Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

[05] Kencan ala Murid dan Guru

"Nggak nyangka, Pak Nata ada di sini lagi. Pas Bapak nggak ada, sedih dikit. Saya bisanya memeluk tiang," Ambar menengadah kepada suami yang dipeluknya.

Nata melepas gadis itu untuk mengunci pintu. "Senang ya, Sayang?" tanya lelaki itu dengan nada bangga karena ada yang merindukannya. Mengabaikan sindiran Ambar di akhir kalimat.

"Gak ... cuman kaget aja, ini tiangnya gak kaku," elak gadis berkuncir kuda itu.

Natirta Adiwijaya mengacak puncak kepala istri belianya dengan gemas.

"Jangan begitu. Ngaku saja kalau kangen karena aku juga rindu sekali ingin bersama kamu."

Ambar merasakan pipinya menghangat, tapi ia segera menggeleng. "Di sini ngomong rindu. Di sana nggak ingat saya, hasilnya sebulan gak ada kabar. Itu definisi rindu by Pak Nata. Enak meluk yang di sana kan kan?"

Nata justru tersenyum sampai matanya menyipit di balik kacamata. "Cemburu kamu ini yang bikin aku makin kangen waktu tidak ketemu."

"Udahlah, Pak Nata nggak berguna banget gombalin saya. Saya kan cuma simpanan saja sekarang, gak bisa dibawa ke mana-mana, seperti istrinya di sana."

Nata pun menggeleng. "Sekarang bilang, kamu mau dibawa ke mana. Mobil udah siap. Kita tinggal berangkat." Tangannya menunjuk ke halaman rumah.

Ambar pun tertawa kecil, mengingat kalau mereka sejak tadi berdebat di depan pintu. Bukannya Nata mengajak Ambar keluar mencari makan malam. Kenapa malah berdiri di teras begini? Baru saja Ambar sadar akan posisi mereka, seseorang hendak lewat jalan depan rumah tersebut. Lekas-lekas Ambar menjauh dari Nata.

"Kamu ini. Justru kalau kamu seperti tadi, orang malah mikir aneh-aneh," protes Nata setelah dua tetangga yang tidak mereka kenali berlalu.

Ambar memanyunkan bibirnya atas komentar suaminya. Dia hanya ingin hidup damai bersama Nata tanpa diketahui orang lain. Jika status mereka terbongkar, habis sudah kehidupan damai tersebut. Ambar sangat menjaga rahasia mereka. Kalaupun Ambar iri dengan status bebas istri Nata yang satunya, bukan berarti Ambar ingin pengumuman akan statusnya seperti dia. Bisa-bisa Ambar didepak sebagai siswa dari Data Pokok Pendidikan.

"Kita makan kerang aja ya, Pak?" Ambar memakai seatbelt begitu duduk di jok mobil. Ia menoleh ke sebelah karena suaminya belum menjawab.

Ternyata Nata habis melihat ponsel. Setelah memasukkan benda itu ke saku kemeja, Nata baru menjawab, "Kerang? Seafood?"

"Mengabari istri dewasa nggak tuh?" cibir Ambar sebal.

"Kerangnya aja, yang dibikin sop. Pasti enak dimakan dingin-dingin begini."

"Lebih enak pelukan. Sini," ujar Nata mencondongkan tubuhnya.

Ambar mendorong dada pria itu. "Serius, Bapak. Mau beliin nggak nih?" Kekesalan Ambar belum reda.

"Peluk dulu. Masih kangen," goda pria berkemeja lengan panjang tersebut.

"Pak Nata aneh." Mata Ambar menyipit. Kelakuan Nata jelas terlihat berlebihan. Ada apa dengan dia? Nata jarang bercanda sebrutal itu apalagi menggodanya seperti akhir-akhir ini. Apakah memang karena kangen atau karena menyembunyikan sesuatu, atau merasa bersalah, sehingga ingin menghibur Ambar dengan tingkah receh?

"Jalan aja cepat, Pak. Udah lapar, nanti Pak Nata yang saya makan."

Nata tertawa saja. Ia mulai melajukan roda empat tersebut ke jalan raya.

Sejak kedatangan Nata kembali, perasaan sedih tidak lagi menyambangi hati Ambar. Ambar juga selalu berusaha menguatkan benteng kebaperannya. Ambar itu perempuan kuat. Nata mau berulah sama istri muda tapi dewasa, boleh saja asalkan Ambar tidak dikasih tahu. Ya, terkadang atau sering Ambar ingin tahu mengenai hubungan mereka sih. Nata benar dengan janjinya bahwa dia tinggal di rumah mereka setelah absen sebulan lamanya. Nata membersamainya setiap hari kecuali saat sekolah. Sampai di sini Nata tidak ingkar janji.

Perlakuan Nata yang hangat dan kata-kata cinta yang tak pernah luput menenangkan batin Ambar. Gadis itu merasa Nata telah pulang untuknya. Mereka pergi dan pulang sekolah berdua, meskipun sekolah mereka berbeda. Ada kalanya Nata ke sekolah Ambar di jam istirahat dan mereka bertemu di ruangan Pak Deni. Papa mertua yang baik memperlakukan Ambar lebih dari yang Ambar perkirakan. Ambar dapat merasakan Pak Deni menyayangi Ambar dengan tulus, berbeda sekali dengan Tante Marsya. Mengingat nama itu, Ambar pun teringat dengan Fela, wanita yang sudah dinikahi Nata karena perintah ibunya.

***

Saat ini, mereka berada di perpustakaan daerah yang terletak di tengah-tengah kota. Ambar selalu terpesona melihat Nata ketika pria itu serius melakukan sesuatu. Seperti sekarang Nata sedang membaca. Namun, pertanyaan Ambar tak bisa ditahan. Ambar tidak bisa menyembunyikan apa yang dia inginkan. Saat penasaran, Ambar pasti langsung bertanya jika itu kepada Natirta Adiwijaya.

"Bu Fela itu cantik kan, Pak?"

Nata menengadah dari bukunya. Di balik kacamata, Ambar melihat Nata menatapnya tajam. Ambar sadar kalau Nata tidak suka saat Ambar mulai membahas istri satunya.

"Kamu ingin jawaban yang seperti apa?" tanya Nata serius.

Melihat itu, Ambar mulai was-was. Dia telah membuat Nata kesal. Namun, Ambar tak ingin mundur. Dia cuma penasaran, kenapa Nata tidak memiliki foto istrinya itu? Ambar sangat ingat dengan jelas wajah Fela dari siaran langsung pernikahan Nata dan Fela. Dia merasa istri Nata itu sangat cantik dan ia pikir Nata akan berubah.

Apakah Pak Nata menyimpan foto Bu Fela di tempat lain dan di depanku pura-pura nggak peduli sama istrinya itu? Mungkin Pak Nata punya handphone lain khusus untuk Bu Fela?

"Jawaban jujur dari Bapak."

"Cantik."

Ambar merasa tertohok. Nata memang tidak salah. Ambar yang perempuan saja tahu kalau istrinya Nata itu cantik sekali. Ambar membenci dirinya yang terlalu percaya diri bahwa di mata Nata dia yang lebih cantik. Ya, Ambar berharap Nata akan menjawab kalau Fela itu tidak cantik.

"Saya pikir Bapak buta. Ternyata matanya masih normal—"

Nata memotong, "Gak normal, Hes. Minus." Nata menunjuk matanya sendiri.

Ambar mendesis. "Mata minus bisa diterima, asalkan jangan akhlak yang minus!" sebal perempuan itu.

"Hati-hati bicaranya. Jangan sampai orang lain sakit hati." Nata mengingatkan masih dalam posisi mata ke buku.

Ambar kemudian menggigit bibir bawahnya. "Terus kalau cantik, kenapa Pak Nata nggak ada menyimpan fotonya?"

Nata tidak dapat mencerna pertanyaan gadis itu hingga Ambar perlu menyebutkan nama objek secara jelas, "Bu Fela itu cantik sekali," kata Ambar dengan memanjangkan irama pada kata cantik, "terus Pak Nata kenapa gak punya fotonya?"

"Khususnya momen pernikahan kalian."

"Tidak penting, Hesi. Apa kamu mau aku menyimpan fotonya? Kamu suka kalau aku melakukan itu?"

Ambar langsung menjawab dengan nada tinggi, "Melakukan apa?!"

"Menyimpan fotonya," jawab Nata masih dengan suara tenangnya.

"Gak lah. Saya tahu nih, Pak Nata bisa lihat langsung. Ya kan makanya gak perlu foto lagi?"

Nata berdecak dan menutup bukunya dengan kuat. "Berhenti membahas dia. Kamu kenapa sih? Mau kenalan sama dia?"

Ambar meremas-remas jemarinya yang berada di atas pangkuan. "Bukan. Saya cuma lagi ingin tahu aja, kenapa Pak Nata gak punya foto istri Bapak yang cantik itu."

Nata menepuk bahu Ambar pelan. "Kamu suka kalau kita membahas dia? Gak kan? Kenapa gak dilupakan saja? Anggap saja dia tidak ada."

Ambar serta-merta protes. Jawaban Nata sangat tidak singkron dengan kenyataan. "Bapak udah nikah sama dia. Udah ciuman sama dia. Tidur sekamar sama dia. Gak mungkin Pak Nata bisa lupain dia. Gak mungkin dia nggak ada dalam kepala Bapak. Bilang aja, Pak Nata memerintah saya supaya melupakan dia sendiri."

"Anggap saja begitu. Ayo, sudah saatnya pegawai istirahat. Kamu ingin makan apa?" Nata berdiri membawa buku yang tadi dibaca untuk diletakkan kembali ke raknya.

*** 

MUBA, 24 MARET 2022

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro