Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[05] Segelas Susu Coklat

5

Secangkir Susu Coklat

Nah, kalo ini partnya sudah sama dengan yang di wattpad sebelumnya ya. Happy reading ... Ntar kalo rame Kasev update lebih dari satu part ya.



"Seperti anak kecil."

Setelah Mama Nora meninggalkanku sendirian di meja makan—katanya ingin menemani Papa Juan di halaman—Lian datang menggantikan posisi mamanya. Ia berdiri di sebelahku dengan rambut basah yang belum disisir.

Susu yang telah kuaduk aku ulurkan padanya ketika Lian telah duduk di sebelahku, "Kamu mau coba?"

Lian menaikkan alisnya.

"Ini bukan hanya minuman anak kecil," ucapku membela minuman favoritku. "Nih." Aku mengangkat gelasku ke arah bibirnya.

Lian tampak berpikir sebelum menyesap susu yang kuberikan. "Mau lagi? Jangan malu-malu, kalau enak buruan habiskan," kataku geli melihat mata Lian yang berpikir keras tapi sepertinya ingin minum lagi.

Kali ini Lian tidak membiarkan aku memegangkan gelas untuknya. Lian menikmati minuman kesukaanku. Andai dia membiasakan diri untuk menyukai apa yang kusuka dan mulai menerima keberadaanku di sisinya.

Sejak penerbangannya yang menghabiskan masa selama dua minggu, beberapa hari ini Lian tengah 'liburan'. Lian tidak keluar rumah jika tidak ada hal atau urusan. Positifnya adalah Lian kelihatannya tidak terlihat menghindar atau memusuhiku. Mungkin benar apa katanya tempo hari, sebelum menjadi istrinya, aku adalah temannya. Namun, ada kekuatan yang menyakralkan hubungan kami walaupun pondasinya bukan cinta.

"Tidak ada jadwal mengajar hari ini?"

Lian telah mengosongkan satu gelas susu bagianku. Ia meletakkan gelas kosong itu di meja.

"Tunggu." Aku menarik selembar tisu dari kotaknya dan meremasnya sedikit.

Pria dewasa seperti Lian terkadang bisa menjadi seperti anak kecil ketika minum segelas susu. Dia meninggalkan jejak-jejak susu di sudut bibirnya. Ini membuat seorang Lian Wiratama turun umur sedikit menjadi lebih muda.

Aku mencondongkan tubuhku ke tempat duduk Lian untuk menyeka bibirnya menggunakan tisu dengan hati-hati. Kejadian ini mengingatkanku kepada dia yang dulu. Sewaktu berpacaran, aku juga melakukan hal ini untuk Lian. Dia sering meninggalkan sisa kuah soto, jus, atau apa pun makanan berkuah lain di bibirnya.

"Kamu jorok banget tahu," kesalku waktu itu ketika aku yang harus membersihkan wajahnya agar terlihat rapi.

"Ada kamu yang membersihkan," ucap Lian yang terbiasa menggombal kala itu.

Setelah digombali oleh bermacam-macam kalimat receh, yang anehnya waktu itu membuatku senang, aku tidak jadi memarahi keabaiannya terhadap kebersihan.

Masa lalu yang sungguh menjengkelkan. Kenapa aku bisa naksir Lian sih dulu?

Lian merebut tisu yang ada di tanganku. Dia menjatuhkan tisu itu ke lantai, menginjaknya, lalu berbalik meninggalkanku sendirian.

"Aku tidak ke kampus!" jawabku setelah ingat bahwa aku belum menjawab pertanyaannya tadi. Dia kenapa jadi kesal? Dasar aneh!

Kuambil gelas yang tadi dipakai Lian dan membawanya ke bak cuci piring. Aku akan membuat susu satu gelas lagi untukku.

***

Kuputuskan untuk pulang. Lian ada di rumah, tetapi dia jadi aneh sejak kejadian tadi pagi. Daripada terkurung dalam suasana tidak menyenangkan, lebih baik kabur dan memutuskan simpul rindu kepada ibuku.

Mami terlihat biasa saja dengan kedatanganku.

Aku melemparkan diriku ke tempat tidur di kamarku. Aku sangat merindukan tidur di sini.

"Kenapa kamu pulang? Bukankah Lian sedang ada di rumah?" Mami berlipat tangan di pintu. Daster birunya melambai dengan lembut ketika mami mengganti tumpuan kaki.

Pertanyaan dari mami memaksa mataku yang telah menutup untuk terbuka lagi.

"Laki kau di rumah, ngapo ke sini hah?"

Biasa saja, Mami. Dia hanya temanku.

"Sesekali Siwi ingin main ke rumah Siwi sendiri. Tidak boleh memangnya? Hari ini hari liburku juga."

"Sejak kamu menikah, rumahmu adalah di mana suamimu tinggal. Kamu pulang ke mana suamimu ada, bukan pulang kemana ibumu ada. Surgamu sekarang adalah suamimu. Kamu harus mematuhi dia, menjunjung dia, menghormati dia, menyenangkan hatinya, memastikan dia tercukupi. Itulah yang harus selalu kamu ingat.

Apakah Lian baik padamu?"

Aku bangkit, melipat kakiku jadi posisi bersila. "Mami tahu sendiri, Lian orang yang baik. Mami jangan meragukan dialah."

Selain sifat tak acuh Lian kepadaku, seratus persen Lian adalah teman yang baik walau bukan suami yang baik.

"Impian Mami adalah melihat kamu menjadi istri Lian. Mami sangat bahagia melihat kalian bersatu, tetapi jika hatimu tidak merasakan apa yang Mami rasakan, Mami harus meminta maaf."

"Mami bicara apa?" Aku merasa pernikahan ini tidak pernah terjadi. Lihatlah, aku masih seperti wanita single. Lian begitu juga. Aku belum merasa terikat.

"Jika kamu merasa tertekan dengan pernikahan ini, Mami mohon maafkan Mami."

"Hey... Mami kenapa?" Aku mencari suatu kejanggalan lewat mata mami dan tidak menemukannya.

"Kenapo Mami dulu idak kasih kau adik, ye? Sekarang setelah tidak ada kamu, Mami merasa sendirian di dunia ini."

"Mami... Kenapa jadi sedih begini? Aku tinggal di sebelah. Tidak jauh. Mami bisa ke sana setiap Mami ingin. Ada Mama Nora yang juga sendirian di rumah karena Papa Juan, Lian, dan Siwi bekerja."

"Sebenarnya, ada satu keinginan yang ganggu tidur Mami setiap malam."

"Katakan. Apa yang membuat Mami terganggu?!"

"Kau janji nak ngabulke impian Mami?"

Mamiku sekarang tiba-tiba berubah menjadi wanita keibuan begini. Masa laluku tidak akan dipenuhi oleh omelan-omelan mami kalau mami seperti ini sejak dahulu.

"Bisa. Katakan apa yang membuat Mami berpikir terlalu keras tiap malam?"

"Kasih Mami cucu yang lucu!"

Peganganku pada tangan mami terlepas. Kenapa setiap pernikahan harus dibarengi permintaan akan cucu? Untuk yang satu itu, aku tidak mungkin bisa membantu mami.

Aqila juga memintamu hal yang sama.

Aqila tidak ada. Dia mungkin sudah lupa alasan kenapa aku harus menikah dengan Lian. Nah, kalau mami? Bagaimana harus kujelaskan bahwa kami hanyalah teman yang terikat dalam sebuah hubungan yang bernama pernikahan? Tidak mungkin ada anak di antara kami.

"Terlalu cepat Mami menginginkan anak dari Siwi. Kami baru saja menikah."

"Tetapi usiamu sangat bagus untuk mengandung."

"Kita hanya bisa meminta. Allah yang akan memberikannya. Jika Mami menginginkan cucu, jangan memintanya kepada Siwi, mintalah kepada Dia."

"Mami bedoa. Kau kiro Mami idak pernah mendoakan kau hah?! Pacak nian ye mikir buruk! Aaaah... Dasar anak durhaka! Sekali bae dengar apo kato Mami kau ini! Kabulkan apa yang Mami inginkan! Pokoknya Mami tidak mau tahu, tahun depan kamu harus melahirkan seorang cucu untuk Mami."

Suara pintu yang ditutup menghilangkan sosok mami dari pandanganku. Kini yang tinggal hanyalah permintaan mami. Permintaan yang mustahil untuk aku lakukan.

Bodo! Lebih baik aku tidur.

***

"Belum. Sepertinya belum solat juga. Masuklah, Li."

"Iya, Mami."

Suara mami dan Lian. Sepertinya aku sedang bermimpi. Mana mungkin mami berkata lemah lembut seperti itu kepada Lian. Melihat sosok Lian dari jauh saja, Mami sudah mencari sapu untuk ia pukulkan ke kaki cowok itu. Apalagi ini pakai acara menyuruh Lian masuk ke kamar segala.

"Hey! Hey!"

Aku memutar tidurku membelakangi siapa saja yang hendak mengganggu kemerdekaanku.

"Bangun! Kata mami kamu belum makan. Hey!"

Suara Lian.

Aku terkesiap dan duduk lalu mencari-cari sesuatu. Entahlah, di mana aku tadi melemparkannya. Aku pakai apa yang ada saja.

"Hahahaaa..." Lian mentertawakanku yang saat ini menggunakan selimut sebagai penutup kepala.

Lian menarik selimutku dan melemparkannya ke sisi tempat tidur sebelah kiri.

"Ini berapa?" Lian mengangkat lima jari tangan kanannya.

Aku kembali menjangkau selimut dengan tangan kiriku dan membalutkan ke kepalaku seperti yang kulakukan tadi. Lian berdecak.

"Lima... Lima..." jawabku ikut kesal. Aku masih mengantuk, demi Allah.

Dengan menggunakan ibu jari dan jari manisnya, Lian menyentil bibirku. Masya Allah, cowok ini kasar sekali. Ingin marah, tapi dia pac—

"Sudah bangun?" Lian bersedekap.

Oh... Aku tadi hanya bermimpi?

"Aku tanya, ini apa? Bukan ini berapa," jelas Lian memperlihatkan jari manisnya yang dilingkari cincin pernikahan kami.

Ternyata aku bermimpi kalau aku dan dia masih berpacaran. Ini pasti karena kejadian tadi pagi. Nostalgia masa berpacaran. Seperti lagu saja.

Aku melemparkan selimutku lagi. Untuk apa aku tutupi rambutku, toh dia suamiku! Catat, Lian adalah SUAMI Siwi.

"Kamarmu tidak banyak berubah." Lian kini mengelilingi kamarku. Dia melihat satu per satu foto yang kupajang di meja kabinet.

"Kamu dulu punya rambut yang panjang." Lian berbalik menghadapku, melihat bagian kepalaku lalu kembali lagi menekuni foto. "Kenapa kamu potong pendek?"

Aku memang memangkas pendek mahkota kesayanganku. Cukup untuk aku kumpulkan jadi satu dan ikat sekali saja. Rambut pendek terasa enteng dan kepalaku juga ikut terasa ringan. Selain itu, aku tidak perlu menghabiskan waktu lama untuk menyisir ataupun merawatnya. Aku suka yang efisien.

"Suka saja," jawabku tak acuh.

Lian mengabaikan jawabanku. Dia berjalan ke pintu yang akan membawanya ke balkon. Ia menggeser pintu kaca yang ada.

"Pohon ini bukannya sudah ditebang mami?"

Mana jilbabku tadi? Hah, Siwi bodoh. Sebaiknya aku ambil kerudung yang baru saja dari lemari. Setelah meletakkan pashmina putih di kepala, aku mengikuti Lian yang sedang berdiri dekat pohon mangga.

"Cabangnya tumbuh tinggi. Mami tidak menghabisinya dulu. Dia hanya menghilangkan cabang yang biasa digunakan oleh seseorang untuk memanjat ke kamar ini. Kasihan kalau mangga ini punah, buahnya lezat dan segar."

"Hahahaaa.... Ya aku ingat. Kurasa kalau aku disuruh memanjat lagi dari bawah, aku masih sanggup melakukannya. Kamu ingin melihatnya?"

"Aku tidak pernah menyuruhmu memanjat, Lian!" Seolah-olah akulah yang dahulu meminta ia masuk lewat jalan pintas ini.

"Rumah merpatiku di mana?" Lian mencari-cari rumah anaknya yang dahulu ada di sudut kanan atap.

"Sebelah sana." Aku menunjuk ke sudut kanan yang kini sudah tidak lagi menampakkan tanda-tanda kalau dahulunya ada banyak merpati yang beranak-pinak di sana.

"Merpatiku lucu."

"Dan berisik," sambarku.

Lian tertawa lagi. Dia ini kenapa? Merpati itu sangat mengganggu. Kotorannya dimana-mana. Suaranya menggangguku ketika belajar. Menyebalkan.

"Ayo." Lian meletakkan tangannya melingkar di leherku dengan ia berdiri di belakangku. Ia membawa kami masuk lagi ke kamarku.

"Lepasin, ah! Gerah diginiin." Aku melepaskan kalungan tangan Lian di leherku.

Lian memelukku dari belakang dengan melingkarkan satu tangannya di perutku dan tangan satunya di leherku. Ia meletakkan dagunya di pundakku.

Ya Allah, ini Lian kenapa? Aku tidak punya perasaan apa-apa, 'kan? Tapi kenapa aku deg-degan?

"Seandainya aku bukan menikahimu."

Deg.

Deg.

Deg.

Jahat sekali. Memangnya aku berharap dinikahi? Kalau bisa orang lain, aku lebih ingin menikah dengan laki-laki yang hatinya tidak terikat kepada wanita lain.

"Seandainya kamu adalah orang lain, mungkin semuanya akan lebih mudah."

Laki-laki dengan kesombongannya. Memang kenapa kalau aku Siwi? Aku menelan saliva, sakit. Sakit hati sebab di sini aku yang telah menjadi orang ketiga. Ingin aku berteriak bahwa aku tidak menginginkannya!

"Karena ini adalah kamu, Lezya Siwi Aurora."

Kumohon, berhenti!

"Aku tidak bisa menyakiti hatinya."

Aku catat kalimat ini sebagai janjimu, Lian Wiratama.

"Aku tidak ingin membuatnya menangis oleh orang sepertiku."

Dan aku saat ini tidak akan menangis. Kamu kira aku wanita cengeng?

"Karena ini kamu, Siwi, aku tidak bisa bersikap seperti bajingan kurang ajar yang mengabaikan dan menganggapmu seperti orang lain."

Kamu meninggalkan aku di malam pertama kita menjadi suami istri. Itukah yang tidak mengabaikan? Kamu pergi tanpa sepatah kabar.

Aku tidak bisa menyuarakannya.

"Mungkin kamu menyadari, dua minggu aku pergi tanpa memberikanmu berita apa pun. Kamu pasti merasa aku sedang menghindari kenyataan."

Lian, suamiku, dia merapatkan pelukannya.

"Aku tidak bisa menghindar lagi sekarang bahwa kamulah orang yang sudah mendapatkan status sebagai istriku. Bahwa kamulah yang aku pikirkan selama dua minggu aku pergi. Bahwa kamulah temanku yang aku khawatirkan akan membenci perilakuku."

Teman. Siwi hanyalah teman Lian. Kenapa aku senang ketika dia memikirkanku? Ah, cukup. Jangan diteruskan! Aku tidak boleh menyukai Lian walau setitik pun. Jangan tersentuh, Siwi!

"Jangan menghindariku. Kukira kamu minggat dari rumah. Beruntungnya, kita ini pacar lima langkah jadi dalam beberapa detik, aku telah tiba di rumah ibumu," ujar Lian.

Mau tak mau aku dibuat tersenyum mendengar guyonannya.

"Wi..."

"Hmmm..."

"Jangan menangis karena aku."

"Hhm..." Karena suaranya yang menenangkan dan pelukannya yang semakin erat, aku pun memejam dan mengangguk. Kalau kamu tidak menyakiti perasaanku.

"Kamu pernah punya pacar?"

Lian melepaskan tangannya dan membalik tubuhku menghadapnya.

"Ya," jawabku diplomatis.

"Siapa? Kapan? Saat kuliah?"

Lian sepertinya kurang nutrisi. Apa dia melupakan aku?

"Kamu ini. Aku—" Kenapa aku jadi malu mengungkapkan bahwa aku hanya pernah berpacaran dengan dirinya saja?

"Kamu tidak pacaran lagi setelah memutuskanku?"

Aku dulu memutuskan Lian sepihak. Karena masih remaja, putusnya hubungan kami tidak membuat drama besar dalam hidupku.

Aku menggeleng. Lian tersenyum.

"Aku yakin belum ada yang melakukannya kepadamu."

Lian tersenyum miring. Dia menundukkan kepalanya sedikit. Dia tersenyum licik dan mengecup bibirku sekilas. Aku terbelalak oleh perlakuannya. Dia menyeringai dan meraup kepalaku dengan tangan besarnya. Dia mencuri ciuman pertamaku.

***

Bersambung ...

OKI, 12 Maret 2020


Pembaca lama sudah gereget mau masuk ke bagian tangisan demi tangisan dan pengin karungin Aqilla. Sabar, ya, kita akan mulai dengan yang manis-manis dulu antara Lian dan Siwi. Pembaca baru, selamat mengikuti cerita SL (Sepasang Luka-Siwi Lian)

Salam, dari maminya SL_Siwi Lian

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro