Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

04 | Bermuaranya Rasa

"Dar, hape gue mana?"

"Baru aja gue lelang,"

"Serius anjrit."

Haidar tertawa kecil melihat raut wajah Jaevon yang dibilang galak, tapi lucu dimatanya. Haidar lantas memberikan ponsel tersebut kembali pada pemiliknya, dan Jaevon hanya bisa mengambilnya kasar seraya membuka file rekaman suaranya.

Jaevon tersenyum tipis. "Makasih, Dar."

Haidar mengacungkan ibu jarinya seraya tersenyum lima jari. "Bawa asik aja, lur," katanya. "Oh iya, jadi beli bunganya?"

Tatkala Haidar melayangkan pertanyaannya pada Jaevon, pemuda Bagaskara itu justru menganggukkan sirah semangat, kemudian menunjukkan sebuah kotak persegi panjang pada Haidar. "Ada nih, di dalem kotak."

"Bagus dah. Terus, itu mau dikasih kapan?"

Jaevon menatap sekeliling dengan tatapan ragunya. Ia menggigit jarinya gelabah, lalu menautkan kedua alisnya. "Sekarang ... mungkin?"

Haidar menggeleng kecil. "Jawabannya, salah." tuturnya. "Ngasihnya ntaran aja. Kita lanjut nonton lomba nyanyi lagi. Gue masih pengen ngehalu."

"Kalo dah tau jawabannya, ngapain lu tanya anjeng."

  . . .

"Cih jinjja. Lo sama gue juga tinggian gue, Pon."

Jaevon menoleh dengan tatapan remehnya seraya menyunggingkan senyum, "Coba jangan jinjit. Nanti lu juga bakal nyadar kalo lo tuh depinisi cowok cebol." Jaevon terkekeh kecil tatkala Haidar malah mencibir ucapannya.

"Heh, kalo mas-mas depannya kagak setinggi Gunung Everest mah, iya aja anying gue gak bakal jinjit!" Haechan memutar bola matanya malas seraya melirik tajam pemuda bertubuh lebar dengan tinggi yang mungkin---beda 2 atau 3 senti darinya.

"Haidar, Haidar. Definisi sirik tau gak sih lo?"

"Tuh kan. Emang capek jadi cogan tuh, dikit-dikit disalahin padahal gue gak ngapa-ngapain."

"Gue ga---"

"Syaithon harap diam. Gue lagi galau nih!"

Jaevon mendelik jijik ke arah Haidar yang mendadak jadi ambyar ketika mendengar alunan melodi yang mendayu di telinganya. Haidar tampak lipsync sesekali memejamkan mata, menikmati bagaimana dalamnya makna lagu tersebut.

Ah, Haidar jadi berutopia tengah berdiri disini bersamaan dengan alpha centaurinya yang terikat dalam naungan galaksi andromeda. Hahaha, memang gila. Kan sudah dibilang, kalau Haidar ini jago sekali berangan-angan, tanpa mau menggapai angannya.

Ketika pandawa itu membuka matanya, sosok Jaevon tidak ada disampingnya. Pria itu bak menghilang ditelan buana, Haidar hanya bisa celingak-celinguk mencari kemana pria durjana itu berada.

"Sumpah dah, Jepon, lu dah kayak jelangkung!"

Cukup dirasa tak penting untuk mencari sobat ambyarnya itu, Haidar malah melanjutkan keambyarannya sembari mengais pilu, semoga doi bisa menoticenya secepat kilat Atta Halilintar.

Disisi lain, ada Jaevon yang berdiri menghadap meja yang kosong melompong. Meja itu tempat dimana Renja menunggu gilirannya tuk maju ke hadapan publik, memamerkan senyum adun widodarinya tanpa permisi.

Ia mengambil setangkai puspa mawar kuning itu dari sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang. Ia tarus diatas meja, berikut dengan secarik nawala bersampul merah muda bertuliskan;

Halo? Ini aku, Swastamita.
Untuk Arunika, penguasa satu buana.

"Anjir, semoga dibaca dah, awoakwoka---"

"Apa yang dibaca?"

Deg. Dirinya bak jelampah diatas permukaan tanah. Selaksa doa ia rapalkan ke penjuru dunia, semoga bukan Renja, semoga bukan Renja...

Ketika Jaevon membalikkan tubuhnya, ia mencerna bahwa itu sesosok gadis dengan surai kuncir kudanya, yang tak lain ialah---

"E-eh? Nja? Hehehe, g-gimana lomba lo? Suara lo bagus betewe, hehe, u-udah kayak Agnes Mau Nikah." Jaevon tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.

Kerutan nyata terukir pada kening Renjani. Gadis itu melirik ke arah mejanya yang terhalangi oleh bahu lebar Jaevon. Namun, Jaevon malah mencegatnya.

"Eh?! Ngapain?!"

"Saya mau duduk. Kamu ngalangin jalan."

"Ah? Oh iya ya, hehehe."

Cinta itu seratus persen bahan yang memabukkan. Buktinya Jaevon sampai jadi bodoh hanya karena Renjani.

Renja hanya bisa menggeleng heran ketika menyikapi Jaevon yang memang sedikit dungu dihadapannya. Gadis itu mengrenyitkan dahi tipis tatkala melihat secarik nawala bertuliskan atas nama dirinya.

Renja mengambil nawala itu perlahan, kemudian menunjukkannya pada Jaevon. "Dari kamu?"

"B-bukan, itu dari bapak kamu." balas Jaevon sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Renja mendelik kebingungan, "Hah? Bapak saya engg---"

"Bapak dari anak-anak kamu. ACIAAAAAT!"

Seandainya Haidar berdiri tegap disamping pria berdagu yang tajam ini, pasti ia menghujaninya dengan perkataan najis bahkan yang lebih pedas sekalipun.

Tapi ini tidak. Justru Renja yang berkata seperti itu.

"Geli anjir."

Nusuk banget. Ringis Jaevon dalam benak sembari mengais beberapa hatinya yang pecah berkeping-keping.

Masih dengan rasa canggung yang menyelimuti atmosfer keduanya, Jaevon cuma bisa diam seribu kata ketika Renja mulai membuka suratnya, terlebih membacanya keras-keras.

"Dari aku yang sudah melabuhkan pilau cintaku pada der---Jaevon, kamu nulis ini sambil kesurupan tah gimana sih?" Renja menatap Jaevon dengan tatapan sangsi, sedangkan si adam hanya cengengesan tak tahu diri.

"Maaf kalo cringe, hehe. Eum... gue tinggal dulu, ya, Nja?"

"Eh? Entar! Biarin saya baca suratnya dulu."

"Tapi kan bisa lo baca sen---"

"Udah, sini aja."

Dan ya, Jaevon hanya bisa menurutinya dan menimbun dalam-dalam rasa malunya itu untuk sebentar saja. Ini gila, Jaevon benar-benar anomali dibuatnya

Renja yang asik membaca suratnya itu terlihat memasang raut serius, lambat laun terdengar suara kekehan dengan pipi yang bersemu merah, dan diakhiri dengan dahi yang berkerut.

Renja bertanya, "Witing tresno jalaran saka kulino itu apa?" tanyanya, mengutip sebuah kalimat yang Jaevon rangkai diatas kertas.

Jaevon menjawab. "Cinta datang karena terbiasa."

"Jadi?"

"Jadi, di sebuah cerita yang pemerannya adalah Jaevon dan Renja, ada sebuah bahtera yang datang menghampiri salah satu dermaga, ia meninggalkan sebuah kotak kosong yang berisi sebuah puspa mawar. Nah, kotaknya itu ada, tepat di sebelah dermaga yang jadi tempat perasingannya."

Renja mengrenyit, tak paham.

Jaevon terkekeh. "Dermaganya itu kamu, Renja."

Pipi Renja bersemu merah. Lagi.

Renja menaruh surat itu diatas mejanya dan beralih untuk mengambil setangkai bunga mawar kuning, ia bertanya, "Buat saya?"

"Buat ibu kamu."

"Hm?"

"Ibu dari anak-anakku nanti, cIYAAAAAA!!"

"Berisik!" cercanya sambil melihat kelopak mawar itu dengan tatapan binar. "Ada alasannya gak kamu ngasih bunga ini ke saya?"

"Tentu ada dong."

"Apa?"

"Semangat, ya?"

Renja tersenyum tipis, lalu menganggukkan hulu kemudian. "Kamu juga. Oh iya, lomba tadi apa kabar?"

"Gila, gue baru kali itu, Nja, kayak semangat gimanaaaaa gitu ngelukisnya."

"Emang biasanya gimana?"

Jaevon menatap langit-langit ruangan penuh manusia ini seraya menggaruk dagunya sekilas, "Gimana ya ... biasanya gue kalo ngelukis itu cuma gabut doang. Tapi barusan, gue ngelukis karena ada alasan."

"Apa itu?"

"Lo, hehehehehe."

Renja memutar bola matanya malas. "Ngalus mulu kamu."

Hening.

Renja memasukkan setangkai bunga mawar itu kembali ke dalam kotak. Ia tersenyum tipis melihatnya, perutnya seolah-olah sedang menari dibawah redupnya cahaya rembulan.

Renja menghadap ke Jaevon, "Ini hari terakhir lomba."

Jaevon menatap sendu Renja. Sayu rayu hatinya mendengar Renja berkata demikian, asanya seolah sirna, dan hatinya seolah pecah menjadi keping yang lebih kecil lagi.

Renja tersenyum kecil. "Kamu udah ngasih hadiah ke saya tadi,"

Jaevon mengangguk.

"Nah, gimana kalo aku ngasih hadiah juga ke kamu?" lanjut Renja.

Waktunya seakan terhenti. Tatkala Renja menatapnya teduh seteduh pohon brahmastana.

Renja melirik ke arah panggung yang menampilkan finalis terakhir. Ia mengembuskan napasnya kasar, lalu memberikan gawainya kepada Jaevon.

"Catat."

Jaevom melirik, "Apaan?"

"Id line saya. Catat aja. Siapa tau kita bisa bertemu lain waktu?"

Jaevon tersenyum lebar mendengarnya. Ia rasa, detak jantungnya sudah cukup membaik dan ia tak perlu repot-repot untuk menyatukan kembali hatinya yang baru saja patah tadi.

Karena Renja adalah alasan mengapa Jaevon mencintai bumantara Bandung.

Ya, seperti yang bisa Jaevon analogikan,

Jakarta diciptakan ketika Tuhan tengah merindu. Dan Jogja diciptakan, ketika Tuhan tengah merayu. Sedangkan Bandung diciptakan tatkala Tuhan sedang jatuh cinta.

Jaevon, dan Renja.

Keduanya bahkan belum saling mengenal satu sama lain.

Namun entah kenapa, rasa yang berkelebat seolah sudah berusia satu laksa lamanya.

[] .tbc

⠄⠂⠁⠁⠂⠄⠄⠂⠂⠄⠄⠂⠁⠁⠂.

"aNnndD, aCTION!"

/ckrek./

"Eponkuh, tadi kan gue abis minum sirup."

Jaevon menolehkan kepalanya, "Terus?"

Haidar berkata seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Terus, gue ngerasa aneh pas minum ntu sirup. Apakah ini pertanda kalo gue kesirupan?"

"..."

*melambaikan tangan ke kamera.*

"G-gue duluan ya, Dar. Mau nyiapin lapangan buat baku hantam dulu, nih." kata Jaevon, lalu pergi meninggalkan kamera.

Dan, kamera pun mati.

++
dadah dulu dong sama haidar, hehehe.
udah lah ya gausah bacot, ak taw ini burik bgt.
gmn dgn bgian ini? hehehe.
maaf kalo mengecewakan.
voment jan lupa ya seyenk!♡

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro