Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 18

Selamat datang di chapter 18

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai juga apabila ada typo

Thanks

Happy weekend and happy reading everyone

Hope you like and enjoy this story as well

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Ia merasa jantungnya ditarik ke perut, lalu dibanting hingga hancur menjadi serbuk-serbuk kecil seukuran debu
Dan tak ada yang memungut kemudian menyatukannya kembali

—Second Virgin
____________________________________________________

Pagi-pagi sekali, selagi menunggu Jenna bangun, Scarlett sudah mengeluarkan setumpuk pakaian dari lemari lalu mencobanya satu per satu. Lagi-lagi keningnya harus terlipat-lipat samar karena tidak mengerti kenapa rasa-rasanya belum ada satu pun baju yang cocok untuk dikenakan ke Bake Me Up hari ini.

Padahal biasanya Scarlett tidak perlu memikirkan secara detail tentang apa yang akan dipakainya. Asal sopan dan cocok untuk bekerja, tidak masalah. Dan yang paling penting, efisien bin antiribet untuk bercengkrama dengan loyang-loyang, cup-cup, tepung-tepung, cokelat-cokelat, buah-buah segar, dan seluruh ekosistem penghuni lain di dapur. Plus, bertemu calon pembeli yang ingin memesan kue khusus.

Scarlett menempelkan gaun sampanye musim panas putih tulang beraksen bunga-bunga kecil beragam warna sambil mengaca. Kepalanya menggeleng-ngeleng. Ini juga kurang cocok. Ia lantas mengambil top crop kulit hitam, blazer hijau dan celana bahan krem. Membayangkan perpaduan baju tersebut. Bahan-bahan lembut yang menjadi sasaran permukaan kulit tangannya dielus secara perlahan dan kembali mengusir napas berat Scarlett. Ini juga berlebihan kalau harus dipakai kerja.

“Bagaimana aku bisa sepusing ini hanya karena baju?” tanya Scarlett pada diri sendiri. Ini pasti karena William yang akan berkunjung. Dasar merepotkan! hardik Scarlett seolah pria itu ada di depannya. Namun, dengan senyum dan pipi merona.

Ia menggeleng lagi. Kemudian melalui pantulan cermin, sepasang iris cokelat gelapnya menangkap jumpsuit demin putih tulang yang terselip di antara gaun-gaun di lemari dinding belakangnya yang terbuka.

Bagian punggung pakaian itu bertali, dan bawahannya sepanjang mata kaki. Ia bisa mengenakan sandal warna pastel bertumit tinggi. Dibalut blazer hijau yang dipegangnya sebagai luaran untuk menemui Chad Fulton. Lalu saat William datang, blazer itu bisa ia tinggal di ruangannya.

“Astaga! Sepertinya aku sudah gila! Kenapa aku harus berpikir seperti itu?”

Buru-buru mengemasi baju-baju yang berserakan di kasur menyisakan pakaian terakhir yang dicobanya, Scarlett pun segera bersiap. Dalam kurun waktu tiga jam, ia sudah mendudukkan Jenna di carseat. Ponselnya berdering dalam tas jinjing letika ia baru duduk di balik kemudi.

Scarlett memgambil dan membaca nama William di layarnya. Debar jantungnya langsung mendadak mendapatkan dorongan untuk bekerja dengan kekuatan berlipat ganda. Sembari mulai berkendara pelan, ia lantas mengaktifkan pelantang supaya bisa mendengar si penelepon tanpa melunturkan fokusnya ke jalan yang agak lenggang.

“Selamat pagi, Darl,” sapa pria itu.

Debar jantung Scarlett melonjak lebih giat, tidak stay cool sama sekali. Pun, ekspresi wajahnya yang ingin dipatri senyum. Namun, ia berusaha bersikap wajar. Bagaimanapun, sudah menjadi kebiasaan William memanggilnya “Darl”. Anehnya, bukannya terbiasa dengan itu, Scarlett malah semakin gugup.

“Selamat pagi,” balas Scarlett setelah melonggarkan tenggorokannya dengan sekali deham.

“Apa kau sudah berangkat ke Bake Me Up?”

“Yap. Aku baru bergabung di jalan raya menuju ke sana,” jawab Scarlett logis. Apa adanya. Tanpa perdebatan apapun dan tanpa pikir panjang.

“Kalau begitu hati-hati.”

Scarlett baru akan menjawab pria itu, tetapi Jenna lebih dulu menyela, “Apa itu William, Mommy?”

Mau tak mau, ia harus menjawab pertanyaan putrinya. “Benar, Pumpkin.”

“Apa William akan bermain bersama kita lagi?”

“Tentu saja, Princess,” sahut William riang.

Jenna tertular keriangan pria itu dengan berseru-seru. Gadis tersebut mengacungkan boneka Unicorn-nya karena membayangkan permainan-permainan yang akan dimainkan mereka. “Apa boleh aku mengecat kukumu lagi, Will?” tanyanya kemudian.

Scarlett merasa ditarik ke momen pekan kemarin. Ketika ia mengusap kuku-kuku pria itu menggunakan aseton supaya bersih dari cat lalu mereka berciuman. Otaknya praktis mencair. Pun, sekujur tubuhnya yang terasa panas, melumerkan seluruh persendiannya. Oh! Tidak! Ia harus konsentrasi menyetir. Beruntungnya lalu lintas tidak terlalu padat dan lampu merah sudah dekat.

Dari seberang sambungan, William menjawab Jenna. “Boleh saja. Tapi tolong katakan pada Mommy untuk memberiku ciuman.”

Mobil yang berhenti di lampu merah, bertepatan dengan Scarlett yang mengeram. “William ....”

Sementara Jenna menjawab dengan senang hati. “Tidak masalah.”

“Kalau begitu aku akan ke binatu koin dulu baru menyusul kalian ke Bake Me Up.”

Untuk kali ini, Scarlett tidak bisa menahan tawanya. Lihat, bagaimana bisa pria itu membombardirnya dengan rasa gugup, kesal, dan geli sekaligus?

“Sungguh? Kau akan ke binatu koin?” tanya Scarlett tak percaya. Bayangan wajah William yang serius mendengarkan penjelasannya tentang cara menggunakan binatu koin menari-nari dalam benaknya.

“Tentu saja. Rupanya mencuci baju di sana menyenangkan. Lagi pula kau mengajariku dan Princess dengan baik, Darl.”

Scarlett mengabaikan efek debar jantungnya akibat panggilan William di akhir untuknya. “Dan akan pamer pada teman-temanmu? Lalu mereka akan memasang iklan di timeline lagi?”

“Ehh ... tidak juga.”

Scarlett mengudarakan tawa lagi karena membayangkan wajah rikuh pria itu sambil mengusap tengkuk. Setelah William menutup telepon, Chevrolet hitam Scarlett sudah memasuki Colombus Avenue yang agak ramai. Ia tidak sengaja berpapasan dengan Buggati la Voiture Noire edisi terbatas milik Regis Mondru. Yang sudah hampir terparkir di Bake Me Up.

Kurang setengah jam lagi pertemuan Scarlett dengan Chad Fulton dilaksanakan. Ia mengecek keadaan toko lebih dulu. Memastikan stok susu dari Heaven Field masih aman, buah-buah segar masih melimpah untuk membuat tartlet, serta bahan-bahan lain untuk membuat beragam kue lain. Sementara itu Jenna bersama Hillary membuat kue Unicorn dari playdough di ruangan Scarlett yang terletak tepat di belakang dinding kasir.

Sewaktu jam bertemu dengan Chad Fulton sudah hampir tiba, Scarlett mendapat pesan dari klien tersebut yang mengatakan pria itu sudah dekat. Jadi, Scarlett menyiapkan sebuah meja untuk mereka diskusi. Ia pun sudah bersiap dengan buku catatan kecil. Bahkan sempat menggambar bentuk kue-kue yang lumayan laris di tokonya untuk direkomendasikan.

Bel di atas pintu kaca ganda Bake Me Up berdentang pertanda seseorang masuk. Scarlett melihatnya dan betapa ia merasa jantungnya ditarik ke perut, lalu dibanting hingga hancur menjadi serbuk-serbuk kecil seukuran debu. Dan tak ada yang memungut kemudian menyatukannya kembali. Senyum dan keceriaan yang tadinya memeluk diri Scarlett berkat William lenyap digantikan rasa nyeri yang tak tanggung-tanggung.

Scarlett heran kenapa efek yang begitu dahsyat itu masih terasa ketika melihat Regis Mondru dalam balutan luaran jaket kulit hitam hitam yang tidak dikancingkan dan memperlihatkan kaos hitamnya. Selalu menjadi ciri khas pria itu. Kacamata hitam Regis sudah dilepas ketika bertanya pada salah seorang pegawai Scarlett yang memang ditugaskan di bagaian depan.

Untuk beberapa saat, Scarlett lupa cara bernapas dan menggerakkan tubuhnya sampai pandangan mereka berserobok. Dan Regis berjalan ke arahnya.

“Apa kabar, Scarl? Sudah lama kita tidak bertemu.”

Saat itulah, Scarlett baru bisa memaksimalkan kinerja otaknya untuk terlonjak dan langsung waspada. Ia memasang sikap penuh antisipasi. Jeritan dalam tenggorokannya dibungkam oleh kesadaran kehadiran pelanggan ; Scarlett tidak ingin membuat keributan di toko rotinya, yang secara praktis akan mengundang desas-desus negatif, lalu mengurangi jumlah pelanggan.

Walau perasaannya campur aduk, antara marah, sakit hati dan lain sebagainya. Namun, dengan nada dingin dan mengerahkan seluruh pertahanannya, ia bertanya, “Apa yang kau lakukan di sini? Apa maumu? Dari mana kau tahu aku di sini?”

Regis semakin mendekat, dan Scarlett semakin mundur sampai kakinya menyentuh kursinya. “Aku ingin menemuimu. Aku tahu kau dari internet.”

Terkutuklah teknologi masa kini! maki Scarlett dalam hati.

“Sayang sekali aku tidak punya waktu. Lebih baik kau pergi dari sini sebelum kupanggil pegawaiku untuk menendangmu,” desis Scarlett.

Regis tentu saja tak gentar dengan ancaman tak berbobot Scarlett. Sudah berapa kali ia gagal menemui mantan pacarnya ini. Kenapa hanya karena itu ia harus pergi? “Rupanya kau masih selucu dulu, Scarl. Omong-omong, aku membuat janji temu denganmu atas nama Chad Fulton. Em ... sebenarnya itu Jared.”

Apa-apaan? Pantas saja ia merasa suara Chad Fulton tidak asing. Rupanya suara Jared King, sahabat Regis yang terkutuk.

Kepala Scarlett sontak berdenyut sakit, menyaingi hatinya. “Oh, kalau begitu selamat. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku. Silakan pergi dari tokoku.”

Regis Mondru baru saja akan membuka mulut ketika tiba-tiba Jenna berlari sambil membawa kue yang terbuat dari playdough. “Mommy ... mommy ... lihat! Aku membuatkanmu kue!”

“Jangan lari-lari, Pumkin. Mommy sedang sib ... buk ....” Hillary yang mengejar Jenna kontan bungkam saat melihat Regis Mondru berdiri di depan Scarlett. Fokus pria itu tidak lagi pada bosnya, melainkan pada Jenna.

“Jadi, dia putriku?” tanya pria itu.

Scarlette menghiraukannya dan memerintah Hillary. “Bawa Jenna masuk, Hill!”

Regis buru-buru mendekati Scarlett yang sudah menggendong Jenna. “Aku tanya apa dia putriku, Scarl?”

“Jangan sentuh anakku!” Scarlett menjauhkan Jenna yang melihat Regis dengan mata abu-abu terangnya. Mata yang diwariskan Regis kepadanya. Dan hampir seratus persen DNA pria itu.

Hillary segera meraih Jenna, tetapi Regis berusaha meraihnya lebih dulu. Scarlett jelas tidak jadi menyerahkan Jenna ke Hillary dan mengambil alih putrinya lagi.

“Dia putriku, bukan?” Kekagetan luar biasa jelas mengerubungi diri Regis. Jadi, benar kata Jared King, Scarlett tidak menggugurkan kandungannya dan sekarang ia melihat putrinya—yang jelas-jelas dulu tak diinginkannya lahir ke dunia. Namun, bukankah manusia bisa berubah? Ia bukan remaja tanggung yang dilanda demam merah jambu sekarang. Ia seorang pria.

“Sudah kubilang jangan sentuh anakku!” Scarlett tidak dapat menahan amarahnya lagi. Jadi, ia berteriak, mengabaikan kondisi tokonya yang sedang ramai pengunjung. Kini mereka beralih fokus dari kegiatan semula untuk melihat Scarlett yang menderap dengan langkah tergesa-gesa menuju dalam toko. Regis pun mengikutinya.

Berhubung tidak pernah mendengar ibunya bereaksi dengan teriakan seperti itu, Jenna pun menangis.

“Aku berhak tahu, Scarl!” pekik Regis yang sudah menghadang Scarlett.

Scarlett terpaksa berhenti. “Kau tidak menginginkannya! Apa kau ingat itu? Jadi jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu, Reg!”

“Aku berhak bertemu putriku! Silakan saja bunuh aku! Kau sudah pernah mencoba melakukannya!” balas Regis. Masih berusaha meraih Jenna yang semakin kencang menangis karena banyak tekanan. Bukan hanya pada psikisnya, melainkan juga tubuhnya yang semakin kencang dipeluk Scarlett.

Sementara itu, Scarlett benar-benar merasa lepas kendali. Regis selalu bisa memancing emosinya. “Kau bajingan, Reg! Keparat! Pergi dari tokoku!” Ia juga masih berusaha menjauhkan Regis dari Jenna dan itu tindakan yang sia-sia.

“Aku hanya ingin tahu apakah dia putriku? Kalau iya, aku juga berhak menyentuh putriku!”

“Singkirkan tangan kotormu! Dia anakku! Bukan putrimu! Kau tidak berhak sama sekali!”

“Lihat siapa yang bicara? Pantaskah seseorang yang ingin membunuhku bicara seperti itu padaku? Dan Scarlett, walaupun kau menyangkal, dia tetap putriku! Dia mewarisi seluruh genku!”

Sementara Scarlett ribut-ribut di selasar, Hillary segera memanggil George dan Andy untuk meminta bantuan. Kedua pria itu segera meninggalkan pekerjaan mereka dan menuju Scarlett.

“Hei! Singkirkan tanganmu dari bosku dan putrinya!” George menarik jaket yang melekat di punggung Regis supaya pria itu menjauhi Scarlett.

Regis memberontak, menyentak tangan besar pria itu dan berhasil lolos. Setelahnya ia berkata kasar pada George. “Aku hanya ingin menemui putriku! Aku berhak menemuinya atau menyentuhnya! Kau yang seharusnya menyingkirkan tanganmu dariku!”

Tanpa ingin menunda waktu lagi, Hillary mengambil alih Jenna dari Scarlett dan menggiring bosnya itu menjauhi kegaduhan. Walau berarti harus menuju dapur.

Scarlett berjongkok sambil menutupi kedua telinganya sewaktu mendengar Regis—yang kelihatannya berhasil diusir George—berteriak, “Ingat, Scarl! Dia putriku! Akan selalu menjadi putriku! Dan aku berhak penuh atas dia!”

Setelahnya, Scarlett tidak sanggup lagi menahan tangisnya. Regis memang keparat! Berani-beraninya pria itu datang dan merusak semua healing yang dilakukannya selama ini.

“Baiklah! Aku menyerah! Rupanya pergi ke binatu koin ini membuang-buang waktu. Aku belum mahir melakukannya!” William mengomeli mesin cuci di depannya lalu memutuskan memanggil pegawai untuk mengurusi pakaian-pakaian malangnya yang mandi busa sabun amat banyak.

Setelah itu, ia baru mengendarai BMW hitamnya menuju Bake Me Up. Sewaktu tiba, senyum masih menghiasi William. Namun, ketika mendengar tangis Jenna yang semakin kencang, ia segera menuju pintu samping untuk mencari sumber suara tersebut. Jenna pasti ada di dapur.

“Princess, aku datang .... Ayo kita bermai—apa yang terjadi?” tanya William. Ia memelotot melihat Scarlett berjongkok, memegangi kedua telinga dan sedang menangis tersedu-sedu.

Ada George di depan wanita itu yang mengatakan, “Tenang saja, Boss. Aku sudah berhasil menendangnya. Dia tidak akan berani lagi ke sini!”

Keadaan di dapur begitu kacau. Banyak suara keras yang bertampang-tindih memasuki pendengaran William. Ia juga melihat serta mendengar Jenna menangis kencang di gendongan Hillary yang berusaha menenangkannya bersama Andy.

William pun bingung luar biasa. Beruntungnya Andy berbaik hati menjelaskan. “Em ... ayah biologis Jenna datang dan ... yah .... begitulah,” bisik pria kurus itu.

“Biarkan aku yang mengurus Jenna bersama Andy dan George, tolong tenangkan bos, Will,” pinta Hillary dan William langsung menggantikan George berjongkok di depan Scarlett.

Dipegangnya kedua tangan Scarlett yang masih menutupi telinganya. Wanita itu kaget dan menjerit. Keadaannya benar-benar kacau. William berkata pelan. “Hei, Darl. Ini aku. Ini aku ....”

Mendengar suara William, Scarlett baru membuka mata, mendongak dan langsung menumbuk ke pelukan pria itu. “Kenapa kau lama sekali? Kenapa kau tidak datang setengah jam lebih awal? Kenapa kau lebih mementingkan binatu koin?” cerca Scarlett sambil memukuli punggung pria itu. Perkataan-perkataan dan tindakan itu hasil refleks dari tubuhnya.

“Maaf ... maafkan aku ..., maafkan aku, Darl. Aku janji tidak akan terjadi lagi.”

Tidak peduli posisi Scarlett yang duduk di atas pahanya atau reaksi paling primitif yang seharusnya menjadi eksis, William mengusap punggung wanita itu yang kelihatan begitu rapuh. Seolah ada berton-ton beban yang selama ini selalu dipikulnya sendirian. Bukan Scarlett yang tegas dan bisa memerintah karyawan-karyawannya dengan suara lantang.

Baru kali ini William menghadapi wanita dengan trauma yang dimilikinya. Mungkin kalau bukan Scarlett, ia pasti sudah lari dan tak mau ikut campur. Sekarang, ia baru benar-benar menyadari kalau arti Scarlett lebih besar dari apa yang dipikirkannya selama ini. Ia jatuh cinta pada Scarlett dan berjanji tak akan menyakiti wanita dalam dekapannya ini dan Jenna.

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang masih nungguin lanjutan dari cerita Scarlett

Thanks juga yang udah vote, komen, dan benerin typo

Kelen luar biasa gengs

Bonus foto Scarlett Delillah

William Molchior mau ke laundry an 😂

Regis Mondru

Well, see you next chapter teman temin

With love
©®Chacha PRIMA
👻👻👻

Malam Minggu kelabu (karena ujan di sini games), 19 Maret 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro