Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

21| Kamu kenapa diam saja!

Mengandung bawang (maaf bila tidak)
_________________________________________

Tubuhmu meringkih
Kakimu kian rapuh
Kenapa kamu membisu
Padahal ada saya, Minggu!

🌻🌻🌻

Ekstra sudah selesai sejak lima menit lalu. Semuanya tampak sungguh-sungguh, kecuali saya yang tiba-tiba diterjang gelisah yang kian meradang. Ah, sialan pula motor Angkasa. Motor ninjanya tinggi, mati-matian saya menutupi paha. Risih, tidak seperti naik vespa milik Minggu yang terasa nyaman.

"Nih, jaket. Pasti Minggu enggak mau lihat pacarnya kayak gini." Angkasa tiba-tiba menyerahkan jaketnya dengan posisi yang masih sama.

Saya menerimanya sedikit mengernyirkan dahi keheranan. "Thanks."

Dia hanya bergumam tak jelas. Motornya mulai pergi meninggalkan parkiran. Menyisahkan beberapa anak yang memandangi kami tak percaya. Duh, apa lagi ini? Semoga tak jadi perbincangan. Kalau bisa teriak dan berani, akan saya suruh mereka menolehkan pandang, memperingati mereka bahwa saya dan Angkasa tak ada apa-apa. Sebab saya tak mau dijadikan bahan gosip lagi seperti tolakan saya pada kak Erick hari itu.

Motor ninja berwarna hitam yang menjadi tunggangan kali ini mulai bercampur dengan sekian banyak transportasi di jalan raya. Kalau dengan Minggu saya tak pernah memperdulikan deru knalpot, asap kendaraan, atau bising klakson yang tak henti-hentinya. Suaranya paling nyaman didengar, menulikan saya untuk tidak mengetahui hal-hal menyebalkan.

Belum lama di jalanan, motor Angkasa tiba-tiba menepi di sebuah apotek. Ia memerintahkan turun. Entah gerangan apa yang mau ia lakukan. Sepertinya ia juga tidak sakit, tuh. Apa obatnya untuk Minggu? Ah, awas saja lelaki itu, padahal kemarin sudah saya suruh minum obat.

"Lu tunggu sini. Gua mau beli obat dulu."

Saya hanya mengangguk setelahnya menggigit jemari saya. Menanti Angkasa di apotek sambil mengedar pandang di jalanan membuat perasaan saya kian tak nyaman. Saya ingin segera menemui Minggu, mendung Jakarta kali ini tak mampu menyejukkan kegelisahan di dalam hati. 

Tak lama Angkasa kembali dengan tangannya membawa sekantung plastik putih. Suara helaan napasnya terdengar kasar, seolah-olah ada yang salah. Sialnya itu malah membuat saya kian tak nyaman.

"Kenapa, Kak? Itu buat Minggu?"

"Hmm. Harus ada yang pakai resep dokter. Naik."

Motor Angkasa kembali membelah jalanan. Rasanya lama sekali untuk sampai ke rumah Minggu. Rumahnya jauh, sangat jauh dan ternyata tak searah dengan rumah saya. Jadi, Minggu, selama ini kamu rela mengantarkan saya pulang sedangkan kamu harus menempuh jarak dua kali lipat lebih jauh.

Entah mengapa membayangkannya hati saya tersayat.

Fakta-fakta tentang kamu yang mencuat membuat saya merasa tak enak, bersalah, dan sakit entah mengapa.

Hingga akhirnya, kami tiba di sebuah komplek perumahan. Senggang, cukup sepi. Angkasa melajukan motornya pelan, matanya menelisik kanan-kiri, mungkin sekiranya ia sedikit lupa letak rumah Minggu.

Saya terus diam. Bingung juga mau membantu apa, sampai ia mengerem mendadak. Mulutnya memekik senang.

"Kenapa, Kak?"

"Dah sampai."

Saya menoleh tepat ke kiri. Sebuah rumah megah bewarna cream yang catnya mulai terkelupas dimakan waktu. Sejujurnya saya sangat tak yakin ini rumah Minggu. Lelaki itu ceria, tapi rumahnya sebaliknya. Sepi, senyap, lembab, seakan-akan sudah tak berpenghuni. Namun, kehadiran mobil dan vespa miliknya di garasi membuat hati saya bulat bahwa ini memang rumahnya.

"Gimana? Yakin mau masuk?" Angkasa kembali mengintropeksi dengan mulutnya tersenyum miring.

Saya mengangguk. Motornya dibawa masuk ke perkarangan rumah Minggu dengan pagarnya yang tak terkunci. Sedikit takut sih, kalau nanti dikira kami pencuri, tapi Angkasa meyakinkan bahwa tak apa, ia sudah sering.

"Lu pertama kali ke sini?"

Saya mengangguk, mengikutinya dari belakang. Angkasa, lelaki itu santai sekali. Dia bahkan seenaknya membuka pintu utama yang suaranya tak mengenakan untuk didengar. Sebelum sempat mempertanyakan pertanyaan yang mendadak berkumpul di otak saya, saya sudah dulu dibungkam isi rumah Minggu.

Nanar. Benar-benar tak ada kehidupan. Perabotan-perabotan Minggu memang tertata rapi, tapi tidak dengan debu-debunya. Di dinding ruangannya tertempel beberapa lukisan, anehnya kaca dari beberapa di antara pecah. Sisanya malah tercecer di lantai berubin putih nun dingin.

Tubuh saya mulai mati rasa. Hati saya kalang kabut tak karuan. Saya ingin segera bertemu Minggu! Ia di mana? Kamarnya sebelah mana? Apa dia sedang baik-baik saja?

Tuhan, kejutan apa ini?

Minggu bukan seperti ini! Ia terang, bukan remang.

Suara Angkasa kembali mengintropeksi. "Ini belum apa-apa Senin. Lu mau ketemu Minggu nggak? Dia ada di kamar lantai dua. Enggak usah tanya yang mana, gampang nemuinnya."

Angkasa menyerahkan plastik putih itu kepada saya. "Kalau enggak kuat, udah sampai sini aja. Secerah apa yang lu kira, setiap orang punya sisi gelap."

Kepala saya menggeleng. Tidak, saya masih ingin bertemu Minggu, saya perlu memastikannya baik-baik saja dengan netra saya sendiri.

Angkasa tersenyum. "Oke, kalau mau lo begitu. Pilihan apa pun berisiko, Senin Ambara. Ya udah, gua mau beli makan dulu, Minggu, dia mungkin belum makan."

Selepas lelaki itu benar-benar pergi, saya menghela napas panjang. Menyiapkan mental sebelum dikejutkan oleh takdir yang mengerikan. Kaki saya perlahan melangkah, menaiki tangga satu demi satu. Hingga akhirnya tubuh saya berhenti di tangga terakhir.

Banyak sekali pintu rumahmu. Kamu yang mana?

Bisa, Senin, kamu pasti bisa menemukan Minggu di antara lima pintu yang ada. Saya memantapkan hati, menelusuri pintu-pintu yang ada. Semuanya sama, serupa, dibalut cat cokelat yang dilapis pernis. Sampai langkah saya terhenti di pintu terakhir-letaknya paling sudut, menyendiri, gelap. Entah dapat bisikan dari mana, saya memantapkan untuk mengetuk pintu ini.

Tuk ...  tuk ...

Tak ada jawaban. Saya mulai dirundung perasaan gelisah. Yang mana kamarmu, Minggu? Saya yakin banar yang ini. Tanpa memperdulikan sopan santun lagi, saya menyelonong masuk-untung saja tak terkunci.

Deg ....

"Minggu!!"

Saya memekik mendapati tubuh Minggu yang tergeletak di lantai begitupula beberapa botol obat kosong di sebelahnya. Hari ini, Selasa, tak ada senyum yang mengembang di wajahnya seperti sedia kala. Tak ada sorot teduh yang ia pancarkan dengan kedua netranya yang tenang. Minggu, pucat pasi dengan ruam di tubuhnya. Hanya deru napasnya yang menandakan ia masih hidup.

Dia luar sana tiba-tiba hujan, perasaan saya kian tak tentu. Mata saya memanas, seperkian detik setelahnya berhasil meloloskan air yang tak tak kuasa terbendung. Kepala Minggu dengan tangan gemetar saya taruh di pangkuan.

Jemari saya beberapa kali mengusap wajahnya beberapa kali pula menampar kecil, menggoncangkan tubuh Minggu yang panas sekali. Dia demam, dia sakit, penuh ruam. Karena apa?

Sakit kepala kemarin?

Kamu sakit, kenapa membisu?

"Minggu, bangun, Minggu!" Suara sesegukan saya ditenggelamkan semesta.

Saya memukul-mukul lantai, menggoyangkan tubuh lelaki itu lebih kuat. Hingga matanya pelan-pelan mengerjab, suaranya menggigil, mulutnya bisa-bisanya masih tersenyum.

"Se ... nin. Jangan menangis, saya tidak suka," ucapnya lirih, tangannya menyapu air mata saya yang tumpah ruah.

Saya menggeleng. Mengambil obat dari kantung plastik. Meminta Minggu untuk segera meminumnya-untungnya di kamar Minggu ada segelas air.

"Hiks, kenapa Minggu? Kenapa diam saja? Kamu kenapa?" Saya bertanya, Minggu malah tersenyum walau rautnya terlalu sayu.

"Saya baik-baik saja Senin."

Bodoh!

Tolol!

Minggu, gila!

Saya kesal dengan Minggu, biasa-bisanya berkata seperti itu padahal tubuhnya panas begini.

"Enggak Minggu, ayo kita ke rumah sakit-"

Minggu menggeleng mulutnya melirih, sebelum kesadarannya menghilang kembali.

Saya mencintaimu, Senin ...

Ia kembali pingsan di pangkuan saya. Mulutnya tak lagi bersuara. Ucapan terakhir itu tidak ada efek baik sama sekali! Semuanya kacau, semuanya mengerikan, saya ketakutan, hati saya kian kalut bersamaan suara guntur yang menyahut. Minggu bukan waktunya bercanda untuk bilang cinta!

"Minggu!"

"Bangun, jangan tidur lagi!"

"Hiks, tolol, bodoh! Bangun Minggu!"

"Demi semesta, saya benci kamu Minggu!"

"Minggu!!"

Saya berteriak, Minggu tak kunjung bangun lagi. Ia malah membisu seperti mayat kaku yang tidak mau saya aamiin-kan. Tubuh saya gemetar, jiwa saya seperti tengah ditontonkan hal mengerikan.

"Saya enggak akan cinta kamu kalau kamu terlelap seperti ini!"

Saya frustasi, tangan saya bergerak menggoyangkan tubuhnya lebih keras. Mata saya terus menangis kian deras dengan tubuh kian gemetar. Sadarlah!

Bangun Minggu! Bangun!

Di luar hujan, tampak menjadi saksi bisu tontonan ini. Demi Tuhan, apa lagi rencana semesta setelah ini? Padahal ia pun sudah memisahkan saya dengan dinding yang menjulang  kokoh. Maunya apa hah?

Tuhan tolong, tolong kabulkan doa saya. Semoga Minggu baik-baik saja. Semoga Minggu, tidak Kau ambil senyumnya, senyumnya yang hangat itu.

Jangan Tuhan, jangan. Jangan suruh ajudanmu melakukan itu!

Hati saya sakit, mata saya sembab, sialnya Angkasa belum kembali juga. Di mana lelaki itu? Tangan saya gemetar, mencari nomornya. Sial, pandangan saya buram sekadar untuk menelponnya.

"Kak ... pulang Kak, Minggu!"

"Minggu Kak ...."

Saya tak kuasa, telepon tertutup. Isakan saya semakin menjadi-jadi manakala Angkasa dengan wajahnya yang penuh khawatir membuka pintu keras-keras. Ia berdecak. Membopong tubuh Minggu dalam punggungnya.

Lelaki itu tampak ringkih. Saya baru menyadari, kaki dan tangannya yang biasa dibalut hodie, hanya tersisa tulang dan kulit. Saya kian menangis, seharusnya saya sadar sejak kemarin, sejak lalu bahwa kamu tidak baik-baik saja.

Sebenarnya apa yang terjadi denganmu selama ini?

Rahasia keji apa yang kau simpan rapat-rapat?

Sekeji apa sampai saya tak kau perbolehkan masuk di duniamu?

Dunia gelap di dalam isi kepalamu.

Saya benci kamu Minggu! Melihatmu lemah, rasanya saya ingin memukul kepala saya, menyumpah serapahi Tuhan dan ajudannya. Menistakan semesta dan takdir yang mengerikan.

Minggu bodoh!

Bangun biar kamu tidak bodoh!

"Lu udah minumin obatnya."

Saya menggangguk. Angkasa mengambil kontak mobil Minggu. Kami berdua pergi ke rumah sakit, di tengah hujan yang sama sekali tak nyaman dilihat.

"Dia belum bangun sejak tadi?"

"Minggu sakit Kak, Minggu sakit."

"Dia kenapa Kak? Dia baik-baik aja, 'kan?"

"Sakit, Kak, dia sakit tapi hati saya ikut sakit."

"Kenapa Minggu cuma diam, Kak?"

"Kenapa, Kak? Jawab Kak? Kakak yang tahukan. Hiks hiks."

"Maaf, tapi biasanya dia enggak separah ini."

Suara Angkasa sama sekali bukan penenang, tapi penambah nyeri. Di dekapan saya Minggu tertidur seperti bayi, bayi menyebalkan, tidak kunjung bangun.

Ya Tuhan, tolong Minggu.

Kembalikan ia secerah dulu!

Dia sakit Tuhan, tak ada yang merawat.

Tubuhnya kering, hanya tulang ....

Rumahnya mati, dia sendiri.

Pelukan tanpa harga sewa.

Maksud dia apa?

Saya mencintaimu Minggu!

Jangan pergi! Bodoh!

🌻🌻🌻

Mataku panas waktu nulis TT

Apa kalian juga merasakannya?

Maaf bila tidak :)






Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro