Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[12] Liburan Penebus Luka

Cast mereka nih,


Lezya Siwi Aurora


Lian Wiratama Juanda

12 Liburan Penebus Luka

Aku mendiamkan Lian sepulangnya kami ke apartemen. Setelah menyusun belanjaan, aku menarik selimut untuk tidur membelakanginya. Jujur aku tidak tahu kenapa merasa sakit melihat dia berciuman dengan kekasihnya. Seharusnya aku biasa saja sebab selama ini aku telah terbiasa dengan hubungan mereka. Aqila di awal-awal dulu sering menceritakan kepadaku bagaimana cara Lian menciumnya.

Oh Tuhan, jangan ingatkan lagi.

Ketika terbangun paginya, ternyata Lian memeluk tubuhku dari belakang membuat kemarahanku memudar. Lian bangun dengan gegas. Dia mengemas beberapa pakaian kami ke dalam koper. Lelaki yang baru saja mengkhianati pernikahan kami itu mengambil surat-surat penting dari dalam lemari dan menyimpannya ke dalam koper. Dia juga mengambilkan jaketku dan memasangkan ke tubuhku secara tergesa-gesa. Lalu dalam diamnya dia menarik koper dan diriku secara bersamaan.

Kini kami sudah berada di ribuan mill dari apartemen yang semalam masih kutiduri. Aku tidak tahu ini di mana, yang jelas cukup jauh. Kami naik pesawat selama satu jam dan kemudian melanjutkan dengan mobil pun selama sejam.

Aku tidak tahu apa tujuan Lian membawaku ke tempat ini. Selain karena jauh, aku pun tidak pernah membayangkan Lian mengajakku ke tempat asing. Hanya kami berdua. Kalau dibilang rangkaian bulan madu, tidak mungkin. Bulan madu dalam pikiranku adalah bepergian setelah pernikahan dan melakukan sambung raga untuk pertama kali. Itu definisiku. Sementara yang terjadi saat ini, tidak bisa digolongkan bulan madu.

***

"Pakai ini!" Lian menyodorkan satu tas kertas berukuran cukup besar.

Seseorang tadi datang membawakan sebuah bungkusan. Kubuka bungkusan dengan heran. Kemana Lian akan mengajakku siang-siang begini. Isinya membuatku terlonjak kaget karena bukanlah sebuah gaun seperti dalam pikiranku.

"IDAK GALAK! AKU TIDAK MAU PAKAI!" Kulemparkan bikini itu ke wajah Lian.

Sudah stress mungkin suamiku ini habis bertemu dengan kekasihnya semalam. Dengan bergidik aku naik ke tempat tidur dan menyembunyikan diri dalam selimut yang tebal.

"Hey ayolah, Wi! Cuacanya enak untuk berenang. Kamu tidak usah takut, ini kolamnya privat kok. Tidak akan ada yang bisa melihat tubuhmu—kecuali aku pastinya." Suaranya pelan di akhir.

"Aku tidak mau. Uwong lain memang idak pacak liat, tapi kau pacak (Orang lain memang tidak bisa lihat, tapi kamu bisa)! Aku malu pakai pakaian seperti itu." Nada suaraku jadi turun pada kalimat akhir sebab aku mengucapkannya sambil membayangkan tubuhku terekspos akibat minimnya kain yang bernama bikini itu.

Aku tidak akan pernah sudi memakainya!

Lian berusaha menyingkap selimut yang kupegang erat. "Malu kenapa? Kamu malu padaku? Ya ampun! Lagian ini biasa digunakan untuk berenang. Aku tidak menyuruh kamu telanjang!"

Telingaku berasap. Aku duduk agar bisa meneriakinya. "AKU DAK GALAK (TIDAK MAU) PAKAI BIKINI! KAU DAH GILO APO HAH, SAMO BAE TELANJANG! ITU SAMA SAJA AKU TAK MEMAKAI APA-APA. KAMU MENGERTI TIDAK SIH!"

"Ck... Telanjang atau tidak yang jelas aku udah tahu luar dalam kamu. Apa yang kamu malukan lagi? Lagi pula kukira ini masih ukuran sopan untuk kamu pakai."

"Tidak!" Aku kembali berbaring dan masuk ke dalam selimut, "Ckk... kurasa Lian itu berkepribadian ganda; kenapa dia senang sekali mempermalukanku? Lian lelaki yang tingkat kejahilan masa remajanya sudah dimakan usia. Maksudku Lian itu lelaki serius yang tidak suka bercanda—"

"HEY APA-APAAN KAMU?! TURUNKAN AKU! NGAPO KAU PECAK WONG GILO INI, LIAN?"

Setelah berhasil mengeluarkanku dari selimut, Lian membopong tubuhku ke luar. Aku terpaksa melingkarkan tanganku di lehernya agar tidak terjatuh dan melukai tulang ekorku. Kolam berenang yang luas ternyata menyambut kami di luar kamar.

"Kamu harus bergerak." Dia menurunkan diriku hingga aku berhasil berdiri dengan benar di pinggir kolam berenang. Tidak lucu kalau aku sampai tergelincir lalu menyebur ke kolam yang dingin dan si Wiratama mentertawakan kesialanku itu. Big no.

Sreeet. Resleting belakang baju gamisku ditarik.

"LIAN, STOP!"

Tubuh belakangku langsung disergap dinginnya angin yang bisa-bisanya kebetulan sekali bertiup saat punggungku terpapar seperti ini. Yang kupikirkan sekarang hanya berlari dan menjauh dari laki-laki yang sedang kumat itu. Aku menjauh dari Lian sambil berusaha menarik kembali resleting yang sudah terbuka hingga tengah-tengah punggungku.

Lian mengejar. "Jangan berlari, nanti kamu tersandung. Heeey lihat kamu hampir menabrak pot bunga!"

Benar saja, akibat terlalu konsentrasi kepada resleting aku tidak melihat benda yang terbuat dari tanah liat sebesar kaleng cat di depanku. Akibatnya aku melakukan manuver ke belakang membuat punggungku membentur sesuatu dan mulutku serta merta mengeluarkan pekikan kaget.

Detak jantungku belum pulih benar akibat berlari kini kembali bertambah kecepatan detakannya akibat emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Lian yang tadi kutabrak mengambil kesempatan itu untuk menurunkan lagi resleting bajuku hingga pinggang. Sekali sentakan Lian menurunkan pundak bajuku ke lengan.

"AKU BISA BUKA SENDIRI. DAN AKU AKAN MEMAKAINYA DI KAMAR MANDI! KAMU PUAS?!"

Aku menjauh sebelum benar-benar dipolosi secara berdiri oleh Lian.

***

"Ya Tuhan, aku bahkan tidak pernah memakai short pants. Sekarang bim sala bim aku memakai bikini. Lian sudah gila. Benar, dia tidak waras."

Aku mondar-mandir di depan kaca kamar mandi dengan potongan kain berwarna hijau dengan tebaran bunga seperti bunga sakura putih. Potongan kain ini hanya mampu menutupi area yang benar-benar privasi saja sementara punggung dan pundakku sama sekali tidak ada pelindungnya.

"Ya Tuhan, apakah di punggungku ada bekas luka atau korengnya? Ah tapi rasanya punggungku mulus-mulus saja." Aku memutar kepalaku ke cermin untuk melihat bagian punggung. "Ya 'kan benar, untung saja permukaannya tidak ada lecet-lecet atau semacamnya."

Huuuft....

Aku berbalik menghadap cermin untuk melihat bagian perut, "Oh ya Allah, perasaan aku menggunakan kontrasepsi supaya tak hamil tapi kenapa perutku seperti bumil begini? Lemak tubuhku di mana-mana. Bagaimana ini? Aku tidak berani keluar dan memperlihatkan lemak-lemak mengganggu ini kepadanya."

Ceklek

Suara kenop pintu diputar dan daun pintu yang terkuak membuatku berhenti bercermin. Aku melihat lelaki itu menyembulkan kepala sembari memegang gagang pintu.

"Hey lama sekali."

Ya ampun, aku lupa mengunci pintu. Lian mendekati. Dia melihat penampilanku dari cermin. Lalu meledaklah tawanya.

Sakit hatiku. Aku jongkok di lantai untuk menyembunyikan tubuh setengah telanjangku. Bahkan kalau bisa aku ingin mengecil agar Lian tidak dapat melihat.

"Lebih baik kamu tidak pakai apa-apa," ujarnya ketika selesai mentertawakan penampilanku.

Inilah saatnya aku membalas kekejamannya. Penampilan buat wanita adalah yang utama. Meskipun biasanya aku cuek saja dengan hal ini tapi sekarang di saat aku dihadapkan dengan penghinaan, aku tidak bisa terima. Tadi dia yang memaksaku memakai pakaian sesat ini lalu sekarang dia katakan aku lebih baik tidak pakai apa-apa. Lian kamu sudah salah bicara.

Aku berdiri tepat di hadapannya. Mendongak sedikit untuk menatap matanya, lalu kuinjak kakinya dengan tumit sekuat tenaga.

"AAW!"

Kutinggalkan dia, melangkah dengan cepat ke kolam renang. Lebih baik aku lupakan tanggapannya. Aku menceburkan diri ke kolam yang ternyata sangat segar.

Byuur...

Ternyata berenang bisa membuatku merasa lebih baik. Beberapa masalah seolah terangkat. Kurasa liburan ini tebusan rasa bersalahnya kepadaku. Bisa jadi. Dia memberiku liburan di tempat ini sebagai kompensasi atas perselingkuhan dengan kekasihnya.

Tubuhku terasa ringan. Benar apa kata Lian aku memang harus banyak bergerak. Beberapa putaran kulakukan. Sudah lama aku tidak melakukan exercise. Entah sudah berapa lama aku berenang hingga tiba-tiba kurasakan seseorang memegang pinggangku. Otomatis aku menendang-nendang siapa pun yang sedang menyentuhku.

Tidak ada orang sama sekali sejauh mataku memandang.

Tubuhku ditarik ke dalam kolam. Kakiku masih menendang. Sekuat tenaga kulepaskan cekalannya di pinggangku tapi tangannya sangat kuat. Menempel di kulitku bagaikan lintah.

Sekuat tenaga kuangkat lututku untuk menendang si tangan mesum. Berhasil. Pinggangku lolos dan dengan cepat aku naik ke permukaan. Aku berenang ke tepian kolam seketika itu juga mataku membelalak.

"LIAN!"

Aku berenang ke tengah kolam mendekati Lian yang sepertinya kehabisan napas. Kapan dia ikut berenang?

"Lian, kamu berat banget!" Kubawa Lian ke tepi.

Lian berbaring di lantai. Lelaki itu masih sadar, bukan pingsan seperti biasanya orang tenggelam alami. Tapi dia kelihatan tersiksa, meringis dengan bibir dikatup.

"Kamu kenapa? Kram kaki?" Aku memijat kaki Lian kiri dan kanan berharap jadi pertolongan pertama untuk korban kram.

Lian menjauhkan tanganku dari pahanya. Oh, mungkin dia malu.

"Kamu kenapa? Aku tidak melihat kamu nyebur tadi. Kenapa tiba-tiba bisa ada di kolam? Oh, kamu tidak bisa berenang sampai tenggelam seperti ini?"

Lian terlihat sangat kesakitan hingga sisi khawatirku meningkat.

Apa yang harus kulakukan untuk korban tenggelam yang keadaannya sadar seperti ini? Kalau pingsan, bisa diberi napas buatan. Kalau kram aku usahakan untuk urut, tapi dia duluan yang menepiskan tanganku. Lalu apa lagi yang harus kula—"KAMU INI MESUM BANGET," teriakku saat tangan Lian mengurut kepunyaannya sambil meringis.

"Sakit, Wi," Lian merintih sambil terus mengelus. Aku tidak berani menatap apa yang Lian lakukan.

"Lian ini masih siang, jangan bicara sembarangan!"

Kesal dengan Lian, kutinggalkan saja dia di luar dengan pikiran kotornya itu. Otak lelaki selalu ada di selangkangan. Aku tidak habis pikir, atau memang inilah tujuan dia menikah?

Bodoh.

Setelah membersihkan diri, aku memakai pakaian yang nyaman. Kaus lengan panjang berwarna putih dan celana kulot lalu kupakai hijab instan warna merah hati.

"Si-wi!" Lian membalikkan tubuhku ke arahnya secara paksa. Matanya berkilat marah.

"Kalau pun kamu tidak bisa mengurangi rasa sakit adikku, setidaknya jangan tinggalkan aku sendirian. Kamu sama sekali tidak tanggung jawab." Tubuh besarnya ia tumpukan di pundakku.

Berat badan Lian berapa sih hingga rasanya aku dijatuhi drum minyak tanah saat dia berpegangan kepadaku.

"Tanggung jawab apa maksudmu? Aku salah apa memangnya?" Aku menaikkan sedikit pundakku yang dia pegang itu tandanya kuminta Lian untuk melepaskan tangannya.

Lian memindahkan tangannya ke pinggangku lalu menunduk. Napasnya mendengkus kasar.

"Kamu menendangnya tadi."

"Menendang apa?"

"Ini," Lian memberikan isyarat untukku melihat apa yang dia perhatikan.

"Ya Allah." Objek tendanganku adalah—Lian.

***

TBC
23 Januari 2018

Okey, habis sesak2an kemarin lihat Aqila, sekarang senang2 ya bareng pasutri mantan kekasih ini.
Semoga sabar nunggu part berikutnya soalnya stok part masa hibernasi KaSev sudah habis wkwkwkw... 😁😁😁😁

Makasih sudah mampir dan tolong koreksi typo bahasa maupun konten. Makasih...

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro