Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

9. Bandara.

Dara nggak pernah tergiur terhadap kata-kata puitis lebih-lebih romantis. Oh, iyalah. Sebab, nggak satu pun tuh dari kata-kata itu yang sanggup mengentaskannya dari belenggu hidup kritis.

Augh! Serius.

Baik pernah mendengar kalimat sejenis 'Pelangi akan datang selepas hujan' atau enggak, bersama Ibunya Dara toh tetap menjalani setiap hari-harinya seolah tengah terjebak dalam amukan pusaran badai. Pelangi? Jangan mengada-adalah, Dara bahkan jarang menemukan matahari. Kalau bukan mendung paling banter ya angin puyuh lah yang aktif menggores warna serta mengacak-acak pondasi hidupnya.

Namun, entah mengapa dia suka dengan satu frasa ini.

'Bahwa seperti dinding rumah sakit yang telah mendengar lebih banyak doa daripada kuil mana pun, maka bandara telah melihat ciuman yang lebih tulus daripada ruang pernikahan.'

Entah Dara berhasil temukan itu di mana? Mungkin di bekas bungkus gorengan yang kerap dibelinya di dekat kos-kosan atau salah satu lembar halaman dari seabrek majalah lifestyle yang tanpa absen nangkring di meja Pak Rega.

Ogh! Siapa yang bisa jamin memang?

Akan tetapi jujur saja, bagi Dara bandara juga memiliki arti tersendiri.

Oh, bukan. Bukan maksudnya Dara pernah ciuman di bandara.

Please deh, Dara nggak senekat itu juga kali! Lagi, dia juga nggak memiliki seseorang yang bisa dia cium seenaknya. Dulu. Atau, bahkan sekarang saat dia telah menikah dengan Miko pun dia nggak bisa asal cipok sana-sini kalau nggak kepengen dipites macam kutu oleh lelaki satu itu.

Ya, pokoknya nggak ada hubungannya sama sekali dengan aktivitas tabrakan dua buah bibir yang melibatkan bibirnya! Oke? Titik.

Eum, bagaimana Dara harus menguraikannya?

Ah. Begini ....

Dara ingat betul kalau itu hari Minggu sore ketika ia akhirnya sukses tiba di Jakarta. Di mana Seninnya, pagi-pagi sekali dia sudah harus hadir untuk menjalani sesi interview yang telah VER jadwalkan. Karena mepetnya waktu, maka Dara putuskan untuk nggak naik kereta. Kendati, merelakan uang yang bisa untuknya makan sebulan di Jogja cuma demi bayar tiket pesawat yang membawanya terbang dari Adi Sutjipto juga nggak mudah sih.

Mana itu adalah kali pertamanya menaiki pesawat pula. Bayangkan! Setiap pesawat bergoncang di udara gara-gara memasuki awan, Dara refleks mencengkeram kuat kain baju di sekitaran dadanya sambil ikut-ikutan berulang kali mengucap 'astagfirullah' layaknya seseorang yang duduk menempati kursi persis di sebelahnya.

Kendati dia nggak terlalu menyukai hidupnya. Namun, mati muda selepas lulus wisuda dan ketika dia belum dapat gaji pertama nggak pernah Dara agendakan. Seenggaknya biarkan dia mencicipi kopi kekinian tanpa perlu mikirin duit 50 ribu bakal melayang buat membayarnya dulu lah.

Yah.

Atau, jika boleh berharap lebih muluk. Dara pengen menghadiri interview dulu. Dia mau diterima di VER. Bekerja, bahagia dan jadi orang kaya! Ibunya nggak perlu lagi membanting-banting tulangnya yang makin tahun makin keropos digerus osteoporosis. Dan, mungkin bila umurnya sepanjang itu suatu hari dia bakal menikah lalu, berkembang biak. Oh, apa pun lah asal jangan mati dulu.

Please, Tuhan.

Serta, ya itu mungkin jawaban Tuhan padanya, Tuhan pada orang di sampingnya, juga seluruh manusia yang suka berbondong-bondong mendadak ingat Tuhan mereka pas lagi kejepit.

Satu jam lebih sepuluh menit—ah, tepatnya ditambah delay yang nyaris menghabiskan dua jam sendiri—betul-betul berlangsung bagai uji nyali bagi Dara. Bahkan ketika pesawat low cost yang ditumpanginya tersebut roda-rodanya mulai turun guna menginjak aspal runway bandara Soekarno-Hatta seluruh tubuh Dara masih konstan gemetaran.

Uh, terima kasih Tuhan Yesus! Dara ucapkan dalam hati berbarengan dengan penumpang di sisi duduknya yang mengucap syukurnya sendiri sambil mengusap wajah.

Dan, Dara kira itu cuma berakhir sampai di sana—tantangannya.

Namun, nyatanya mendatangi bandara super-luas tanpa pernah melihat dan browsing sebelumnya mengenai apa-apa saja yang sekiranya perlu dia lakukan itu bikin pusing sekaligus ribet juga. Dara yang nggak ngerti harus bagaimana cuma bergerak demi membuntuti seorang lelaki yang tadi keluar tepat di depannya dari dalam pesawat. Mulai dari ke tempat penggambilan bagasi bahkan sampai ketika lelaki itu memasuki gerai makanan. Bak anak ayam Dara tetap mengikutinya.

Sialnya, dia jadi mesti merogoh nyaris seratus ribu buat makan burger dari koceknya.

Bah! Tahu semahal itu mending tadi dia nunggu di luar gerai aja, atau ... atau apa?

Orang-orang seliweran dijemput pakai mobil. Sementara Dara? Dara nggak tahu mau naik apa? Bus mungkin lebih ekonomis, tapi dia bahkan nggak tahu di mana letak dari sebaris alamat yang telah dikirim Ko Iyel sebelum dia terbang tadi. Kalau busnya nggak bisa nyampe depan kosan gimana? Ogh! Itu bahkan boleh jadi cuman akan berhenti di terminal kan? Dara beneran baru pertama kali ini ke ibukota. Kalau hilang di Jogja, Dara masih bisa menelpon salah satu dari segelintir teman kampusnya. Nah, kalau di Jakarta. Siapa ntar yang mau nyariin dia?!

Ya, kali dia mesti minta jemput Ko Iyel sih? Lelaki itu mungkin udah ribet abis gegara mesti Dara repotin untuk mencarikannya kos-kosan murah meriah di sela-sela jadwalnya sibuk mengajar mahasiswi-mahasiswi gemas. By the way, cita-citanya buat jadi jadi tukang rebahan yang bisa dapetin duit akhirnya nggak tercapai. Hehe.

Lalu, apa mending naik taksi aja? Tapi, Dara bahkan nggak tahu jarak dari bandara ke tempat tinggal barunya makan jarak seberapa jauh? Kalau argonya jebol gimana dia bisa bayarnya?!

Dompetnya udah terserang flu dan batuk. Jangan sampai ketambahan demam deh, bisa-bisa malah Dara ntar yang ketularan demam gara-gara nggak gablek duit buat makan!

So, niatnya dia akan cari kesempatan buat bertanya pada Mas-Mas yang kali ini. Eh? Lho? Ke mana dia?

Dara sontak celingak-celinguk. Namun, selain kursi yang masih terisi oleh beberapa manusia—yang nggak dia kenal, tentunya—cuma ada pemandangan berupa gorengan ayam goreng, kepalan nasi, juga gelas-gelas berisi root beer yang udah kosong. Orang yang dia cari nggak ada di sana. Atau, ada? Dara dengan kilat melempar telisiknya ke arah luar dan biar sekelebat, tetapi dia toh tetap berhasil mendapati wujud seseorang yang siluetnya rasa-rasanya udah lumayan dia hapal—bagaimana enggak, kemeja ungu ngejrengnya sangat mencolok sekali—tengah berjalan di luar gerai. Eh, buseeet Dara ketinggalan!

Tergesa-gesa menelan cuilan terakhir dari bulatan burger-nya, Dara yang telah berdiri dari kursi dan berjalan beberapa langkah refleks berhenti dan berbalik sewaktu matanya menemukan eksistensi sebuah dompet yang tergeletak di meja yang tadi Si Mas-Mas Berkemeja Ungu Norak duduki.

Haih! Ketinggalan kah? Apa sengaja ditinggal? Er, Dara pungut jangan nih?

Melirik kanan-kiri, nggak ada yang lagi menaruh perhatian pada Dara sih. Aman. Maka, dengan kecepatan cahaya dia sambar dompet tebal itu sebelum ia bawa ngacir pergi. Ke mana?

Ya, cari Si Mas-Masnya lah! Dara miskin, tapi bukan tukang ngutil, anyway.

Mengambil arah kanan sesuai jejak terakhir yang Dara rekam tadi Si Masnya susuri, dia terus merotasikan kepalanya dengan intens.

Hm, perginya ke mana ya?

Dara terus berjalan. Sesekali juga melongok-longok. Sampai dia menemukan satu lorong menjorok yang Dara tak sempat baca angka 2 di dindingnya dibarengi oleh huruf apa. Namun, agaknya itu mengarah ke area keberangkatan, mungkin? Ah, mana tahulah. Dia nggak ada kober baca tulisan-tulisan petunjuknya.

Hish! Apakah nggak akan ketemu? Terus dompetnya gimana ini? Nggak mungkin dia bawa balik lebih-lebih digunakan buat ongkos taksi kan? Bisa-bisa bukan kerjaan yang ia dapati, tapi penjara.

Hish! Bikin kesel aja sih mana hari mau beranjak malam!

Dara hendak berjalan lebih ke depan, eh tapi ini boleh nggak sih nyelonong begitu aja? Aaargh! Entahlah. Lagi, kakinya belum sempat bergerak ke mana-mana kok—sumpah deh—ketika, matanya yang tajam tiba-tiba menemukan pemandangan satu warna yang familier tengah duduk di salah satu deret kursi yang cukup lengang. Eh, bentar. Bukan seseorang, tapi dua orang. Saling bersisian dengan wajah berhadapan. Satu laki-laki dan satunya perempuan. Dan, mereka lagi ....

Ugh! Dara refleks menutupi matanya.

Buseet harus banget dia nemu penampakan berupa perang mulut begitu? Lagipula, kenapa mereka harus begituan di sana? Emang situasinya sedang agak sepi sih, tapi bukan berarti nggak ada orang!

Please!

Dara sedikit mengintip dari balik celah jemari yang ia topangkan di depan muka. Em, tapi serius deh. Dibanding menganalogikannya sebagai perang, sejujurnya itu ... lebih cocok kalau disebut menari. Karena, gerakannya smooth banget.

Wuedan!

Dara emang jarang nonton kissing scenes terlebih melakoninya sendiri—itu, entahlah, rasanya selalu bikin mual—tapi, dua orang yang tengah saling merekatkan bibir nun jauh di depannya sana, kok rasanya seolah lagi ngebalet, ya? Aneh. Itu ... Dara nggak mau sok tahu, tapi dia seperti bisa merasakan sejumput kangen yang mereka halau berdua.

Tanpa sadar, Dara mendengkus samar sambil kemudian memilih berbalik badan untuk menyingkir dari sekitaran dua insan yang mungkin tengah berbagi kobar kerinduan tersebut.

Dan, ya ... itu adalah kali pertama Dara bertemu seorang Jatmiko Sadewo alias Miko alias Si Mas-Mas Berkemeja Ungu Gonjreng.

Actually, Miko yang sama dengan Miko yang Dara nikahi, sekaligus Miko yang kali ini duduk di jok penumpang dalam Brio milik Mama yang awalnya Maula kendarai. Namun, karena gadis itu dapat telepon entah dari siapa yang lantas membuatnya justru jadi tiba-tiba dengan terburu menaiki taksi serta beranjak lebih dulu dari kawasan bandara. Sehingga membikin kemudi otomatis jatuh ke tangan Dara.

"Pelan-pelan aja kasih tahu ke Abangnya, ya?" pesan Maula tepat sebelum taksi membawa sosoknya pergi ke ... em, Dara nggak terlalu yakin sih. Tetapi, mengingat pernikahan Ezio kurang dari 2 minggu lagi dan belakangan Maula kentara sekali sibuk memikirkannya. Maka, agaknya sih, kepergiannya tadi memang ada keterkaitannya dengan pria itu. Karena, ya dia Maula, anyway. Yang sejauh ini Dara kenal sebagai tipikal manusia yang mustahil bisa menyerah begitu aja.

Benar.

Dan, soal ngasih tahu Miko? Gimana caranya kira-kira?

Sejak masuk ke mobil pria itu ajeg mengelem mulutnya. Iya, kalau pandangannya santai aja boleh jadi sih berkah. Nah, ini dia seperti bernafsu untuk membakar setiap pemandangan yang ia temukan melalui matanya yang legam nan membara itu.

Lagi, ada apa coba dengan rambutnya yang semerawut itu?

Ah, tolong hitung juga lingkaran hitam yang secara jelas tercetak di sekitaran matanya.

Please!

Dibanding orang habis liburan serta menonton pagelaran pameran fotografi, dia malah lebih kelihatan kayak imigran yang kena deportasi gara-gara nggak punya duit buat perpanjang visa.

Apakah ada yang udah terjadi? Pria itu nggak jadi ambil cutikah? Tetapi, kenapa?

Ugh!

Lagi, Dara pun nggak mampu membaca apakah Miko ini udah tahu atau belum soal kondisi apartemennya?

Hish! Baik dia tahu atau belum, Dara mau nggak mau toh tetap harus memberi tahunya kan atau dalam hal ini berani mengakui tentang segelintir kecerobohannya? Lebih cepat, lebih baik. Gitu kan?

Hish! Dari mana Dara bisa memulainya coba?

Pancingan semacam apa yang mesti dia umpankan?

Dara belum kunjung menemukan cara terlebih jalan keluar. Bahkan saat mobil Mama yang dikendarainya tahu-tahu bannya telah berhasil menggilas area pelataran basement VER.

Oh, please! Cepat amat!

Hish!

Bahkan saat Miko udah membuka sabuk pengaman, mendorong pintunya dan keluar.

Hish!

Bahkan saat Dara hendak ikut keluar, tapi ujug-ujug kepala Miko keburu melongok sekali lagi ke dalam mobil.

Hi—

"Saya akan pikirkan ganti rugi apa yang bisa kamu lakukan." Miko tiba-tiba mengatakan itu.

Mulut Dara lebar terbuka, "Hah?"

Ada senyum aneh yang bikin merinding yang terpindai terulas di bibir tak seberapa tipis Miko.

"Kamu pikir kamu bisa lepas begitu saja?" Seringai Miko kian culas. "Tunggu tanggal mainnya."

Heh? Itu tuh maksudnya gimana, hoi?

Miko ... dia tahu?

Serius! Miko udah tahu tentang apartemennya yang terbakar akibat bandeng Dara?

Kok bisa?!

Hish!

Sial.

***

Halo, kami kembali.

Seneng nggak bab ini panjang beud? 🙈🙈🙈

Terima kasih udah menunggu dan membaca 💜💜💜

Bwang Mikoh emang VER beud dah pantes Bwang Rega betah ngeromusha doi salam kemeja ungu gonjreng bwang 😈😈😈

Cwk yang dikiss-kiss bwang Mikoh sapa coba?

Mbak Mbak Bandeng yang baru nyampe di Jekardah 😭😏😈

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro