Chapter 26
Selamat datang di chapter 26
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Siapkan hati kelen gais
Happy reading, hopefully you’re enjoy this chapter like I did
❤️❤️❤️
____________________________________________________
“Kita adalah dua orang asing yang tahu setiap rahasia memalukan, setiap bintik tersembunyi, setiap kekurangan fatal pada satu sama lain.”
—Jodi Picoul
____________________________________________________
Bake Me Up memang baru buka dua jam ke depan, tetapi para pegawai telah bersiap-siap seperti biasa. Dari tempatnya berjalan menuju pintu masuk, Scarlett melihat Hillary mengelap kaca depan toko. Tepat di depan pintu samping yang langsung terhubung ke dapur, ia melihat Andy menurunkan bahan-bahan makanan dari truk kontainer berlogo Heaven Field dibantu sopir truk. Tidak ada batang hidung George yang tampak sebab Scarlett yakin pâtissier jempolannya itu pasti sedang sibuk memanggang roti-roti di dapur.
Kedua garis bibir Scarlett masih terbentang lantaran William masih menari-nari dalam benaknya. Ia pun menyapa balik Andy dengan lambaian tangan sebab pria itu agak jauh darinya. Lalu ia nyapa Hillary yang dilewatinya.
“Selamat pagi, Hill.”
“Selamat pagi, Bos. Pagi yang cerah, bukan? Seperti biasa. Selama hampir seminggu ini Anda makin shining, shimmering, splendid,” puji Hillary dengan gestur berlenggak-lenggok yang amat berlebihan menurut Scarlett. Hillary kemudian berbicara cepat-cepat. “Omong-omong, aku melihat mobil William berhenti agak lama tadi.” Matanya menyipit dan bibirnya tersenyum jail karena mengisyaratkan sesuatu. Berikutnya wajah Hillary jadi ceria. “Uuu ..., wajah Anda sekarang jadi merah merona, Bos.”
Scarlett hanya menunjuk-nunjuk pegawainya yang usil itu. Masih sambil tersenyum, ia melewati Hillary dan menghilang di kantornya saat samar-samar pendengarannya menangkap suara deru mesin mobil sport yang kian lama kian mendekat. Ia mengangap itu sebagai angin lalu. Banyak kendaraan, termasuk mobil sport yang lewat di jalanan. Tidak ada yang spesial dengan itu.
Berbanding terbalik dengan Scarlett. Deru mesin mobil tersebut menghentikan kegiatan Hillary mengelap kaca. Ia menyipit sembari memayungi mata agar tidak silau dan bisa lebih jelas melihat Buggati hitam doff memasuki jalanan toko. Tak lama kemudian mobil itu telah terparkir sempurna di depan Bake Me Up. Dengan perasaan was-was, Hillary dan Andy spontan saling bersitatap seolah-olah berbicara lewat pandangan begitu menyadari pengemudi Buggati turun.
Hillary mengode Andy dengan telengan kepala supaya buru-buru ke dapur untuk melapor pada George. Sedangkan ia sendiri sudah melempar lap dan semprotan pembersih kaca ke meja depan toko untuk menghampiri Regis Mondru yang berjalan ke arahnya. Jangan sampai Scarlett tahu pria itu datang. Ia tidak ingin bosnya kehilangan percikan cahaya dalam tawanya. Sudah cukup Minggu lalu pria itu mengacau di sini.
“Aku ingin bertemu Scarlett,” ucap Regis Mondru tegas tanpa basa-basi. Tak sadar dirinya dihadang oleh Hillary.
“Toko kami baru akan buka dua jam lagi. Dan bosku hari ini tidak masuk,” jawab Hillary ketus.
“Benarkah?” tanya Regis dengan senyum meremehkan. “Belajarlah berbohong lebih baik. Aku baru saja melihatnya masuk.”
“Kau mungkin salah lihat. Jadi, sebaiknya kau pergi saja.”
“Really? Don’t waste our time. Kau pikir aku tak mengenali perawakan bosmu? Kau pikir pengelihatanku bermasalah?” Regis baru hendak melangkah, tetapi Hillary seolah-olah menjelma menjadi pintu penghadang dadakan. Meski tentu saja tidak sekokoh yang dikiranya sebab Regis jauh lebih besar dan tinggi daripada dirinya. Hillary yakin sekali disenggol saja, ia sudah roboh. Namun, tidak ada salahnya mencoba menjadi garda depan bagi Scarlett.
Regis sendiri tidak ingin menyentuh Hillary sedikit pun. Ia tahu bagaimana cara hukum bekerja. Jadi, ia tetap berdiri di posisinya saat Hillary menggertak, “Dengarkan aku. Jangan merusak kebahagiaannya. Pergilah dari sini. Kalau tidak, akan kupanggilkan polisi! Aku serius!”
“Silakan telepon polisi. Tapi aku yakin seribu persen bosmu tak akan senang mengurusi apa pun dengan melibatkan polisi. Jadi, minggir. Biarkan aku bertemu Scarlett. Minggirlah, aku tak ingin membuat wanita terluka.”
“Tidak semudah itu kau bisa melewati pintu depan ini, Dude,” sergah George yang tiba-tiba datang lewat pintu samping. Andy yang menyusul di belakang pria dempal itu menarik Hillary agar menyingkir dan membiarkan George mengerjakan sisa tugasnya.
“Really?” cemooh Regis yang amarahnya mulai meningkat. Sesulit inikah ia ingin menemui Scarlett? Minggu lalu ia yang terpaksa mengacau memang melihat orang-orang ini menghadangnya. Dilihat dari gelagat para pegawai Bake Me Up, Regis sangat yakin Scarlett yelah menceritakan masa lalu mereka dalam versi wanita itu. Sehingga, betul-betul membuatnya tampak seperti bajingan sejati.
“Pergilah, Dude. Kau tidak dibutuhkan di sini!” usir George yang tampak bisa melempar Regis hanya dengan menggunakan tangan satu. Mirip menyentil tusuk gigi ke tong sampah.
Namun, Regis tak gentar dengan gertakan George.
♪♪♪
“Aku sudah sampai kantor.”
“Cepat sekali. Kau tak kebut-kebutan di jalan, kan?” tanya Scarlett sambil membuka-buka catatan pesanan pelanggan yang harus dibuat dan diantar hari ini. Sedangkan ponselnya terjepit di antara pundak dan telinga. Ia sengaja tidak menyalakan panggilan video karena rikuh.
Tadi Scarlett berusaha mencari headphone-nya di tas supaya mudah melakukan hal lain sambil menelepon, tetapi tidak ketemu. Berhubung tidak ingin dering telepon William terburu berhenti, Scarlett cepat-cepat beralih ide dengan menerimanya detik itu juga.
William pun tidak ingin menyalakan panggilan video sebab khawatir kalau melihat Scarlett, bisa dipastikan ia tidak bisa fokus bekerja. Rasa-rasanya ingin menyusul ke Bake Me Up dan bercengkrama dengan wanita itu. Ia bisa melakukannya sepanjang hari kalau mau. Hal tersebut pun mengejutkan bagi dirinya sendiri yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Rupanya bertahan dengan satu wanita tak seburuk yang dikiranya. Lagi pula ada rapat internal pagi ini. Ia pun menjawab Scarlett.
“Tentu saja tidak, Darl. Aku tak kebut-kebutan di jalan sesuai perintahmu. Kebetulan saja jalanan sedang lenggang. Kau tahu, entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar adanya, aku sedang beruntung. Sejak bersamamu, kurasa segalanya menjadi lancar. Termasuk keberuntunganku di jalanan. Jadi, aku tak terlambat ke kantor. Hal terakhir yang kuinginkan adalah Dom mengomeliku dan menganggapku tidak serius bekerja. Aku sudah janji padanya untuk bergabung di Cozivart. Kau ingat, kan? Aku pernah menceritakannya padamu.”
“That’s good. Iya, aku ingat kau pernah berusaha mengusirku saat ke penthouse-mu pagi-pagi di akhir pekan karena kau mengira aku kakakmu. Aku juga ingat betul kau menceritakan detailnya padaku tiga hari lalu.” Ingatan Scarlett spontan berkelana ke tiga hari lalu saat pillow talk bersama William. Walaupun belum seratus persen terbuka pada pria itu, tetapi ia suka dengan cara William bercerita. Pria itu pandai mengolah kata dengan wajah ekspresif. Segala yang dilakukan William tampak hidup dan dilakukan dengan suka cita.
“Shit.”
“What?” tanya Scarlett yang jelas kaget. Senyum lenyap dalam raut wajahnya. Ia pun memastikan pendengarannya tidak keliru menangkap suara William baru saja mengumpat di saat dirinya asyik melamun.
Seolah-olah bisa membaca pikiran Scarlett, William menjawab, “Speaking of the devil, he’s calling. Doble shit.”
Rupanya William sedang mengumpati Dominic. Scarlett jadi lega. “Kalau begitu angkatlah,” usulnya logis.
“Aku malas. Tapi kalau tidak kuangkat, Dom pasti akan lebih murka lagi.”
“Itu terserah padamu. Kau ingin dia mengamuk sekali atau dengan kemarahan dobel?” tanya Scarlett lagi-lagi berpikir logis.
“Yah, orang bodoh juga tahu wajabannya,” balas William malas, dengan nada pelan. “Baiklah kalau begitu sampai jumpa, Darl.”
Scarlett membuat pengecualian. Ternyata ada sesuatu yang menjadikan pria itu kurang bersemangat melakukan sesuatu. Yakni menerima telepon dari Dominic.
“Sampai jumpa, Will. Semoga kau tak kena omel kakakmu,” ucap Scarlett sembari tersenyum geli. Setelah tahu bagaimana pria itu berinteraksi dengan temannya bernama Levon, sekarang ia jadi benar-benar tahu bagaimana cara pria itu berinteraksi dengan Dominic.
“Aku harap demikian.”
“Katakan padanya kau ada rapat pagi agar dia segera menutup teleponnya.”
“Ya, aku memang harus rapat. Thanks idenya, Darl. Well, aku akan menutup teleponnya. Sekali lagi, sampai jumpa nanti.”
Telepon pun diakhiri William. Scarlett baru saja akan fokus ke catatannya lagi ketika mendengar suara ribut-ribut di luar. Ia meletakkan ponsel dan pena di meja untuk mengecek apa yang terjadi. Selangkah kakinya keluar dari pintu ganda penghubung antara bagian tengah dan depan toko, jantungnya nyaris jatuh ke perut saat melihat luar toko.
“Ada apa ini?” tanya Scarlett yang bergegas menghampiri para pegawainya yang berkumpul. Semua orang menolehnya, termasuk pria dicengkraman George yang membelakanginya.
“Nah, itu dia Bos kalian. Sekarang bisa kau lepaskan tanganmu dari kerahku?” pinta Regis Mondru dengan urat-urat yang bermunculan di dahinya. Tatapan abu-abu terang pria itu tidak lagi menghipnotis, tidak bisa melarutkan orang dalam pesonanya. Pria itu justru tampak siap memporak-porandakan segalanya. Pagi hari cerah Scarlett otomatis berubah mendung.
Hillary berlari menghampiri Scarlett dan mengajak bosnya masuk agar tidak berurusan dengan Regis serta membiarkan George yang mengurus semuanya. Namun, Scarlett tetap berdiri kokoh seolah-olah dirinya dipaku di bumi yang dipijaknya.
“Aku tak akan melepaskanmu sampai kau pergi dari sini,” gertak George tegas yang makin mengencangkan tarikannya lalu berbicara pada Scarlett. “Sebaiknya kita lapor polisi, Bos.”
Mendengar kata “polisi”, Scarlett buru-buru mencegah George. “George, lepaskan dia,” pintanya.
“Tapi, Bos—”
“Aku akan bicara dengannya di kantorku,” sela Scarlett.
“Kau dengar itu, Big Boy?” tandas Regis bengis.
Meski mendengar dengan jelas perintah bosnya, George tidak serta merta ingin melepaskan Regis begitu saja. “Anda tak apa-apa membiarkan pria ini di kantormu?” tanyanya. Berkaca dari akhir pekan kemarin, ia khawatir Regis akan menyakiti hati bosnya lagi. Dan yang bisa menenangkan Scarlett hanyalah William. Jadi, ia cepat-cepat menambahkan usul, “Kalau Anda tak ingin menelepon polisi, sebaiknya Anda menelepon Mr. Molchior.”
Mr. Molchior? Kedua alis Regis tak lagi menukik tajam lantaran merasa nama itu tak asing. Benaknya kontan dijejali banyak pertanyaan. Siapa Mr. Molchior? Apa hubungannya dengan Scarlett? Apakah suami Scarlett? Jadi, putrinya sudah punya ayah baru?
Di waktu yang sama, Scarlett memikirkan William. Pria itu akan ada rapat pagi, jelas tidak bisa seenaknya menelpon dan meminta William kemari. Jadi, ia harus menghadapi Regis sendirian. Selain ada pegawai-pegawai Bake Me Up, sekarang ada William di sisinya. Scarlett merasa sedikit memiliki kekuatan untuk menghadapi mantan kekasihnya itu. Sehingga, ia kemudian mengambil tindakan tegas pada semua orang yang menunggunya. “Semuanya, kembalilah bekerja. Toko akan buka sebentar lagi. Aku tidak mau semuanya terlambat. George, awasi ovenmu. Aku tak suka roti kita gosong.”
George masih bersikeras bertanya, “Kenapa tidak menelepon Mr. Molchior saja, Bos?”
“Dia bukan pengangguran, George. Jadi, kembalilah bekerja. Awasi roti-roti pesanan pelanggan kita,” titah Scarlett tegas. Dengan amat terpaksa dan dengan tatapan mata tajam pada Regis, George akhirnya melepaskan pria itu. Pada dasarnya semua pegawai Bake Me Up menatap nyalang Regis. Lalu Scarlett pun meminta mantan kekasihnya tersebut agar mengikutinya masuk ke kantor. Ia tidak ingin mengobrol di salah satu kursi kafenya sebab tidak ingin obrolan mereka didengar yang lain, yang nantinya dapat membuat para pegawai tidak fokus bekerja karena fokus menguping.
“Ada apa?” tanya Scarlett tanpa ingin berbasa-basi dan tanpa perlu repot-repot beramah-tamah dengan mempersilakan pria itu duduk. Ia sendiri tak berniat duduk. “Toko kami belum buka. Kenapa kau tampak ingin mengacau?” tuduhnya berdasar. Kedatangan pria itu selalu mengacaukan segalanya. Terutama hati Scarlett. Sekali lagi ia harus menyesali pagi cerianya yang hilang.
Regis pun membela diri. “Aku tidak ingin mengacau. Aku datang baik-baik, makanya aku memilih pagi sebelum toko kalian buka dan selagi aku punya waktu sebelum latihan. Tapi pegawai raksasamu itu buru-buru menarik kerahku, setelah aku dihadang oleh pegawaimu yang lain. Untungnya kau datang lebih cepat.”
“Mengingat tingkahmu saat datang kemari pekan kemarin, tidak heran George berbuat demikian,” elak Scarlett. “Jadi, apa yang kau mau?” Scarlett akan membuat percakapan ini singkat.
“Aku hanya bingung. Apa yang harus kulakukan dan apa yang harus kukenakan untuk besok,” aku Regis. Meski dengan tampang serius, urat-urat di pelipisnya sudah mulai kendor. Secara garis besar, tampang pria itu melunak.
“Besok?” tanya Scarlett benar-benar bingung. Tampangnya yang kaku juga melunak.
Dengkusan keras keluar dari mulut Regis. “Jadi begitu? Kau pura-pura lupa dengan janjimu?” sindirnya. Muka tak senangnya kembali lagi.
“Janjiku?” Lagi-lagi Scarlett mengulang perkataan Regis.
“Inilah alasanku kemari pagi ini. Karena aku hafal betul dengan sifat pelupamu. Aku masih tak habis pikir kenapa kau tak ingin memberikan nomor ponselmu atau memberikan alamat rumahmu padaku. Seandainya kau memberikannya, tidak akan ada keributan pagi ini.”
Scarlett benci sekali dengan sikap pemilik sepasang mata abu-abu terang yang diwariskan ke putri mereka. Dari dulu Regis selalu membuatnya merasa bersalah lebih daripada seharusnya, dengan cara membentangkan sikap buruknya, yang ditekankan pada Scarlett secara terus-menerus. Dari dulu sikap pria itu tidak berubah.
“Tidakkah kau bisa menebaknya?” tanya Regis sakali lagi. Pria itu tampak amat jengkel. Sama seperti Scarlett.
“Aku tak ingin bermain tebak-tebakan denganmu!” balas Scarlett.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan dengan senang hati membantumu mengingatnya,” tandas Regis yang benar-benar jengkel. “Kau sudah berjanji padaku untuk mempertemukanku dengan putri kita akhir pekan ini, di sini, setelah jam makan siang. Sudah ingat janji itu?”
Jantung Scarlett rasanya baru saja ditumbuk dengan palu raksasa. Bagaimana ia bisa melupakan hal sepenting itu? Apakah karena terlalu sibuk hidup bahagia bersama William? Karena jujur saja. Bersama William ia bisa melupakan rasa sakit, trauma, dan semua hal memuakkan. Dengan ajaib ia dapat melupakan Regis dan janji yang dibuatnya sendiri. Scarlett hanya tak suka cara Regis Mondru mengingatkannya tentang betapa pelupanya dirinya.
“Kenapa diam saja? Diam-diam menyusun rencana untuk menggagalkannya, eh? Asal kau tahu saja. Aku tak mau kau berubah pikiran! Aku tak mau ada perubahan rencana sedikit pun,” tuduh dan tandas Regis lantaran tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Scarlett.
“Kalau begitu kau hanya perlu melepaskan tindik-tindikmu dan pakailah kemeja. Jangan pakai kaus gambar tengkorak atau sejenisnya,” kata Scarlett yang pada akhirnya tak bisa mengelak. Dari nadanya, ia benar-benar sudah pasrah. “Dan namanya Jenna Delillah. Dia suka sekali dengan unicorn.”
Mereka diam selama beberapa saat karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Scarlett yang berdiri di depan pintu, menatap kosong ke lantai. Sedangkan Regis yang berdiri di dekat jendela, menatap kosong awan di luar.
“Kau tahu, kita tak semestinya mengobrol dengan amarah,” tutur Regis dengan nada yang berbeda. Nadanya lembut. Guratan di keningnya menunjukkan seberapa lelahnya pria itu.
Namun, Scarlett tidak ingin mengendorkan pertahan diri. “Menurutmu kenapa aku bisa bersikap seperti ini padamu?”
“Aku tahu, aku bukan pelupa sepertimu. Dan aku harap kau mengatakan hal baik tentangku pada Jenna.”
Scarlett sontak menatap Regis lekat-lekat. “Hal baik apa yang harus kuceritakan pada Jenna saat ayahnya ingin memusnahkannya? Hal baik seperti apa?”
Dengan topik itu, Scarlett mengira Regis akan terpancing untuk marah. Namun, justru sebaliknya. Pria itu tampak betul-betul menyesal. “Dengar, aku minta maaf soal itu. Aku benar-benar menyesal. Tapi kita sama-sama tahu, kita masih muda, Letty. Sangat muda. Kau tahu bagaimana pikiran anak muda.”
“Berani-beraninya kau memanggilku Letty!” bentak Scarlett dengan wajah muak, tetapi matanya memanas.
“Dengar, aku sedang mencoba berdamai dan berkompromi demi anak kita. Kenapa kau selalu marah-marah padaku?”
“Ya, anak yang tidak kau inginkan!”
“Bahaslah topik itu terus-menerus sesukamu. Tapi bagaimana kalau aku membahas perkara kau yang ingin membunuhku dengan menjatuhkan perkakas berat dari lantai dua, tapi malah mengenai ayah Mia, sampai membuat pria tua malang itu terjangkit parkinson dan kehilangan asuransinya? Tidak ingatkah kau saat jadi buronan polisi? Apa kau sanggup kalau aku membahas itu terus-menerus? Dan para pegawaimu itu, Letty. Aku yakin mereka hanya mendengar versimu saja tanpa mendengar versiku sampai-sampai mereka mengecapku sebagai bajingan. Jangan berlagak sebagai korban. Oh, satu lagi, Letty. Bagaimana kalau seandainya Mr. Molchior-mu tahu?”
Suara Regis Mondru pelan, tetapi menusuk pendengaran sampai menembus ke jantung Scarlett dan meninggalkan nyeri. Senyum licik pria itu pun mencekik jalan napasnya. Ia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun saat Regis kembali membuka mulut. “Jadi, berikan nomor ponselmu kalau kau tak ingin aku mendatangi rumahmu atau para pegawai, dan Mr. Molchior-mu akan tahu bagaimana sifatmu yang sesungguhnya.”
Scarlett benar-benar merasa di ujung tanduk dan tidak memiliki pilihan lain selain memberikan nomor ponselnya pada Regis.
Sebelum pergi, pria itu mengatakan, “Aku harap kau mengurus pegawaimu. Katakan pada mereka aku akan datang ke sini besok setelah jam makan siang untuk menemui putri kita. Aku tidak ingin ribut-ribut seperti tadi. Dan satu hal lagi, kau tak akan membawa serta Mr. Molchior-mu, kan? Kecuali kau ingin dia dan para pegawaimu tahu yang sebenarnya, lalu akan meninggalkanmu. Jadi, sampai jumpa besok, Letty.”
____________________________________________________
Thanks for reading this chapter
Thanks banget yang masih nungguin Scarlett
Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo perusak ketampanan naskah
Pokoknya luv sekebon
Btw kelen tim siapa gaes?
Scarlett Delillah
Sama Regis Mondru
Atau
Sama William Molchior
Well, see you next chapter timin timin
With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻
Selasa, 21 Januari 2025
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro