Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 23

Selamat datang di chapter 23

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo

Thanks

But before you read this chapter, I wanna tell you something. Chapter ini dibuat semata-mata untuk hiburan belaka. Tidak ada sangkut-pautnya dalam kehidupan nyata.

Dan kenapa harus ada warning 21+?
Karena selain adegan, latar belakang cerita ini juga di New York. Yang kita ketahui di sana sangatlah bebas. Maksud saya, bebas berpikir, mengutarakan pendapat, maupun menjalin hubungan. Tidak tabu dengan hal berbau hubungan badan sebelum pernikahan. Itu hal yang sangat wajar di sana. Malah orang-orang berselogan “Kau harus mencoba sebelum membeli” terhadap seks. Terhadap tinggal bersama. Mereka juga memiliki pendapat “Bagaimana kalau masih pacaran saja tinggal bersama sifatnya sudah begini? Apakah nanti bisa cocok untuk pernikahan? Makanya harus dicoba dulu kan? Siapa tau nyaman, atau siapa tau nggak nyaman.”

Yah, intinya, selamat membaca teman-teman

Semoga suka dan terhibur ya

Nggak usah dipikir terlalu dalem

Biar cinta mas mantan aja yang harus dikubur dalem-dalem

#pelukcium

❤️❤️❤️
____________________________________________________

Kuberitahu kau satu hal
Dari sini, kau sudah tidak akan bisa lari lagi

—William Molchior
____________________________________________________

William Molchior mengendarai mobil Scarlett agak kencang di jalanan yang lenggang menuju hotel Paraíso del Mundo. Suatu kebetulan tempat itu merupakan hotel bintang lima milik pria Spanyol bernama Alejandro Rexford yang baru diresmikan beberapa waktu lalu di Manhattan. Letaknya strategis dan dekat dengan Bake Me Up. Sehingga tidak sampai lima belas menit kemudian, mereka sudah tiba di sana.

Chevrolet itu kemudian diserahkan petugas valley sementara memikirkan kembali tujuannya kemari, William merinding. Ia yakin tangannya yang menggenggam tangan Scarlett sedingin salju di tengah musim panas yang lembab. Ia hanya berharap Scarlett tidak menyadari kegugupannya. Karena kalau diperhatikan lebih saksama, wanita itu juga tegang.

“Ini kunci suit honey moon sesuai pesanan Anda.”

William tersentak oleh suara resepsionis hotel. Memesan kamar dengan layanan terbaik tidak berlebihan, bukan? Bagaimanapun, William menginginkan sesuatu yang terbaik bagi Scarllet dan dirinya.

“Terima kasih,” balas William sembari menyambar kartu kunci yang diulurkan pemuda tersebut. Kepalanya menoleh Scarlett sejenak sambil mengukir senyum sebelum menuntun wanita itu ke lift. Dan balasan senyum dari Scarlett justru kian mendirikan bulu kuduk William.

Demi Neptunus! Kenapa William bisa jadi sangat gugup seperti ini? Berbeda dari wanita-wanita lain yang pernah dijajalnya. William malah tidak ambil pusing untuk bercocok tanam dengan wanita-wanita tersebut. Kapan pun dan di mana pun, asal hasratnya terpenuhi, William tidak mempermasalahkannya.

Namun, kali ini berbeda. Sungguh-sungguh berbeda. Bukan wanita sembarangan yang memintanya bercinta, melainkan Scarlett. Wanita yang beberapa waktu lalu mengatainya gila dan berusaha ia kejar-kejar dengan tujuan ingin meniduri wanita itu sebagai hukuman. Sebagai tanda bahwa William mampu menakhlukkan wanita sok jual mahal itu.

Sekali lagi William mengingatkan diri sendiri bahwa kondisi kali sungguh berbeda. William tahu ia boleh saja menyangkal pemikiran otaknya, tetapi hatinya berkata ia mencintai wanita itu.

Setibanya di depan pintu suit honey moon yang dipesannya, William tidak langsung membukanya. Ia menghadap Scarlett lebih dulu untuk sekali lagi bertanya, “Apa kau benar-benar yakin?”

Tanpa keraguan sedikitpun, Scarlett menjawab, “Sangat yakin.” Lagi pula, ia sudah di sini bersama William. Jadi, Scarlett tidak bisa lari lagi. Pun, ia yang meminta pria itu untuk bercinta dengannya. Tidak sepatutnya ia menghentikan William apa pun yang terjadi di dalam kamar nanti.

Scarlett yakin William pasti akan memperlakukannya secara lembut. Berdasarkan penilaian Mia, pria itu punya segudang pengalaman bersama wanita. Jadi, tanpa disebut sekalipun, Scarlett sudah bisa menarik kesimpulan sendiri bahwa William pasti sangat ahli. Tidak seperti Regis dan dirinya yang dulu masih sama-sama tidak memiliki pengalaman. Sehingga masih mementingkan ego masing-masing dan lebih ingin memenuhi hasrat masing-masing. Tanpa memedulikan salah satu dari mereka yang kesakitan.

Derit pintu membangunkan Scarlett dari lamunan. Ia mengikuti William yang membimbingnya masuk. Pria itu mempersilakannya duduk di salah satu kursi yang ditarik dari bawah meja kopi. Ada keranjang berisi sebotol minuman pembuka berupa anggur merah, dua buah gelas berdeux, sebuket es batu kristal dengan penjepit dan tanaman hias kecil yang indah.

Sebelum duduk, William mengambil salah gelas itu lalu mengisinya dengan anggur merah.

“Ini akan membantu merilekskanmu, Darl. Segelas tidak akan membuatmu mabuk,” kata William sembari memberikan gelas berisi anggur merah kepada Scarlett. Padahal, ia yang seharunya meminum minuman beralkohol berkadar rendah itu dalam jumlah lumayan banyak supaya rileks. Dari tadi sekujur tubuh William setegang besi. Hanya lagaknya saja yang santai. Dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya repot-repot melakukan ini dan itu untuk wanita yang akan ditidurinya. Sekali lagi, sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya. Namun, untuk Scarlett, apa yang tidak dilakukan William?

“Terima kasih,” jawab Scarlett. Sebelum menyesap anggur merah itu, ia membawa bibir gelas menedekati hidungnya untuk menghidu aromanya.

“Bagaimana rasanya? Apakah enak?”

Scarlett menjauhkan gelas dari bibir dan menatap William heran. “Charberet Souvignon. Kurasa kita sama-sama tahu itu anggur terenak yang pasti sering kau minum. Aneh. Kenapa kau malah bertanya padaku?”

“Just make sure,” jawab William sambil menaikkan semua alisnya.

“Kau tidak minum?”

William pun bangkit dan berdiri di depan Scarlett. Gesture yang mendebarkannya. Terlebih, ketika pria itu berkata, “Aku penasaran bagaimana rasanya kalau aku mencurinya darimu.”

Pria itu tidak memberikan jeda atau aba-aba bagi Scarlett untuk berpikir, menduga-duga atau menjawab karena secepat kilat William merebut gelasnya, meletakkan benda itu di meja kopi, sembari menyambar rahangnya untuk dicium. Gerakan tiba-tiba yang sedikit menyentak Scarlett. Yang kemudian berusaha ia gimbangi. Sebelum akhirnya William memutus ciuman mereka.

“Manis. Persis seperti dugaanku,” tukas William sebelum menautkan bibir mereka kembali dan menjelajah secara lembut, tetapi kuat. Indra pengecapnya membelit, mengajak Scarlett berdansa sesuai tempo yang mereka mainkan. Tidak perlu diragukan lagi, sensualitas di antara keduanya meningkat dengan cepat berkat kelihaian William.

Sekali lagi, pria itu memutus ciuman mereka. Lalu menarik Scarlett supaya berdiri. Scarlett sempat mengira William akan menciumnya lagi kala pria itu menakup kedua pipinya menggunakan kedua tangannya. Rupanya tidak—atau setidaknya belum.

“Aku tanya sekali lagi, Darl. Apa kau yakin ingin bercinta denganku?”

Dengan tatapan sayu, Scarlett mendongak. Kedua tangannya terangkat menyentuh kedua punggung tangan William. “Kita sudah di sini. Kita tidak bisa mundur lagi.”

“Baiklah. Kau boleh menghentikanku kapan pun kau mau, kalau seandainya kau merasa tidak nyaman.”

Scarlett boleh menghentikan William kapan pun wanita itu mau? Yang benar saja! William bahkan sangat yakin tidak akan mau menghentikan ini bahkan seandainya Scarlett memohon-mohon. Namun, ia akan sangat berusaha untuk tidak menyakiti Scarlett. Wanita itu memercayainya sebagai penyembuh trauma dengan cara yang—demi Neptunus—menjungkirbalikkan akal sehat. Jadi, sebagai pria sejati, sudah semestinya William tidak mencoreng kepercayaan yang diberikan padanya.

Scarlett pun menjawab pertanyaan William dengan mengangguk dan berbisik, “Ya, tentu.”

Dengan senyum hangat, William menurunkan wajah dan kembali menyecap bibir Scarlett. Rasanya dingin, bergetar dan manis. Semua elemen tersebut berdampak lebih mendongkrak hasrat William untuk kembali menjelajahi wanita itu.

Tangan William yang semula mengatup kedua pipi Scarlett kini berpindah ke belakang kepala wanita itu dan mendorongnya agar lebih bisa merengkuhnya. Sebagai awal yang baik, Scarlett merespons dengan menautkan lengan-lengannya di leher William. Sesekali wanita itu menyusupkan jari-jarinya ke rambut brunette pria itu, sambil menikmati aroma maskulin yang ditebarkan William.

Untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit terakhir, William memutus ciuman dan meregangkan pelukannya untuk mulai mencari kancing kemeja Scarlett.

“Kau yakin tidak ingin menghentikanku?” tanya William dengan suara serak dan dalam. Tatapannya menggelap karena terhalang kabut gairah. Tangannya yang terampil sudah membuka empat kancing teratas kemeja Scarlett. Aroma persik kontan lebih pekat dan menambah gairah William.

“Tidak.” Scarlett mendongak dan melepaskan satu desahan kala William menyingkap salah satu bahu kemejanya. Kulitnya yang terekspos menjadi sasaran hidung dan bibir William yang lembab. Dan kembali membuatnya mendesah saat leher serta bahunya bergesekan dengan cambang William, serta isapan dan gigitan pria itu. Terasa sakit, tetapi Scarlett tidak mengerti kenapa kenikmatan yang ditawarkan jauh lebih besar daripada itu.

Seluruh jari-jari kaki Scarlett menegang merasakan sentakan halus tali penutup dadanya yang William singkap. Ia tidak tahu kapan dan bagaimana tepatnya William membopong serta mendudukkannya di kasur penuh kelopak mawar. Ia juga tidak sadar membantu melepaskan kemejanya sendiri dan seluruh kain yang menutupi tubuh bagian atasnya.

“Shit,” umpat William dengan tatapan mendamba sekaligus kagum. “I’m not gonna lie, I was thinking your body a hundred times. And this is more than my expectations. You’re gorgeous, Darl.”

Saat tatapan pria itu turun ke perutnya, Scarlett menutupi bagian-bagian yang berselulit. “I’m sorry. I’m not as gorgeous as you expect.”

“Tidak, jangan menutupinya. Kau sempurna bagiku.”

William menarik semua tangan Scarlett lalu menggilir puncak dadanya yang menegang. Gigitan kecil dan isapan kuat dari William membuat wanita itu kembali mengeluarkan desahan. Jantung Scarlett berdebar keras seolah baru saja lari maraton merasakan tubuhnya panas dingin karena pria itu menurunkan ciumannya ke perut. Selain mengusap lembut selulit-selulit Scarlett, William pun berpindah menyingkap rok pensil Scarllet dan meraba pahanya.

Wanita itu merasa perutnya melilit dan mendambakan lebih banyak daripada yang bisa William berikan sekarang. Ia tidak lagi peduli soal selulit-selulit itu. Malah kini Scarlett berinisiatif melepas dasi, vest biru gelap dan kemeja biru terang William. Dampaknya, pria itu menjadi lebih bersemangat membagi kenikmatan dengan Scarlett. Dengan menyingkirkan semua penutup Scarlett.

Saat hidung dan bibir William menyusuri paha Scarlett, wanita itu menegang. William yang tidak yakin pun menghentikan aksinya dan bertanya, “Apa kau ingin berhenti?”

“Ti-tidak.”

Jadi, ciuman William mulai merangkak ke lipatan inti tubuh Scarlett yang lembab, basah dan licin. Bukti nyata bahwa wanita itu menginginkannya sebesar ia menginginkan wanita itu.

“Oh! William, apa yang ka—ah!” Scarlett merasakan sensasi terbakar kenikmatan saat pria itu melesakkan jari tengahnya dan menari. Bergerak seduktif.

Lalu dengan curang, William berhenti, mendongak dan kembali bertanya, “Apa aku harus berhenti?”

“Tidak! Tidak! Tidak! Kau harus melanjutkan apa yang kau mulai,” jawab Scarlett cepat-cepat. Pikirannya blank.

Ia mencengkram rambut William yang kini malah berada di tengah kedua kakinya. Yang mengkombinasikan jari serta indra pengecapnya lalu secara ahli membuat Scarlett menegang, berikutnya melepas ledakan nikmat sampai ia terengah-engah.

Apa itu barusan?

Saat Scarlett masih menikmati sisa-sisa ledakan itu, William pun menjulang di atasnya. “Darl, apa kau baik-baik saja?” tanyanya memastikan. Baru kali ini ia menanyakan seorang wanita sehabis menggarapnya sebagai pemanasan. Untuk mempersiapkan ke tahap selanjutnya.

Sambil ngos-ngosan, Scarlett menjawab, “Ya. Aku baik-baik saja. Aku hanya ... aku hanya—”

“Orgasme?”

“Orgasme?”

Wajah Scarlett yang bingung membuat William heran. “Jangan katakan kau tidak tahu?”

“Kurasa, aku sudah tahu. Maksudku, baru saja tahu.”

William tercengang. Ini sungguh di luar dugaannya. “Wow,” bisiknya parau. Ia meneguk ludah dengan susah payah.

Hah! Rupanya si bajingan itu tidak memberikan Scarlett kenikmatan, pantas saja Scarlett ketakutan. Dasar bodoh!

“Apa kau siap ke tahap selanjutnya?” tanya William ragu.

“Ya, tentu. Aku siap.”

William berdiri tegak dan mengambil pengaman dari saku celana kerja sebelum melepasnya sampai kondisinya polos sama seperti Scarlett. Sedangkan wanita itu memperhatikan William naik ke kasur dan mengambil posisi menjulang di atasnya. Ia juga memperhatikan pria itu menggigit ujung plastik pengaman, menyobek, mengeluarkan lalu memasangnya.

William sudah siap, sangat-sangat siap. Ia harus melindungi Scarlett dari risiko hamil. Karena itulah ia sempat berhenti di apotek yang sejalan untuk membeli pengaman. Mereka jelas tidak siap memiliki bayi di saat Scarlett baru saja akan melenyapkan traumanya. Itu pun, kalau berhasil. Dan semoga saja berhasil.

“Kau yakin mau melakukannya?”

Sudah ribuan kali William menanyakan itu kepada Scarlett. Dan sudah ribuan kali itu pula Scarlett menjawab, “Ya, aku yakin.”

“Kuberitahu kau satu hal. Dari sini, kau sudah tidak akan bisa lari lagi, Darl. Jadi, kalau kau ingin berhenti, sekarang inilah saatnya.”

Ancaman pria itu halus dan tegas. Namun, menawarkan sensualitas yang—tidak ingin munafik—kini begitu didambakan Scarlett. Bahkan ia merasa tatapan mata William sudah memerangkapnya dan tidak mengizinkannya kabur ke mana pun. Dan hanya melalui jari serta lidah, William bisa membuatnya terbang. Apalagi dengan hal lain?

Sekarang, Scarlett baru bisa memahami kenapa banyak wanita yang tertarik pada pria itu. Selain memiliki pesona kuat bagai kutub magnet berlawanan sisi, William juga memperlakukan wanita secara gentle saat bercinta. Tidak seperti Regis Mondru si tukang pemaksa.

Meski cemburu pada wanita-wanita yang pernah bercinta dengan William, tetapi Scarlett berpikir logis. Toh itu sudah berlalu. Ia juga pernah bercinta dengan Regis meski tidak ingin ia kenang. Ia akan bersikap realistis.

“Aku mengerti. Tapi, aku yakin tidak ingin kau berhenti,” jawab Scarlett sambil membelai pipi William secara lembut. Apakah sekarang ia sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada pria itu? Scarlett rasa iya.

Pria itu pun mengambil tangan Scarlett lalu menciumnya. “Aku janji akan pelan-pelan. Katakan padaku kalau aku menyakitimu, Darl.”

“Tentu.”

Scarlett merasa debaran jantungnya kembali memberontak dari balik dadanya kala ia memperhatikan William membuka kakinya lebih lebar lalu menyatukan diri secara perlahan.

“Oh!” pekik Scarlett. Salah satu tangannya membekab mulutnya, sedangkan tangan yang lain memegangi lengan kekar William.

Scarlett sangat bersyukur William tidak langsung membenamkan diri sepenuhnya karena membiarkan dirinya beradaptasi lebih dulu. Rasanya tidak sesakit yang dilakukan Regis. Namun, tetap saja, tidak nyaman. Seperti terganjal sesuatu. Setelah beberapa kali William mengisi dan mengosongkan dirinya sampai menyeluruh, barulah Scarlett bisa merasakan sensasi hampir gila.

“Shit,” umpat William lagi. “Kau yakin Jenna keluar dari sini?”

“Sangat yakin,” jawab Scarlett susah payah di tengah desahan saat pria itu bergerak seduktif, meski masih pelan-pelan.

“Lalu apa ini? You’re second virgin?”

“Oh! I think so.”

“Berengsek,” umpat William pada diri sendiri yang dilafalkan dalam gumaman. “Kalau begini terus, aku bisa tidak tahan lebih lama lagi, Darl.”

“Oh!” Scarlett merasa tubuhnya panas kala pria itu meningkatkan kecepatan gerakannya. Ia melingkarkan kakinya di pinggang William lebih erat daripada tadi. Ia juga tidak sadar menancapkan kukunya dipunggung berkeringat pria itu. Rasa baru yang ditawarkan William benar-benar menakjubkan. Ia merasa mabuk kepayang. Tidak ingat siapa dirinya atau bagaimana ia mendesah begitu keras sampai tubuhnya kembali menegang, lalu meledak bersama pria itu.

William pun jatuh di sisi Scarlett setelah mencium kening wanita itu.

Akhirnya, setelah pria itu sempat membangun dinding, penghalang itu resmi roboh.

“Bagaimana menurutmu?” tanya William yang kini memeluk Scarlett. Ia tahu wanita itu tersipu malu karena menikmati semua perlakuannya. Sejujurnya, sangat menggemaskan.

“Em ....” Scarlett mengatupkan bibir sambil mengubur wajah merah meronanya di dada William. Lantas bergumam, “Fantastis. Sampai membuatku berpikir, ke mana saja aku selama ini? Kenapa tidak merasakan apa yang selalu diceritakan Hill kalau bercinta bersama Andy?”

Tubuh William bergetar karena menahan tawa. “Kau hanya perlu pria yang tepat seperti aku untuk memberikanmu kenikmatan semacam ini. Lihat, aku baru menyentuh punggungmu, tapi kau sudah menegang. Bagaimana dengan yang lain?” jawab William sambil mempraktekkan ucapannya.

Dan Scarlett pura-pura tidak terpengaruh. “Bukankah kau terlalu percaya diri? Ke mana larinya Tuan Tukang Tanya aku ingin lanjut atau berhenti?” ejeknya. Lalu menambahkan, “Tapi ..., ya, kau benar. Aku membutuhkanmu, Will. Kau berhasil menyembuhkanku yang tidak berpengalaman sama sekali ini. Terima kasih. Aku tidak tahu harus dengan apa lagi aku membalasmu.”

“Well, kau hanya perlu tinggal bersamaku di penthouse-ku.”

“Ha?” Scarlett kontan menatap William lantaran kaget.

“Eh, maksudku, aku khawatir bajingan itu akan menguntitmu atau semacamnya. Dan, tidak sembarang orang bisa masuk ke tempat tinggalku. Jadi, mungkin akan lebih aman bagimu dan Jenna kalau tinggal bersamaku. Aku tidak memaksa, kau boleh memikirkannya.”

____________________________________________________

Thanks banget yang udah baca, komen, ataupun benerin typo dalam chapter ini

Btw, udah masuk ke inti cerita ya, kenapa novel ini berjudul Second Virgin?

Well, bonus foto Scarlett dan Jenna

Bonus foto William juga

Dan jangan lupa bapaknya Jenna yang namanya Regis (dia ini putar balik gaes, mau pulang ke rumah saya aja katanya)

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Minggu, 22 Mei 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro