Chapter 24
Selamat datang di chapter 24
Tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tandai jika ada typo
Thanks
Happy reading everybody
Hope you like it
❤️❤️❤️
____________________________________________________
It’s too cheesy
But it would be also not if you’re falling in love
You wouldn’t care of everything around the both of you
—Second Virgin
____________________________________________________
“Wah ... wah ... wah ..., apa ini, Boss?” celetuk Hillary Fin ketika melihat Scarlett masuk Bake Me Up dari pintu depan dan menerobos gerombolan pembeli yang mengantre whoopie pie marshmallow.
“Apa, Hill?” Scarlett berbalik tanya lantaran bingung.
“Kau tampak berbeda. Lebih shining, simmering, splendid,” goda Hillary yang semula berkacak pinggang, kini dengan wajah berseri-seri mengitari Scarlett sembari meneliti bosnya dari atas hingga bawah dan menemukan sesuatu yang berbeda.
Selain riasan yang memudar, bosnya memang masih mengenakan pakaian yang sama, tetapi auranya jelas berbeda. Tadi pagi, aura Scarlett sangat gelap seolah dipayungi awan mendung yang suram. Ia bahkan menemukan bosnya melamun beberapa kali dan tidak terlalu fokus pada peluncuran menu baru dari resep kuno kue khas Amerika yang dimodifikasi.
Namun, sekarang? Awan gelap yang memayungi Scarlett sudah digantikan pelangi. Dan seperti yang dikatakannya tadi: jadi shining, simmering, splendid. Pasti telah terjadi sesuatu. Hillary yakin itu berkaitan dengan yang dilihatnya barusan. Ia pun mengungkapkannya. “Aku melihatmu melongok di samping jendela kemudi mobilmu sambil menaikkan satu kaki. Lalu mobilmu—pew—pergi.” Hillary juga memperagakan perkataannya secara berlebihan.
“Oh ya? Dasar tukang intip!” hardik Scarlett sambil menggeleng. Senyum yang terakit di bibirnya tidak bisa ia sembunyikan sebab mengingat apa yang baru saja ia lakukan bersama William di hotel Paraíso del Mundo Manhattan. Termasuk dirinya yang baru saja berterima kasih dengan mencium pria itu di tepi jalan raya, tepat di dalam mobilnya yang diparkir di depan Bake Me Up. Persis seperti yang dilihat, dijelaskan, dan diperagakan secara berlebihan oleh Hillary.
Namun, kalau dipikir-pikir lagi, kenapa tadi ia harus menekuk salah satu tungkainya ke atas seperti adegan ciuman di film-film ya? It’s too cheesy.
But it would be also not if you’re falling in love. You wouldn’t care of everything around the both of you. Like Scarlett just did.
Tadi, sehabis bercinta tiga kali, Scarllet dan William yang lelah bin lemas memutuskan menelepon layanan kamar hotel untuk memesan makan siang yang tergolong cukup telat. William memang sudah makan, tetapi karena tenaganya baru saja dikuras nyaris habis oleh sebuah kegiatan yang membakar banyak kalori, jadi perlu diisi ulang dengan makan lagi.
Hotel itu sendiri menyediakan steak dan saus super lezat dengan menu pendamping kentang tumbuk serta sayuran panggang bercitarasa asap kayu apel yang bisa menggetarkan lidah. Menu yang sangat cocok dengan anggur merah. Sayang sekali, William harus puas dengan makan siangnya tanpa bisa menyesap minuman itu banyak-banyak. Sebab selain tidak tahan dengan alkohol dalam jumlah melimpah, ia juga harus mengemudi.
Padahal, Scarlett sudah memberitahunya bahwa tidak masalah seandainya William langsung pergi ke kantor. Namun, selain sikap gentleman yang harus dijunjung tinggi, William juga merasa khawatir akan terjadi sesuatu dengan Scarllet lagi. Bagaimana kalau seandainya bajingan—yang sialnya merupakan ayah kandung Jenna—itu menguntit Scarlett? Lalu menyebabkan kerusuhan dan membuat wanita itu kembali kacau? William tentu tidak akan membiarkannya terjadi lagi. Oleh sebab itu ia mengambil tindakan preventif dengan berinisiatif mengantar Scarlett ke toko roti wanita itu.
Berdasarkan cerita William yang dijemput sopir ke kantor hari ini lantaran heran pria itu naik taksi ke Bake Me Up, Scarlett semakin yakin memaksa William membawa Chevrolet hitamnya agar tidak perlu repot mencegat taksi yang akan membawa pria itu ke Cozivart. Dikarenakan tidak ingin berdebat di saat waktu terus berjalan menggilas jam kerja mereka—yang sudah mereka lewatkan selama hampir empat jam, William akhirnya menyetujui Scarllet. Mereka pun berencana menjemput Jenna sepulang kerja.
“Memangnya siapa yang membawa mobilmu? Orang bengkel?” desak Hillary yang rupanya belum kapok mengikuti Scarlett menuju dapur sibuk. Rasa penasaran dan gemas dalam dirinya membuat Hillary ingin menggoda Scarlett. “Tapi sepertinya tidak mungkin. Kenapa kau mencium orang bengkel? Iya kan?” tambahnya, menjawab pertanyaannya sendiri.
“Kenapa tidak?” Scarlett berbicara seolah-olah tidak terlalu menggubris dengan harapan Hillary tidak bertanya lebih lanjut. Meski demikian, tentu saja ia tidak akan pernah mencium pria sembarangan. Apalagi, orang bengkel yang baru ditemuinya layaknya dugaan Hillary.
“Kecuali orang bengkel berengsek yang mengacau tempo hari. Dia termasuk orang bengkel kan?”
Cicitan Hillary didengar oleh Scarlett. Padahal Scarlett tidak bermaksud mengingat Regis dan hanya bicara sekenanya karena tidak sampai berpikir ke arah sana. Ia benar-benar sudah lupa dengan kedatangan Regis Mondru beberapa saat lalu yang tidak diketahui Hillary atau pegawainya yang lain.
Namun, Scarlett memutuskan untuk mengabaikan perihal tersebut dengan mengomeli Hillary. “Hillary, kembalilah bekerja sebelum aku memotong gajimu!”
“Oh tidak! Aku sangat ketakutan.” Meski Scarlett tidak melihat karena membelakanginya, Hillary tetap pura-pura menekuk wajah sesaat lantas mengubahnya menjadi cengiran lebar sewaktu menambahkan, “Jadi, apa kau baru saja ‘makan siang’ dengan William? Dia kan yang membawa mobilmu tadi?”
Berhubung Hillary menekan kata ‘makan siang ’ seolah memiliki arti lain, jalan Scarlett kontan berhenti tepat di depan pintu ganda dapur dan membalik tubuhnya untuk menghadap Hillary. “Hillary,” panggilnya sekali lagi. Kali ini secara lembut sambil bertolak pinggang. “Kembalilah bekerja atau aku akan benar-benar memotong gajimu.”
“Em ..., baiklah.” Pegawai jempolan Scarlett itu akhirnya meringis dan memutuskan untuk tidak lagi menggoda bosnya. Namun, sebelum kembali ke bagian depan toko, ia berseru, “Omong-omong, hickey di lehermu sangat banyak, Boss. Hasil karya William memang jempol!”
“A-apa?” Sambil memelotot, tangan Scarlett praktis memegangi lehernya. Ia baru akan protes pada Hillary yang seolah memberi pengumuman kepada warga Bake Me Up bahwa ia telah bercinta dengan William, tetapi pegawainya yang usil itu terburu menghambur ke depan sambil tertawa riang.
“Wah, definisi makan siang yang lain rupanya. Tidak kusangka William dan kau akan melakukannya di siang bolong, Boss,” celetuk George yang dari tadi ada di dapur dan sedang mengiris stroberi untuk hiasan kue. Jelas sekali mendengar semua pembicaraan bosnya dan Hillary.
Melihat getsture koki berlisensi maître pâtissier itu menahan tawa, Scarlett mejadi rikuh dan memilih menutupinya dengan mengomeli pegawainya tersebut.
“George! Kembali bekerja!”
“Yes, Mom!”
Andy yang kebetulan baru lewat dan tertawa juga karena mendengar seruan Hillary serta celetukan George pun terkena omelan Scarlett. “Kau juga, Andy!”
“Yes, Mom!”
“Mommy, kita akan ke mana?” tanya Jenna kepada Scarlett yang mulai mengepak beberapa baju dari lemari mereka ke dalam koper yang terbuka di kasur. Sementara William menunggu di sofa ruang tamu dengan perasaan riang gembira. Siulan pria itu bahkan terdengar sampai kamar.
“Kita akan menginap ke rumah Will, Pumkin,” jawab Scarlett apa adanya. Setelah meyakinkan berkali-kali bahwa pria itu sama sekali tidak merasa direpotkan, ia akhirnya menyetujui ide William untuk tinggal bersama meski hanya sementara. Sampai semuanya kondusif.
“Di rumah Will?” yakin Jenna sekali lagi. Kedua alis gadis gembul itu terangkat yang secara otomatis melebarkan matanya.
“Benar sekali,” balas Scarlett yang tersenyum sembari menowel ujung hidung putrinya yang membawa boneka unicorn itu. Lalu melanjutkan kegiatannya.
“Apa di sana ada banyak mainan?”
Sekali lagi Scarlett menghentikan kegiatannya sejenak. Dari membungkuk, ia berdiri tegak dan berkacak pinggang menggunakan tangan satu. Sementara jari telunjuk tangan yang satunya mengetuk-ngetuk dagunya lantaran berpikir. “Sepertinya tidak ada.” Melihat Jenna cemberut, Scarlett cepat-cepat menambahkan, “Tapi Will bilang kau bisa membawa mainanmu.”
“Yey!” Jenna pun berseru dan melompat-lompat.
“Mom akan membantumu berkemas setelah ini selesai.”
“Aku akan membawa unicorn dan peralatan cat kukuku.”
Tanpa menunggu jawaban dari Scarlett, Jenna berlari ke ruang tengah dan mengubek kotak mainannya untuk mencari mainan-mainan yang disebutkan tadi. William yang melihat gadis itu pun membantunya mengemasi mainan-mainan itu ke koper mainan bergambar putri Disney warna pastel. Kecuali boneka unicorn kesayangan Jenna. Sebab gadis gembul itu ingin memeluknya sepanjang jalan.
“Kau tampak feminin, Will.” Scarlett tertawa kecil saat melihat William menggeret koper besarnya dan koper Jenna. Warna-warna koper itu sangat identik dengan gaya perempuan.
“Oh, tenang saja. Ini hanya kedok, nanti akan kutunjukkan kejantananku yang sesungguhnya. Seperti tadi,” balas William santai sambil menarik salah satu bibirnya ke atas membentuk seringai nakal yang bertujuan untuk menggoda Scarlett.
Wanita itu menggeleng dengan mulut terkatup rapat lantaran paham ke mana arah pembicaraan William. Untuk menutupi pikirannya yang mulai melayang ke sana, ia pun membantu William memasukkan koper Jenna ke bagasi mobilnya.
Sepanjang perjalanan Jenna minta diputarkan video toddler yang sudah otomatis terpasang di layar mobil Scarlett. Mulanya William merasa aneh, tetapi mendengar Scarlett ikut bernyanyi bersama Jenna, ia jadi ikut tersenyum. Yah, setidaknya semua akan baik-baik saja. Syukurlah Scarlett sudah tersenyum seperti itu
Sebelum ke penthouse-nya, pria itu tiba-tiba membelokkan mobil ke Heratl Smart Furniture Stores sehingga membuat sang pemilik kendaraan terheran-heran. “Kenapa kita ke sini?”
“Kita butuh kasur untuk Princess.”
Secara praktis alis Scarlett berkerut samar. “Kupikir kau punya lebih dari satu kamar yang otomatis ada kasurnya juga?”
“Memang, tapi kupikir Princess harus punya kamar sendiri. Dan kau ... tentu saja denganku.” William mengedipkan salah satu matanya yang membuat salah satu lesung pipinya terlihat cekung.
Pipi Scarlett memanas dengan cepat dan sekelebat bayangan mereka di hotel tadi siang menari-nari dalam pikirannya. Bohong besar bila ia tidak membayangkan perkataan William yang ia tahu akan jadi seperti apa nantinya. Meski memang ialah yang meminta William menyembuhkan seksofobianya dan harus ia akui pria itu sangat amat berhasil, tetapi untuk sekamar lagi? Apakah ia akan membiarkan William menguasai jiwa raganya lagi dan lagi? Lebih gilanya lagi, kalaupun iya, apakah ia bisa menolak kenikmatan yang ditawarkan pria itu?
Astaga rupanya aku memang sudah gila.
Sadar dengan kondisi yang tidak tepat untuk memikirkan hal-hal semacam itu, Scarlett menggeleng pelan. Ia baru akan protes, tetapi William buru-buru mengajaknya turun. Gara-gara melamun sebentar, Scarlett sampai tidak menyadari pria itu sudah melepas seatbelt, membuka pintu samping kemudi dan menurunkan Jenna dari carseat.
Di pusat perabotan tersebut, William membebaskan Jenna memilih kasur yang diinginkan dan gadis itu memilih kasur dengan dipan berbentuk kereta kuda. Ada kelambu merah muda transparan kecil yang melilit di keempat tiangnya mirip kereta labu di cerita Cinderella. Jenna juga menginginkan kuda mainan sebagai pelengkap kasur itu. Scarlett yang merasa ini mulai berlebihan pun mengingatkan William.
“Kau yakin ini tidak merepotkanmu sama sekali?” Scarlett pikir William sangat gila-gilaan memanjakan Jenna. Oh, tidak hanya Jenna, melainkan juga dirinya.
“Sangat yakin. Biarkan dia memilih beberapa perabotan lain lagi sesukanya. Tadi siang saat kau menyetujui usulku, aku langsung meminta seseorang mengosongkan kamar tamu agar bisa diisi semua perabotan Jenna.”
Scarlett menggigit bibirnya sejenak lalu berkata, “Em ..., k-kau tahu kan, kami hanya sementara menginap di rumahmu. Aku rasa tidak perlu sampai—”
Tiba-tiba William mengecup bibir Scarlett singkat sehingga memperlambat kinerja otak wanita itu dan mempengaruhi kemampuan bicaranya. Segala bentuk macam protes yang hendak dikeluarkan Scarlett tidak bisa ia keluarkan. Detak jantungnya pun menjadi tak karu-karuan.
Sementara dirinya terpekur, William mendahuluinya menukas, “Aku tahu. Tapi, tinggallah selama kalian mau. Aku sama sekali tidak keberatan. Malah aku senang ada kalian. Honestly, tinggal sendirian kadang membosankan.”
“Aku mau yang ini, Will!” seru Jenna sambil menarik-narik celana bahan William sehingga sekali lagi tidak memberikan kesempatan bagi Scarlett untuk protes sama sekali.
Sementara orang-orang dari desain interior menata kamar Jenna dengan barang-barang pesanannya, mereka bertiga makan malam. Jadi, setibanya di penthoeuse, kamar Jenna sudah selesai dikerjakan. Gadis itu senang bukan main. Ia bahkan langsung meniduri kasur tersebut sampai Scarlett memperingatkan Jenna untuk bersih-bersih dan mengganti bajunya menjadi piama.
“Terima kasih, Will,” ucap Jenna sewaktu sudah bersiap tidur dan meminta pria itu membacakan dongeng.
Dari ambang pintu, Scarlett yang sudah mengganti pakaiannya dengan piama tidur mengamati putrinya memeluk William dan mencium pipi pria itu. Hatinya menghangat. Diam-diam ia mendambakan susana ini selamanya. Pasti sangat menyenangkan. Pasti ia akan sangat bahagia bersama Jenna.
Pikiran Scarlett teralihkan oleh bunyi klik tombol lampu tidur kamar yang dipadamkan William. Lampu lahar membentuk siluet bintang-bintang yang menerangi seluruh kamar menggantikan cahaya lampu itu. Suasa yang benar-benar hangat.
William merapikan selimut Jenna dan mengecup kening bocah itu sebelum berbalik. “Eh, apa kau cemburu kalau aku mencium kening Jenna?” tanyanya dengan raut wajah polos.
“Sama sekali tidak.” Tawa tanpa suara yang menyeretai gelengan pelan mempertegas jawaban Scarlett. Ia lantas menutup kamar itu sepelan mungkin agar Jenna tidak terbangun.
“Benarkah?”
Scarlett tiba-tiba tersentak kaget karena tiba-tiba tubuhnya diangkat William. Sehingga harus berpegangan pada leher pria itu. “Apa yang kau lakukan, Will?” seru Scarlett yang dilafalkan dalam bentuk bisik-bisik.
“Mari kita lihat, apa yang bisa kulakukan padamu,” jawab pria itu santai sambil membawa Scarlett ke kamarnya—yang juga akan menjadi kamar mereka—sambil menyambar bibir wanita itu.
William membuka pintu kamar dibantu dibantu Scarlett dan diletakkannya wanita secara perlahan di kasur.
“William,” panggil Scarlett. Ia mendongak sembari menahan diri untuk tidak mengeluarkan erangan erotis kala pria itu berkutat menyibak rambutnya untuk menekuri garis rahangnya. Ia pun menelusipkan jari-jarinya pada rambut William. Pria itu pun hanya bergumam sebagai jawaban sehinggga Scarlett menambah, “Jangan lupa pakai pengaman.”
“Tentu.”
____________________________________________________
Thanks for reading this chapter
Thanks juga yang udah vote, komen atau benerin typo
Btw ada yang familier sama hotel Paraíso del Mundo?
Ini loh pemiliknya : Namanya Alejandro Rexford
Nama work nya The Devil Ex
Ini blurb
Bagi yang penasaran dan belum baca, bisa langsung aja klik link di bawah ini ya
https://www.wattpad.com/story/310337600?utm_source=android&utm_medium=link&utm_content=story_info&wp_page=story_details_button&wp_uname=chachaprima&wp_originator=CNxk%2BrwKsnZ65LGScGE6Ej1J%2FMFBNzpBwsIiZuCAc7H0rB62QRv5SfsYpQDv5%2FCbIYoR7C0ur%2FFGRr9xOj5%2FmriGHc7Dquj4wZlqpYqz0VlWaivjUA8to3VcN2PP7%2FRL
Tolong bantu vote dan komen ya man teman 💞
Kamsyah hamnida 🙏
Btw bonus foto:
Scarlett Delillah
William Molchior
Regis Mondru
See you next chapter teman-temin
With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻
Minggu, 5 Juni 2022
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro