Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[19] Suamiku, Aku Rindu

Syarat membaca part ini, siapkan: 1) boneka voodo, 2) arit, 3) air dingin, 4) rantang, 5) bambu runcing, 7) es cendol, 8) surat yaasin, 9) foto mantan, dan 10) cabe.

Duuh, lupaa up... maaf yaa... 

Happy reading yes... 😘😘

🌵
🌵
🌵
🌵
🌵
🌵
🌵


"WI, AYO TURUN, ADA YANG INGIN BERTEMU KAMU."

Pelan-pelan aku bangkit dari tempat tidur dan mencari hijab yang tadi kubuka sebelum berbaring.

"SIWI, GANCANGLAH (CEPATLAH)! KENAPA LAMA SEKALI? NANTI ALLAN JAMURAN MENUNGGUMU!"

"Allan? Ya ampun, mimpi apa aku dikunjungi olehnya? Bukan bukan, maksudku kenapa mami mengizinkan Allan berkunjung ke rumah? Dulu berpapasan di luar saja mami kelihatan enggan."

Kuambil hijab dari lemari lalu melangkah turun.

"KENAPA SEKARANG HOBI BERLARI HAH? INGAT UMUR, WI!"

Aku tiba di sebelah mami, duduk dengan anggun sambil tersenyum sedikit kepada Allan. Ada yang harus kukoreksi terlebih dahulu, "Mami juga harus ingat umur. Jangan suka teriak-teriak dalam rumah."

"Ya ampun, sejak kapan kamu melawan Mami?" tanya mami retoris. Aku hanya tersenyum.

Aku tidak menanggapi mami karena menyapa Allan rasanya lebih afdal, "Allan, senang bertemu lagi."

Allan mengangguk. "Kamu sibuk sekali akhir-akhir ini."

Aku melipat bibir. Kurasakan sudut hatiku mengkerut. Sibuk apa? Sibuk menata hati sih iya. "Tidak. Aku ke kampus seperti biasa terus pulang dan tiduran di rumah, hanya seperti itu. Tidak ada yang membuatku sibuk."

"Mami ke bekalang dulu. Allan nak minum apo (mau dibuatkan minuman apa)?" Mami sudah berdiri. Dia meletakkan tangannya di bahuku.

"Apa saja, Bu, maaf merepotkan."

"Tidak kok, lanjutkan ngobrolnya." Mami berjalan meninggalkan kami.

"Ekhem...." Allan mengambil perhatian lagi. Aku kembali melihat kepadanya. "Kalau tidak sibuk, bisa kita keluar?" Allan menggaruk kepalanya. "Barangkali kamu ingin makan sesuatu atau mengunjungi suatu tempat."

"Free range chicken dengan saus kacang hitam!!" seruku tanpa pikir panjang hingga Allan sedikit menganga. "Aku kepikiran itu. Mau makan di tempat kita bertemu dulu. Biasanya aku suka makan di sana tapi belakangan ini jarang."

"Oh, oke boleh juga." Allan tersenyum lagi. Ah, kenapa kami tidak canggung sama sekali, ya?

"Kalian akan keluar?" Mami datang dengan baki berisi dua gelas kecil minuman kemudian meletakkannya di atas meja sebelum duduk di sampingku.

"Boleh ya, Mi? Siwi ingin makan di restoran yang biasa itu lho, Mi."

"Tentu saja. Mami lebih suka melihat kamu di luar daripada mengurung diri terus di kamar."

"Tapi perginya dengan Allan—"

"Iya, bersiaplah. Jangan bikin Allan menunggu lebih lama lagi."

***

"Ternyata mahasiswiku adik Gara."

Kami sudah tiba di restoran yang kumaksud tadi dengan hidangan yang tinggal separuh. Begitu pelayan meletakkan makanan pesananku, liurku langsung terbit. Aku makan dengan bernafsu. Bahkan sekarang aku masih ingin tambah satu porsi lagi. Tapi tidak enak, Allan pasti akan menungguku makan. Tapi... aku masih ingin mencicipi ayam dengan saus itu lagi.

"Ya, Grace Hanna Atlantica? Aku sudah mencari tahu tentang keluarganya."

"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?" Aku meletakkan sendok dengan kasar di piring hingga berbunyi 'ting' dengan keras. "Kamu mau merahasiakan apa lagi dariku?"

"Kukira kamu tidak mengenal dia. Mahasiswa kamu 'kan banyak." Allan mengelap bagian mulutnya dengan tisu. Dia menyandarkan punggung pada kursi.

"Ah, maaf. Aku pikir kamu akan merencanakan sesuatu untuk Gara atau keluarganya. Habisnya aku minta kamu meringankan hukumannya, kamu selalu menolak." Aku kembali menyendok nasi ke dalam mulut. Kenyang sekali.

"Gara Hans Samudra. Kenapa kamu masih berpikir apa yang dia jalani karena kesalahanmu?"

"Tidak, ya, ah, maksudku aku hanya kasihan. Euhm, kepada Grace dan mamanya. Aku ingin membantu. Mereka punya masalah keluarga yang cukup rumit, Allan."

"Kamu terlalu baik. Kalau banyak orang seperti dirimu, kurasa penjara pasti kosong."

Aku melemparkan tisu bekas kepadanya.

Aah perasaanku menjadi ringan berbicara dengan Allan. "Terima kasih ya, sudah mau menemaniku makan di sini."

"Yah, tapi lain kali kamu harus traktir aku makan juga. Bagaimana?"

"Of course, siapa takut."

***

Aku merindukan apartemen ini. Saksi kelu kehidupan rumah tanggaku bersamanya. Di sinilah aku pernah bahagia dan juga melepaskannya.

Semuanya masih sama.

Mengapa Lian memberikan apartemen ini kepadaku? Ah iya, mereka tidak tinggal di ruangan seperti ini. Mereka hidup di sebuah rumah megah dengan halaman yang sangat indah yang telah mereka siapkan untuk anak-anak mereka pulang.

Untung juga dia tidak mengganti kodenya. Dengan begini aku bisa berkunjung ketika sangat merindukannya. Denyutan di kepalaku menjadi-jadi. Astagfirullah. Hentikan Siwi, tidak baik menyimpan perasaan kepada suami orang. Move on! Lupakan Lian!

Kamar ini. Di sinilah aku melakukan banyak hal dengannya dan terakhir kali menyandang status sebagai istrinya. Masih ada foto pernikahan kami. Ya Allah, aku tidak kuat. Aku tidak sanggup menyimpan perasaan ini. Maafkanlah aku sebab masih begitu mencintainya, Tuhan.

"Siwi!"

Sepertinya aku sedang bermimpi. Sosok dengan kemeja hitam yang menempel elok di tubuh tegapnya datang ke arahku. Aku ingin memeluknya dan menyelesaikan rindu ini. Walaupun hanya sebatas imajinasi, kugerakkan kakiku yang terasa kaku. Kuhampiri dan kurengkuh dirinya.

"Liaan, aku merindukanmu. Maafkan aku datang kemari. Aku hanya ingin melihat kenangan kita di sini. Aku rindu padamu." Kupeluk bayangannya dengan erat. Kutumpahkan air mata di pundaknya yang terasa nyata.

Ya Allah, jangan biarkan aku gila. Jangan biarkan aku lena dengan halusinasi.

Tapi... terima kasih karena Engkau mendatangkannya lewat mimpi.

"Wi, aku ingin kita kembali." Bayangan yang kudekap berbicara.

Aku mengangguk. Ya Lian, kita bisa kembali, lirihku dalam sunyi dengan kepala yang susah membedakan antara maya dan nyata.

Sosok itu melepaskan pelukan yang susah payah aku pertahankan. "Siwi Lezya Aurora. Aku rujuk kepadamu. Kamu sekarang istriku. Kamu istriku, Siwi Aurora."

Aku mengangguk dalam tangisan yang sudah tak terkendali. Biar pun dalam bayangan, aku ingin bersama lagi. Tak hanya dengan kalimat itu, dia juga menciumku. Jika ini bukan khayalan, artinya kami sudah kembali menjadi pasangan suami istri karena kalimat rujuk telah dia ucapkan. Seandainya ini bukan halusinasi.

Aku sudah gila. Rindu mengaburkan batas nyata dan ilusi. Aku hilang arah dan ikut ke mana ia bawa. Mimpi ternyata bisa semendebarkan ini. Sentuhannya masih sama. Cara dia melakukannya lebih dari sekadar sentuhan. Aku meraskan cinta. Kami bukan hanya menyambung raga tapi bercinta. Kewarasanku tersedot oleh rindu yang terlarang.

***

De javu. Aku menggeliat ingin bangun ketika mendengar sayup suara azan tapi mataku masih lengket. Para setan bersuka cita melarangku untuk bangun dan salat.

Ayo laksanakan kewajibanmu kepada Tuhanmu, pekik suara dari batinku.

"Dimana aku?" Aku terkesiap ketika duduk dan buka mata. Netraku mengelilingi tempat yang kukenali sebagai apartemen.

Ya ampun, apa yang sudah kulakukan?

"Baru bangun?"

Dia? Lian? Kenapa bisa ada di sini?

"Kamu mau solat? Ayo cepatlah! Aku menunggumu dari tadi. Kita berjamaah, ya."

Lian. Dia memakai baju koko dan kain sarung?

Ayo tampar aku! Sepertinya aku masih belum bangun. Kenapa mimpiku bisa berlanjut sampai pagi?

"Ayo cepat mandi! Kamu tidak ingin ketinggalan Subuh, 'kan?"

Aku mengangguk dan bangkit dari tempat tidur. Ada yang berbeda dariku ketika melangkahkan kaki. Ribuan pertanyaan berkecamuk salah satunya kenapa dia ada di tempat ini juga?

"Siwi." Dia memanggil lagi. Aku berbalik tepat di depan pintu kamar mandi. "Jangan lupa keramas dan baca doa mandi wajib," ucapnya sambil tersenyum.

Deg

Apa? Aku tidak bermimpi? Cepat-cepat kututup pintu dan mulai membersihkan diri. Untung saja, dia tidak melihat wajahku yang berubah panas dan semerah bendera pusaka.

"Kemarilah." Lian mengulurkan tangannya. Aku dia hela berdiri di hadapannya. "Sekarang ini, kamu adalah istri Lian Wiratama. Tidak ada yang boleh menyangkal itu."

"Istri? Kamu benaran Lian?" tanyaku dengan bodoh.

Pertanyaan itu hanya menggali lubang yang lebih dalam untuk menenggelamkanku dalam perasaan malu. Dia pasti sadar kalau aku sering memimpikannya sehingga apa yang terjadi tadi malam merupakan salah satu hal yang luar biasa.

"Ayo, aku akan memimpin solatmu."

Akhirnya Subuh kembali dan aku berdiri di belakangnya saat mengangkat takbir.

"Ada yang ingin kubicarakan. Sini!" Lian telah menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur sementara menungguku melepaskan atribut salat.

Aku naik dan duduk di mana dia memintaku, tepat di sebelahnya.

"Boleh aku minta kamu merahasiakan satu hal?" tanya Lian membuat hatiku was-was.

"Aku bisa memegang rahasia." Aku ingat sesuatu. Ya ampun, kebahagiaan ini ternyata membuatku lupa sesuatu. "Tapi, kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu mengajakku untuk kembali menjadi suami istri? Bagaimana dengan Aqila?"

"Dia yang memintaku untuk rujuk denganmu," jelasnya yang membuat hatiku perih lagi. Ini semua karena Aqila, selalu Aqila. Aku tidak bisa mundur lagi.

Cinta Lian kepada Aqila keterlaluan. Dia melakukan apa yang dikehendaki oleh kekasihnya tanpa pernah memikirkan perasaanku. Tidak bisakah sekali saja dia mementingkan perasaanku? Tuhan, apa yang harus kuperbuat sekarang? Tadi malam aku melupakan Aqila. Aku lupa kalau dia telah memiliki istri. Karena itulah aku serahkan diri dan perasaanku kepadanya.

Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan perasaanku setelah ini?

"Kenapa dia meminta hal itu?"

"Nanti, nanti akan kukatakan. Aku minta kamu berjanji dulu, Wi. Maukah kamu merahasiakan sesuatu?"

"Katakanlah. Rahasia apa yang harus aku jaga?"

"Jangan bilang pada Aqila kalau dulu sewaktu kita menikah, kita telah melakukannya."

"Maksud kamu melakukan apa?"

Lian menggaruk pelipisnya lalu melihat ke dinding di sebelah kanannya. "Melakukan yang kita lakukan semalam."

"Apa? Menyambung raga?"

Lian menyentil bibirku hingga terasa panas. "Kamu terlalu banyak membaca. Lihat istilah yang kamu gunakan susah sekali. Ya, jangan sampai dia dengar kalau sebelumnya kita telah melakukannya karena yang dia tahu aku tidak pernah menyentuhmu."

Permainan apa yang kalian mainkan kali ini? Menurutmu, aku akan bersumbar hal pribadi itu?

"Aku... ya ampun! Apa aku masih meninggalkannya di sini?"

Aku berdiri mencari pil itu, pil kontrasepsi darurat. Rasanya masih ada. Aku tidak membawanya pulang ke rumah mami. Tapi, bukankah aku tidak memilikinya di apartemen ini karena aku melakukan pencegahan langsung kepada dokter kandungan? Bagaimana ini?

"Siwi, kamu aneh sekali. Kenapa kamu aduk-aduk tempat obat seperti itu? Apa kamu butuh obat?"

"Ya morning after pil. Aku harus meminumnya. Aku tidak pergi ke dokter bulan lalu."

Lian berdiri, menarikku kembali duduk di lantai sebelah tempat tidur. "Pil apa itu?"

"Pencegah supaya aku tidak hamil." Aku kembali berjongkok di depan kotak obat yang kutaruh di lantai.

Mana ya, mungkin saja aku beruntung melihat pil pembunuh itu di antara obat sakit kepala. Mana?

Lian mencengkeram tanganku hingga berhenti mengubek-ubek kotak obat. Wajahnya terlihat memerah. "Selama ini kamu?"

"Iya. Dan bulan ini aku tidak ke dokter seperti biasanya karena kita tidak pernah lagi melakukannya."

"Bagus sekali. Bagus sekali!" Lian melepaskan cengkeramannya. Dia memutar tubuh membelakangiku sambil bertegak pinggang.

Benar apa yang kupikirkan bukan? Lian tidak ingin ada anak di antara kami. Dengar, dia bilang apa tadi? Dia mengatakan bagus! Tiba-tiba atmosfer kamar ini terasa pengap.

"Ya bagus," ulangku.

Lian membuang napas lalu berputar seratus delapan puluh derajat tepat ke arahku. "Kalau begitu mulai sekarang kita mulai usaha mendapatkan bayi."

*** 


TBC
repost 24 Maret 2020




Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro