[22] Remaind Me Later
Aku tidak menutup pintu kamar karena langsung menelungkup di tempat tidur untuk menangis. Suara lantang mami terdengar dari lantai bawah. Mami menyaksikan saat aku menjambak rambut Aqila dan saat Lian menamparku. Mamilah yang membawa tubuh gemetarku pulang. Mami murka kepada suamiku.
"Tidak ada satu pun alasan yang membenarkan suami meletakkan tangannya di tubuh istri. Apalagi kamu menampar putriku! Putri yang kujaga bahkan dari seekor nyamuk!"
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja, Mi. Aku ingin memisahkan Siwi dan Aqila—"
"Jangan pernah sebut nama anak nini pelet itu di rumahku!" hardik mami.
"Iya Mi, iya, aku minta maaf. Sekarang izinkan aku bertemu Siwi. Aku ingin melihat keadaannya dan meminta maaf langsung kepadanya."
Lian memelas kepada mami? Menyesal telah memukulku? Kalau menyangkut Aqila, kamu bisa jadi apa saja. Bahkan rela merendahkan dirimu kepada mami untuk menemuiku setelah yang kamu lakukan tadi. Takkan mudah mengendalikan orang sesuai keinginanmu. Sesekali kamu harus gagal mendapatkan hal yang kamu inginkan.
"Kamu akan menambah beban di kepalanya. Mami mohon! Kali ini biarkan Siwi sendiri dulu. Kamu paham?" ujar mami dengan intonasi mulai tenang.
Jangan mau kalah, Mi. Jangan biarkan Lian masuk. Aku tidak ingin melihatnya. Kalau sampai aku melihatnya, aku takut akan mencekik lehernya sampai mati.
Suara mereka semakin mengecil hingga aku tidak bisa mendengarkan. Kurasa Lian sudah pergi.
Kepalaku serasa memikul ribuan keramik mahal. Dijatuhkan sayang, dipikul tidak sanggup. Pikiranku berselancar kepada peristiwa tadi. Bisa-bisanya Aqila ingin mengatur hidup semua orang. Kenapa orang seperti dia yang dicintai Lian?
Aduh, Siwi, kamu ini. Jangan iri, iri tanda tak mampu. Kamu tidak perlu sedih dengan kejadian tadi. Tempatkan posisimu menjadi Lian. Di saat melihat orang yang dia cintai disakiti, dia akan melakukan apa pun untuk membantu. Itu reaksi yang wajar.
"MAMI!!"
Mami tiba di kamarku. "Kenapa? Ada yang sakit?" tanya mami dengan wajah khawatir.
Aku bergeleng. Aku baik-baik saja karena tidak melihat Lian. Jika dia di sini, kurasa emosiku akan naik lagi. Entah kenapa belakangan ini emosiku berganti sangat cepat.
"Siwi ingin minum susu. Buatkan segelas ya, Mi."
Mami menarik napas lega. "Benar kamu baik-baik saja?" tanya mami sangsi.
"Lihat mata Siwi, Siwi sedang jujur atau bohong?" Aku membelalakkan mata di hadapannya.
Mami mengelus puncak kepalaku. "Ya sudah kalau kamu baik-baik saja. Mami buatkan dulu susu untukmu."
Sore semakin turun. Kuputuskan untuk mandi dan salat Asar sebelum mami datang dengan susu todonganku.
"Lama sekali, susunya dingin nih," rajuk mami ketika aku selesai salat.
"Yah, Siwi ingin membersihan keringat-keringat di tubuh Siwi, Mi. Mana susuku?"
Aku segera mengambil gelas yang berada di tangan mami lalu meminumnya sampai habis.
"Mami ganti susu Siwi?" tanyaku pada mami setelah meletakkan gelas di atas nakas karena sekarang perutku terasa bergulung-gulung olehnya.
"Kata teman Mami, susu ini sangat baik untuk kesehatan. Mulai sekarang kamu harus minum susu yang ini."
Aku menggeleng. "Rasanya berbeda. Aku tidak suka."
"Kamu hanya belum biasa. Kalau sering meminumnya, pasti kamu akan suka. Ini juga lebih mahal dari susu kamu yang biasanya."
"Tidak perlu susu yang mahal, Mi, yang penting rasanya. Aku suka yang lama."
Mami mencubit pipiku. "Untuk sekali ini saja, tolong ikuti Mami. Ini untuk kesehatanmu. Susu ini bisa mengembalikan lemakmu yang pergi," seloroh mami seraya menyentuh perutku. Kilatan perasaan hangat dari mata mami segera ia tukar dengan mengedip-ngedip.
"Justru bagus. Aku jadi lebih ramping karena jarang makan. Sudah lama Siwi risih dengan lemak-lemak itu."
"Tidak. Kali ini kamu harus minum susu yang ini."
Aku merengut. Di apartemen nanti aku tidak perlu meminum susu yang rasanya aneh itu.
"Mami tahu kamu sedang berpikir apa. Mami juga sudah menyetok susu ini di apartemen kalian," ujar mami ketika kakinya ia putar membelakangiku menuju ambang pintu.
"Iiih Mami kenapa tiba-tiba aneh begini sih?"
"Kamu tidak bisa membantah Mami kali ini, Lezya Aurora."
***
Aku memutar-mutar tubuhku kiri dan kanan di tempat tidur. Mataku sangat mengantuk tapi pikiran tidak bisa diajak tertidur. Aku telah memadamkan semua penerangan termasuk lampu yang menyala redup di balkon. Gelap gulita. Namun, keadaan ini belum juga mengantarkanku pada mimpi yang panjang.
Kunyalakan ponsel untuk melihat jam. Masih pukul delapan malam. Jelas aku belum bisa tertidur. Aku duduk, menumpu tangan di lutut dan ruas jemari menelusup di rambut.
Sayup-sayup kudengar langkah kaki dari balkon yang membuatku menoleh. Aku turun dari tempat tidur dengan membawa selimut. Berjalan meraba-raba hingga tibalah aku di depan lemari. Pelan-pelan kubuka pintunya lalu bersembunyi di dalamnya.
Tepat saat pintu kututup, terdengar ada yang membuka jendela kamar. Mami tidak membuatkan terali besi.
Jantungku berdebar ulah merasa terancam. Lebih-lebih seseorang yang baru masuk itu menekan sakelar hingga kamarku terang benderang. Langkahnya menapak di lantai kamar dengan tergesa. Kenapa malingnya tidak pandai diam-diam?
"Bau apa ini?"
Aku menengadah ke atas melihat kamper. Aromanya membuat perutku bagaikan dikocok. Aku menahan napas agar aroma itu tidak menyiksa. Tidak boleh bersuara! Biarkan maling itu mengambil apa saja asalkan jangan nyawaku. Lagi pula, aku tidak punya apa-apa. Hanya beberapa kartu di dompet dan sebuah ponsel. Laptop dan beberapa alat elektronik lain. Tidak ada perhiasan mahal.
Lampu dimatikan. Jendela ditutup. Aku menarik napas lega. Sepertinya maling itu telah pergi. Pelan-pelan aku keluar dari lemari dengan masih menarik selimut. Naik ke tempat tidur dan mencoba memejamkan mata. Karena mengantuk, kuputuskan mengecek barang-barang besok. Kuharap tidak ada file penting yang hilang.
Astaga! Kalau maling itu membawa kabur laptopku, di sana banyak dokumen untuk penelitian.
Mataku kembali malas terpejam. Segera kusingkap selimut kemudian turun dari tempat tidur. Kutekan sakelar hingga terang. Aku harus memastikan laptopku aman. Kalau tidak salah aku meletakkannya di kursi. Aku harus mencari di bawah tumpukan kertas. Euhm, bundelan proposal mahasiswa harusnya kukoreksi malam ini. Aku melalaikannya. Di mana laptopku? Paling bawah? Pasti tertimbun oleh dokumen mahasiswa yang tadi kuletakkan secara asal-asalan.
Nah, ini dia! Untunglah laptop selamat. Kalau sampai hilang, aku bisa gila benaran. Aku belum membuat back up.
"Eeeeuhmp!"
Mulutku dibekap seseorang dari belakang. Aku berencana memukul kepalanya dengan laptop tetapi si penculik terlalu sigap menangkis. Laptopku terbanting ke lantai membuatnya pecah berkeping-keping. Aku menampar penculik dari belakang. Dia pun segera menangkap tanganku. Ketika memegang tanganku, tangan satunya yang membekap mulutku kugigit. Ia kaget dan melepaskanku.
Aku segera berbalik dan bertatap muka dengannya. Sadarlah diriku siapa penculik itu, "AAAAAAK KENAPA—"
Dia segera membekap mulutku lagi. "Diam! Diam! Jangan teriak!"
Aku menggeleng-geleng.
"SIWI? KENAPA KAMU? ADA YANG SAKIT?" Mami mengetuk pintu kamar.
"Istri yang baik, yang menurut pada suami. Sekarang kuminta kamu diam. Bilang pada mami, kamu tidak apa-apa," bisiknya di telingaku dengan tangan yang masih berada di wajahku.
Aku tidak ingin.
"Ayo, Wi, bilang sekarang atau kita akan lompat dari lantai dua ini," ancamnya.
Lompat? Dia mau mati? Tidak mungkin dia mati hanya karena melompat. Dia titisan kera. Ahlinya memanjat ke sini sejak dulu. Lalu nanti hanya aku yang patah-patah? Curang!
"Ayolah, Istri!"
Aku menelan ludah lalu mengangguk. Lian melepas tangannya dan berbisik, "Ayo, mami masih menunggumu."
Kubersihkan kerongkongan sebelum berbicara, "Siwi jatuh dari tempat tidur, Mi," ucapku bersamaan dengan Lian menepuk dahinya.
"Buka kuncinya!" ucap mami mengetuk dengan cepat. "Kamu terluka tidak? Wi, buka Wi, Mami khawatir kamu kenapa-kenapa. Siwi buka pintunya!"
Ini dia kesempatanku. Aku akan membuka pintu dan bilang di sini ada Lian. Dengan begitu, Lian tidak akan mendorongku jika ada mami.
Dia mendekatiku. Semakin ia maju, aku mundur menghindar.
"Mau apa kamu?" Kutatap ia dengan bengis. Aku tidak akan menurutinya lagi.
"Masih sakit pipinya?" tanya Lian berbisik sebab kami dekat dengan pintu. Dia takut didengar oleh mami. Namun, jarak sedekat ini membuatku gugup. Ingin menghindar atau menjauh tetapi tangannya menahan wajahku.
"Tadi Aqila bikin kamu sakit hati?" tanya Lian menatap ke dalam mataku dan terlihat kalau dia memang benar ingin tahu. Suaranya yang lemah merayap perlahan ke relung hati dan menenteramkan.
"Siwi, kamu di dalam? Buka pintunya, Mami ingin melihat keadaanmu. Wi! Wi!" seru mami sambil mengetuk-ngetuk daun pintu.
Aku terpojok. Aku ingin membukanya. Namun, Lian mengambil perhatianku sepenuhnya.
"Aku minta maaf. Aku tidak pikir panjang. Aku sungguh-sungguh menyesal telah kasar kepadamu," kata Lian dan tangannya mengelus bekas tamparannya sendiri. "Maafkan aku?" Lian semakin membuatku merinding dengan kata-katanya yang lain daripada biasanya.
"Aku yakin bukan kamu yang memulai perkelahian. Apa yang dia lakukan kepadamu?" bisik Lian benar-benar menantangku untuk jujur.
Entah kenapa hatiku berdenyar mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkannya.
"Kalau kamu tidak apa-apa, Mami akan kembali ke bawah. Istirahatlah, Siwi."
Setelah mami menjauh, aku mendorong Lian hingga ia mundur beberapa langkah. Teringat dengan permintaan Aqila yang dia paksakan kepadaku.
"Aku tidak ingin hamil. Aku tidak akan membuat Aqila berpuas hati. Katakan padanya, aku takkan mengabulkan keinginannya. Aku sudah memikirkan ini sejak lama, bahkan sejak Aqila belum mengucapkannya. Aku tidak akan mengandung anakmu jika ada niat untuk mengambilnya dariku."
"Iya. Iya. Coba aku lihat pipimu. Aku ingin mengobati lukanya." Lian kembali mendekat.
"Tidak ada yang terluka." Aku menghindarinya. "Jangan ganggu aku ingin tidur. Cari jalan keluar sendiri. Beri tahu Aqila, bukan haknya mengatur hidupku. Apalagi memaksaku menjadi seorang ibu."
"Nanti kusampaikan." Lian mengabaikan. "Kamu merasa pusing atau sakit yang lain karena aku?" tanya Lian memeriksa seluruh tubuhku dengan matanya. Tidak nyaman. Aku segera meninggalkannya ke tumpukan proposal di atas bangku panjang.
"Sebaiknya jangan diulangi. Kalau dilihat orang banyak, kita yang malu. Kamu juga kontrol emosi. Tidak baik marah-marah sampai melukai orang, Siwi."
Benarkah ini Lian yang berkata lalu yang tadi itu apa? Aku sangat ingin mencakar-cakar wajahnya sekarang juga. Dia berhasil menaikkan suhu kepalaku yang tadi agak dingin. Dia tidak akan terganggu dengan tingkah istri mudanya itu. Sementara aku, sama sekali tidak bisa menoleransi kata-kata tanpa saringan istrinya. Aku tidak bisa mengontrol emosi ketika perempuan itu memerintahkanku untuk menyanggupi permintaannya.
"Aku ke sini ingin menjemput kamu pulang ke apartemen kita. Tadi aku menunggumu di rumah mama lalu terdengar ribut-ribut di luar. Kulihat kamu menjambak rambut Aqila. Tidak ada pilihan lain untuk memisahkan kalian karena kamu terlihat kalap jadi aku menamparmu."
"Ya, salahku. Salah aku. Puas? Kamu mau menamparku lagi? Ini sini, TAMPAR AKU TAPI SEBELUMNYA AKU JUGA MAU!" ucapanku bersamaan dengan tinjuku yang mengenai perutnya. Sekali dia mengaduh kecil lalu pada tinjuan kedua dia diam saja.
"LAPTOPKU HANCUR, LIAN JUANDA! Laptopku hancur." Aku berjongkok memunguti kepingan benda berharga itu yang terbagi dua dengan layar retak seribu. Kurasa kesedihan ini melengkapi semua kepelikan yang terjadi hari ini.
"Besok kita beli lagi," ujarnya pelan setelah berjongkok di sebelahku. "Jangan sedih! Aku akan membelikan satu lagi untukmu."
Tidak peduli kepada Lian yang berkali-kali mengucapkan maaf. Tak ada pengaruhnya untukku saat dia mengatakan menyesal dan akan membelikan laptop baru. Air hangat itu membanjiri kedua pipiku. Sederet kejadian sore hingga malam ini benar-benar menghancurkan mood baikku.
***
https://youtu.be/15BFLYQOim8
repost 25 maret 2020
LIAN WIRATAMA JUANDA
LEZYA SIWI AURORA
LILYANA AQILA TAN
ALLAN HANAFI SYAID
GARA HANS SAMUDRA
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro