Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[18] Menjadi Orang Asing

Happy reading. Yey double update. Kalau dua kali sehari, bisa cepet tamat ye kan?








Kakiku melangkah pelan ke arah ruanganku di jurusan. Jadwal mengajar hari ini cukup banyak membuatku mampu melupakan dia yang telah pergi dan menjadi terlarang untuk dipikirkan. Ketika duduk di depan meja dengan dinding ruangan membatasi pandangan, dia menyelinap kembali ke ruang pikiranku.

Ketika hati dipaksa untuk melepaskan, ia meminta waktu lebih lama untuk angkat kaki. Perlahan aku belajar melupakannya. Otakku memaklumi jikalau hari ini aku belum berhasil mengenyahkan bayangannya dari kepala.

Aku tidak pernah main-main dalam pernikahan. Aku tak menganggap pernikahan sebagai ajang coba-coba. Ketika Lian menikahiku, aku meletakkan kepentingan pernikahan di atas keinginan pribadiku. Aku menghargainya sebagai suami. Aku berusaha menjadi seorang istri dan mencintai suamiku. Aku tahu Lian suatu hari akan melepaskanku. Dia akan kembali kepada cintanya dan aku akan terasingkan. Namun, selagi aku istrinya, surgaku ada padanya hingga apa pun demi kebahagiaannya akan kuupayakan. Termasuk menyerahkan suamiku kepada wanita lain.

Aku tidak menyesal. Keputusanku untuk berpisah darinya ialah jalan terbaik. Itu semua demi dia, untuk kebahagiaannya. Aku membuat dia hanya hidup bersama orang yang dia cintai agar senyumannya tetap terjaga. Agar hatinya nyaman tanpa memikirkan perasaanku yang bukan urusannya. Kini bagianku menyembuhkan luka hati.

Aku menangis saat kalimat talak itu menisiki telinga. Terlebih ada sebagian hatiku menginginkan dia tetap di sisi. Namun, dia tidak menginginkan itu. Permintaanku untuk pisah sebenarnya guna menyelamatkan hati dan perasaanku. Pun nanti ada suatu kebahagiaan karena telah memberikan kebebasan untuk lelaki yang kucintai.

Perpisahan ini membuatku sering terbangun di tengah malam dengan dada berguncang dan pipi basah. Keringat bahkan mengaliri pelipisku. Kusyukuri semua itu karena dengan begitu aku diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Tuhanku. Aku bermunajat dan mengeluh kepada-Nya di sepertiga malam diiringi tangis. Sudah kupasrahkan hati ini kepada-Nya. Kuminta Ia menjaga keteguhan untuk melupakan dia meski ada lubang yang belum tertutup hingga aku merasakan sebuah kekosongan.

Jam weker kecil pemberian mahasiswaku tahun lalu yang kuletakkan di atas tumpukan dokumen telah menunjuk pukul empat sore. Waktunya aku pulang ke rumah mami. Ketika sedang memasukkan beberapa file ke dalam map untuk kubawa pulang, kudengar pintu ruangan ini diketuk seseorang dari luar. Kupersilakan siapa saja yang ingin menemeuiku. Lalu dia muncul dan duduk di seberang meja.

"Saya sudah menyelesaikannya, Bu," mulainya dengan menyerahkan satu file kertas A4 ke hadapanku. Aku langsung menerima dan membuka proposal penelitiannya lalu mengernyit ketika masih ada yang belum sesuai dengan masukanku minggu lalu.

"Kenapa yang bagian ini masih belum kamu ganti? Sulitkah mendapatkan buku sumber?"

Dia terbata, "Eh iya itu sudah cari kemana-mana tapi belum ketemu sumbernya Bu, jadi—"

"Kalau begitu besok kamu ikut saya, kita akan ambil bukunya di rumah saya. Pagi, ya."

"Tapi, Bu—"

"Kamu berniat memperbaiki atau tidak?" Aku mengancamnya karena terlalu banyak alasan.

Pulang ke rumah, mamiku bermuka masam. Kupeluk tubuh mami yang dibalut daster hijau daun dengan motif batik itu. "Mami kenapa? Kangen, ya, sama Siwi?"

Mami mengusap belakang kepalaku yang hari ini tertutup hijab gold. "Kamu sudah makan? Kenapa lama sekali? Ada apa-apa tadi di jalan?"

Ketelusupkan kepalaku di pundak mami. "Tadi ada mahasiswa yang bimbingan waktu Siwi siap-siap pulang. Dia mahasiswa yang Siwi ceritakan, adik narapidana yang bernama Gara itu."

"Kamu tidak boleh pukul rata baik kepada orang. Siapa tahu adiknya sama jahat seperti kakaknya. Kamu harus tegas dengan dia. Kalau perlu kamu persulit kelulusannya."

Kujauhkan kepalaku dari leher mami, menegakkan kembali tubuhku yang tadi bersandar dalam pelukan tuanya. "Mami suudzon aja ih sama orang. Grace itu baik, Mi, mamanya juga baik."

"Kamu tidak pernah dengar nasihat Mami. Ya sudah, istirahatlah, eeeh mandi dulu, kamu bau keringat."

"Ah Mami, tahu aja kalau Siwi capek banget. Tenagaku terkuras habis hari ini." Kepalaku juga sedikit sakit. "Aku ke kamar ya, Mi, jangan lupa susu cokelat Siwi!"

"Jangan lari-lari, nanti jatuh!"

***

"WI ADO YANG CARI KAU (ADA YANG MENCARIMU)!"

Itu pasti Grace, ah, dia tepat waktu. Aku suka dengan orang yang on time.

"Hay, masuk Grace."

Ketika mami hendak bergerak ke belakang, aku tahan tangannya. "Kita langsung gerak saja, ya," ujarku kepada Grace.

Mami memelototkan mata kepadaku karena tidak memberitahunya ingin keluar. "Nak kemano (Mau kemana)?" Suara mami lemah tapi terselip kemarahan. Sejak perpisahanku dengan Lian, mami terlalu protektif.

Aku berbisik takut akan terdengar oleh Grace karena tujuan kami masih aku rahasiakan darinya, "Kami akan ke lapas. Siwi ingin mempertemukan Grace dengan Gara, Mi."

"Tidak, kamu tidak boleh ke sana."

Aku memelas, "Mii, tolonglah, di sana aman. Mami jangan khawatir. Kalau Mami tidak mengizinkan, Siwi datang ke sana sore-sore dari kampus, Mami tidak akan tahu."

Mami melipat tangannya di dada, "Rasoke bae kagek mon kau punyo anak (Rasakan saat kamu sudah punya anak). Kamu pasti kesal karena anakmu tidak mendengarkan kata-kata maminya." Suara mami terdengar merajuk.

"Haha, Siwi akan ajarkan yang baik untuk anak Siwi—"

"Jadi yang Mami ajarkan tidak baik?"

Aku tertawa. "Baik. Aaayolah Mi, jangan marah. Doakan saja tidak terjadi apa-apa," seperti dulu, "Siwi pergi, ya."

***

"Kenapa kamu tidak menyerah untuk bertemu denganku?" Sambutan ketus seperti itu sudah bawaan Gara. Aku telah maklum. Lelaki dengan seragam lusuh itu terlihat lucu.

"Bagaimana kabar Mas Gara? Maaf, aku belum berkunjung selama beberapa waktu ini." Cara menghadapi orang seperti dia, abaikan saja kalimatnya yang akan membuat kita sakit hati.

"Jangan munafik, Nyonya! Kamu punya dendam denganku. Tunjukkan saja, jangan berpura-pura baik."

Gara menoleh ke belakangku. Saat itulah dia melihat Grace. Kurasa dia akan senang saat anggota keluarganya menjenguk. Ternyata aku salah. Gara menggertakkan gigi. Dia berdiri dengan mata yang merah lalu menyerangku. Mencekikku. Napasku terasa sempit. Sakit sekali. Bahkan suara teriakan Grace terdengar timbul tenggelam. Sepertinya aku akan kehilangan kesadaran. Untungnya tangan Gara segera terlepas saat tubuhnya dipegangi oleh dua sipir.

Aku terbatuk. Grace mengusap punggungku.

"Kakak! Apa yang Kakak lakukan kepada Bu Siwi?" Grace marah. "Kenapa Kakak ada di sini? Kejahatan apa yang sudah kamu lakukan?" Suaranya kemudian berubah sendu setelah menyadari keberadaan Gara.

"Pak, tolong berikan waktu sebentar lagi. Jangan dibawa dulu Mas Garanya," pintaku kepada penjaga. Mereka terlihat mempertimbangkan lalu melepaskan Gara.

"Silakan berbicara. Aku akan keluar."

"Kamu lihat saja, Nyonya, aku tidak suka orang yang berpura-pura baik sepertimu. Dunia ini sudah penuh oleh orang baik. Jadi jangan menipu diri dengan menjadi pahlawan di hadapanku," ucap Gara sebelum aku keluar dari ruangan itu.

Aku tidak menghitung waktu berapa lama Grace di dalam hingga dia menemuiku dengan mata bekas menangis. "Maafkan kakak saya, Bu, ini pasti sakit." Grace melihat kepada leherku yang tertutup hijab.

"Tidak apa-apa."

"Sekarang kita temui Ibu Wimeka."

Grace mengangguk.

***

Aku beberapa kali berpapasan dengannya. Di saat itu terjadi dialah yang membuang pandang. Mereka sudah menikah. Aku tidak datang ke pernikahan itu. Waktu itu aku telah berencana untuk hadir tapi keadaan tidak mengizinkanku. Hari itu aku mendapatkan halangan hari pertama yang rasanya sangat menyakitkan hingga ingin tiduran di dalam kamar saja. Kukira mami akan hadir ternyata tidak.

"Siwi, aku ingin bicara." Aqila mengejarku saat hendak masuk ke rumah. Sementara Lian, dia meninggalkan istrinya lalu masuk ke rumah Mama Nora.

Aqila menarik tanganku ke arah taman kecil. Dia melayangkan tamparan di pipiku. "Ini balasan untukmu karena tidak mendengarkan apa kataku!"

Perih menjalar di seluruh wajah. "Mau apa lagi dariku?"

"Sudah kubilang, jangan bercerai! Kamu punya telinga itu digunakan. Jangan hanya jadi pajangan. Oh aku ingat, sepertinya telingamu sudah rusak karena sering kamu tutupi." Ia menunjuk hijabku dengan sebelah bibir terangkat.

"Jangan pernah hina hijabku! Ini tidak membuat fisikku rusak!"

"Ya ya ya, kalau begitu harusnya kamu mendengar. Jangan bercerai! Kenapa kamu melanggarnya padahal sudah berjanji hari itu, Siwi Aurora!"

"Sudahlah, Qila. Kamu sudah bahagia sekarang. Jangan ganggu aku lagi!" Aku hendak pergi tapi dia lagi-lagi menahan pergelanganku untuk tetap tinggal di sana.

"Kamu pasti sangat sakit hati makanya tidak sanggup datang ke pernikahan kami. Ah untunglah, kalau kamu datang mungkin kamu akan merusak acara sakral itu—"

"Aku tidak akan melakukan hal nista itu."

"Terimakasih karena sudah memberikan kebahagiaanmu untukku. Oh ya, Lian bilang dia memberikan apartemen untukmu. Tidak apa-apa kok, hitung-hitung sebagai kompensasi perceraian."

"Aku tidak butuh kompensasi atau uang apa pun."

Aqila mendengkus sebelum membelakangiku. "Kalau kamu merindukan Lian, kamu boleh berkunjung ke rumah kami yang baru." Dia berjalan menjauh ke rumah orang tua Lian.

Kakiku tertekuk dan aku terduduk di atas bangku besi yang dari tadi kami abaikan. Aku merindukan Lian, ingin bertemu, dan melihat wajahnya. Aku merindukan kejahilannya, rindu suaranya. Apa yang harus kulakukan dengan perasaan yang terlarang?

"Di sini rupanya. Lihatlah sekarang sudah hampir magrib. Kenapa kamu sendirian di sini? Mami hampir lapor kepada polisi karena kehilangan anak perempuan."

Ya Tuhan aku sangat merindukan dia. Dia berubah tidak seperti Lian yang kukenal lagi. Lelaki itu menatapku dingin dan jijik. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku melupakannya? Bagaimana caranya?

"Payo gancang balek (Ayo kita pulang), di sini banyak nyamuk." Mami membawa tanganku menjauh dari lapangan rumput yang sempit itu, keluar dari ilalang setinggi lutut.

"Mii, Siwi...."

Mami berhenti melangkah untuk melihatku lalu mengusap bawah kelopak mataku dengan ibu jari. "Jangan menangis lagi. Lupakan semua itu. Kamu harus bangun, harus jadi Siwi yang kuat."

"Siwi harus bagaimana, Mi? Siwi rindu dia tapi Siwi tidak boleh. Siwi tidak berhak menginginkan dia, di sini rasanya sesak."

"Anakku, ya ampun, Siwi, maafkan Mami. Maafkan Mami." Mami memelukku, menyembunyikan wajahku di dadanya.

"Siwi ingin melihat dia sebentar saja. Siwi juga ingin mendengar dia bicara. Tadi dia ada tapi tidak mau menatapku lagi."

Mami mengelus punggungku dengan telapak tangan. Sesekali dia berbisik akan menjagaku. Tidak akan membiarkan satu orang pun menyakitiku lagi.

"Kenapa Siwi tidak sekuat Mami saat ditinggal papi? Kenapa seperti ini rasanya? Siwi ikhlas. Siwi merelakan dia tapi kenapa rasanya masih saja sesakit ini?"

***

TBC
Repost 23 Maret 2020

14 Februari 2018

Haaaay ulalaaaa.. Update lagi, eeh makasih buat readers yang menunggu UP cerita ini

Ini Gara

Gara Hans Samudra


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro