Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[15] Makmum Buat Suamiku

"Saya tak menyangka kamu anak Ibu Wimeka. Dunia ini kecil, ya."

Kedatangan Grace ke rumah sakit untuk ibunya. Ternyata Grace Hanna Atlantika adalah adik Gara. Grace adalah mahasiswa bimbinganku. Menurut cerita Allan, Gracelah yang membiayai rumah sakit ibu mereka.

"Saya juga heran melihat Ibu Siwi mengenali mama saya." Grace meletakkan ranselnya di bangku antara kami. Sepoi angin taman yang ditiupkan oleh dahan pohon akasia mengibarkan surai panjang gadis itu. Ia menyibak rambutnya ketika akan berbicara, "Saya minta maaf karena tidak sengaja mendengar cerita Ibu Siwi."

Kubiarkan tawa mengawali perkataanku, "Hidup saya menyedihkan sekali. Pernikahan kami baru berjalan beberapa bulan."

"Ibu masih punya pilihan. Jika bersama akan bahagia, bertahanlah. Kalau berpisah lebih baik, maka lepaskanlah. Saya kagum pada Ibu. Bu Siwi tidak terlihat menyedihkan sama sekali kok. Kalau saya tidak memergoki curhatan Ibu tadi, barangkali saya pikir hidup Ibu sempurna sekali."

"Oh, ya? Saya juga kagum kepadamu, dengan kerja keras dan pengorbanan kamu untuk keluarga. Maaf kalau selama ini saya menyusahkanmu."

"Terima kasih. Ibu pasti sudah dengar soal saya. Memang benar, saya bekerja part time untuk membiayai kehidupan kami, terutama biaya rumah sakit mama."

"Saya akan meng-acc proposal kamu. Sudah sampai metode penelitian, bukan?" Dia mengangguk. "Lakukanlah penelitian segera. Dua minggu lagi kamu seminar."

"Terima kasih, Bu. Oh iya, saya masih tidak enak hati karena tadi. Saya tidak bermaksud mendengarnya." Grace terlihat bersungguh-sungguh.

Kalau pun dia mengetahui kepelikan rumah tanggaku, memangnya dia akan melakukan apa?

"Tidak usah minta maaf."

Kuhirup udara yang dibawa angin berembus, lumayan segar. "Saya dengar kamu punya kakak, Grace, kenapa dia tidak ikut berkunjung sekarang?" pancingku.

Grace memilin-milin rambut dengan telunjuk kanan. "Saya tidak tahu dia sekarang berada di mana."

Kutolehkan kepala untuk melihat wajahnya, ada mendung yang bergelayut ingin jatuh.

"Kakak saya, dialah orang yang paling terpukul dengan kehancuran keluarga kami. Malam itu dia bertengkar dengan ayah kami. Kakak tidak terima dengan perbuatan ayah. Cekcok antara mereka membuat mama harus berada di sini. Kakak sangat menyayangi mama." Ketika air matanya turun, aku sentuh punggung tangannya untuk memberikan sedikit pegangan agar ia tidak terpuruk sendirian.

"Setelah bimbingan, saya akan ajak kamu ke suatu tempat."

Grace mengangguk. Aku akan bawa ia menemui kakaknya.

***

Aku menganga tidak percaya melihat siapa yang sedang berdiri di luar ruanganku, Gedung Jurusan Bahasa Indonesia. Dia melihati ujung sepatunya. Tangan terlipat elok di dada. Kemeja putih dengan lengan yang dilipat tanpa dasi. Ujung kemeja rapi tersembunyi di balik pinggang celana bahan. Melihat kehadirannya di sini, ada kerja tak konstan di balik tulang rusukku.

"Aku juga tidak akan menceraikanmu, Wi. Kalau kamu belum memintanya, aku tidak akan melakukannya. Kamu masih ingat perkataanku waktu itu? Pergilah ketika kamu lelah, sudahi apabila kamu ingin menyerah."

Kalimat itu kembali terngiang saat aku ingin memanggil namanya. Niat itu kuurungkan dan entah kenapa beratlah yang kurasakan di mataku, di bibirku, dan di kepalaku. Kami tidak baik-baik saja saat ini. Banyak sekali batas yang memisahkan kami. Kehadirannya yang tiba-tiba di tempat ini, tempatku bisa melupakannya sejenak, menggeliatkan segala perasaan tersembunyi; marah, kesal, sakit, senang, bahagia, cinta, barangkali.

Dialah yang lebih dulu memanggil namaku karena aku sedang bertarung dengan keinginan untuk tidak mengacuhkan atau menegurnya. Kenapa wajahnya terlihat tidak memantulkan masalah sama sekali? Matanya seperti kobaran api neraka yang mampu melumerkan hati yang telah beku. Apalagi hanya hatiku yang terserang flu ringan. Mau tak mau bibirku tertarik ke samping membalas senyuman yang dia lontarkan.

Aku bergerak menghampirinya lalu mencium punggung tangannya.

"Siwi?" Dia terheran begitu juga denganku. Kenapa aku melakukan itu?

"Ka-kamu menungguku? Apa aku melupakan jadwal belanja bulanan kita? Kupikir persediaan masih cukup." Tidak ada hal lain yang bisa kupikirkan selain untuk menemaniku berbelanja kebutuhan rumah tangga.

"Tidak. Aku tidak datang untuk itu. Aku datang menjemputmu."

Waktunya sudah tiba. Lian pasti akan mengajakku menemui orang tuanya, membicarakan perihal pernikahannya dengan Aqila. Bernapas, Siwi! Ini memang akan terjadi cepat atau lambat. Sudah saatnya aku belajar melepaskan. Sudah saatnya hatiku kubekukan pada derajat yang sangat dingin agar tidak melumer, cair, dan mengalir lalu hilang seperti embun.

"Ayo!" Lian mengulurkan tangannya.

Aku sedikit ragu untuk menyambut uluran itu. Dia dengan ligat menangkap tanganku lalu mengenggamku ke luar dari gedung.

"Jangan buru-buru, Li. Aku pakai rok panjang dan high heels, kamu ingin membuat aku terjatuh?"

"Oh iya. Aku terlalu semangat." Lian memelankan langkah kakinya. Tangannya memperbaiki genggam tanganku dengan mantap. Rasanya begitu menyenangkan berada di sampingnya tanpa memikirkan penyakit hatiku.

"Wi, hal apa yang paling kamu inginkan dulu dan saat ini?"

"Kenapa, kamu mau mengabulkan keinginanku?" Kami masih berjalan menuju lapangan parkir. Beberapa mahasiswa yang kami jumpai tersenyum padaku dan suamiku seraya menyapa namaku. Di kejauhan kulihat Grace tersenyum kecil lalu bergumam, ah kira-kira apa yang dia pikirkan saat melihat kami?

"Kudengar dulu. Kalau kamu ingin dibelikan pesawat terbang, jujur aku angkat tangan. Aku belum sanggup membelikanmu kendaraan bersayap itu," selorohnya sambil membukakan pintu penumpang saat kami tiba di sebelah mobilnya.

"Padahal aku sudah berniat ingin mengucapkannya tadi," keluhku sambil memakai seat belt.

"Kamu lucu," ucapnya dengan wajah datar. "Jadi apa yang kamu inginkan, Wi?"

***

"Kamu mengantuk?"

Kami berada di toko buku saat ini. Di sebelahku Lian menyandarkan kepalanya pada rak buku. Sementara aku asyik membaca novel sambil berdiri. Aku pernah berpikir, 'Seandainya aku sudah menikah, aku ingin ada yang menemaniku ke toko buku, tidak mengeluh lelah dan bosan.' Karena jika aku sudah bertemu dengan buku baru, aku akan tahan lama-lama berdiri sambil menelan kata demi kata serta kalimat demi kalimat yang kubaca.

"Tidak. Tidak bisakah yang punya toko sediakan tempat duduk untuk pelanggan? Lihatlah, mereka berdiri seperti kita. Kasihan." Lian mengantuk-antukkan keningnya pada rak, pelan dan itu terlihat kekanakan.

"Kamu capek, ya? Maaf aku keasyikan."

Mengintip arloji di tangan kanannya, aku kaget bukan main, "Sudah sejam setengah kita di sini." Aku tersenyum salah tingkah. Pantas Lian kelihatan bosan. Sepertinya aku telah salah mengajaknya ke sini. Dia tidak terlihat menikmati.

"Aku ambil ini saja deh kalau begitu," tunjukku pada buku yang hampir kuhabiskan halamannya. Maksudnya telah hampir selesai kubaca.

"Kamu tidak salah, Wi? Ini sudah kamu baca, kenapa masih ingin dibeli? Cari buku yang lain yang belum kamu baca saja. Nah, ini banyak buku yang baru, best seller juga," ungkap Lian mengangkat sebuah novel dengan cover bertulis Under the Same Roof.

"Itu juga aku mau, ini penulisnya uwong kito." Aku mengambil buku itu dari tangan Lian. "Mau beli tiga, sama ini satu lagi, Fikih Wanita dan Pernikahan."

"Istri, kalau tetap ingin dibeli, kenapa bacanya sampai habis di sini?" Lian berdecak. Dia menggelengkan kepala, mungkin saja takjub dengan kekuatan tungkaiku berdiri.

"Suasana membaca di toko buku itu tidak akan aku lewatkan."

Kami menuju kasir. Ketika akan mengeluarkan dompet dari tas, Lian mencegahku. Parahnya dia bahkan memukul punggung tanganku.

"Kalau tahu kamu yang ingin membayarnya, kenapa tidak aku borong saja tadi banyak-banyak." Lian hanya tertawa dekat dengan telingaku. "Kamu pasti bosan menemaniku."

Dia merebut kantong kecil berlogo toko buku dari tanganku. "Tidak, aku senang." Dia tertawa dan wajahnya memang menunjukkan kalau dia tidak terlihat tertekan seperti di toko buku tadi.

"Mau kemana lagi, Istri?"

***

"Kamu suka menghadiri fashion show?" bisiknya dekat telingaku.

Musik pengiring para model cukup kuat karena kami berdiri di sudut ruangan dekat dengan speaker.

"Aku selalu datang sendirian sehabis mengajar, sesekali ingin mengunjungi acara ini bersama seseorang." Aku masih terpukau dengan busana pengantin adat yang diperagakan hingga mataku tak lepas dari gerakan angggun sang model.

"Pulang, Wi, sudah hampir malam." Lian menyentuh pundakku, memperlihatkan kepadaku jarum pada arlojinya yang menunjukkkan hari sudah petang.

Ada sesuatu yang membuat Lian memaksa pulang. Ini bukan hanya sekadar hampir malam. Yang kulihat dari pancaran matanya, ada sebentuk kesedihan. Apakah aku salah mengatakan ingin melihat acara ini dengan seseorang?

Kami tidak langsung pulang, Lian membelokkan mobil ke arah rumah makan. "Kita bungkus saja, nanti makan di apartemen."

***

"Li."

Lian menolehku, mengusap punggung tanganku dengan masih mempertahankan guratan senyuman yang sejak siang memahat wajahnya.

"Ya? Ada lagi yang ingin kamu lakukan?"

Aku terkesima dengan cepat tanggapnya dia hari ini. "Kamu tahu saja."

"Katakanlah, mumpung kita masih di luar. Aah, tapi kalau sudah di apartemen pun tidak apa-apa, kamu katakan saja apa maumu."

"Aku akan memintanya nanti setelah kita tiba di apartemen."

"Nice idea." Dia tersenyum lagi. Kali ini lebih banyak muslihat dalam senyumannya.

Kami tiba di apartemen saat maghrib hampir pudar dan menyisakan sedikit kesempatan untuk bersua Tuhan.

"Lian!" Kutarik tangan Lian yang hendak melangkah menuju kamar kami. "Aku ingin mengatakannya sekarang."

Lian melihat jam di dinding lalu melepaskan tangannya yang kupegang. "Sekarang? Oh, baiklah. Kupikir kita akan bersih-bersih dulu, baru melanjutkan apa yang kamu ingin lakukan itu."

"Tidak cukup waktu. Sekarang sudah mendesak."

"Katakan, Istri, kamu mau aku melakukan apa?" Lian mundur sedikit, menatapku dengan sabar.

"Aku ingin kamu menjadi imam solatku." Keinginanku, menjadi makmum dari suamiku.

Lian menunduk. Dia mundur dua langkah ke belakang. Ketika dia mengangkat wajahnya, tercetak kesedihan di matanya. "Kamu menginginkannya, Wi? Sangat menginginkannya?"

Aku mengangguk, berharap dia akan menyanggupi impianku ini. Aku percaya dia akan mengatakan iya. Dia akan menjadi imam untukku bersujud kepada Rabb kami. Namun, napas yang kutahan saat menunggu jawabannya menjadi dengkusan halus ketika dia menggeleng.

"Aku akan melakukan yang lain, tapi untuk satu hal ini aku belum sanggup."

"Li, ini hanya solat, tidak ubahnya ketika kamu solat sendirian, hanya niat saja yang kamu ganti sedikit dan selebihnya sama, lakukan sebisamu, ya?"

"Lain kali, Wi, aku akan melakukannya lain kali." Suaranya memelas.

Akulah kini yang mundur, selangkah, dua langkah, tiga langkah. Tersenyum dengan getir menelan kekecewaan yang sudah mengungkung perasaan.

"Kapan itu? Tidak ada lain kali, Li. Aku tidak punya waktu."

Pada akhirnya, aku memang harus salat sendirian. Tidak akan menjadi makmum suamiku.

Sudah biasa aku salat sendirian, tapi hanya kali ini magribku berurai air mata.

"Ya Allah, berikankah kebaikan untukku dan suamiku, tunjukkanlah kepada kami jalan terang-Mu. Bimbinglah Kami, ampunkan kami." Bersujud lagi kurasakan getaran dari dalam tubuhku sendiri.

Saat aku duduk, masih dalam keadaan bersimpuh, Lian juga bersimpuh di depanku. Dia menundukkan kepalanya lalu menyembunyikan wajahnya di kakiku.

"Siwi, maafkan aku. Maafkan aku."

Lian menangis.

***

TBC

03022018

REPOST 21 MARET 2020

KaSev langsung UP, habis diketik... Eh BTW, KaSev pernah cerita nggak, nama Lian KaSev ambil dari siswa kelas VII hehe...  Tadi ngetik ini di kelas Lian. Kalau Siwi, ada deeh.. 😙😙😚

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro