Rikas: Sora udah ketemu.
Rikas: Siapa tahu lo butuh tahu.
Rikas: Gue belum denger kabar soal masalah pastinya, tapi ada yang bilang dia hamil lagi.
Rikas: Nggak usah sedih.
Rikas: Wajar hamil kan mereka udah nikah.
Rikas: Pesan ini telah dihapus.
Rikas: Ezio titip makasih buat lo. Karena, udah jagain Lamda semalam.
Rikas: Lo sendiri mau nitip balas 'sama-sama' nggak? Ntar gue forward ke dia.
Maula: G dlu.
Lalu, Maula menyakui kembali ponselnya bertepatan dengan Mbak di rumah Mas Linggar yang datang dari dapur sambil membawa satu nampan berisi satu gelas jus berwarna merah muda, mungkin berisi strawberry atau tomat, secangkir teh, juga satu toples camilan kacang mete.
"Nggak perlu repot-repot padahal, Mbak," Maula berbasa-basi.
Mbak yang tampak lebih muda dari Maula itu tersenyum. "Nggak kok, Kak. Sama sekali nggak repot. Tadi sebelum berangkat Mas Linggar juga sudah pesan kalau Kak Maula boleh anggap rumah sendiri."
Ck! Rumah sendiri, boleh Maula jual dong, ya? Dasar emang buaya!
"Agnianya masih tidur siang ya, Mbak?" tanya Maula seraya celingak-celinguk antara sedang mencari-cari sosok gadis kecil bergigi ompong tengah yang fotonya sempat Mas Linggar kirimkan, juga mengamati rumah bergaya minimalis milik Mas Linggar yang interiornya betul-betul nggak berubah sejak lebih dari dua tahunan lalu.
Dapur yang menyatu dengan ruang makan, dominasi furnitur melayang di sekitar Maula yang bikin rumah bertatanan open space ini tambah luas. Dari tempatnya duduk di sofa ruang tamu, Maula bahkan bisa memindai ruang kerja Mas Linggar yang desk-nya berantakkan di sayap kiri. Maula tak akan heran kalau di bagian belakang rumah ini ternyata masih awet berdiri sebuah ruangan yang beralih fungsi menjadi mini soccer buat Mas Linggar main kalau bosan. Seperti yang Maula bilang, rumah ini benar-benar masih sama dari yang terakhir dia ingat.
"Dek Nia kan sama Mas Linggar, Kak," jawab Mbak. Nampan yang telah kosong kini dipeluknya di dada.
"Hah? Bukannya Mas Linggar ada urusan kerja di Bekasi?" ujar Maula memberi tahu apa yang Mas Linggar beritahukan kepadanya sebelumnya bahwa laki-laki itu bakal seharian kerja di Bekasi.
"Oh, itu pagi, Kak. Jam 10 tadi Mas Linggar jemput ke sekolah buat antar Dek Nia ke tempat Mamanya. Cuma, karena hari ini ada jadwal les sama Kak Maula harusnya sudah pulang sih. Mungkin sebentar lagi sampai, Kak. Mas Linggarnya sudah menghubungi kan, Kak?"
Maula hanya meringis saja. Karena, jawabannya belum, dan Maula terlalu malas sering-sering menghubungi Mas Linggar yang punya hobi kepedean itu! Lagi, dia kira Agnia ada di rumah berdasarkan chat terakhir yang dikirim oleh Mas Linggar semalam. Maula tadi bahkan langsung berangkat dari rumah sakit sehabis menemani Mami serta memastikan bahwa Mbok Rumi udah di sana untuk menggantikannya. Dia betul-betul berupaya mengukur waktunya buat datang setelah sekiranya telah memberi waktu tidur siang yang cukup buat murid barunya.
Lagi, kenapa Agnia nggak les di tempat tinggalnya saja dan malah di tempatnya Mas Linggar? Kan jadi bolak-balik begini. Ke rumahnya terus ke tempat Mas Linggar. Apakah tiap hari begitu? Anak sekecil itu capek di jalan kali! Bener-bener deh Mas Linggar Si Uncle Durhaka!
"Mas Linggar sendirian di sini, Mbak?" tanya Maula ketimbang diam.
"Oh, nggak kok. Mas Linggar sama Dek Nia di sini, Kak."
"Agnia nggak tinggal di tempat Mamanya?" heran Maula. Dan, Mbak pun hanya menggeleng menanggapi.
Lalu, berikutnya di sana Maula nyaris menghabiskan setengah jam buat menunggu di sofa itu. Dia juga berhasil menandaskan satu gelas jus—yang semula dia kira buat Agnia, ternyata disiapkan pula untuknya—serta, hampir setengah tinggi cangkir teh manis, sebelum akhirnya telinganya sukses mendengar suara cekakak-cekikik khas anak-anak sekaligus obrolan ngalor-ngidul ala Mas Linggar mulai tergema mendekat.
Maula udah berdiri dari duduknya. Kepalanya pun telah menoleh ke arah pintu yang gara-gara tatanan open space, sungguh-sungguh langsung menghantarkannya buat saling berpandangan bersama siapa pun orang-orang di sekitaran pintu masuk utama rumah Mas Linggar.
Dan, di antara semua sambutan yang bisa dipikirkan, dia rasanya nggak pernah berpikir lebih-lebih membayangkan untuk dapat sambutan macam begini:
"MAMAAA UDAH DATAAANG!" Menyusul kemudian kaki Maula yang rasanya seperti ditubruk. Beruntung dia nggak oleng serta kembali jatuh terduduk di kursi.
Yang jelas, Maula langsung memicing galak ke arah seorang laki-laki di depannya yang malah cuma cengangas-cengenges nggak jelas!
Dasar Kampret!
***
"Baru pulang ngajar?" Maula sedang mengganti sepatunya dengan sandal teplek ketika dari arah belakang punggungnya yang setengah berjongkok dekat pintu, suara Rikas yang seraknya seperti orang baru beres bangun tidur tiba-tiba hadir menyela.
Ditanya begitu, Maula sontak memutar lehernya cepat demi merepet kilat, "Kok lo udah balik? Dan, kok lo punya nomornya Ezio?!"
Benar saja. Di depannya Rikas yang cuma pakai singlet dan boxer terlihat lagi sibuk garuk-garuk rambutnya yang kusut sambil menguap lebar-lebar. Dia betulan habis tidur siang rupanya.
"Gue yang tanya duluan. Lagian, ini Sabtu," kicau Rikas yang suaranya masih serak-serak becek. Mana matanya juga kriyep-kriyep.
"Halah! Biasa lo Sabtu juga ngantor!"
"Tadi pagi gue memang udah ngantor kok. Cuma balik siang. Nggak kuat. Capek banget semalam jagain Mami."
Maula mendecih. "Biasanya 7 hari 7 malam aja lo begadang melulu sama Si Teddy kuat-kuat aja," gerutunya. "Dan, lo belum jawab. Dari mana lo dapat nomor HP-nya Ezio?" kejar Maula tak menyerah. Oh, tentu, jika orang seperti dirinya mudah menyerah, apalagi memang yang tersisa? Semangat Maula adalah satu-satunya kelebihannya selama ini!
"Dari Ezio lah," Rikas lantas membalas malas.
"Kenapa dia ngasih ke elo? Lo godain, ya?"
"Maula language, please. Kita tetangga jadi wajar kalau saling punya nomor telepon."
"Tapi, kok elo doang? Gue nggak dikasih nomornya?"
"Kalau lo dikasih ntar lo nggak bisa move on. Malam-malam sebelum tidur pengennya nge-chat. Nggak boleh! Dia udah mau ada anak lagi."
Dan, Maula mendesau kayak kerbau sambil berlalu lebih dulu dari hadapan Rikas yang sok tahu. Namun, ya mungkin dia ada benarnya sih. Andai Maula tahu nomor Ezio, jarinya bisa jadi bakalan gatal sesuai tuduhan Rikas. Ya gimana, ya? Melihat Ezio di seberang rumah saja, saat ini mata Maula masih suka jelalatan kepo. Dia masih begitu kehausan guna mencuri-curi kesempatan buat berlama-lama memandangi sosoknya setelah lebih dari dua tahun nggak ngerti apa-apa tentang kabar pria itu.
Cih! Mau jadi apa coba niat move on Maula kalau dikit-dikit yang dia pikiran Ezio terus begini?!
"Lo masih ngajar di tempat Agra?" tanya Rikas tak lama. Dari jarak suaranya sih agaknya dia ikut bergerak membuntuti Maula.
"Kenapa? Lo mau nitip salam ke anak didik gue? Ganteng sih emang dia, tapi masih kecil! Jangan digodain!"
"Please, gue nggak pernah ngegodain orang!"
"Ah, masa?" Maula menoleh demi memperlihatkan kepada Rikas wajahnya yang mengejek. "Hari ini, lo yang masak bukan?" lanjut cewek itu saat dia justru melihat Rikas berbelok ke arah ruang makan demi mengambil minum.
"Makan di luar aja, yuk?" usul Rikas dari tempatnya berdiri sembari menuang air.
"Bukannya lo capek?"
"Kan udah tidur."
"Males ah. Ntar ketemu mantan lo yang ada gue disiram kuah bakso."
"Nggak bakal. Yuk, keluar? Janji nggak makan bakso," ucap Rikas sambil mengangkat tinggi gelas minumnya bak isinya wine.
"Malam minggu loh ini. Lo nggak mau ajakin Teddy jalan? Biar kalian bisa cepet balikan?"
"Lo pilih tempatnya mau makan di mana. Kaki lima atau fine dining juga boleh. Habis itu pulangnya kita mampir sebentar ke tempat Mami. Thought?"
"Dih, handalnya mengalihkan pembicaraan," sindir Maula. "Oke deh, tapi ini karena lo yang maksa ya."
"Iya."
Maula udah kembali berjalan dan hampir membuka pintu kamarnya, tetapi Rikas keburu lantang menyela, "La? Jangan sedih!"
"Hm?" Cewek itu refleks menoleh.
"Mungkin Ezio memang bukan orangnya." Rikas tampak mengedikkan bahunya pelan. "Katanya, jodoh adalah cerminan diri, dan lo nggak ada mirip-miripnya sama Ezio."
Lalu, Maula hanya kembali mendengkus. Sebelum sosoknya yang sejak masuk terkesan lelah sepenuhnya hilang tertelan pintu.
Menyiskan Rikas di sana yang memandangi pintu itu dalam diam juga tanya. Tanya yang boleh jadi tak akan pernah diungkapkannya.
***
Makasih ya udah baca Ula dan Bences. Sampai bab ini moga suka 💚💛💚💅
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro