[23] Pak Polisi Allan
Lihat, ada judul Pak Allan. Kali ini, gk usah maki2, KaSev tahu readers capek emosi2 terus sama Kak Lian. Kali ini, KaSev kasih obatnya. Hahaha. Tapi kalau masih mau marah juga, aku duku piye...
Yuuk enjoooy, dikiiit yaaaah...
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
🌺
"Istri, kaos kaki yang satu lagi kamu taruh dimana?" Lian lagi-lagi menggangguku dengan pertanyaan tidak penting.
Petang ini, Danu, temannya sewaktu SMA mengajaknya futsal. Sebenarnya aku tidak mau tahu. Tapi Lian mencecar telingaku dengan cerita yang sangat tidak ingin kutahu. Pada akhirnya aku tahu sebab kemana-mana dia ikuti aku dan mengoceh soal Danu-Danu itu.
Aku tetap tidak ingin menanggapinya sejak kejadian kemarin di depan rumah Aqila. Kejadian dia menamparku. Aku tidak ingin berbaik hati. Memang aku ikut pulang ke apartemen tapi mendiamkannya. Terlalu kesal untuk berbaikan dengannya.
"Oh, ini dia. Wi kapan-kapan kamu ikut ya, nanti aku minta Danu untuk bawa pacarnya menemanimu," ucapnya sembari memakai kaus kaki. Aku tidak menanggapi. Novel di tanganku lebih baik daripada omong kosong Lian.
"Berisik," bisikku dan kembali fokus pada paragraf terakhir yang kubaca.
"Kamu mau dibawakan apa nanti waktu aku pulang?" tanya Lian. Dia duduk di sebelahku yang menyandar di sofa. Aku bergeser ke kanan sebab tidak nyaman dekat dengannya.
Karena aku diam, Lian pun menambahkan, "Nanti WA saja kalau kepikiran ingin dibelikan sesuatu."
Bodoh. Kalau aku menginginkan sesuatu, aku bisa mencarinya sendiri. Tidak perlu menghubungimu.
"Istri, aku pergi." Dia menutup pintu apartemen dari luar.
Aku juga menutup buku yang kubaca. Ya ampun, lapar sekali. Semua gara-gara Lian. Karena tidak suka 'dikintili', aku memilih duduk tenang di kursi daripada sibuk di dapur. Dia pasti akan mengikuti kemana saja kulangkahkan kaki. Sungguh heran. Lelaki yang kucintai itu melenyapkan rasa nyaman. Santai dan akrabnya sejak tiba di apartemen seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Bikin tambah kesal saja.
Tadi pagi aku memasak pindang tulang. Aku punya stok bahan-bahannya di kulkas. Kalau tidak, mungkin aku minta buatkan mami. Tapi saat membuka tutup panci, perutku tiba-tiba bergolak. Cepat-cepat kututup. Rempah pindang masakanku kelebihan takar atau memang aku tidak berhasil membuat pindang seenak mami.
Aku lapar sekali.
Suara ponsel dari kamar terdengar. Aku berjalan cepat menghampiri sebelum panggilan berakhir. Ternyata dari Allan. Kebetulan sekali.
"Assalamau'alaikum," sapaku dengan suara senang sekali. Dia bisa aku manfaatkan untuk membelikan makan menggantikan janji yang waktu itu tak kutepati.
"Ada waktu tidak, Allan?" tanyaku setelah Allan menanggapi salam dariku.
"Yang waktu itu... aku ingin mengganti makan siang yang kubatalkan."
Allan menyetujui. Setengah jam waktu yang kubutuhkan untuk sampai di rumah makan yang kupilih.
"Sudah lama menjadi dosen?" tanya Allan membuka topik pembicaraan ketika kami baru duduk.
"Baru tiga semester." Ketika selesai mengatakan jawaban untuk Allan, aku mulai mencium bau tidak sedap. Bau pindang lagi. Padahal pindang baung di sini terkenal enak sekali. Aku tidak pernah membelinya sebab aku lebih suka masakan mami. Tapi menurut teman-teman di kampus, pindang di sini nomor wahid. Kenapa yang katanya lezat tak ubahnya masakan yang membuatku mual?
"Allan, maaf," ucapku sambil memajukan punggung untuk berbicara sepelan mungkin, "aku ingin kita makan di rumah makan lain saja."
"Kamu tidak suka menunya?" tanya Allan sambil melihat kertas berisi menu dengan pindang baung sebagai menu utama. Ada lagi seafood dan makanan Sumatra yang lain. "Di sini banyak pilihan, Wi. Eh tapi kalau kamu ingin kita pindah, ayo tidak masalah."
"Maaf, ya, jadi merepotkan," ucapku tak enak.
"Tidak masalah. Kamu ingin kemana?" Allan berdiri.
Aku pun mengikuti berdiri. "Ingin cari laksan yang enak."
Allan tertawa. "Banyak sekali laksan yang enak."
Kami sekarang ini duduk di bangku panjang pinggir jalan. Puncak Jembatan Ampera terlihat agung dari sini. Sungguh indah dipandang saat menikmati makanan khas Negeri Sriwijaya. Laksan yang kupesan terasa pedas. Inilah yang kurindukan. Sudah lama tidak makan pempek lenjer berkuah santan kental. Menggugah selera dan membuat perutku yang sejak tadi tidak nyaman terasa lebih baik.
"Hebat kamu, Wi, sudah menanggungjawabi mahasiswa semester akhir untuk penelitian skripsi," puji Allan dibarengi oleh tiupan angin sore di warung kecil ini.
"Ah, entahlah. Aku menjalani apa yang ditugaskan untukku saja. Kalau menurut mereka dari pihak jurusan aku mampu, aku juga akan percaya pada diriku sendiri. Dan aku akan membuktikan kepada mereka bahwa kepercayaan mereka tidak sia-sia." Ucapanku kujeda untuk menyeruput kuah laksan. "Yah, meskipun aku masih jauh dibanding senior-seniorku di kampus. Untungnya mereka maklum sebab aku masih hijau." Kulanjutkan dengan sesendok laksan yang mulai dingin.
"Orang-orang dari institusi pendidikan memang jenius ya, itu terlihat dari wajahnya," kata Allan. Dia membuatku sedikit malu. Pak Polisi Allan tidak sedang memuji aku pintar, 'kan?
"Polisi lebih hebat. Negara saja mengandalkan polisi supaya aman," ucapku yang entah nyambung atau tidak. Kalau secara personal, Allan sangat jenius. Buktinya dia punya pangkat yang tinggi di kepolisian. Dia dapatkan prestasi itu karena pintar atau dedikasi yang lama, aku tidak tahu. Soal kepolisian, aku tidak paham betul. Bahkan dahulu sebelum mengenal Allan, aku enggan berdekatan dengan para abdi Negara. Aku takut tanpa sebab kepada pihak aparat itu.
"Kalau polisi tidak pintar, banyak maling tidak tertangkap, bukan begitu?"
Allan menanggapi sambil tersenyum. Itu senyuman yang dulu sempat membuatku terpukau. Tapi sekarang terlihat biasa saja. Lian yang jarang tersenyum lebih membuatku berdebar.
Astagfirullahal'adzim apa yang sedang kulakukan? Aku sedang membandingkan suamiku dengan lelaki lain.
"Mau tambah lagi laksannya?" tawar Allan melirik ke mangkukku yang sudah kosong.
Aku menunduk, merasa tidak enak kepadanya. Akibat kelaparan yang sangat, aku menghabiskan dua porsi laksan. Besok-besok aku akan beli laksan di sini saja. Seleraku cocok dengan racikan bumbunya. "Tidak, aku sudah cukup kenyang," ucapku lalu menekur lagi akibat salah bicara, "aku kenyang," tambahku mengklarifikasi.
"Wah, sudah mau magrib. Eee aku pulang duluan, yah," pamitku pada Allan setelah dia membayar dua porsi laksan bagianku. Dia membuatku tidak enak sebab aku yang awalnya berjanji mentraktir dirinya.
"Kamu bisa pulang sendiri? Jauh dari rumahmu."
"Dekat kok, aku tinggal di apartemen itu," jawabku menunjuk gedung apartemenku yang tampak sangat kecil dari sini.
"Kamu pindah?" tanyanya lalu terdiam mendengar suara ponselku memekik dari dalam tas.
Lian, dia sudah pulangkah?
"Ada apa?"
"Kamu dimana? Aku sedang pesan makanan. Kamu ingin aku pesankan sekalian?" tanya Lian dengan suara orang-orang bicara di sekitarnya.
"Tidak usah," ucapku dan melihat mangkuk laksanku dibawa pergi oleh pelayan.
"Kamu tidak makan, Wi? Memangnya tidak lapar? Ayolah kamu sebutkan saja kamu ingin makan apa nanti kubelikan."
"Aku bilang tidak usah!" Lalu kumatikan panggilan dari Lian. Suaranya membuatku kesal saja.
"Siapa, Siwi? Kamu kelihatan eeum emosi?" tanya Allan.
"Orang gila," jawabku lalu mengambil tas di atas bangku. "Ayo pulang. Aku tidak ingin magrib masih di jalan."
"Wi, maaf kamu jadi kemalaman sampai di rumah," ujar Allan di belakangku sehingga aku berhenti lalu menghadap kepadanya.
Aku membuang napas, menekan dadaku sedikit. "Ya Allah. Allan, aku minta maaf. Aku tidak sopan sekali padahal kamu sudah menamaniku, sudah menurut waktu aku minta pindah. Sekarang aku jadi jutek sama kamu. Maafkan aku, Allan, aku sungguh-sungguh tidak bisa membawa diri. Aku kesal pada orang lain, kamu sampai terbawa-bawa juga. Maafkan aku."
"Sudah, lupakan. Salahku juga karena tidak ingat waktu dan mengajakmu mengobrol lama-lama. Kalau begitu terima kasih karena sudah mau makan sore bersamaku," kata Allan yang makin membuatku tidak enak hati.
"Allan, aku yang harus berterima kasih dan minta maaf kepadamu. Sebenarnya tadi aku ingin makan lalu aku mual dengan masakanku sendiri. Kebetulan kamu yang telepon, aku langsung ingat dengan janji makan waktu itu. Nah, untuk yang waktu itu juga aku minta maaf sekali sebab mamiku melarangku makan siang denganmu. Itu, masakan di rumah makan yang pertama tadi juga membuat perutku tidak enak sampai-sampai ingin muntah di meja. Daripada aku memuntahkan makan pagiku di sana, aku ajak kamu cari tempat makan yang lain. Dari sekian banyak ulahku itu, sekarang aku melimpahkan kekesalan kepadamu yang tidak tahu apa-apa. Aku merasa berdosa sekali. Tolong maafkan aku, Allan." Aku terengah. Kalimatku bagaikan kembang api yang meletus-letus di atas langit malam. Membutaku ingin menutup telingaku sendiri.
"Siwi, ini sudah hampir pukul enam, lho." Ia mengingatkan.
"Oh, iya."
"Siwi," tahan Allan saat aku akan menstarter sepeda motorku. "Biar aku yang mengantarmu pulang. Jalanan sangat ramai sore ini."
Aku menggeleng. "Tidak usah, Allan. Aku sudah biasa dan aku tahu jalan memotong dari sini."
"Kamu ingin sama-sama enak atau tidak?" tanya Allan dan aku bisa mengerti kalau dia ingin aku tidak menolak tawarannya. Dia memanfaatkan perasaan bersalahku.
"Apakah aku akan merepotkanmu?"
"Tidak. Kalau kamu ingin semuanya clear, biarkan aku yang mengantarmu hingga selamat sampai di rumah," ucap Allan sambil bersedekap.
Dengan sedikit kikuk, aku turun dari sepeda motor. "Apakah kamu bisa menyetir motor matic?"
Tawar-menawar dengan Pak Polisi Allan akhirnya berakhir. Aku duduk di belakangnya yang membawa sepeda motor sesuai arahanku.
Setibanya kami, Allan mengangsurkan kunci kepadaku. "Kamu pindah ke apartemen tapi ini lebih jauh dari kampus. Kenapa kamu lebih pilih tinggal sendiri? Maaf, bukankah ibumu tinggal sendirian juga?"
"Iya, mami menyuruhku ikut kemana suamiku tinggal," jawabku sambil menaiki lagi sepeda motor.
"Suami?" tanya Allan.
Aku menoleh kepadanya lalu mengangguk. Leherku sedikit pegal akibat helm. "Suamiku yang mengajak tinggal di sini."
"Oh ya. Eeuhm Siwi, maaf," ucap Allan lagi.
"Kenapa minta maaf lagi?" tanyaku menaikkan kaca helm.
Azan Magrib mulai terdengar dari masjid.
"Maaf saja. Senang bisa mengenalmu." Jawabannya membuatku menaikkan alis heran. Sebaiknya lain kali aku bahas kenapa Allan memperlihatkan mimik wajah tertekan begitu. Kini Magrib telah memanggil. Aku harus memenuhi panggilan.
"Senang juga menjadi temanmu, Pak Polisi. Kalau begitu, aku duluan," ucapku lalu melajukan sepeda motor ke arah basemen.
***
repost 26 Maret 2020
22 Februari 2018
Udah yaaah... Dikit aja hahahaa... Lanjut part depan yah. Bye.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro