BERHENTI, LI! BERHENTI! STOP!"
Kupukul-pukul tangannya hingga ia segera menepikan mobil. Kebetulan kami melewati sebuah taman yang cukup ramai oleh pengunjung. Ada beberapa pedagang dengan gerobak bertuliskan merk dagang masing-masing.
"Kenapa?" tanya Lian segera melepas seatbelt dan mengecek kondisiku. "Aaauh..." ringisnya waktu aku memukul tangannya yang telah merayap ke mana-mana.
"Jaga tangan!"
"Kenapa kamu minta berhenti? Aku kira kamu merasa mual dan ingin muntah," ucapnya tanpa dosa.
Kalau memang benar seperti dugaannya, tetap saja dia yang salah. Dia tidak mengajakku makan di pesta tadi. Itu adalah pengalaman pertamaku tidak makan di sebuah pesta pernikahan. Rugi sekali!
"Aku lapar, ingin makan sate."
Lian menganga. Dengan gemas, aku tampar pipinya. Barulah dia hidup kembali.
"Mau belikan atau tidak? Kalau tidak, antarkan aku ke rumah mami. Aku ingin makan. Aku lapar."
"Tentu aku akan belikan, Istri. Kamu mau dengan gerobaknya sekalian, aku belikan. Asal jangan minta dibelikan dengan mamang yang jualan saja."
"Lucu sekali. Ayo, aku ingin makan di taman itu. Nanti kamu pinjam gitar kepada adek-adek itu. Kamu harus bernyanyi." Aku segera keluar dan segera berjalan ke gerobak sate.
"Apa pun, Wi." Lian menyusulku. "Mang, cepat buatkan untuk istriku sekarang. Yang lain, sabar ya, mengalah itu bikin awet muda, seperti istriku ini."
Pembeli yang lain berdecak tidak suka. Mereka semua protes ketika penjual sate mengangguk sambil tersenyum setelah Lian membisikkan sesuatu kepadanya. Bapak yang seusia dengan Papa Juan itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala saat mengipasi sate.
"Kamu sukanya makanan yang dibakar, Wi?" tanya Lian sewaktu aku sudah menyelesaikan lima tusuk sate ayam. Dia tidak berminat waktu aku menawarinya makan. Juga tidak berhasil meminjam gitar sebab para remaja yang tadinya memegang gitar telah pergi.
"Kalau begitu, kapan-kapan kita bakar ayam di rumah mama. Ajak mami juga. Masakan mami itu luar biasa enaknya." Dia menopang dagu di hadapanku. Matanya mengikuti saat sendokku masuk ke mulut.
"Yakin kamu tidak ingin makan sate? Aku lihat kamu sudah ngiler dari tadi."
Dia menggeleng. "Nanti saja," ucapnya memperhatikan bibirku yang kepedasan. Harusnya tadi aku pesan tidak usah pedas. Ah, semoga tidak sampai diare.
"Mau dibungkus? Tapi lebih enak makan di sini. Ada anginnya."
Dia menggeleng lagi, masih dalam posisi tadi. "Jangan lupa ajak mami, ya, nanti mami saja yang membuatkan bumbunya supaya enak."
"Heeemh." Lidi terakhir. Aku kenyang sekali. Satu gelas air putih masih kurang. Aku mengisi lagi gelas sampai penuh dan meminumnya cepat.
Aku segera berdiri. "Lian, Lian. Ayo pulang cepat, aku ingin buang air kecil." Lalu berlari ke mobil. "Ayo, Li, cepat!"
Begitu sampai di apartemen, aku langsung menuntaskan urusanku dengan kamar mandi. Aku tidak kuat untuk mandi. Rasanya dingin sekali. Padahal, selama di pesta tadi rasanya gerah masya Allah. Jadi, aku hanya menukar pakaianku dengan piyama tidur yang nyaman dipakai tidur.
"Wi," panggil Lian sebelum aku menenggelamkan diri dalam selimut. Dia baru saja dari luar kamar dengan pakaian yang sudah diganti juga.
Aku menguap. "Haah?"
"Wi." Dia duduk pinggir tempat tidur.
"Eeehm..." Kantuk menyerang. Suara Lian sayup-sayup sampai ke telingaku.
Sebelum aku benar-benar terbuai mimpi, dia mengecup tepat di bibirku. Sekilas. Yah, aku tidak mendengar apa pun yang dia ucapkan setelah itu karena aku segera tergulung oleh ombak kegelapan. Yang kusadari, dia memelukku. Membuatku merasa tenang.
***
TBC
repost 28 maret 2020
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro