[21] Istri Kedua Suamiku
Kapak!! Kak Lian dibelai-belai. 😘😘
Happy reading...
🍂
🍂
🍂
🍂
🍂
🍂
🍂
"Akhirnya Mami dapat cucu!" seru mami begitu aku tiba.
Pelukan mami jadi sambutan begitu aku masuk ke rumah. Dengan begini aku bisa menginjak bumi lagi. Aku merasa masih hidup dalam dunia yang waras di mana mamiku ada. Bukan dunia gila di mana ada Lian yang ingin mengambil anakku.
"Bawa Siwi ke atas, jangan buat dia stres!" Mami berkata kepada Lian yang sejak tadi berdiri di belakangku.
Aku menaiki anak tangga satu per satu menuju kamar di lantai dua. Kecepatanku untuk sampai lebih cepat dari biasanya. Bagai dikejar setan karena orang itu mengikuti. Ketika akan mengatupkan daun pintu, sebuah tangan menghalangi. Lian Wiratama Juanda, suamiku.
Aku tidak ingin melihat wajahnya, berbicara, dan bersentuhan dengannya. Semakin kuat kumendorong, makin keras dia menahan hingga sebuah teriakan keluar dari kerongkonganku sendiri. Jariku nyaris terjepit dan dia segera mengulumnya dengan panik.
"SIWI KENAPA KAMU?" Mami berteriak dari bawah membalas teriakanku barusan.
Napasku berpacu ketika emosi menguasai kepalaku. Muak. "Lepas!" Aku tarik tanganku darinya. "Kubilang, pergi dari sini!" Kedua rahangku menegang. Dia terus maju ingin memastikan jemariku baik-baik saja.
"Wi, aku suamimu. Aku ingin di sini, menjagamu dan calon anak kita."
Aku semakin kesal. "Tidak, dia bukan anakmu. Ini anakku sendiri. Kamu tidak aku izinkan mengklaim anakku!"
"Bagaimana bisa kamu punya anak sendirian? Aku ayahnya, Wi!"
Napasku terengah ketika terduduk akibat mimpi itu. Kupandangi sekeliling kamar. Ini kamarku di rumah mami. Netraku tertumbuk pada jam kecil di atas nakas. Saat ini baru pukul setengah tiga pagi. Kutarik dan kuembuskan napas untuk meredakan gejolak pada jantung. Sebaiknya aku melaksanakan tahajud.
Mimpi itu menakutkan sekali. Untunglah, yang barusan kualami hanya bunga tidur.
Oh iya, ini sudah beberapa hari sejak Lian kembali. Dia benar-benar menitipkanku di rumah mami. Mungkin akan menjemputku beberapa hari kemudian karena dia pasti akan bersama Aqila terlebih dahulu.
Sabarlah, Siwi.
***
"Mami. Siwi ingin keluar. Mami titip makanan? Atau Mami ingin ikut?" tanyaku kepada mami selesai berganti pakaian.
Hari ini perasaanku terasa ringan. Rasanya beban yang kutanggung belakangan terangkat. Ada perasaan lega seperti telah menyelesaikan suatu masalah yang rumit. Karena ini perasaan positif, aku takkan memikirkan sebabnya. Yang terpenting aku merasa nyaman.
"Dengan mahasiswimu yang itu?" Mami mendekatiku yang kini berdiri di anak tangga terakhir, anak tangga pertama di lantai satu.
"Bukan. Ini Allan. Dia mengajak Siwi untuk gantian mentraktir karena waktu itu sud—"
Mami menarik tanganku lalu dia hela kembali menaiki anak tangga sambil mengomel, "Tidak boleh keluar dengannya! Dengan laki-laki lain juga jangan. Kamu sudah ada suami. Tidak baik keluar dengan laki-laki yang bukan mahrom kamu!" Omelan mami ia jeda ketika kami sudah sampai di lantai dua. Kurasa mami ingin menjewerku. Aku merasa seperti anak kecil saat ini.
"Mami saja yang berlebihan. Siwi dengan Allan itu hanya berteman. Kami tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma apa pun. Iih Mami sudah memikirkan hal yang jauh sekali sih. Kami hanya makan dan mengobrol saja kok," jelasku supaya mami tidak berpikiran yang buruk terhadap Allan. Kasihan dia.
"Siwi anak Mami, dengarkan Mami, ya. Keluar dengan laki-laki lain di saat kamu sudah menikah, itu akan membuat suatu pandangan yang buruk untuk kamu. Mami tidak ingin kamu jadi gunjingan orang lain."
Pecahlah tawaku oleh keanehan mami hari ini. "Iya Siwi tahu pasti Mami pada akhirnya akan membicarakan hal ini. Kalau kita suka mendengarkan dan memasukkan omongan orang yang buruk tentang kita ke hati, hal itu akan merugikan kita sendiri. Sebaiknya tidak usah kita hiraukan. Atau Mami tidakpercaya Siwi? Mami pikir Siwi akan melemparkan arang ke wajah Mami dan suami Siwi?"
Mami langsung menjewer telingaku kali ini dan membuatku berteriak kesakitan.
"Menjawab terus! Mami ini menasihati yang baik-baik untukmu. Pokoknya sekali Mami bilang tidak, maka kamu selamanya tidak boleh keluar dengan Allan!"
Aku mengembukan napas lalu menyentuh pundak mami. "Mami. Siwi tahu, ini pasti karena Lian, 'kan? Lian saja tidak akan marah Siwi punya teman laki-laki. Toh Siwi menghormatinya sebagai suami. Mami jangan khawatir Siwi macam-macam di belakang Lian. Ini hanya ajakan makan siang."
"Heeeuh. Siwi!! Sekarang Mami tanya. Apakah Allan tahu kamu sudah menikah?"
Apakah Allan pernah kuberitahu? Aku menggeleng sebelum berkata, "Entahlah. Rasanya Siwi belum pernah mengatakannya. Tapi menurutku Allan sudah tahu kok."
Eh memangnya Allan bisa tahu dari mana?
"Kenapa jadi geleng-geleng kepala seperti itu?" tanya mami. "Katakan padanya kalau kamu sudah menikah."
"Tidak perlu, Mi. Tidak enak. Kedengarannya seperti Siwi cari alasan agar menjauhi dia. Masa iya, Siwi bicara begini 'Aku sudah ada suami, Allan.' Implisitnya seperti ini 'Jangan ajak istri orang keluar!'"
"SIWI!!!!" Mami murka, ya ampun. "Masuk! Masuk! Istirahat di dalam!" ucap mami seraya menarik tanganku ke dalam kamar lalu mengunci pintuku dari luar.
Segera kukirimkan pesan kepada Allan bahwa hari ini aku tidak bisa menemuinya.
***
"Ibu Siwi!" sapa seseorang ketika aku baru saja keluar dari ruangan jurusan.
Wajah berseri-seri milik Grace yang saat ini kudapati sedang memeluk sebentuk map plastik berwarna pink tengah tersenyum manis.
"Ibu Siwi mau pulang?"
"Kebetulan sekali, iya. Ada apa Grace?" tanyaku dengan mengerutkan kening.
"Temani saya ke tempat mama, yuk, Bu Siwi," ajaknya dengan menyatukan kedua telapak tangan.
Aku tertawa kecil. Grace ternyata gadis yang ekspresif. "Boleh. Ayo, ikut dengan saya. Tapi tidak apa-apa naik sepeda motor?"
Grace menggeleng. Dia menyahut sambil menyengir, "Dengan senang hati."
"Kalau begitu, ayo!" ajakku mendahului Grace berjalan ke lapangan parkir kampus.
Tidak memakan waktu yang lama dari kampus ke rumah sakit tempat Ibu Wimeka tinggal. Kami melalui ruangan demi ruangan yang berisik. Ada yang bernyanyi, ada yang berteriak, ada yang berbicara dengan boneka, dan ada yang meneriakiku tante. Sepertinya aku tidak akan menjadi tante karena aku anak tunggal. Lian juga.
Pikir-pikir soal Lian, kenapa aku jadi rindu dia? Kira-kira sekarang dia sedang apa?
"Mama!"
Suara Grace menyapa mamanya membuatku berhenti memikirkan Lian. Aku maju beberapa langkah untuk berdiri di sebelah Grace di depan pintu ruangan Ibu Wimeka.
"Haay Ibu Wimeka, ini Siwi. Aku datang dengan kabar baik," ujarku dan membuat Grace menoleh kepadaku. Aku tersenyum kepadanya sebelum melanjutkan, "Aku dan suamiku sudah kembali bersama. Begini, Bu, waktu itu aku sedih sekali sampai-sampai aku minta diceraikan. Dia pun melakukannya. Tapi akhirnya kami bersama lagi dan itu membuat aku bahagia. Meskipun aku tahu, bukan hanya aku istrinya sekarang."
Kenapa dengan mulutku? Kenapa aku menceritakan perihal rumah tanggaku kepada orang lain? Grace mengamati wajahku hingga aku merasa tidak nyaman.
"Ada apa?"
"Ibu bahagia, maksud saya, benar-benar bahagia?"
Aku mengangguk. "Sekarang ini iya. Hanya terkadang saya masih terbangun dengan mata basah di tengah malam."
"Maaf, Bu. Sebenarnya saya tidak ingin mencampuri urusan pribadi Ibu. Saya juga sebenarnya tidak berhak mendengar hal-hal pribadi Ibu. Maafkan saya."
"Tidak masalah. Saya sudah menganggap kamu sebagai keluarga saya kok, Ibu Wimeka juga. Saya senang berbagi hal. Semoga tidak membebani kamu dengan cerita-cerita saya ini."
"Saya berharap orang baik seperti Ibu Siwi akan selalu merasakan kebahagiaan. Kalau sedang bersedih, ingatlah bahwa kesedihan itu ada sebelum kebahagiaan. Jalannya harus kita lalui, baik itu senang, sedih, tawa, haru, dan sakit sekali pun." Grace berdeham. "Maafkan kakak saya telah kasar kepada Ibu Siwi."
"Kalau soal itu, saya tidak mempermasalahkannya. Ibu Wimeka, Ibu harus segera kembali kepada anak-anak Ibu. Perpisahan dengan orang yang dicintai rasanya berat sekali, Bu. Cepatlah kembali."
Setelah berbincang-bincang banyak hal dengan Grace dan Ibu Wimeka, kami memutuskan kembali. Hari mulai petang ketika kami keluar dari gerbang Ernaldi Bahar. Aku menuju kawasan kampus untuk mengantarkan Grace ke kos-kosannya. Setelah itu, aku putar balik. Hanya lima menit melajukan sepeda motor, aku tiba di jalanan kompleks.
Sebelum sampai di rumah, aku melewati rumah Aqila. Dia sudah berdiri menghadang jalan hingga aku mengentikan sepeda motor. Setelah menstandarkan sepeda motor di pinggir jalan, kulihat ke arah rumahku dan rumah mama Lian yang sepi. Kurasa Lian belum pulang.
"Senang rasanya melihat istri tua suamiku," ujar Aqila menyapa untuk pertama kali.
Entah kenapa darahku mengalir lebih cepat. "Senang juga bertemu maduku." Kalimat itu membuatku cukup tercengang.
Sahabatku itu menaikkan sudut bibirnya. "Jelas dong. Aku ada perlu makanya aku berhentikan kamu di sini. Begini." Dia melihat ke kiri dan kanan lalu mendekatiku sambil berbisik, "kamu jangan senang dulu. Aku menyuruh Lian untuk tidur denganmu supaya kamu hamil. Aku ingin memberikan mama Lian penerus keluarga Juanda seperti yang pernah kukatakan dulu."
Hatiku sakit tetapi takkan membuat dia puas setelah menancapkan paku berkarat itu.
"Aku tidak akan memuluskan rencanamu." Aku berbisik juga. Harusnya kukatakan bahwa selama ini aku bisa membuat diriku tidak hamil. Tapi aku sudah berjanji kepada Lian untuk tidak memberi tahu masalah itu.
"Kamu harus mengandung! Demi mama Lian, kamu berjanji melakukannya," ucapnya dengan gigi terkatup.
"Aku tidak pernah berkata seperti itu."
"Kamu sudah berjanji!" Kedua tangannya menegang dan menampakkan urat-urat di punggung tangan. Mungkin tangan itu akan segera mampir ke wajahku.
"Kenapa, Qila? Kamu relakan Lian untukku? Kamu meminta suamimu tidur dengan perempuan lain. Dirimu patut diacungi jempol," ucapku yang akhirnya ingin menampar bibirku sendiri. Aku sudah keterlaluan sekali.
"Kamu tidak mengerti! Aku tidak ingin dengar apa-apa darimu. Aku bilang kamu harus memberikan keturunan untuk keluarga Lian. Jadi kamu harus melakukannya!" perintahnya dengan suara arogan sekali.
Ucapannya membuatku marasa bagai tumbuh sepasang tanduk di kepala. Amarah melingkupi diriku, begitu ingin kuserang perempuan itu.
"Pikirkan lagi apa yang keluar dari bibirmu! Siapa dirimu hingga bebas sekali mengaturku?!" Aku maju selangkah mendekatinya.
"Kenapa? Kamu tidak suka? Kamu takut yang ada dalam pikiran Lian bukan kamu tetapi aku?"
Aku menggeragap.
"Lihat! Benar bukan? Makanya, Siwi, jangan jual mahal! Pernikahanmu terjadi karena aku. Apa pun yang berhubungan dengan Lian, kamu harus mengikuti apa kataku."
Kesabaranku habis. Tanduk setan tadi semakin meruncing. Kedua tanganku bergerak cepat untuk menjangkau kepalanya.
"LEPASKAN! SAKIT! BODOH! SIWI, LEPASKAN!!!"
Aku terus menjambak rambut panjangnya. Sementara itu, dia berteriak dan berusaha terlepas. Dia ingin menarik rambutku. Tentu saja takkan berhasil. Dia hanya menarik hijabku. Tenaganya tidak membuat kain lebar itu terlepas dari kepalaku. Bahkan, tanpa sengaja dia menusuk jemarinya dengan jarum yang tertempel di kepalaku.
Rasakan! Rasakan! Dia memang sudah keterlaluan.
"SIWI, LEPAKSAN! SAKIT!" pintanya memelas.
Permohonannya tidak mempan untuk telinga dan hatiku. Diriku diliputi kemarahan yang tidak bisa kukendalikan. Emosi negatif itu semakin besar dan aku menambah kekuatan untuk menarik rambutnya. Ia berteriak semakin kencang.
"ASTAGA. BERHENTI, SIWI! LEPASKAN QILA! SIWI!!" Lian berteriak di belakangku.
Tidak. Aku tidak bisa berhenti. Aqila harus dihukum. Kasihan Lian punya istri seperti dia. Perempuan itu istri yang jahat. Dia memaksa Lian. Dia perlu diberi pelajaran agar tidak mengatur-atur Lian lagi.
Sebuah tamparan membekas di pipiku. Tanganku terkulai ke bawah. Aku mundur dengan air yang mulai terbit. Cairan hangat itu memburamkan pandanganku yang menatap lekat wajah tegasnya.
"Lian," ucapku pelan, tidak menyangka dengan perbuatannya barusan.
"Kamu sudah keterlaluan!" bentaknya.
Dia membawa istri barunya masuk ke rumah wanita itu tanpa menoleh ke belakang.
***
repost 24 Maret 2020
kasev kasih double update dengan ending yang bikin darting.
Makasih sudah vote part2 menggemaskan ini. 😋😋
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro