
UNFORGIVABLE
"Mengapa tou-san dan kaa-san menitipkan ku pada nya ?," Naru mengusap sisa air matanya itu
Ia berusaha tegar
Ia keluar dari kamar mandi, dan bersikap seolah tidak ada apa apa. Seberusaha mungkin, ia tidak menampakan bahwa ia baru saja menangis
"Naru ! Akhirnya, aku menemukan mu," Rei menghampiri seraya terengah engah dihadapan Naru
"Memang nya kenapa ?,"
Rei menggeleng sesaat sebelum ia berkata, "aku takut kalau kau berdebat lagi dengan Hajime,"
"Huh, siapa yang mau berdebat dengan orang yang tidak bisa dimaafkan," Naru kemudian berjalan melewati Rei begitu saja. Suasana hatinya, kacau saat ini
"Naru.." Rei iba, ia hanya bisa melihat, Naru yang kian menjauh, bisakah ia menjadi sahabat yang baik dalam menemukan solusi nya ?
"Hajime, kenapa kau bersikap kasar pada Naru ? Kau tahu, kalau orang tuanya tidak ada disini bukan ?," Haru tampak tidak terima akan apa yang di lakukan oleh Hajime sendiri
"Huh, siapa peduli,"
"Hajime, mau sampai kapan kau berkata 'siapa peduli' ? Dia itu sudah bagaikan saudara mu ! Kalian sudah bersama sejak umur 5 tahun !," Nada Haru sedikit meninggi
"Saudara ? Cih, aku tidak pernah menganggap dia saudara ku," Hajime tampak cuek saja, namun, hati kecil nya seolah berkata 'kau salah'
"Hajime,"
"Fuh, Haru, aku hanya tidak ingin dia terlibat sesuatu, saat orang tuanya menitipkan oada keluarga ku, itu juga menjadi tanggung jawab ku saat ini, kalau terjadi sesuatu, aku sungguh bersalah," jelas Hajime
"Maka dari itu, perbuatan mu pagi tadi, seharusnya masih bisa dimaafkan, tapi jika Naru berpikir kau sudah kelewatan ?,"
"Jangan katakan itu, Haru,"
"Kalau begitu, jangan berkeras kepala ! Semua bisa diselesaikan dengan cara berbicara, kalian sudah dewasa seharusnya menyikapi hal ini adalah hal biasa bagi kalian, tetapi kalian membawanya semakin sulit," cetus Haru membuat Hajime berpikir dua kali akan tindakan nya pagi tadi
Memang benar, jika saja Naru berpikir kelakuan nya padanya sudah kelewatan, hal ini tidak bisa dimaafkan, tapi, demi menjaga nya, ia harus rela memiliki hubungan baik dengan Naru sendiri
"Kau harus bicara padanya, Hajime," Haru memberi usul
"Aku tahu,"
"Cobalah untuk menyikapi nya lebih dewasa, aku tahu bagaimana sikap Naru padamu, percayalah dalam lubuk hatinya, mungkin ada sesuatu yang belum kau ketahui," Haru terkekeh
"... Darimana kau tahu ?,"
"Aku pernah merasakan nya, lebih tepat nya sering,"
"Cih," Hajime terkekeh bersamaan dengan Haru
Sedari tadi, Naru hanya membisu, selama pelajaran pun ia hanya mendengar kan, mencatat lalu diam dan tidur saat guru tidak memperhatikan nya
"Naru-san kenapa ?," Tanya Yuki yang baru menyadari kemurungan Naru
Naru melirik Yuki sejenak,"aku tidak apa," jawab nya singkat
"S-souka.." disaat Naru melirik Yuki, tidak beranilah ia untuk bertanya lagi
"Sudahlah, Naru, mungkin dia memiliki suatu pikiran," Rei mengelus lembut punggung Naru
"Tidak, Rei, aku dan dia selalu bertengkar, aku jujur, lelah," Naru menenggelamkan kepalanya diatas tumpukan tangan nya
Ai hanya diam saja
"Ai, kenapa juga kau ??" Tanya Rei
"Tidak ada," Ai menggeleng cepat
"Hmmm," Rei memasang wajah curiga
"Kau menjaga jarak kan dengan Aoi ?," Ucap Naru seraya masih menenggelamkan wajah nya pada tumpukan tangan nya
Ai menunduk, menandakan bahwa yang dikatakan oleh Naru adalah benar
"Aku melihat mu saat perjalanan menuju sekolah," ucap Naru lagi
"Kurasa itu akan menjelaskan mu, Naru-san," nada Ai lirih
Yukari yang sedari tadi menyimak pembicaraan teman teman nya, masih tetap tidak mengerti apa yang mereka bahas
"Apa yang kalian bahas ?? Sebegitu jahatnya aku kah hingga kalian tidak mau menjelaskan ??,"
"Ettoo °°°°" ekspresi mereka bersamaan
"Sudahlah, Yukari, intinya saat ini, aku benar benar kesal," ucap Naru dengan tatapan malas
"Pada siapa ??,"
"Seseorang,"
"Siapa orang itu ??," Yukari terus bertanya, membuat Naru ingin menguburnya hidup hidup
"Ha-"
"Kita bicara," sesaat suatu suara terdengar di belakang Naru, teman teman nya pun turut terkejut. Naru melihat dibelakang nya, benar dugaan nya, Hajime datang menghampirinya
"Ikut aku," Hajime menarik paksa tangan Naru
"Lepaskan," Ai menggenggam tangan Hajime yang mana menarik paksa tangan Naru
"Dengar, ini urusan ku dengan nya, kau tidak ada hak untuk ikut campur," celutuk Hajime
"Tidak ada hak ? Tapi, aku memiliki hak untuk menghalangi Hajime-san menyakiti Naru-san," Ai tidak mau kalah
"Lepaskan tangan mu dan biarkan aku menyelesaikan nya dengan Naru, sendiri," Hajime memicingkan matanya pada Ai
Perlahan Ai melepaskan cengkraman nya, "kalau kau berbuat macam macam padanya, aku tidak akan segan melakukan hal yang sama pada Hajime-san,"
"Terserah padamu, Naru, ayo,"
"Kenapa aku harus menurutimu," tanya Naru dengan datar
"Naru, ikut aku du-"
"Kemana ? Kenapa ? Bukankah kau memang sudah jemu menjadi teman ku ?," Naru menatap Hajime dengan senyum pahit
Rei memberi kode agar segera menyingkir dari tempat mereka
"Naru, biarkan aku menjelaskan nya, semuanya," Hajime berusaha tenang setenang mungkin
"Menjelaskan apa hah ? Kau hanya ingin meminta maaf ? Sekedar itu ? Dengar Hajime, memang orang tua ku berhutang budi pada keluarga mu, tapi, kau tidak bisa memperlakukan ku seenaknya,"
"Aku tidak memperlakukan mu seenaknya,"
"Lalu apa ? Kalau kau sudah tidak menerima ku di keluarga mu lagi, baik, aku akan mengemasi barang barang ku," Naru sengaja menabrak Hajime untuk memberi jalan padanya agar ia lewat
"Naru," Hajime menarik kembali tangannya
"Hajime, perbuatan mu jujur tak termaafkan bagiku," lirih Naru datar
Mendengar hal itu, Hajime langsung mengangkat wajahnya, menatap Naru tidak percaya
"Hari ini aku akan pulang sendiri, terima kasih telah mengantarku," Naru segera menyingkir kan tangan Hajime dari tangan nya dengan kasar lalu ia berlalu pergi
"Naru ! Hey !," Mengejarnya pun sia sia, karena dirinya terlanjur jauh karena ia berlari
"Sial !," Hajime mengumpat pada dirinya
"Ah ! Apa yang harus ku lakukan," Hajime frustasi
Naru kembali pada kamar mandi, ia memukul tembok kamar mandi yang keras itu. Melepas amarah nya dengan memukul tembok, sebenarnya tidak lah baik. Merugikan diri sendiri dan orang lain
"Aku benci !," Teriak nya menggema di satu kamar mandi tersebut
Tak terasa, jam pulang pun tiba, para murid mengemas seluruh barang barang mereka
"Ai, kenapa kau menjauh dari Aoi ?," Tanya Arata tiba tiba
Ai terkejut sejenak, namun ia berusaha tenang dalam menjawab pertanyaan Arata, "tidak ada,"
"Tidak ada ? Apa maksud mu ? Setiap kali Aoi dekat dengan mu, kau berusaha menghindari nya, seolah kau membuat dinding diantara kalian," celutuk Arata
"Hahh, dengar, Arata, aku tahu siapa aku, aku hanya seorang murid biasa, sementara dia ? Dia seorang idol. Idola para gadis disini," Ai berusaha menghindari Arata hendak pulang
"Oh begitu, jadi kau tidak memikirkan perasaan Aoi padamu ? Ia mencintai mu, bagaimana kalau dia hanya memandang mu ?,"
Ai hendak menanggapi, namun ia lebih memilih diam daripada terus berdebat
Hajime tampak bingung, haruskah ia menunggu, atau meninggalkan Naru. Dan saat itu lah, sebuah ide terlintas di otaknya
Hajime akan menunggu, di tempat yang mungkin agak jauh dari area sekolah dan bisa memantau Naru dari tempat ia menunggu tanpa harus keluar
"Maafkan aku, Naru," ia merasa bersalah
To Be Continued
Story By SatsuAoi15
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro