Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

18 | Konstelasi Aku dan Kamu

malem-malem panjang.



. . .

Kerut dahi Mitha menjadi saksi. "Lah? tumbenan lo mau belajar alat musik gitu? Biasanya juga kalau disuruh Bu Yayu buat main pianika aja langsung keringetan." katanya, membuat Jaevon kepalang jengah.

Haidar menoleh, menatap Jaevon tak percaya dengan mata yang berkedip seolah tak ada rem. "Seriusan, Pon? Lo---lo gak bisa main pianika? BRUAKAKAKAK LAWAK, NYETTT!" gema tawa Haidar mengalun ke seluruh penjuru. "WOY, ADEK GUE AJA YANG MASIH TK BISA MAIN ANJIR, BRUAKAKAKAKAK! KALAH LU SAMA BOCAH INGUSAN!"

Jaevon mendelik tak suka, "Heh, orang tuh punya ketertarikannya sendiri, ya. Lu gausah kebanyakan cingcong dah." sinisnya.

"Tapi, Pon. Pianika tuh gampang banget tolol."

"Gampangan ngelukis."

"Riya lo."

"Elunya aja yang iri."

Haidar bermasam durja seraya mencebikkan bibirnya kesal. "Ck! Gak seru lo!" katanya, mengalihkan pembicaraan dengan bermain ponsel meski hanya geser-geser laman home saja.

Jaevon mencibir Haidar seolah ia tak merasa bersalah. Seketika pikirannya berkelebat, cerita dari Mitha tadi laksana kontemplasi, mengingatkan Jaevon akan yaum Sumpah Pemuda yang memandunya agar lebih tahu jiwa pemuda sebenarnya.

Bukan tanpa alasan Jaevon lebih memilih untuk menghabiskan cat akriliknya dibanding bernyanyi dengan suara sumbang dan permainan gitar yang tidak harmonis. Tapi ... kalau nama Renjani diseret untuk pembahasan kali ini, Jaevon mau saja bila disuruh belajar main gitar, bahkan piano sekalipun. Toh, selama ada suara anggun Renjani, permainannya akan tampak indah---sebab rani itulah jawabannya.

Matanya sesekali melirik ke arah meja belajar yang seakan berdebu. Tugas Sejarah Minatnya belum selesai, dan lusa sudah harus dikumpulkan. Itu membuat mesin pada otaknya bekerja dua kali lebih keras---haruskah ia mengerjakan butir demi butir soal itu sekarang?

Tapi ... kasihan Haidar. Ia tamu, dan tamu adalah segalanya. Jaevon harus memberikan detik-detik berharganya agar Haidar nyaman disini. Meski gubuknya tak seindah istana Elizabeth, namun gubuk mana lagi yang lebih indah selain ada rasa sayang yang menjadi pondasi untuk lebih berdiri?

Jaevon tersenyum tipis, "Tha," panggilnya pada si rani. "Lo tugas Sejarah Minat mau dikerjain kapan?"

"Udah kelar gue mah."

"WIH NYONTEK SIHH!"

"Besok aja, gue anterin bukunya ke rumah lo," tutur Mitha seraya tersenyum dan mematikan gawainya. Pandangannya beralih, menatap Haidar yang masih mengerucutkan bibirnya. "Dar, lo mau ajarin Jaevon main gitar kapan?"

"Mboh."

"Dih aing," cerca Mitha. "Mau kapan, Jae?"

Jaevon mengusap dagunya dengan mata yang menyawang ke langit-langit kamar. "Kapan yah ... besok aja kali, ya? Pak Ruslan bakal keganggu gak sih?" tanya balik Jaevon pada Mitha.

Mitha mengangguk ragu. "Enggak kayaknya."

"Yaudah besok pagi aja."

Haidar menoleh, "Pak Ruslan siapa, Pon?"

"Ada, tetangga gue. Dia yang punya warung di ujung sana. Nah, kebetulan juga dia punya gitar kan, nanti gue mau minjem bentaran buat dipake belajar." jelas Jaevon yang mengundang segudang tanya dari kepala Haidar.

Pikirnya, Pak Ruslan itu kan yang punya gitar, kenapa Jaevon tidak belajar saja dari Pak Ruslan? Kenapa harus Haidar yang mengajarinya?

Jaevon tiba-tiba menyahut. "Gue mau buat lo lebih produktif disini. Jadi, daripada gabut, mending ajarin gue main gitar aja. Ya gak? Ya dong." jawabnya seolah lelaki itu mengerti dengan kerut wajah Haidar yang terlihat pelik.

Haidar ber-oh ria dengan sirah yang terangguk paham. "Oke, dah." balasnya singkat.

Kamar Jaevon---yang juga di dalamnya mencakupi tiga kasur utama; miliknya, Jevano dan Rendra---terbilang lucu juga. Di pojok kanan terletak sebuah kanvas besar yang Haidar duga itu milik Jaevon, ada juga satu buah komputer lawas yang langsung memantulkan wajah Haidar dari sini. Teve tabung penuh reja-reja kayu itu membuat perutnya seakan tergelitik. Jam dinding berlatarkan logo bank BRI itu mengundang Haidar untuk tersenyum tipis---Jaevon itu sederhana, kadang ia dibuat bergeletar sebab yang membuatnya terlihat kaya hanyalah gantungan medali dan deretan piala yang Haidar lihat di ruang tamu kala itu.

Cklek,

"NGAKAK ANJING!"

Jaevon, Haidar, dan Mitha gegas mengalihkan atensinya ke arah suara yang merobek fatamorgana. Tak salah duga, rupanya Jevano dan Rendra. Keduanya begitu berantakan---dengan baju yang penuh lumpur dan wajahnya yang coreng-moreng sebab serbuk kapur putih. Rasanya Jaevon hendak mencecar keduanya dalam sekali hantaman.

"LAGIAN ELO SIH BRUAKAKAKAKKAK---LOH?" Bahana tawa itu terhenti seketika ketika netranya menangkap sesosok manusia yang terlihat asing dihadapannya. "E-eh, ada siapa nih??? Jae, kok lo bisa bawa biji malika kesini sih?" tanyanya dengan ajun berguyon. Jaevon yang ditanya begitu hanya bisa memasang raut datar. Maksudnya, lihat kaki Rendra, kotornya bukan main!

"NGACO LU!" solot Haidar merasa tersindir.

Rendra membelalak, lalu mengangkat hasta kanannya tinggi-tinggi. "HEH, NGEGAS WEH SIA KA AING?!" katanya. "TANGAN KOSONG KALAU BERANI!"

"OH, LO BERANI MA GUA, YA?"

"SIAPA TAKUT?!"

Kaki Rendra maju selangkah membuat locana Jaevon membulat sempurna. "KELUAR!" pekiknya nyaring.

Rendra terperanjat, lalu melirik ke arah tapak kakinya dekil nan nista. Rendra terkekeh kecil, menggaruk tengkuknya canggung.

"Hehehe, hampura aih."

"Gera cuci kaki."

"Iyaaa,"

"Gera! Jangan iya-iya aja!"

Rendra langsung mengibrit keluar kamar dengan wajah takutnya. Jevano menatap Rendra penuh ejek, mampus siah, batinnya kesenangan. Eits, Jevano tak tahu saja tatkala tubuhnya bersandar pada bilik kamar, Jaevon tengah menyorotkan infra merah pada dirinya.

"Enak banget ya nyender-nyender." sarkas Jaevon, membuat Jevano membalikkan tubuhnya dan menatap tak paham Jaevon.

Jevano tertawa kecil, "Hah? Hahahaha, lu kenapa si---"

"Ganti baju goblok! Malu napa ada tamu? Liat tuh, tembok kamar jadi kotor gara-gara ditempelin lo, blegug! Gadir banget napa dah."

Tawa Jevano meluntur bersamaan dengan suasana yang berubah canggung. "Oh iya, y-ya..."

"GANTI BURUAN!"

🌒

Kalau disinggung perihal malam yang temaram, Renjani dengan mudah mengatakan bahwa Jaevon lah yang membebani pikirannya saat ini. Netranya tak berhenti untuk menatap puspa mawar yang selalu menjadi sorot imajinya, bau harum petrikor di penghujung shyam membuat hatinya robek seketika. Kepala si gadis terdongak, bintang gemintang di akasa berjejer rapi membentuk sebuah konstelasi yang harmoni.

Canis Major namanya. Ia terkenal karena di dalamnya terdapat bintang paling terang di langit malam. Rasi bintang ini hampir terlihat menyerupai “stickâ dengan Sirius di bagian kepalanya, dan bintang terang lainnya, Adhara, di dekat ujungnya.

Renja bukan gadis yang mudah jatuh cinta. Ia jujur. Seandainya kalau ia memang begitu, mungkin sedari dahulu, ia lebih memilih untuk mendaratkan pilau amornya pada Satria dibanding Jaevon.

Karena satu jawabannya, Jaevon berhasil membawanya mendarah.

Hatinya terus bergeletar tiap mengingat asma si rawikara, mawar kuning yang Jaevon beri seolah menarik kurvanya cantik, kelopak si mawar masih lengkap begitu juga dengan afeksi si taruna yang tak kan pernah hirap.

Surat perihal rasa yang Jaevon beri masih ada dalam genggamannya. Renja hendak membaca surat itu lagi, namun, ia takut.

Takut kalau hanya ia yang memendam rasa ini sendirian.

Purnamanya sudah penuh seutuhnya. Rasa sesal dalam diri selalu menghantui, kenapa ia tidak mengiyakan ajakan Haidar untuk ke rumah si tuan---ah! Lagian ... ini semua perihal Bundanya!

Bunda memang sempat berkata padanya agar tidak pergi kemana-mana selama libur Sumpah Pemuda. Renja sempat menentang, namun Bunda tetap bersikeras untuk menyuruh Renja tetap di rumah---mengerjakan tugas sekolah, dan merapikan kamar yang hancur bak kapal pecah.

Dalam hati ia sudah merapalkan segudang kata mutiara. Namun apadaya, ucapan Bunda ada benarnya. Tugas sekolah yang diberi oleh guru seninya tidak tahu kemanusiaan, terlampau banyak sebab ia tak suka dengan apa yang namanya menggambar.

Eh, usut punya usut, Tuhan itu rajanya membolak-balikkan perasaan. Siang tadi Bunda bertanya, tentang perjalanan ke Bandung alias ke rumah pujaan hati. Renja jawab saja tidak jadi, eh tiba-tiba Bunda kecewa dan berkata: kenapa gak ikut aja, sayang?

WOY??? AKDHWIANKWSJWIA RASANYA SEPERTI MENGENGGAM AIR YANG MENGALIR, ALIAS, GAK GUNA WOY!

Ah, lupakan saja. Buntat jadi kemala namanya kalau ia terus menerus menghardik sosok Bunda dalam diam.


Srrkk---

Tak habis pikir, Renjani akhirnya membuka kertas buram itu dari dalam amplop merah muda. Bisa ditebak, kini nyawanya melayang entah kemana, pondasinya runtuh berhamburan, menempias, terbang bersama asanya yang rumpang.

Katakan saja Renja munafik. Gadis itu tidak tahan untuk membaca selampit aksara yang ada dalam genggamnya. Kalau mau tahu, arutala sempat menertawakannya tadi, namun perlahan tawanya memudar, sebab bagaimana pun dirinya juga rindu pada baskara yang membentang jauh di kaki sana.




21 September 2018.
Bandung, Jawa Barat.

Untuk Arunika,
Penguasa satu semesta.


     Halo, ini Renja kan, ya? Terima kasih atas kuasnya, kalau gak ada kamu mungkin aku udah kepalang kalut sebab ulahku sendiri.

    Siang ini, tepat tanggal 21 September kita bertemu. Meski prosa yang kutulis tak seindah langit yang kamu tatap, itu tidak masalah bagiku, karena yang indah menurut pandanganku itu, ya, cuma kamu.

     Pertemuan singkat tadi sangat membekas 'disini'. Gak tau ya kalau kamu, aku cuma mau mengutarakan isi hati aja. Berat rasanya waktu netra kita bersirobok, seolah dalam matamu itu terlukis sebuah danau yang tenang namun terkesan dalam; kamu membuat aku tenggelam, dan lupa caranya untuk berselam.

     Jujur, aku ... aku juga bingung, perjumpaan tadi masih sulit aku lupa. Jadi, ku putuskan untuk membeli mawar kuning ini, dan merangkai surat tepat di tempat. Kertas buram pemberian tukang bunga, dan aksara yang dirajut pemberian Jaevon Bagaskara.

     Sumpah, sesuka ini aku sama kamu. Padahal baru bertemu.

     Edan.

     ANDKLHFIWENDK aku gak ngarep perasaan ini terbalas, ya. Tapi, kalau kamu tidak keberatan sih, sah-sah aja. Aku bakal jungkir balik dengernya.

     Aku banyak bersua dengan insan Tuhan disini. Mulai dari Haidar, mbak-mbak cantik penjaga pintu aula, adek-adek yang berlalu lalang gak karuan dengan tamiya di tangannya, dan juga wanita cantik seindah arunika yang namanya Renjani. Aw, gemoy.

     Gapapa kalau kamu belum suka aku. Toh, cinta itu bukan perihal yang memaksakan kehendak. Kalau kamu suka aku, aku berhambur. Kalau kamu gumoh sama aku, ya aku bakal menepi. Perkara mudah, namun untuk opsi kedua---bakal aku usahakan.

     Seperti yang orang jawa pernah bilang,
 

    Witing tresno jalaran soko kulino.
    Cinta datang, karena terbiasa.

     Di surat ini aku deklarasikan, perihal aku yang memuja frasa 'dirimu'. Perihal aku yang hendak mengajakmu nuraga, berbagi luka lara yang sama, dan membangun afeksi yang dapat meredam pilumu yang membiru.

     Di surat ini, aku ingin mengajakmu tuk sungguh---bukan singgah, bukan bertamu---melainkan menetap teramat lama, dalam raga yang terjerat nestapa nan luka hampa.

     Salam kenal, Arunika. 

Dari Jaevon, muara rindu Arunika.
Singkatnya, panggil aku,
Swastamita.

btw polou ig aku ya,
@/jvkara
kalo mau polbek dm sjh yh, cangtip ><



"Lah? Kok aku baru nyadar, kalau Jaevon promotin instagram-nya disini?"




Searching for...

@jvkara

"ALLAHU AKBAR, KOK ALAY, NJIR?!?!"





jvkara
📌di Neraka Bersama QmoeH

❤liked by jevnomdypd, and 1678 others.

jvkara Yang Pake Jas kuning KayaK jAm3t (apalagi yg bacanya h4h4H4!!!)
2 years ago.

view 456 comment...

jevnomdypd EMANG JAMET
    ↪jevnomdypd kecuali gua :)
    ↪jvkara kan gw bilang yg jas kuning anjing. brrti lu jg jamet
    ↪jevnomdypd RIBUT NYOH
    ↪jvkara GAMAU. NNTI D SANGKA GILA RIBUT SAMA PECANDU NARKOBA 😀
    ↪jevnomdypd ELU YG GILA
    ↪jvkara apa apaan ini anjg
    ↪jvkara TAI
    ↪jvkara RENDRA GADIR, IG GUA DI BAJAK
    ↪jvkara WOY RENDRA, LU BELI HAPE SANA TOLO, MAENIN IG GUE KYK ORG GABUT AJA

gama.arsono yg atas org sakau
     ↪jvkara hy oppa♡
     ↪jvkara bgst rendra tai

jvkara KASAR LOE!!!
     ↪jvkara ke lapangan yuk, ndra, kita gelut.
     ↪jevnomdypd IKUT!!! GUE WASITNYA!!!
     ↪jvkara sp l
     ↪jevnomdypd rendra bgst
     ↪jvkara INI GUA ASTAGA ZKSJWKAN kesel BANGet????? Hmz.



"Apa banget..." kekeh Renja, kepalang malu.

Jaevon yang punya instagram, kenapa Renja yang malu...










"Yahhh, jadi kangen beneran deh..."

[].tbc




+++
sumpah gue jd pen revisi
dari part awal njir. BERANTAKAN
bGT WEH??!! hmz 😭😭

okey okey alaynya kumat.
kalo gt, met malem
yh semuanya!♡

30/06/20


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro